
Abrisam menatap tajam ke arah putranya. Fabyan tetap bersikap santai. Sementara Clara merasa canggung, dia merasa kalau dirinya adalah penyebab perseteruan antara ayah dan anak itu.
"Duduklah!" Madam Santi menyuruh putra dan Clara duduk. Kemudian wanita cantik itu mengulas senyum ke arah Clara.
"Kau cantik sekali, Nak! Siapa namamu?" tanya Santi sangat lembut.
"Clara, Nyonya!" jawab Clara memperkenalkan diri.
"Wah nama yang cantik secantik orangnya," puji Santi.
"Terimakasih, Nyonya!"
"Byan, Papa memang membatalkan pertunanganmu dengan Belle, bukan berarti Papa merestui kalian! Papa nggak mau kaluarga kita malu gara-gara ulah Belle! Hanya itu!"
Astaga, Pa! Apa jadinya kalau kau tahu kelakuanku diluar sana!
"Apa yang Papa bicarakan! Bukankah Aku sudah mengatakan, aku akan menikahi wanita yang ada di samping ku. Apa kurang jelas, Pa?" Fabyan mulai kesal dengan sikap papanya.
"Memang apa pekerjaan wanita itu? Siapa orang tuanya? Papa harus tahu bebet, bibit dan bobotnya!"
"Papa ini ngomong apa sih? Fabyan nggak ngerti jalan pikiran Papa!"
"Pah, kedatangan Fabyan kesini itu untuk memperkenalkan kekasihnya kepada kita, kenapa Papa memperkeruh suasana sih?" bela Santi. Istrinya juga mulai kesal, karena selalu saja suaminya mempertanyakan kasta keluarga calon istri putra-putranya.
Abrisam dan Santi dikaruniai tiga orang putra yang tampan-tampan. Putra pertama mereka adalah Fabyan Bramantyo, putranya yang kedua bernama Attala Bramantyo, dan putra ketiga bernama Banyu Bramantyo. Attala sudah menikah, dia mendahului Fabyan menikah. Dan bagi Fabyan itu tidak masalah. Kini Attala hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.
Gadis yang dinikahi Attala berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sehingga Abrisam tidak begitu menyukai menantunya.
"Nak, Fabyan memilihmu untuk menjadikan mu istri. Pasti kamu memiliki keistimewaan!" ucap Santi, "Kalian kenal dimana? Dan sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"Mom, Ayolah! Putramu ini tidak akan salah memilih!"
"Ah, Kau diam saja!" tegas Santi, "Jawablah, Nak!"
"Saya pernah menjadi dosen di Universitas Pak Fabyan, Nyonya!"
"Oh, Kau dosen! Wah, ternyata jodoh anak kita dosennya sendiri, Pah!" senang Santi, "Berapa lama kalian saling mengenal?"
"Baru 1 bulan," jawab Clara.
"Sudah lama, Mom!" jawab Fabyan. Jawaban mereka berbeda, dan itu membuat Abrisam dan istrinya saling berpandangan.
"Kenapa jawaban kalian berbeda?" tanya Madam Santi.
"Maksud kami, kami sudah lama mengenal. Tapi kami jadian baru satu bulan. Iya kan?" tanya Fabyan pada calon istrinya.
"Eh, iya," jawab Clara tersenyum tipis.
Hufffff, kenapa dia harus berbohong sih? Kenapa coba nggak jujur?
Tiba-tiba dia datang dan ingin menikahiku. Bilang seperti itu saja repot!
"Oh, begitu. Syukurlah!" jawab Santi tersenyum, "Kalau Mommy sih setuju saja. Clara terlihat wanita yang sangat cantik dan baik! Mommy akan merestui kalian!" tentu Clara sangat bahagia. Berbeda dengan Abrisam, dia nampak tidak setuju. Wajahnya terus ditekuk.
"Papa juga setuju kok! Iya kan Pah?" tanya Santi kepada suaminya.
"Baiklah. Katakan pada keluarga mu, Kami akan melamar mu, kau siapkan saja semuanya!" tegas Abrisam.
"Benarkah?" Clara begitu bahagia.
__ADS_1
"Keluarga besar kami itu sangat terpandang dan kaya raya. Jadi kami mau pesta sambutan yang sangat meriah!" pinta Abrisam sedikit meremehkan Clara.
Yang benar saja! Apa dia sedang berusaha meremehkan ku?
Apa dia pikir aku orang miskin!
"Ehm, Tuan tenang saja! Karena saya akan menyambut Anda dengan meriah!" jawab Clara santai.
"Kau perlu uang tidak? Kalau butuh uang katakan saja, biar aku bantu keuangan mu. Aku nggak mau, di depan keluarga besar Bramantyo malu karena mendapatkan seorang menantu yang biasa-biasa saja!"
"Apa yang papa katakan sih? Kok bisa-bisanya Papa punya pemikiran seperti itu?" kesal Fabyan, "Pah, aku ingin pernikahan yang sederhana. Tidak usah mewah-mewah yang penting sah!"
"Nggak bisa begitu dong! Kau anak pertama Papa, Papa nggak mau malu di depan keluarga besar kita! Sudah cukup Papa malu karena kelakuan Adik kamu, Attala! Menikahi gadis kere!" hina Abrisam pada istri Attala. Untung si empunya nama tidak disini!
"Sudah, sudah! Kenapa kalian berdebat sih? Apa nggak malu sama Clara?" Santi melerai perdebatan keduanya. Clara hanya nyengir kuda.
"Clara, karena kau sudah disini, menginaplah disini satu atau dua hari! Mommy mohon ya!"
