Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 38 : Fakta Yang Terungkap


__ADS_3

"Ah, Aku capek!" Clara meregangkan otot-ototnya.


Hari ini mereka bersenang-senang ke pasar malam. Clara tidak menyangka kalau Fabyan akan mengajaknya ke pasar malam. Ia bahagia sekali.


Fabyan melirik ke arah kantong kresek yang dibawa Clara. Dan itu cukup banyak. Clara bilang semua makanan itu untuk Bu Laura dan Sofia. Fabyan tersenyum tipis, ternyata dosen cupu itu cukup baik juga kepada orang lain. Fabyan cukup kagum dengan perbuatan baiknya.


"Biar aku bawakan!" ucap Fabyan setelah mobilnya sampai di depan gang.


"Ah, tidak perlu!" gelaknya, "I'm strong!"


Fabyan tertawa geli.


"Ah, You are strong woman!"


"Itu memang benar!" mereka terkekeh bersama.


°°°°°°


Keesokan harinya,


Seperti biasa, setelah berpamitan pada Bu Laura, Clara langsung menancap gas melajukan motornya menuju Kampus. Dia heran, sepagi ini Sofia sudah berangkat ke kampus. Mungkinkah ada tugas yang harus segera Ia selesaikan atau dia bertemu dengan Rafael dulu. Clara tidak tahu.


Dengan santai Ia mengemudikan motornya, hingga sampai di parkiran. Berjalan melenggang ke kantor dosen.


"Selamat pagi, Bu Clara!" sapa Bu Maya.


"Selamat pagi!"


"Wah, Ibu terlihat sangat ceria! Pasti Ibu sedang bahagia nih!"


"Hahahaha, Masa sih?" memang Clara sedang bahagia mengingat kencannya tadi malam. Dia menyunggingkan senyumnya terus.


Bugh ...


BRAKK ..


Seorang wanita berjalan cepat dari arah belakang. Dia menabrak tubuh Clara dari arah belakang, membuat tubuh Clara terjerembab ke depan, dan dia jatuh. Semua buku-buku yang ada ditangannya jatuh berserakan.


Wanita yang menabraknya tadi juga terjatuh. Bukannya meminta maaf, wanita itu justru terlihat kesal dan menatap tajam ke arah Clara dengan tatapan elangnya.


"Kau!" wanita itu masih ingat jelas dengan Clara, "Bukankah kau wanita yang ada di Supermarket!" ucap wanita itu. Clara pun mencoba untuk mengingat.


"Jadi Kau yang menghalangi jalanku!" bentaknya.


"Anda!" Clara terkejut. Karena dia tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita galak itu di kampus.


"Kok kamu bisa ada di sini!" ketusnya. Maniknya sangat tajam.


Bu Maya yang merasa tidak enak, dia langsung berpamitan dari sana, "Maaf, Bu Clara, saya ada kelas hari ini!"


Clara mengangguk pelan.


"Oh, jadi kamu dosen disini!" ujar Belle. Belle menatap tidak percaya. Lalu dia tersenyum miring.


"Iya, Aku dosen disini!" jawab Clara.


"Hoooooooo, ternyata kau dosen disini! Ini benar-benar keberuntunganku!" ujarnya, "Ayo ikut aku!" Belle menarik tangan Clara dengan kuat agar mengikutinya.


"Kau mau bawa aku kemana?" Clara merasa ditarik kuat.


"Aku akan mengadukan masalah ini pada tunangan ku! Dan aku akan meminta padanya supaya kau dipecat dari kampus ini!"


"A-pa?"


Semua mahasiswa melihat keributan itu. Dan itu menjadi tontonan yang menarik bagi mereka. Belle menarik tangan Clara dengan kuat. Membuat pergelangan tangan Clara memerah.


"Ayo masuk!" Belle menarik tangan Clara hingga berdiri di depan ruangan Fabyan. Kemudian menghentakkan tubuh Clara hingga terjungkal ke depan. Kebetulan Fabyan membuka pintu hendak keluar, secara refleks Fabyan menangkap tubuh Clara yang akan terjatuh ke lantai. Fabyan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Belle.


"Apa yang kau lakukan, Belle?" tanya Fabyan yang terkejut. Karena dia melihat sendiri, Belle menghentakkan tubuh Clara ke pintu masuk. Dia tidak mengira Belle bisa sekasar itu.


