
Finlandia
Shane memposisikan badannya tegap, dengan sedikit membusungkan dada. Posisi kaki menyamping diikuti posisi badan dan kakinya lurus. Tangan kanannya memegang pistol hingga rata dengan bahu.
Dia memegang pistol dengan tumpuan tangan yang terkuat. Dan memastikan otot tangan jangan sampai tegang. Lalu dia mengangkat pistol hingga segaris dengan bahu. Dia mengatur nafasnya supaya benar-benar rileks. Dan Ia selalu ingat, tidak boleh menahan nafas, karena itu akan membuat tenaganya terkuras habis. Setelah rileks, barulah ujung pistolnya Ia arahkan ke papan sasaran, Dan ...
Dorrrr ..
Dorrrr ...
Dorrrr ...
Peluru pistol Shane tepat mengenai sasarannya. Dan itu membuat bibirnya terangkat menyunggingkan senyum. Ternyata keahlian menembaknya sudah meningkat drastis.
"Wow, that's amazing! Your shooting power has increased drastically!" puji Felix.
Hahahaha ...
"Really?"
Felix duduk di sofa sambil memegang wine ditangannya. Sesekali dia sengaja menggoyang-goyangkan gelasnya, agar cita rasa wine tersebut tercampur sempurna.
Glekk ..
Dia mendongak kepalanya ke atas. Kemudian menoleh ke arah Shane yang sedang berdiri sambil mengelap tangannya dengan handuk kecil.
"Shane, Sebenarnya apa tujuanmu ingin bertemu dengan Daddy ku?" tanya Felix setengah mabuk, namun dia masih menjaga kesadarannya.
Shane meletakkan handuk yang dipegangnya tadi untuk mengelap tangan, kemudian dia mendudukkan pantatnya tepat di depan Felix.
"Clara menyuruhku untuk mencari informasi dari Uncle Jo!"
Felix mengernyitkan alisnya.
"Informasi apa?"
"Hhhhhhhh." Shane menghela nafasnya panjang.
"Clara ingin mengetahui masa lalu Papanya. Dia sangat penasaran. Dan hanya Uncle Jo yang tahu itu!"
"Hem, sayangnya Daddy ku sedang ada urusan! Tunggulah sampai besok!" ujar Felix sambil menenggak winenya lagi. Sementara Shane hanya mengulas senyum tipis.
"Kenapa demi Clara kau sampai jauh-jauh datang kemari, Shane?" tanya Felix.
Shane tertawa, "Aku kan tangan kanannya. Tentu saja aku akan melakukan apapun untuknya!"
"Ayolah, Shane! Jangan berbohong padaku! Aku tahu, Kau memendam perasaanmu pada Clara! Benarkan?" Felix memicingkan satu matanya.
Hahahaha ...
Tiba-tiba Shane tertawa keras. Dan itu membuat Felix merasa heran.
"Kenapa Kau tertawa? Apa ada yang lucu dengan pertanyaanku?"
"Kenapa Kau bisa berfikiran seperti itu?" gelak Shane.
"Karena aku bisa melihatnya! Aku tahu cara kau melindunginya. Aku tahu cara Kau menatapnya. Aku juga tahu perhatian-perhatian kecil yang sering kau berikan pada Clara. Aku tahu semuanya!"
"Sok tahu!" cibir Shane.
Shane mengambil botol Wine di meja. Lalu menuangkannya di gelas. Dia menenggak minuman berwarna merah garnet dengan pantulan berwarna oranye. Dengan sekali tenggak minuman itu habis.
"Ayolah, Shane! Katakan padaku! Jika memang Kau menyukainya, Aku adalah orang pertama yang akan memberikan restu!" ucap Felix, "Karena aku akan lebih tenang jika Clara dalam penjagaan mu!"
"Benarkah?"
"Iya,"
"Tapi Kau kan tahu, Aku dan Clara tumbuh bersama sebagai seorang kakak beradik! Bukan sebagai pasangan!" gelak Shane.
"Hey, Shane! Come on! Kita sudah sama-sama dewasa! Kau dan Clara tidak ada hubungan darah! Jadi kalian bukanlah kakak beradik kandung! Bukankah begitu?"
__ADS_1
Iya. Felix benar!
Apa yang dikatakan Felix memang benar!
Aku dan Clara bukanlah Kakak beradik kandung! Aku memang anak angkat Bos Ferdinand, dan Aku juga bukan Kakak kandung Clara. Jadi tidak masalah bukan, jika aku menyukai Clara!
"Entahlah. Aku akan berusaha!"
"Good. Berusahalah!" Felix menepuk pelan pundak Shane.
"Thanks, Bro!"
____
____
Keesokan harinya,
Benar saja Jonathan memang kembali dari perjalanan bisnisnya bersama dengan Canon dan beberapa orang yang memakai jas berwarna hitam. Setiap orang berjas memakai pakaian sangat rapi dan masing-masing memakai earpiece di telinganya.
Saat Uncle Jo turun dari mobilnya, mereka semua membentuk dua barisan kanan dan kiri, saling berhadapan dengan memberikan jalan di tengah-tengahnya. Uncle Jo turun dari mobil dan berjalan, kemudian orang berjas itu sedikit membungkukkan badannya, sebagai penghormatan.
Uncle Jo disambut oleh sang istri dengan suka cita. Meskipun mereka pasangan suami istri yang sudah tidak muda lagi, tapi hubungan mereka terlihat sangat romantis dan harmonis. Saling menyayangi dan mencintai.
"Shane, Kapan kau datang?" tanya Uncle Jo.
"Sudah empat hari, Uncle!"
"Oh, Cukup lama ya!" Uncle terkekeh.
