Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 57 : Perkenalan Dengan Ortu


__ADS_3

Fabyan membelikan beberapa gaun untuk wanitanya, dia ingin melihat Clara tampil dengan cantik. Karena hari ini, Ia ingin mengenalkan Clara pada keluarga besarnya. Keluarga Bramantyo.


Hari ini Clara terlihat sangat cantik, dengan gaun selutut warna merah. Bahunya sedikit terbuka, tapi justru menampilkan keanggunan seorang wanita.



Dengan berjalan menggunakan sepatu hak tinggi, membuat pandangan Fabyan tersihir dengan kecantikan wanitanya. Clara mengulas senyum termanisnya, sementara Fabyan meraih tangan Clara dengan mesra.


"Kau cantik sekali! Hampir saja aku tidak mengenalimu!" puji Fabyan.


"Memang sebelumnya aku tidak cantik?"


"Cantik. Tapi kali ini sangat cantik!" pujinya lagi. Tentu pipi Clara merona merah mendapatkan pujian cantik dari mulut calon sang suami.


"Ayo kita jalan!" Fabyan mempersilahkan Clara untuk masuk ke mobil.


"Terimakasih,"


Fabyan pun mulai menjalankan mobilnya menunju ke sebuah tempat. Di sepanjang perjalanan, Clara tidak berhenti bercerita, dia bilang, dia sedikit gugup mau bertemu dengan calon mertua. Tapi Fabyan berusaha untuk menenangkan hatinya dengan cara menggenggam jari-jari lentik itu, dan mengulas senyum manisnya.


Mobil Fabyan memasuki kawasan paling elit di kota tersebut. Sebuah rumah mewah bergaya Eropa, dengan gerbang menjulang tinggi. Tapi Clara sama sekali tidak heran, rumahnya sendiri tidak jauh berbeda dengan rumah milik Fabyan. Andai Fabyan tahu kalau pemilik LNK Group adalah dirinya, pasti dia juga akan terkejut. Namun sampai sekarang Clara masih menyembunyikannya.


Kedatangan Fabyan disambut baik oleh para penjaga dan security. Mereka sangat senang bisa melihat Fabyan pulang ke rumah.


"Selamat datang ke rumah, Tuan Muda!" ucap penjaga gerbang.


"Terimakasih banyak! Oya, Apakah Papa dan Mama di rumah?" tanya Fabyan.


"Tuan Besar di rumah. Tapi ada Nona Belle dan keluarganya juga!"


"Wow, kebetulan sekali!" gumamnya.


"Ada siapa?" tanya Clara.


"Belle. Dia ada di rumah dengan kedua orangtuanya. Seperti biasa, mereka datang untuk menjilat!" ucap Fabyan, sepertinya tidak terlalu suka dengan kedatangan Belle dan keluarganya.


"Ayo masuk!"


"Tapi aku gugup!"


"Tidak apa-apa. Kan ada aku!" ucap Fabyan tersenyum.


_____


_____

__ADS_1


"Selamat sore!" sapa Fabyan.


Semua mata menoleh ke arah Fabyan dan Clara. Fabyan mengulas senyum, sementara Abrisam sang ayah menatapnya tajam.


"Byan, Ada apa ini?" tanya Madam Santi, Ibu Fabyan melihat putranya menggandeng tangan seorang wanita cantik, "Siapa wanita ini?"


"Oya, Fabyan lupa! Sebelumnya Fabyan kenalkan pada semua orang disini! Perkenalkan wanita di samping saya, namanya Clara Lunoks, dia adalah calon istri saya!" ucap Fabyan tegas.


"APA?" semua mata menatap tajam ke arah mereka, termasuk kedua orang tua Belle.


"Lelucon apa ini? Kau ingin melawak, hah!" manik Abrisam terlihat memerah mendengar ucapan putranya.


"Maaf, Pah! Aku sudah menemukan seseorang yang aku cintai! Dan aku ingin memutuskan pertunangan ku dengan Belle. Karena jujur, aku tidak mencintai Belle!"


"Tega kamu, Sayang! Setelah apa yang kita lakukan bersama selama ini! Kau memutuskan aku begitu saja!" Belle menatap tajam ke arah Clara.


"Apa gara-gara perempuan ini, perasaan mu jadi berubah kepadaku? Iya, Sayang?" tanya Belle dengan amarah yang meluap.


"Jangan salahkan orang lain! Karena memang hubungan kita tidak pernah aku inginkan!"


"Lalu, Apa arti kebersamaan kita selama ini?"


"Kebersamaan kita?" Fabyan menyeringai lebar.


