
"Iya, mungkin!" jawab Fabyan. Jujur perasaannya menghangat saat berada di dekat wanita itu. Mungkin pembawaan gadis itu yang selalu ceria dan berkata apa adanya. Penampilannya juga seadanya. Berbeda dengan gadis kebanyakan.
"Itu apa?"
"Itu namanya biang lala!" jawab Fabyan.
"Bolehkah aku naik?"
"Hah, Kau tidak takut?"
"Tidak. Aku justru sangat penasaran sekali!"
"Tidak ah. Malu! Seperti anak kecil!" cebiknya.
"Ayolah! Please! Aku ingin sekali naik itu!"
Fabyan jadi nggak tega melihat Clara memohon seperti itu, "Iya, Baiklah! Aku beli tiketnya dulu!"
____
____
Fabyan kembali dengan membawa dua tiket untuk naik ke Biang Lala. Ternyata naik wahana ini, seperti berada di puncak, sungguh sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Fabyan bisa melihat dengan jelas, Clara terlihat sangat bahagia. Sesekali dosen cantik itu bergumam, kemudian saat Biang Lala mulai memutar, tanpa disadari tangannya menggenggam tangan Fabyan erat.
Turun dari wahana itu, Clara juga ingin menjajal wahana yang lain. Ia merasa sangat bahagia, sejak kecil Papanya tidak pernah sekalipun mengizinkan Clara untuk pergi ke pasar malam.
Fabyan mengajak Clara ke sebuah kios hot dog. Aroma daging yang dipanggang, sungguh lezat sekali diindera penciuman. Aroma dagingnya sungguh menggugah selera.
Fabyan berbisik, "Kau pernah makan hot dog sebelumnya?"
"Tidak," jawab Clara.
"Hah, kau ini hidup dimana? Masa kau tidak pernah makan hot dog?"
"Papaku selalu melarangnya. Kata Papa, makanan cepat saji itu tidak baik untuk kesehatan!" jawab Clara.
"Lalu apa yang kau makan?"
"Ehm, Lobster, salad, steak, dan ... !" belum juga selesai berucap.
"Kami pesan dua porsi hot dog dengan daging sapi panggang terbaik!" ucap Fabyan pada pedagang hot dog.
Pedagang langsung menyiapkan dua porsi hot dog spesial dengan daging sapi pilihan. Dua porsi hot dog sudah siap. Fabyan membayar hot dog tersebut.
"Makanlah! Sekali-kali peraturan dilanggar tidak apa-apa bukan!" ujarnya. Clara terkekeh geli.
"Oke. Aku akan memakannya!"
Mereka mencari bangku kosong untuk duduk. Kemudian Fabyan mencari air minum dingin untuk mereka. Setelah mendapatkannya, dia kembali ke bangku tadi, dimana ada Clara yang sedang menunggu.
"Ini!"
"Terimakasih," jawab Clara.
Mereka menikmati hot dog di tengah keramaian. Duduk di bangku sambil melihat orang berlalu lalang.
__ADS_1
Clara melihat cara makan Fabyan. Pria itu makan hot dog nya dengan sangat elegan, tidak belepotan. Berbeda dengannya. Sausnya meleleh kemana-mana. Membuat bibir manisnya belepotan dengan saus. Dengan perhatian, Fabyan mengelap bibir Clara dengan tisu. Tentu itu membuat Clara tersipu malu.
"Ternyata enak juga!" kekeh Clara.
"Memang enak. Kau mau nambah lagi?"
"Tidak. Muatan perutku tidak lebar. Makanku hanya sedikit!" ujarnya. Tapi manik Clara masih melirik ke arah hot dog milik Fabyan. Fabyan sengaja menyisakan hot dognya.
"Apa kau tidak mau memakan itu?" tunjuk Clara.
"Aku kehilangan nafsu makan!" ujar Fabyan.
"Kalau begitu untukku saja!" tanpa merasa canggung, Clara mengambil hot dog sisa Fabyan. Kemudian melahap dalam sekali gigitan.
Fabyan jadi kesal, "Hey, Hey, Aku belum selesai bicara! Aku tidak bilang kalau aku tidak akan memakannya lagi! Kenapa malah kau makan?"
"Anda yang bilang tidak nafsu makan?"
"Ih, dasar! Beli lagi sana!" suruh Fabyan, "Sekalian belikan untukku juga!"
"Ah, tidak mau!" Clara merebut lembar seratus ribuan dari tangan Fabyan. Kemudian dia berdiri, kakinya melangkah ke kios makanan yang menjual sosis bakar.
"Dua porsi sosis bakar jumbo!" ucap Clara.
"Ck, katanya perutnya tidak lebar! Katanya kenyang! Melihat makanan enak, perutmu seperti karet!" gelak Fabyan.