"Sayang, Dia wanita itu!" ujar Belle, "Dia yang sudah bersikap kurang ajar padaku!"


"A-pa?" Fabyan belum paham apa yang dikatakan Belle, "Maksud kamu apa sih Belle?"


"Dia wanita yang kemarin aku ceritakan! Dia wanita yang ada di supermarket itu!" ucap Belle sambil menghentakkan kakinya.


"Hhhhhhh, Ya Ampun, Nona! Saya kan sudah mengganti rugi! Kenapa Anda masih marah?" ucap Clara santai, "Lagipula, saya hanya menyenggol Anda! Tidak ada luka pada tubuh Anda!"


"Tapi kau sudah menghinaku dengan memberikan aku uang! Kau pikir, aku ini orang miskin! Aku ini anak pemilik Nusantara Bima! Aku nggak butuh uang dari dosen macam kamu!" ketusnya, "Sayang, Pokoknya kamu harus MEMECAT DIA! Aku nggak mau dia menjadi dosen di kampus ini!" ucap Belle penuh penekanan.


"Belle, Aku nggak bisa main pecat orang! Lagipula ini hanya masalah kecil! Kenapa dibesar-besarkan sih?" kesal Fabyan pada Belle.


"Lho kok kamu belain dia sih! Aku ini tunangan kamu lho!" ujarnya.


Degh ..


Tunangan? Jadi dia tunangan Pak Rektor?


Ternyata apa yang dikatakan Sofia benar!


Kenapa? Kenapa dadaku terasa sangat sesak?


"Iya, aku tahu, Belle! Tapi menurutku sikapmu itu sangat kekanak-kanakan!" ujar Fabyan lagi.


"Aku nggak mau tahu! Pokoknya Kamu harus memecat dosen itu! Dosen itu tidak punya etika!" kesal Belle.


"Aku nggak bisa, Belle! Aku nggak bisa main pecat orang!"


"Aku nggak perduli!" Belle tidak berhenti ngomel, dan Fabyan jengah akan itu


Lalu Fabyan menarik paksa tangan Belle masuk ke ruangannya. Mereka melewati Clara begitu saja. Fabyan sengaja melakukan itu, karena Belle ngomel-ngomel tidak jelas. Dan itu menjadi perhatian mahasiswa di kampus.


Sementara Clara masih berdiri di tempatnya. Dia menepuk dadanya yang terasa sangat sesak, apalagi setelah mengetahui sebuah kenyataan. Ia pun pergi dari tempat itu untuk menenangkan hati dan pikirannya.


____


____


Ayolah Clara! Kamu itu bukan wanita lemah! Kamu itu kuat!


Misimu bukan untuk mengejar seorang pria! Misi utamamu adalah melindungi Bu Laura dan Sofia.


Clara menyendiri di balkon kampus. Dia menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengatur hatinya. Dan Tempat itu adalah tempat paling nyaman untuk menyendiri. Entah kenapa dia merasa rindu dengan Papanya.


"Bu Clara!" suara seseorang memanggilnya.


"Sofia!" Clara terkejut dengan kedatangan Sofia.

__ADS_1


Sofia tersenyum, "Kenapa Ibu sendirian di sini?"


"Kenapa? Ibu hanya ingin sendiri, memang tidak boleh?" Clara berusaha untuk tersenyum.


"Boleh. Tapi sepertinya Ibu sedang sedih dan kecewa ya?" goda Sofia.


"Sok tahu?"


"Tahulah! Ibu terlihat sedih setelah melihat tunangannya Pak Rektor!"


"Apakah itu wanita yang kau maksudkan?" tanya Clara penasaran.


"Iya. Dia tunangannya Pak Rektor yang galak!" ujarnya, "Tapi seksi kan, Bu?" canda Sofia.


"Iya, dia memang seksi! Tapi menyebalkan!" sungut Clara, "Sombong!"


Hahahaha ...


"Tipe Pak Rektor kok seperti itu ya?" gelak Sofia.


"Ish, Kau ini!"


Mungkin memang Aku yang merasa saja!


Mungkin karena Aku yang terlalu kepedean!


Clara menghela nafasnya.


____


____


Selepas mengajar, Clara pun langsung menuju parkiran motor. Dia menyalakan motornya. Ia merasa ponselnya bergetar, Clara pun memutuskan melihat siapa yang mengirimkan pesan.


