Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 56 : Bertemu Papa Bastian


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Fabyan saat di dalam mobil.


"Ah, aku malas harus bertemu dengan orang itu!" jawab Clara.


"Tapi bagaimanapun Bastian adalah Papa kandungmu!"


"Hhhhhhhh, iya juga!"


"Peganglah tanganku! Aku akan selalu bersamamu!" Fabyan menggenggam tangan Clara dengan erat.


Ah, rasanya nyaman sekali jika sudah berdekatan dengan Fabyan!


Mobil yang dikemudikan Fabyan akhirnya sampai di depan mansion yang sangat mewah. Pintu gerbangnya menjulang tinggi, dengan ukiran bergaya Eropa. Belum masuk ke rumah itu saja, sudah berdiri anak buah Bastian dengan pakaian berwarna serba hitam. Dengan earpeace ditelinga mereka masing-masing.


Mobil Fabyan mendekat ke arah mereka. Saat salah satu anak buah Bastian melihat Clara, dia langsung menodongkan senjatanya ke arah Fabyan dan Clara. Lalu, salah satu anak buah yang tahu siapa Clara, dia langsung menyenggol lengannya.


"Dia anak Bos tahu!" ucap orang itu, "Pak Fabyan!"


"Kami ingin bertemu dengan Tuan Bastian! Apakah Tuan Bastian di rumah?"


"Iya, Silahkan masuk!" orang tersebut langsung menyuruh temannya membuka gerbang.


Sementara wajah orang yang menodongkan senjata pias. Orang itu berpikir nyawanya berada diujung tanduk, dan pasti Bastian akan memberikan hukuman yang setimpal karena sudah berani menodongkan senjata ke putrinya.


Mobil Fabyan masuk, mungkin salah satu anak buah Bastian sudah melaporkan kedatangan mereka, Bastian keluar dari rumah dengan mengulas senyum.


Fabyan dan Clara keluar dari mobil. Bastian menyambut kedatangan mereka. Dengan senyum mengembang, Bastian memeluk Fabyan.


"Tuan Fabyan kita bertemu lagi!"


"Panggil Fabyan saja!" kata Fabyan. Sebelum datang ke mansion milik Bastian, Fabyan sudah menceritakan hubungannya dengan Clara lewat telepon. Jadi saat bertemu, Bastian tidak terkejut sama sekali.


"Baiklah," jawab Bastian tersenyum lebar. Netral coklatnya menoleh ke arah gadis disamping Fabyan. Ada rasa sedih, rasa haru dan juga rasa bahagia, mengetahui bahwa ia memiliki seorang putri yang sangat cantik.


"Clara!" suaranya parau, dia takut gadis itu tidak akan menerimanya sebagai seorang ayah.


"Aku ... Aku ... !" Clara juga bingung harus mengatakan apa.


"Ayo masuk!" ajak Bastian.


Fabyan masuk ke dalam rumah Bastian dengan menggandeng calon istrinya. Clara menampilkan raut muka dingin tanpa ekspresi. Bastian bisa memakluminya.


"Clara, Papa minta maaf! Papa bersalah sama kamu dan Mamamu! Kamu mau kan memaafkan Papa?"

__ADS_1


Clara menghembuskan nafasnya panjang. Entah kenapa, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. Bahkan saat Bastian memanggilnya dengan sebutan Nak, baginya terasa sangat menggelikan.


Oh, Good! Kenapa rasanya sangat menggelikan? Musuhku ternyata Papa kandungku!


Sekarang aku akan memanggilnya Papa! Oh, tidak! Aku bisa gila!


"Clara!" panggil Fabyan.


"Iya," karena banyak melamun, dia sampai tidak mendengarkan apa saja yang mereka obrolkan berdua.


"Papa Bastian meminta maaf, Apakah kau memaafkannya?" tanya Fabyan.


"Iya," jawab Clara singkat lagi. Lalu mereka mengobrol banyak, entah apa yang mereka obrolkan, Clara masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku sudah mengutarakan isi hatiku pada Papamu. Dan Papa Bastian merestui kita!"


"Oh, baguslah." jawab Clara singkat, "Urusan kita sudah selesai kan? Ayo kita pulang!" ajaknya.


Fabyan menatap tajam ke arah Clara.


"Apa?"Clara sadar kalau Fabyan sedang menatapnya tajam, " Bukankah sudah selesai? Kalau begitu Ayo kita pulang!"