"Tapi, Nyonya?" Clara menatap ke arah Fabyan yang cemberut.
"Ayolah, Byan! Mommy sangat merindukanmu. Biarkan Mommy mengenal Clara lebih dekat! Mau kan Byan?" mohon Santi pada putranya.
"Oke, tapi satu hari saja!"
"Ah, senangnya!" Santi begitu bahagia akhirnya dia bisa membujuk putranya untuk menginap di rumah. Biasanya Fabyan tidak pernah mau menginap di rumah. Karena Ia paling tidak suka jika sang Papa terlalu banyak bertanya mencampuri urusan pribadinya.
"Clara, sekarang kau panggil Mommy! Jangan panggil Nyonya, karena sebentar lagi Aku akan menjadi Mommy kamu!" Santi memeluk Clara.
"Mommy! Baiklah, mulai sekarang Clara akan panggil Nyonya, Mommy!" Clara terkekeh. Santi pun ikut tergelak. Sementara Abrisam masih saja dengan wajah juteknya.
_____
_____
Sampai di kamar, Clara merebahkan tubuhnya di kasur. Dia melepas high heelsnya yang sedari tadi sangat menyiksa kakinya.
"Ah, Astaga! Kakiku sakit sekali!" ucap Clara.
°°°°°°°°°
Sofia nampak menangis saat mendapatkan kenyataan bahwa Rafael pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah di sana. Dia memilih pergi ke luar negeri bukan hanya karena ingin melanjutkan kuliah saja tapi sang Mama yang sakit keras di sana, terpaksa Ia harus menemani sang Mama di sana. Dengan berat hati Rafael meninggalkan Sofia di Indonesia.
Sofia berdiri di tepi jalan untuk memberhentikan taksi. Tapi saat akan memberhentikan taksi, sebuah mobil Pajero sport warna hitam berhenti tepat di depannya.
"Sofia!" panggil seorang pria.
Sofia mengernyitkan alisnya, "Kak Felix!"
"Kau sedang apa ditepi jalan?" tanya Felix keluar dari mobil.
"Saya sedang mencari taksi, Kak! Saya baru pulang dari kampus!"
"Oh, mau pulang! Iya sudah kita bareng saja, aku juga mau pulang. Kita kan searah!"
"Memang nggak merepotkan Kak Felix?"
"Ya nggak lah!" Felix tersenyum, "Ayo naik!"
"Terimakasih,"
__ADS_1
Felix melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Diam-diam Ia mencuri pandang ke kaca spion mobil, memandang wajah cantik Sofia. Namun wanita cantik itu tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang sedang mengagumi kecantikannya.
"Cantik," gumam Felix.
"Apa?" Sofia sedikit mendengar gumaman Felix.
"Eh, tidak. Itu ada bunga yang cantik!" kekehnya. Sofia tidak terlalu memperdulikan lelucon garing yang keluar dari mulut Felix.
Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan mereka. Membuat Felix harus memberhentikan mobilnya secara mendadak, dan hampir saja kepala Sofia terbentur ke dashboard mobil.
"Kau tidak apa-apa?" Felix cemas karena melihat kepala Sofia hampir membentur dasboard mobil.
"Nggak, Kak! Ada apa sih? Kok ngerem mendadak?"
"Tuh!" tunjuk Felix pada mobil yang berhenti tepat di depan mereka.
"Siapa mereka, Kak?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya dari tadi mereka membuntuti mobil kita!" jawab Felix.
Empat orang pria bertubuh besar keluar dari mobil itu. Mereka menyuruh Felix untuk keluar.
"Hey, keluar!" salah satu orang yang memiliki tato ditangannya menggebrak kap mobil dengan keras.
BRAKK ...
Sontak Sofia terkejut, tanpa sadar dia memeluk lengan Felix.
"Tenang saja, ada aku!" ucap Felix.
"Kakak mau kemana?" tanya Sofia melihat Felix keluar dari mobilnya.
"Kau di dalam saja, tidak usah keluar!"
"Tapi, Kak!" belum selesai ngomong, Felix sudah menutup pintu mobil.
"Oh, ini rupanya pemilik mobil mewah ini!" ucap orang yang memiliki brewok paling tebal, "Sekarang serahkan kunci mobil dan barang-barang berharga kamu!"
"Oh mau ini rupanya!" Felix memainkan kunci mobilnya ditangan.
"Sini serahkan!"
"Enak saja!"
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
Sebuah pukulan keras berhasil mendarat di pipi mulus orang-orang itu. Felix sangat jago berkelahi, menghadapi 4 cecunguk seperti mereka sangatlah mudah. Tidak membutuhkan waktu 10 menit, mereka tumbang.
Salah seorang mengeluarkan benda tajam dari belakang pinggangnya. Sebuah pisau lipat yang sangat tajam. Sofia yang melihat dari dalam mobil saja bergidik ngeri, dan hendak keluar untuk membantu Felix. Tapi ketangkasan Felix jauh di atas rata-rata, dia sudah menodongkan pistol lebih dulu ke arah perampok itu. Sontak perampok terkejut dan ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, hingga terkencing-kencing dicelana.
"Pergi atau pistol ini menebus isi kepalamu!" ancam Felix.
"I-i-iya, Tuan!" mereka berlari terbirit-birit karena saking takutnya. Sementara Felix hanya santai masuk ke mobil. Mata Sofia membola, antara takut dan kagum Sofia berada ditengahnya.
To be continued ...
__ADS_1
Hey, yuk bantu like dan komentar sebanyak-banyaknya.... Terimakasih.....🙏🙏