
Mau promosi dulu ye ...maaf 🙏🙏🙏🙏
Mampir juga di novel Author yang lain judul : Istriku Berbeda
Maaf atas ketidaknyamanan ini, karena author promo dulu sebentar 🙏🙏
Bab : 1
Michele Laura adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mandiri. Dia harus berhujan-hujanan karena dia lupa membawa payung di mobilnya. Biasanya dia selalu siap dan sedia, menyiapkan barang-barang yang nampak kecil namun besar kegunaannya dalam keadaan yang mendesak.
Michelle, wanita berparas ayu ini masuk ke dalam rumah dalam keadaan yang basah. Tubuhnya terguyur oleh air hujan. Hari ini dia tidak lembur, karena kebetulan semua pekerjaan ia selesaikan lebih awal. Michele melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan mendapati rumahnya tidak terkunci dengan ruangan yang gelap.
Michelle masuk ke ruang tengah, nampak baju suaminya berserakan. Dan yang membuatnya nampak sangat heran, ada baju wanita teronggok di lantai. ****** ***** dan bra juga teronggok di sofa begitu saja. Michelle mendengar suara-suara aneh didalam kamarnya. Suara ******* kenikmatan dari dua orang insan manusia yang berbeda lawan jenis.
"Argggggh." sebuah pelepasan yang sempurna, saat dua insan manusia itu mencapai titik klimaksnya.
"Hangat sekali, Sayang," ucap wanita cantik, yang suaranya sangat merdu ditelinga. Karena dia juga merasakan kenikmatan saat pelepasannya.
Michelle berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membuka pintu kamar. Dia menghidupkan lampu kamarnya, betapa terkejutnya dia. Michelle melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat hancur. Diranjang yang biasa ia gunakan untuk bercinta dengan suaminya, saat ini digunakan Nathan untuk bercinta dengan Dewi, sepupunya sendiri.
Nathan Hadiwijaya adalah suami yang dinikahinya lima tahun yang lalu. Selama lima tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, dan itu membuat Nathan bosan dan jenuh dengan pernikahannya sendiri. Nathan dan Dewi begitu terkejut, aktivitas panasnya telah dipergoki oleh Michelle.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku? Teganya kalian melakukan perbuatan menjijikkan dibelakang ku?" teriak Michelle dengan amarah menggebu-gebu.
"Hebat, kamu, Mas. Saat aku sedang bekerja kau malah berselingkuh dengan j****Ng ini!" isaknya. Hatinya sangat hancur, dadanya terasa sesak.
Nathan langsung memakai pakaiannya, begitu juga dengan Dewi. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Dan kau, adalah sepupuku. Bagaimana bisa kau melakukan ini kepadaku?" bentak Michelle kepada Dewi.
"Maafkan kami, Michie. Kami bersalah. Aku dan Mas Nathan saling mencintai," ucap Dewi menunduk.
"Apa?" Michelle tidak percaya dengan apa yang dikatakan sepupunya.
"Aku dan Dewi sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan sebelum kita menikah, aku dan Dewi sudah menjalin hubungan terlebih dahulu. Dan rencananya kami akan menikah. Namun kedua orang tua kita, sudah menjodohkan kita lebih dulu. Sehingga, hubungan ku dengan Dewi kandas. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Sampai sekarang dan sampai detik ini aku masih sangat mencintai Dewi," jelas Nathan.
"Apa kamu bilang, Mas?" tubuh Michelle bergetar, dia tidak percaya suaminya mengakui semuanya.
"Aku tidak salah dengar kan?" herannya.
"Tidak. Aku masih mencintai Dewi sampai sekarang. Perasaanku tidak akan pernah berubah kepadanya, walaupun sudah lima tahun berlalu," jujur Nathan.
"Jahat kamu, Mas! Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apakah kalian tidak takut, perbuatan kalian dilaknat Allah?"
"Hiks ... Hiks .... Hiks." Michelle meninggalkan kamarnya, menuju kamar yang lain. Hatinya sudah tidak kuat lagi, Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Di kamar yang lain, tangis Michelle pecah. Dia tidak mengira, suami yang sangat dia cintai begitu tega menghianati dirinya. Padahal sebagai seorang istri dia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suami. Namun apa yang dia dapatkan. Hanya pengkhianatan dan air mata. Tidak terasa air matanya membanjiri pipinya.