"Shane!" gumamnya, "Aku hampir melupakan Shane! Sebaiknya aku telfon balik setelah sampai di rumah!"


Dari motornya, Ia melihat wanita itu lagi. Wanita yang seksi dan cantik, namun terlihat sangat angkuh dan sombong. Seketika Ia menghela nafasnya. Maniknya menatap lekat ke arah wanita itu, ternyata wanita itu tidak pergi sendiri. Wanita itu datang dengan Pak Rektor, menggelayut manja pada lengan Fabyan. Mereka memasuki mobil secara bersama. Membuat hati Clara sangat kesal.


Aku nggak menyangka, ternyata Fabyan itu benar-benar brengsek!


Jika memang dia sudah memiliki tunangan, kenapa harus mengajakku berkencan?


Sialan!


Dasar Pria Brengsek!


Apakah dia ingin bermain-main dengan ku?


Akan aku habisi dia!


Hufffffffff, sabar! Sabar Clara!


Clara menjalankan motornya dengan sangat kencang. Dia tidak perduli kalau sebentar lagi akan turun hujan, atau hujan turun membasahi tubuhnya. Yang sekarang ingin dia lakukan adalah mengobati kekesalannya dengan mengebut. Dan meneriakkan nama si brengsek Fabyan. Clara bahkan tidak sadar kalau motornya sudah menyalip mobil Fabyan. Fabyan saja sampai terkejut melihat motor Clara berjalan dengan sangat cepat.


Hujan deras mengguyur tubuh Clara. Ia tidak perduli. Dia ingin meluapkan semua kekesalannya, supaya ikut terbawa air hujan yang mengalir deras.


_____


_____


Clara masuk ke rumah, Bu Laura sudah berdiri di ruang tamu dengan tatapan elangnya. Entah apa yang terjadi, Clara tidak tahu.


"Maaf, Bu! Saya kehujanan!" gelaknya.


Bu Laura menatapnya tajam, Ada segurat kekecewaan yang melanda hatinya. Dia menatap lekat ke arah Clara. Sedih, kecewa, sakit, mungkin itu yang sedang wanita separuh baya itu rasakan. Clara heran, kenapa Bu Laura sampai menatapnya seperti itu.


"Siapa kau sebenarnya?" ketus Bu Laura.


"Maksud Ibu?"


"Ini!" Bu Laura menunjukkan sebuah foto. Foto dirinya dengan Papa dan Mamanya. Dan Clara bisa memastikan bahwa Bu Laura marah karena foto itu.


"Saya akan jelaskan, Bu!" ucap Clara.


"Jangan katakan, Kau anak Ferdinand! Dan wanita ini adalah Ibumu!" ucap Laura.


Tenggorokan Clara terasa tercekat. Dia tidak menyangka identitasnya selama ini akan terbongkar secepat ini. Tapi itu adalah resiko yang harus dia terima.


"Iya, Bu Laura! Saya adalah anak Papa Ferdinand, dan yang ada difoto itu adalah Mama saya!"


"Ti-dak mungkin! Jadi selama ini, Kau sudah membodohi ku!" murka Laura.


"Ti-dak, Bu! Saya tidak pernah membodohi Ibu! Saya hanya ingin melindungi Ibu dan Sofia!"


"Stop! Jangan pernah kau mengatakan itu! Justru kedatangan mu membuat nyawa kami terancam!" marah Bu Laura.


"Asal kau tahu saja! Semua gara-gara keluargamu! Gara-gara Ibumu!" marah Bu Laura, "Andai saja Ibumu tidak pernah datang ke kehidupan kami, mungkin Sofia masih bisa melihat ayahnya! Mungkin Sofia bisa seperti anak yang lain! Memiliki Ayah. Tapi apa? Ibumu dan Kakekmu sudah merenggutnya dari kami. Dia pergi, dan menjadi bagian dari kalian! Kelompok Mafia yang kejam dan tidak punya perasaan!" isak Bu Laura kemudian.


"Tolong dengarkan saya dulu, Bu! Itu tidak seperti apa yang Ibu pikirkan! Ibu salah paham tentang Papa! Papa masih sangat menyayangi kalian, Papa masih sangat mencintai kalian! Dan Papa juga minta maaf atas semua yang telah terjadi!"