Uncle Jo mendudukkan pantatnya di kursi yang empuk. Kemudian sang istri datang membawakan minuman untuk suaminya. Uncle Jo menerimanya dengan senang hati.
"Duduklah! Kenapa Kau berdiri terus? Apakah pantatmu bisulan?" kelakarnya.
Hahahaha ...
Sontak semua orang tertawa. Felix juga ikut terkekeh. Pria tinggi itu duduk di sebelah Daddy-nya. Sementara Canon memilih untuk masuk ke kamar. Dia bilang, dia sangat lelah dan ingin langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Biasalah, Dad! Daddy seperti tidak kenal Niko saja!" seloroh Felix.
"Felix, Nasehati adikmu! Apakah seumur hidupnya akan terus bermain-main dengan wanita tanpa menikahinya? Bisa-bisa dia terkena penyakit kelamin!" cebik Jonathan. Shane hanya menjadi pendengar setia, mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu.
"Oh, Dad! Daddy tidak tahu Niko! Mana bisa dia hanya setia dengan satu pasangan. Pergaulannya sudah bebas, Dad!" jawab Felix.
"Jika kalian seperti ini terus. Kapan Daddy menggendong cucu? Terutama Kau! Kau itu sudah tua! Apakah kau tidak mau menikah?"
"Oh, Dad. Tentu aku akan menikah. Tapi Aku harus menemukan wanita yang cocok dengan ku! Baru aku akan menikah!"
"Hey, Felix. Lihat usia mu! Kau ini sudah tidak muda lagi! Jika kau menikah di usia 50 tahun, Apa Kau tidak takut, tongkat bisbolmu jadi alot?" hampir saja Shane tidak bisa menahan tawanya.
"Oh my God! Daddy tega sekali menyumpahi ku seperti itu! Nggak mungkin lah, aku menikah di usia 50 tahun. Itu sudah terlalu tua, Dad!" jawabnya, "Aku akan menikah di usia 35 tahun. Dan aku rasa itu sudah sangat matang bagiku!" kekehnya.
"Menunggu Monika?"
Felix menatap malas.
"Siapa yang menunggu dia?" cebiknya.
"Lupakan dia, Felix! Jika memang dia benar-benar mencintaimu! Dia tidak akan tega meninggalkanmu!"
"Dad, Come on! Daddy dan aku sama-sama tahu, kenapa dia pergi meninggalkanku!"
Hahahaha ...
Jonathan tertawa keras.
"Jika memang dia benar-benar mencintaimu. Apapun kondisi dan pekerjaanmu, dia akan menerimanya!" ucap Jonathan dengan tegas.
"Sudahlah, Dad! Jangan membahas dia lagi! Mood ku jadi berantakan nih, Dad!"
"Hah, Kau ini!" kesal Jonathan.
__ADS_1
Sedari tadi, Shane hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Dia tidak menyangka, ternyata seorang Felix seperti anak bayi saat dimarahi Daddy-nya. Padahal kalau sedang menghadapi musuh, dia terlihat sangat garang dan menakutkan. Shane merasa lucu akan itu.
"Hey, Shane. Felix bilang kalau kau ada perlu dengan Uncle! Ada apa Shane?"
"Oh, betul sekali, Uncle! Saya memang ada perlu dengan Uncle!"
"Ada perlu apa?" tanya Jonathan.
"Ini tentang Clara, Uncle!"
"Clara. Ada apa dengannya? Apakah terjadi sesuatu dengannya?"
"No, Uncle! Shane disuruh Clara untuk menanyakan sesuatu yang penting, Uncle!"
"Apa itu?"
"Ini mengenai Bos Ferdinand. Clara ingin tahu masa lalu Bos Ferdinand! Karena sejujurnya, Clara sudah curiga akan sesuatu! Dan sepertinya Uncle tahu semua ceritanya!"
"Kau membiarkan Clara sendiri di sana?"
"Tidak, Aku menyuruh pengawal bayangan untuk menjaganya!"
"Hoooooo, Shane! Kenapa kau lakukan itu?" ujar Jonathan, "Kau tahu sendiri, Bastian dan anak buahnya tidak akan berhenti untuk menghabisi sesuatu yang berhubungan dengan Ferdinand! Kenapa Kau biarkan dia sendiri di sana?"
"Felix!"
"Yes, Dad!"
"Pesan penerbangan untuk hari ini juga ke Indonesia!"
"Apa?"
"Dia dalam bahaya!" seru Jonathon.
"Maksud Daddy?"
"Clara dalam bahaya! Cepat bawa Daddy ke Indonesia!" bentak Jonathan pada putranya.
"Ba-ba-baik, Dad! Felix pesankan tiket pesawat sekarang juga!"
"Dasar Bodoh! Kenapa harus pesan tiket pesawat? Kenapa tidak pakai pesawat pribadi saja?"
"Oh, Ya. Felix lupa!" kekehnya.
"Ternyata usiamu yang semakin tua, menjadikanmu orang bodoh!" ejek Jonathan.
Ya Ampun, Orang tua ini mulutnya pedas sekali! Jika bukan Daddy ku, sudah ku bom mulutnya!
"Kenapa? Kau menyumpahi Daddymu sendiri?" teriak Jonathan lagi.
Hahahaha ..
"Aku mana berani, Dad!"
Shane benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya. Ekspresi yang ditunjukkan Felix sungguh menggelikan. Raut muka antara marah, kesal, dan juga takut.
Hahahaha ....
Shane tertawa geli di dalam hatinya.
To be continued ...
°°°°°°°
Hey², Ayo dukung karya ini, biar Author semangat...
Gimana caranya? Gampang banget ...
Tap Like, Favorit, rate bintang, komentar yang banyak, dan tap Gift juga......
Gampang kan???🥰🥰🥰
__ADS_1