"Lima tahun sudah kita menikah, kenapa kau begitu tega menghancurkannya dalam sekejap mata?" isaknya.
"Bahkan aku baru tahu kalau kau sudah memiliki hubungan dengan sepupuku sendiri. Kenapa saat orang tua kita menjodohkan, kau tidak pernah bercerita kepadaku?" isaknya lagi.
"Tidak, kau tidak boleh menangis Michelle. Kau wanita cantik, pandai dan berprestasi. Jangan menjadi wanita lemah dan bodoh dihadapan pria seperti dia!"
Michelle menghapus air matanya, dia berusaha berdiri dan bercermin.
"Kamu sangat cantik, pintar dan tidak lemah! Kamu tidak boleh menangisi pria seperti dia!" ucapnya kepada dirinya.
Michelle masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Berendam di bathtub dengan aromaterapi adalah salah satu cara merilekskan otot dan pikirannya supaya lebih tenang.
Selesai mandi dan berganti baju. Dia keluar kamar, tidak lupa dia memakai hijabnya, walaupun masih dilingkungan rumah.
Dia melihat suaminya Nathan sedang duduk di ruang makan. Sedangkan Dewi mungkin sudah pulang. Michelle ke arah dapur, dan menyiapkan makan malam untuk suami dan dirinya.
Hidangan ala kadarnya sudah siap di meja makan. Michelle mempersilahkan suaminya untuk menikmati makan malam yang ia masak sendiri. Bagaimanapun Nathan masih suaminya, dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu melayani suami.
"Michie, duduklah! Aku mau bicara denganmu!" ucap Nathan dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ada apa, Mas?" Michelle duduk tepat dihadapan Nathan.
"Ayo kita bercerai!" ucap Nathan.
DEGH ....
Hati Michelle seperti tertimpa palu yang beratnya berton-ton. Dadanya terasa sangat sesak. Hatinya begitu hancur. Rumah tangga yang dibina selama lima tahun, sekarang harus kandas begitu saja.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Michelle.
"Ayo kita bercerai. Setelah bercerai aku akan menikahi Dewi," jawabnya.
__ADS_1
Badannya terasa sangat lemas. Kaki serasa tidak bertulang. Michelle menatap mata suaminya.
"Jika memang itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi, sebelumnya kau katakan dulu kepada ayah dan ibu. Bagaimanapun kita harus melibatkan orang tua. Karena mereka adalah orang-orang yang sangat aku hormati," ucap Michelle tegas.
"Iya, aku pasti akan mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi. Karena aku tidak pernah bahagia denganmu!" ucap Nathan.
"Tidak pernah bahagia?" Michelle tersenyum hambar.
"Lalu apa yang selama ini kita lakukan diranjang? Bahkan kau sangat menikmatinya? Apakah semua itu tidak ada artinya apa-apa bagimu?"
"Tidak. Aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai seorang suami," jawabnya.
Terluka? Tentu saja Michelle sangat terluka, mendengar kata-kata yang diucapkan Nathan kepadanya, seperti ribuan sembilu yang menancap dihatinya, sakit dan perih itu yang sedang dirasakan Michelle. Namun dia berusaha untuk tidak menangis.
"Lima tahun menikah, kita belum juga dikaruniai anak. Jadi untuk apa kita masih mempertahankan rumah tangga yang sangat membosankan ini?"
"Tapi, kita masih banyak waktu, Mas. Kita bisa berusaha lebih keras lagi. Bila perlu kita akan berkonsultasi dengan Dokter kandungan,"
"Sudahlah, Michie. Kenapa kau masih bertahan dengan pernikahan yang membosankan ini? Bukankah lebih baik kita bercerai dan menjalani kehidupan kita masing-masing," ucap Nathan.
"Kenapa kau begitu jahat, Mas? Aku tidak melihat cinta dan sayang yang sering kau katakan kepadaku. Apakah cinta dan sayang itu sudah pupus, setelah kau bertemu Dewi kembali?"
"Iya. Karena pada dasarnya, dari dulu aku masih sangat mencintai Dewi. Dan sampai sekarang pun aku masih sangat mencintainya," ucap Nathan.
"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Aku akan menerima semua keputusan kamu. Tapi, tolong katakan kepada kedua orang tuaku dengan baik-baik," ucap Michelle menundukkan kepalanya.
to be continued.....