"Omong kosong! Katakan pada Ferdinand. Aku tidak butuh permintaan maafnya. Dia sudah memilih jalannya sendiri! Dia sudah memilih Ibumu dibandingkan aku dan Sofia!" teriaknya, "Kau ingat dengan cerita ku, ada seorang wanita yang kami tolong! Dan kami membawanya ke Rumah Sakit! Hah?" Bu Laura menatap benci ke arah Clara.


"Iya, Saya ingat!"


"Wanita itu adalah wanita yang ada difoto ini!" Laura menunjuk foto itu lagi.


"A-pa?" Clara terkejut.


"Empat tahun berlalu, kami dipertemukan kembali dengan wanita itu dan ayahnya. Ternyata selama bertahun-tahun mereka mencari keberadaan kami," jelas Laura.


Laura duduk di sofa. Berkali-kali dia menghela nafasnya berat, Clara bisa merasakan penderitaan yang Bu Laura alami. Pasti sangat berat hidup mengurus bayi tanpa didampingi suami.


"Saat itu, Kami membutuhkan banyak uang. Ferdinand ditawari pekerjaan oleh Santo Federic Costa. Dan bukankah Santo itu kakekmu!" Clara mengangguk, "Santo merasa berhutang budi kepada kami, karena kami sudah menolong putrinya. Dia pun memberikan pekerjaan untuk Ferdinand. Gaji yang ditawarkan sangat menggiurkan, membuat Ferdinand langsung setuju bekerja dengan kakekmu! Entah pekerjaan apa yang mereka lakoni. Aku tidak tahu!" Laura nampak menghirup udara dalam-dalam.


"Dan Sofia pun terlahir selamat dengan fasilitas nomor satu di Rumah Sakit itu. Kehidupan kami membaik setelah Ferdinand ikut dengan kakekmu! Kami tidak pernah kekurangan makan! Kami tidak pernah kedinginan, kehujanan dan kelaparan! Bahkan Ferdinand menyewakan rumah yang cukup besar untuk kami berdua! Aku sangat bahagia!"


"Lambat laun, aku tahu pekerjaan apa yang dilakukan Ferdinand. Dia seorang mafia. Menjual barang ilegal. Dan suamiku bergabung dengan kelompok mafia!" teriaknya. Laura menangis pilu, "Dan yang paling membuatku sangat marah, Pria brengsek itu, dia menikahi wanita yang sudah kami tolong! Dia ibumu! Ferdinand meninggalkanku dan Sofia yang masih bayi hanya demi ibumu!" tangisnya.


Clara sangat terkejut. Dia sangat terpukul.


"Itu tidak mungkin? Kenyataan apa ini?" isak Clara.


"Sekarang Kau tahu, kenapa Aku sangat membenci Ferdinand?" dengan sengit Laura mengatakan itu.


Clara menoleh ke arah wanita yang sudah ia anggap ibunya. Sejak kecil dia jarang menangis, tapi, kali ini Air matanya terus mengalir deras.


"Papa sudah meninggal, Bu Laura!" lirihnya, "Papa Ferdinand sudah meninggal! Dia memberikan amanat kepada saya, untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada Bu Laura dan Sofia!"

__ADS_1


Bu Laura tersenyum sinis. Dia menatap Clara lekat. Sangat lekat.


"Itulah kenapa selama ini, Saya menjauhkan Sofia dengan Ayahnya!" manik itu menatap sangat lekat, "Saya sangat berterimakasih selama ini Anda menolong dan melindungi kami! Tapi dengan rasa menyesal, Tolong tinggalkan kami! Jika Anda terus berada di dekat kami, justru nyawa kami terancam!" ucap Bu Laura.


"Tolong, pergilah dari sini! Saya mohon pergilah sebelum Sofia tahu ayahnya sudah meninggal! Hiks ... Hiks ... Hiks!" isak Bu Laura.


____


____


"APA? Ayah sudah meninggal?" Sofia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Sofia!" Laura dan Clara sangat terkejut dengan kepulangan Sofia yang tiba-tiba.


To be continued ..


°°°°°°°


Hey², Author kasih episode ini lebih panjang,,,,,Ayo dong Votenya!🤣🤣🤣 biar author semangat 45.


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...


Vote ..


Vote ...


Vote ...


Vote ..


Gift ..


Gift ..


Gift ...

__ADS_1


__ADS_2