"Apa-apaan ini?" marah Joshua, ayah Belle, "Kau ingin memutuskan pertunangan setelah apa yang kau lakukan pada anakku?" Joshua terlihat sangat murka.


"Tutup mulutmu, Byan! Jangan membuat Papa malu!" murka Abrisam.


"Itu memang kenyataan, Pa! Papa bisa langsung bertanya pada Belle! Jawablah jujur Belle, sebelum nantinya Kau malu di depan orang tua kita!"


"Apa-apaan ini, Abrisam! Putramu sudah menghina anakku! Dengan jelas dia mengatakan kalau anakku wanita rendah! Apa ini didikan mu, Abrisam?" murka Joshua.


Manik Abrisam semakin memerah, emosinya tidak terkendali. Jelas dia sangat marah. Dan Fabyan lah yang membuat Abrisam marah. Namun Fabyan masih saja bersikap santai.


"Om Josh, bisa tanyakan langsung ke Belle! Apa yang sudah dilakukannya di belakang saya selama ini?" ucap Fabyan, "Bukan saya yang berkhianat! Tapi dia!" tuduh Fabyan.


"Dia sudah berkhianat saat dia masih menjadi tunangan saya! Jadi, tidak salahkan jika saya memilih istri yang baik!"


Joshua menatap lekat manik putrinya, dia ingin meminta penjelasan pada putrinya. Namun Belle hanya menunduk takut, tidak berani menatap mata sang ayah.


"Belle katakan?" bentak sang ayah.


"A-aku, A-ku!" Belle tergagap, dia takut mengatakan semuanya.


"Ayolah Belle, katakan semuanya pada ayahmu! Biar dia tidak salah paham denganku!" ujar Fabyan mendesak Belle, "Apa perlu aku memberikan ayahmu bukti, dengan siapa kau ke hotel Zeus?"

__ADS_1


Apa hotel Zeus? Bagaimana Fabyan tahu aku ke hotel Zeus?


"Apa perlu aku juga memberikan bukti rekaman cctv Restaurant Aries, saat itu kau sedang bersama siapa?"


Apa? Restaurant Aries? Ba-ba-bagaimana dia tahu?


Belle sungguh tidak percaya, Fabyan mengetahui semua aktivitasnya selama di Amerika. Seketika raut muka Belle pias. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada sang ayah.


"Maafkan Belle, Pah! Belle salah!" lirih Belle.


"Jadi benar apa yang dikatakan Fabyan? Kau ini benar-benar bikin malu!" teriak Joshua pada putrinya.


"Maafkan Belle, Pah! Belle merasa kesepian. Makanya Belle mencari hiburan di luar sana! Tapi Belle janji, jika Belle sudah menjadi istri, Belle akan berbakti kepada Fabyan!" ujar Belle.


"Cih, tidak tahu malu! Tante nggak sudi punya menantu seperti itu!" Santi angkat bicara.


"Eh, Jeng, jangan begitu dong!" Dewi ibu Belle tidak terima putrinya disudutkan, "Anak Jeng juga sudah merasakan tubuh anak saya!"


"Ck, ****** ya tetap ******! Kucing mana sih nggak tergoda jika diberi ikan besar!" sindir Santi.


"Eh, enak saja!"


"SUDAH CUKUP!" teriak Abrisam dan Joshua bersamaan. Sontak dua wanita itu saling terdiam.


"Huft," Abrisam menghela nafasnya panjang, begitu juga Joshua menghela nafasnya berat.


"Maafkan kesalahan putriku, Abrisam! Dia sudah membuatku sangat malu!" ujar Joshua.


"Sudahlah, tidak apa-apa!" jawab Abrisam.


"Lalu bagaimana dengan pertunangannya?"


"Maaf, Aku tidak bisa memaksakan kehendakku kepada Fabyan! Dia sudah dewasa, dia bisa menentukan pilihannya sendiri!"


"Tapi pertunangan ini sudah kita sepakati bersama?"


"Iya, aku tahu. Tapi semua keputusan ada ditangan Fabyan! Lagian Fabyan juga sudah dewasa, tidak perlu aku memaksanya lagi!"


"Baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Sekali lagi, kami minta maaf!"


"Iya," Abrisam berusaha sabar, dia hanya bisa menepuk pundak sang sahabat, dan melepaskannya pergi.


"Kami pulang!"


Belle tidak terima diperlakukan begitu, dia berjanji akan membuat perhitungan. Dia menatap ke arah Clara, dengan tatapan tidak suka dan rasa benci.

__ADS_1


To be continued ...


Hey², Ayo kasih Like dan komentarnya say.....


__ADS_2