Bab 2 :
'Kejujuran memang menyakitkan, tetapi tidak mematikan, Kebohongan memang menyenangkan tetapi tidak menyembuhkan'
'Sejujurnya aku lebih memilih disakiti oleh kejujuran dibandingkan terbiasa nyaman dengan kebohongan'
'Sesakit apapun kejujuran, akan lebih menyakitkan kebohongan yang terungkap'
Mereka berdua sudah bersiap-siap ingin pergi ke rumah ayah dan ibu. Nathan menyuruh istrinya untuk bergegas, karena sore ini mereka akan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah.
Mobil Nathan berjalan dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Michelle hanya memandang ke luar jendela, tanpa berkata apa-apa. Hanya keheningan di dalam mobil.
"Setelah di rumah Ayah dan ibu, kau diam saja. Biar aku yang akan mengatakan semuanya!" ucap Nathan membuka percakapan.
Kedatangan Nathan dan Michelle disambut hangat oleh kedua orang tua.
"Nathan, Michelle! Wah, ini kejutan sekali. Apakah kalian punya feeling ingin datang kemari? Kok kalian tahu kalau ayah sedang sakit?" kata Mba Retno. Kakak sulung suaminya.
"Memangnya ayah sakit, Mba?" tanya Nathan.
"Iya, jantung Ayah kumat lagi. Tapi ibu dan Mbak sudah membujuknya ke rumah sakit, tapi ayah tidak mau," jelas Mba Retno.
"Kok bisa?" tanya Michelle, "Aku mau lihat kondisi ayah." Michelle berlari ke kamar ayah, ternyata ibu berada di kamar.
"Michie,"
"Kok ibu nggak bilang kalau ayah sedang sakit?" tanya Michie.
"Maafkan ibu, Michie. Ibu nggak mau kalian khawatir!" ucap Wulan, ibu mertuanya.
"Tentu saja kami khawatir. Ayah dan ibu adalah orang tua kami," jawab Michie.
"Ayah?"
"Aaaaaaaa, sakit!" ayah memegangi dadanya.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Michie.
"Tapi, Nak?"
"Sudah, Bu. Masalah biaya ibu tidak usah memikirkannya. Biar Michie yang mengurus semuanya," ucap Michelle.
Mereka pun membawa ayah ke Rumah Sakit terdekat. Nathan membantu membopong tubuh ayahnya yang berat.
Mereka berempat pergi ke Rumah Sakit. Dan Pak Bara, ayah mertuanya mendapatkan perawatan nomer satu di Rumah Sakit. Setelah membayar semua biaya administrasi di kasir, Michelle masuk kembali ke ruang rawat ayah mertuanya.
"Bagaimana, Nak?" tanya ibu mertuanya.
"Alhamdulillah semuanya beres, Bu," jawab Michelle.
"Terimakasih banyak, Nak. Kamu memang anak yang sangat baik," puji ibu mertuanya. Michelle tersenyum bahagia bisa membantu orang lain.
__ADS_1
"Michie mau sholat ashar dulu, Bu,"
"Baiklah, biar ibu dan Nathan yang menjaga disini!"
"Apakah kamu juga mau sholat, Mas?"
"Aku nanti saja," jawab suaminya.
"Baiklah,"
Michelle bergegas ke musholla Rumah Sakit. Dia mengambil wudhu, dan langsung memakai mukena. Dia menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Empat rokaat telah selesai ia jalankan, sekarang dia berdoa kepada Allah memohon sesuatu kepada sang Khaliq.
'Ya Alloh, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba mohon berikanlah jalan untuk pernikahan hamba. Hamba sudah tidak sanggup lagi harus bertahan dengan pernikahan yang sudah ternoda dengan perzinahan. Tapi, hamba tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada kedua mertua hamba yang sudah hamba anggap seperti orang tua hamba sendiri. Berikanlah petunjuk mu, Ya Rabb,'
Tidak terasa air mata membanjiri pipinya. Hatinya sangat sedih, tapi, dia juga sangat marah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti pepatah bilang 'Bagaikan makan buah simalakama, maju- kesehatan ayah mertuanya yang dipertaruhkan, mundur- dirinya yang akan sakit dan tersiksa.'
Sekembalinya dari musholla, dia nampak melihat suaminya sedang berbicara di telepon. Michelle mendekat ke arah suaminya.