"Ini bukan untukku, Tapi untuk ... !" Clara menunjuk dua orang anak kecil. Mungkin mereka kakak beradik. Sedari tadi Clara melihat anak itu terus memandangi sosis yang sedang dibakar. Mungkin mereka tidak memiliki uang, sehingga mereka hanya bisa melihat.
"Ini untuk kalian!" Clara memberikan sosis itu pada dua anak kecil itu.
"Apa ada makanan lain yang kalian inginkan?"
"Ehm," mereka nampak berfikir. Namun maniknya ke arah makanan seafood. Clara pun ke kios makanan seafood itu, dia membeli banyak makanan di sana dan memberikannya pada dua anak kecil itu.
"Terimakasih, Kak! Terimakasih banyak!" ucap dua anak itu.
"Sama-sama." jawab Clara sambil tersenyum. Dari jauh Fabyan menyunggingkan senyum.
Mereka pun pergi dari tempat itu, namun Clara masih bisa mendengar ucapan mereka.
"Ini untuk Bapak dan Ibu di rumah, Alhamdulillah masih ada orang baik di dunia ini ya, Dek!"
Kata-kata anak itu membuat hati Clara tersentuh.
Orang baik? Apakah benar aku baik? Baru kali ini ada seorang yang mengatakan kalau diriku baik!
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Fabyan membuat Clara tersentak dari lamunannya.
Clara tersenyum, "Nggak apa-apa. Kita mau kemana lagi?"
"Eh, itu ada permainan yang menarik! Ayo kita kesana!" tunjuk Fabyan.
Fabyan mengajak Clara ke sebuah kedai permainan. Dia menggenggam tangan gadisnya ke kedai itu.
Fabyan menyerahkan uang 10 ribu kepada pemilik kedai. Sesuai dengan tulisan di depan kedai ' Satu Tembakan Hanya 10 ribu.'
__ADS_1
"Jika Tuan bisa menembak 5 tembakan pada sasaran utama, maka hadiah utama akan Anda dapatkan!" ucap pemilik kedai.
Wah, hadiah utamanya boneka teddy bear! Lumayan!
Fabyan mengambil pistol mainan, lalu memasukkan peluru berbentuk jarum. Ia menarik pelatuk, ia bidikkan ke sasaran utama, lalu kelima sasaran itu bergerak memutar dengan cepat. Peluru melesat mengenai sasaran.
Dorrr ...
Dorrr ...
Dorrr ...
Dorrr ...
Dorrr ...
Bidikan Fabyan sangat tepat mengenai lima sasaran. Clara yang berdiri di belakang Fabyan menatap terkesima dan tidak percaya. Karena semua bidikan Fabyan, semuanya tepat ke sasarannya.
Clara terkejut, tapi berbanding terbalik dengan pemilik kedai. Selama ini belum ada yang bisa menembak dengan begitu baik, tapi kali ini dia benar-benar dibuat shock. Pemilik kedai bergetar melihatnya.
Fabyan sangat tenang, tubuhnya terlihat sangat santai. Tidak bergetar sama sekali. Dan itu sangat keren.
Sialan! Siapa dia sebenarnya?
Fabyan menatap pemilik kedai yang tubuhnya bergetar. Mungkin dia merasa takut atau membayangkan sesuatu hal yang mengerikan.
"Hey, Pak! Temanku berhasil mengenai lima sasaran dengan sangat tepat. Mana hadiahnya?" tanya Clara. Clara bisa melihat ada ketakutan pada pemilik kedai. Saat mengambil Tedy bear yang besar itu tangannya masih bergetar.
Boneka beruang besar itu, Ia serahkan kepada Fabyan, tangannya masih bergetar. Tapi Fabyan hanya tersenyum tipis.
"Ini untukmu!" Dia menyerahkan boneka itu pada Clara, membuat Clara terkejut.
"Eh, kok buat saya?" tanya Clara.
"Lagian jika aku bawa pulang untuk apa? Aku kan pria! Aku juga nggak punya adik cewek!"
Betul juga sih! Hehehe ...
Tapi kenapa harus diberikan padaku?
Rasanya sangat aneh! Biasanya aku memegang pistol, masa sekarang aku pegang boneka!
"Baiklah, terimakasih banyak!" ucap Clara.
"Ayo kita pulang! Ini sudah terlalu malam!" ajaknya sambil berlalu pergi.
"Hey, tapi bagaimana aku membawa ini? Ini besar sekali!" dengan kerepotan Clara membawa boneka Teddy Bear nya. Sementara Fabyan hanya tersenyum geli.
____
____
Akhirnya boneka besar itu berhasil Ia masukkan ke mobil. Ia taruh di bagian belakang. Sementara dirinya duduk di bangku depan, di samping rektor itu.
"Sudah siap?" Clara menganggukkan kepalanya. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
To be continued ...