Fabyan menghela nafasnya panjang. Dia bisa mengerti dengan sikap Clara yang seperti itu. Fabyan hanya bisa berharap hubungan ayah dan anak bisa terjalin dengan baik.


Mereka pun meninggalkan kediaman mewah milik Bastian. Pria tua itu masih mengulas senyum. Lagi-lagi Clara tidak terlalu memperdulikannya. Dia sangat dingin di depan Bastian.


"Ada apa?" tanya Fabyan.


"Eh, tidak apa-apa!"


"Jangan berbohong! Jika ada sesuatu yang mengganjal, Kau bisa membaginya denganku!"


Clara menoleh ke arah Fabyan. Maniknya sedikit berkaca-kaca. Dengan lembut Fabyan mengelus pipinya.


"Semuanya akan baik-baik saja! Percayalah!"


"Aku hanya takut!"


"Kenapa?"


"Aku belum bisa menerima laki-laki itu untuk menjadi Papaku!"


"Cobalah untuk berdamai dengan keadaan! Lupakan semua dendam di hatimu. Karena itu akan jauh lebih baik untuk kehidupan mu kelak!"

__ADS_1


Clara menatap manik itu lekat. Fabyan mengulas senyum, seolah-olah Fabyan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh calon istrinya.


"Aku ingin ke makam Papa Ferdinand. Apakah kau bisa mengantarku ke sana?"


"Tentu. Aku akan mengantarmu!"


"Terimakasih banyak,"


Akhirnya mereka sampai di tempat pemakaman keluarga Costa. Mereka turun dari mobil. Clara membeli satu ikat bunga untuk Ia bawa ke area pemakaman.


Sampai di depan area pemakaman keluarga, Clara sedikit membungkukkan badannya memberikan penghormatan kepada Papa dan Mamanya. Setiap makam, Ia berikan satu bunga.


"Pa, Ma! Perkenalkan, ini Fabyan. Calon suami Clara. Clara minta restunya Pa, Ma! Doakan Clara hidup bahagia bersama suami Clara!"


Setelah Clara sedikit ngobrol dengan Papa dan Mamanya. Kini giliran Fabyan. Fabyan juga membungkukkan tubuhnya, memberikan penghormatan pertama. Lalu memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Clara. Dia juga berjanji akan menjaga Clara dengan baik, menjaga dengan nyawanya sendiri.


Terakhir mereka mendoakan, dan menyiramkan air di makam Papa dan Mamanya.


Hari sudah sore, Fabyan harus mencari penginapan di sekitar kota. Tidak mungkin dia langsung pulang ke kota kecil melihat langit sangat mendung. Fabyan pun memutuskan untuk mencari hotel terdekat.


Sebenarnya Bastian menawarkan untuk menginap di rumahnya. Tapi Clara bersikeras menolak kemauan Papanya. Dan Fabyan mengerti alasan Clara menolaknya.


Mobil Fabyan berbelok ke kanan, di jalan raya dia menemukan satu hotel yang cukup besar. Langsung saja Fabyan menuju hotel tersebut.


Fabyan memesan satu kamar dengan dua tempat tidur. Jadi mereka satu kamar, tapi berbeda tempat tidur. Mengingat mereka belum menikah.


"Istirahatlah!" suruh Fabyan pada gadis itu.


"Aku tidak bisa tidur jika tidak memakai baju tidur!" ujarnya.


"Apa kita beli baju tidur dulu?"


"Ah, tidak usah. Aku pakai baju ini saja!" ucap Clara. Lalu Clara langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah cukup bersih, dia pun rebahan di kasur yang sangat empuk.


"Aku akan mandi dulu! Nanti kita keluar beli baju!"


"Hem, Baiklah!" jawab Clara dengan santai.


Beberapa menit kemudian, Fabyan keluar dari kamar mandi. Tapi mendapati gadis itu sudah tertidur pulas, karena terdengar dengkuran halus dari sumbernya. Fabyan hanya geleng-geleng kepala saja, melihat tingkah Clara yang menurutnya sangat konyol, unik dan lucu.


"Dasar wanita aneh. Katanya nggak bisa tidur kalau nggak pake baju tidur! Nyatanya dengkurannya terdengar sangat jelas!"


Dia pun memilih untuk beristirahat sejenak. Merebahkan tubuhnya yang sedikit penat karena kelamaan mengemudi.

__ADS_1


To be continued ...


Hey- hey Ayo bantu Vote biar Clara dan Pak Fabyan semakin bersinar ...😘😘😘


__ADS_2