"Iya, Sayang, kamu tenang saja. Aku akan pastikan, aku akan segera menceraikannya. Dan aku akan bilang ke orang tuaku untuk menikahimu. Setelah itu kita akan hidup bahagia dan menua bersama," ucap Nathan ditelepon.
Sakit? Itulah yang dirasakan Michelle, namun apa daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Michelle menghapus air matanya, dan masuk ke ruang rawat ayah mertua.
"Kamu sudah sholat, Sayang?" tanya ibu mertuanya.
"Sudah, Bu. Ibu mau sholat?"tanya Michelle.
"Iya, Ibu mau salat dulu. Tolong jaga ayah ya?"
"Iya, Bu. Michelle akan menjaga ayah dengan baik," jawab Michelle.
Kemudian ibu mertuanya keluar ruangan untuk sholat. Beberapa menit ibunya keluar, suaminya menyusul masuk ke dalam.
"Dimana ibu?"tanya Nathan.
"Kemana saja kamu, Mas? Ayah kamu sedang sakit harusnya kamu menemaninya di sini. Bukan sibuk dengan perempuan yang tidak jelas itu!" ucap Michelle.
"Dia bukan perempuan yang tidak jelas tapi dia adalah calon istriku," tegasnya.
"Ck, kamu itu sangat lucu ya, Mas. Kamu bilang dia calon istri kamu. Kamu itu belum menceraikanku, Mas. Bagaimana kamu bilang dia calon istri kamu?" decihnya kesal.
"Sebentar lagi, aku pasti akan menceraikanmu!"
"Terserah kamu. Sekarang tugasku sudah selesai. Sekarang juga aku akan pulang. Maaf aku tidak bisa menunggu ayah di Rumah Sakit, karena besok aku harus bangun pagi. Perusahaan ada meeting penting dengan Perusahaan Jepang. Aku sebagai sekertaris harus profesional," ucap Michelle.
Michelle berlalu pergi meninggalkan ruang rawat ayah mertuanya.
"Michie, Tunggu!" Nathan menarik tangan istrinya.
"Ada apa?"
"Oke, aku berterima kasih karena kamu sudah membayarkan biaya Rumah Sakit ayah. Tapi, aku masih tetap dengan keputusanku!"
"Terserah," ketus Michelle berlalu pergi meninggalkan suaminya sendiri yang masih terpaku di sana.
Michelle pergi dari Rumah Sakit dan langsung memberhentikan taksi yang melintas di depannya.
"Ke alamat Jalan Juanda, Pak," ucapnya.
"Baik, Neng," jawab sopir taksi.
Di dalam taksi, dia tidak berhenti menangis, membuat sopir taksi kebingungan.
"Ada apa, Neng?"tanya sopir taksi.
"Tidak apa-apa, Pak," jawabnya. Sopir taksi hanya mengangguk pelan.
Taksi yang ditumpangi oleh Michelle sampai di depan rumah. Sebenarnya dia sangat malas untuk pulang ke rumah. Apalagi kejadian kemarin mengingatkan akan perselingkuhan suaminya.
Michelle menarik nafasnya panjang. Dia harus melupakan semua, atas apa yang dilihatnya.
Masuk ke dalam rumah, Michelle langsung mandi dan berendam di air hangat. Dia merasa badannya terasa lelah. Dia memandangi langit-langit kamar mandinya.
Saat itu dia teringat, mereka menikah karena dijodohkan. Namun Nathan tidak pernah menolak pernikahan itu. Bahkan setelah mereka menikah, Nathan tidak pernah bercerita masa lalunya. Lima tahun mereka menikah, tidak sedikitpun Nathan mengeluh dengan pernikahannya. Bahkan, saat Michelle belum juga memberikan keturunan. Nathan sama sekali tidak pernah mempersoalkan itu. Dia selalu memberikan dukungan kepada istrinya.
Namun setelah bertemu dengan Dewi, dia melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Nathan. Nathan menjadi sosok yang dingin, cuek dan tidak mempedulikan perasaan istri. Bahkan dengan terang-terangan, Nathan membawa selingkuhannya ke rumah. Tidak terasa Michelle kembali menitikkan air mata.
"Tidak, Michelle. Kamu jangan lemah!" ucapnya kepada dirinya sendiri.
to be continued.....
__ADS_1