
Hujan turun dengan derasnya. Suara petir menggelegar. Bastian menoleh ke arah tempat tidur, dimana di tempat tidur terbaring wanita cantik yang tadi Ia tolong.
Ia mendekat ke arah tempat wanita itu berbaring. Menyibakkan sedikit rambut, yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu cantik, Elisa!" gumamnya.
Semakin diperhatikan, getaran aneh itu semakin membuatnya hilang pikiran. Inci demi inci Ia perhatikan, membuat Bastian menelan salivanya. Saat tanpa sengaja maniknya melihat perut putih dan mulus milik Elisa.
Ia pun melepas semua pakaian yang menempel ditubuh kekarnya. Kini badan Bastian polos tanpa sehelai kain yang menutupinya. Kemudian Ia menaiki ranjang, dan melepas semua baju yang menempel di tubuh Elisa.
"Wow, aku akan memiliki tubuhmu seutuhnya!" lirih Bastian.
Pria bertubuh besar dan tinggi itu menindih wanita yang masih belum sadarkan diri. Dikecupnya leher hingga bagian sensitif wanita itu, membuat wanita yang ada dibawah sana merasakan sensasi yang luar biasa. Tanpa disadarinya, Elisa mendesah panjang merasakan kenikmatan yang belum pernah Ia rasakan.
Bastian pun tersenyum puas mendengar lenguhan panjang wanitanya. Membuat gairahnya berkobar-kobar.
Pria itu sudah tidak tahan, dia ingin memberikan sentuhan lebih pada wanita yang masih juga belum sadar. Meremas dan memilin, membuat wanita semakin menggelinjang kegelian.
Elisa menggeliatkan tubuhnya, dia sedikit menaikkan kakinya ke atas, Bastian yang melihat Elisa menaikkan kakinya, seakan-akan memberikan kode untuk segera melahapnya.
Tanpa basa-basi, Bastian menciuminya dengan buas. Dia memainkan benda kecil yang terselip di liang surgawinya, tanpa jeda tanpa ampun.
Elisa yang merasa inti tubuhnya sedang dikerjai, dia pun perlahan membuka matanya. Elisa begitu terkejut mendapati Bastian mengukung tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan, Bajingan!" Elisa berusaha untuk mengeluarkan suara laknatnya. Dia tidak mau bajingan Bastian mendengar kalau dirinya sedang melenguh panjang.
Bastian tidak mengindahkan ucapan Elisa. Dia masih tetap pada rencana awal, ingin menikmati liang surgawi Elisa, dan menjadikan Elisa sebagai wanitanya.
"Le-pas-kan a-ku, Bajingan, Bangsat Kau!"
Elisa berontak saat tubuh Bastian mendekapnya semakin kuat. Bahkan tenaganya, tidak mampu untuk mendorong tubuh besar Bastian.
Bastian yang sadar kalau Elisa sadar, dia pun segera membenamkan senjata miliknya ke bagian inti milik Elisa. Sakit, perih dan panas, Elisa rasakan. Namun bukan hanya rasa sakit pada intinya, hatinya terlebih sakit karena dia merasa dilecehkan oleh musuh bebuyutannya sendiri.
__ADS_1
"Akan aku bunuh Kau!" marah Elisa.
"Maafkan aku, Elisa! Aku sangat mencintaimu!" ucap Bastian.
Bastian mulai mengerakkan pinggulnya dengan irama pelan. Elisa mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia meracau tidak jelas menikmati pertempuran senjata istimewa milik mereka masing-masing.
"Aaaaaarrrrrrggggghhhhh! A-ku a-kan mem-ba-las mu!"
"Diam!" Bastian membungkam mulut Elisa dengan ciuman yang brutal.
Suara ******* dan bunyi yang khas tercipta dari kedua tubuh yang saling menyatu mengaung memenuhi seisi ruangan kamar.
"Aaaaaaahhhhhh!" akhirnya mereka berdua ******* secara bersamaan.
Elisa memalingkan wajahnya ke samping. Dia sangat malu, harusnya dia marah atau menghajar laki-laki yang sudah merenggut kegadisannya. Tapi saat dia digagahi, dia justru ******* dan mengeluarkan lenguhan panjang yang sangat menjengkelkan. Sementara Bastian tersenyum puas sudah menaburkan benih-benih kehidupan di kandungan wanita yang dicintainya. Bastian pun mencium kening Elisa dengan sayang.
Setelah pergumulan panas itu terjadi, Bastian langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dia biarkan wanitanya untuk menenangkan diri.
____
____
"SIAL! Pergi kemana dia?"
Bastian mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Elisa. Dia takut Elisa akan berbuat nekad untuk mengakhiri hidupnya.
Semenjak kejadian itu, Bastian sudah tidak pernah bertemu dengan Elisa. Padahal dia rela jika harus menikahi wanita itu karena perbuatannya. Kenyataannya Bastian memang sudah mencintai wanita itu sebelum dia terobsesi untuk memilikinya.
°°°°°°°
Clara mengerjapkan matanya. Dia mengamati ruangan yang sekarang Ia tiduri.
__ADS_1
Dari dalam kamarnya nampak begitu jelas jejeran pohon-pohon menjulang tinggi. Dengan kabut tebal menyelimuti. Membuat suasana dalam kamar sangat mencekam.
Clara turun dari tempat tidur, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok seseorang. Namun sosok itu tidak ada di kamar.
Clara begitu terkejut saat pakaiannya sudah berganti dengan piyama tidur. Seketika pikirannya traveling kemana-mana. Ia pun mengusap kasar wajahnya.
"Selamat pagi!" Fabyan datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Kemudian Ia letakkan di atas meja. Karena di kamar itu ada sofa dan mejanya.
"Pagi," lirih Clara, "Apakah Pak Fabyan yang menggantikan pakaian saya?" ketus Clara.
Bukannya menjawab, Fabyan malah tersenyum, "Kenapa?" dia mengerling nakal.
"Oh, Anda sengaja kan? Menggunakan kesempatan ini dalam kesempitan!" cecar Clara.
Cletak ..
"Auw, " pekik Clara. Tiba-tiba sebuah sentilan berhasil mendarat di kening wanita cantik itu.
"Meskipun aku brengsek, aku tidak sekurang ajar itu!" sungutnya.
"Lalu, siapa yang mengganti bajuku?"
"Kau tenang saja, aku menyuruh salah satu pengawal wanita untuk mengganti bajumu!" jelas Fabyan. Clara jadi malu sendiri karena sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Makanlah sup daging ini! Kau harus banyak makan, karena saat aku membopong tubuhmu, kau seperti kerupuk! Ringan sekali!"
"Apa?" mata Clara membola sempurna, "Anda ingin mengatakan kalau saya kerempeng?"
Hahahaha ...
"Nah, kamu tahu!"
"Ck," desis Clara, "Dasar pria menjengkelkan!"
__ADS_1
Bersambung ...