
"Kau sudah bangun?" suara bariton itu telah mengejutkannya. Ia pun memutar tubuhnya ke asal suara.
"Pak Rektor!"
Tentu saja Clara terkejut. Berbagai macam pertanyaan menggelayut dipikiran dosen itu. Clara menoleh ke arah Fabyan mencari sebuah jawaban.
"Jika masih lemah, tiduran saja dulu!" ucap Fabyan sambil tersenyum.
"Aku ada dimana?"
"Di rumahku!"
"A-pa? Aku harus pulang!" Clara beranjak dari tempat tidurnya.
"Auw." Clara masih merasakan ngilu di seluruh tubuhnya.
"Menginap dulu disini! Bu Clara masih terluka!" ucap Fabyan, "Lagipula ini sudah malam!"
"Ahhhhh, kepalaku sakit sekali!" pekik Clara, "Berapa jam saya pingsan?"
"Tiga jam."
"Hhhhhhhhhh." Clara menghela nafasnya.
Fabyan nampak menelfon seseorang. Beberapa menit kemudian, seseorang datang membawa makanan dan minuman. Di lihat dari pakaiannya, sepertinya pelayan rumah mewah ini.
Pelayan tersebut menaruh makanan dan minuman di atas nakas. Kemudian sedikit menundukkan kepalanya. Fabyan menjentikkan satu jari, lalu pelayan itu pergi keluar kamar.
Fabyan duduk disisi ranjang. Dia mengambil makanan tersebut dan hendak memberikan makanan itu pada Clara. Perhatian Fabyan, benar-benar membuat Clara senang. Pipinya bersemu merah.
"Saya bisa makan sendiri, Pak Rektor! Anda tidak perlu menyuapi saya!" ujarnya.
"Siapa yang akan menyuapi mu? Aku hanya ingin memberikan piring ini! Kau makan saja sendiri! Yang terluka kan tangan kiri, jadi tangan kanan Ibu bisa digunakan untuk makan!" ucapnya.
"A-pa?"
Ck, Astaga! Apakah aku yang terlalu kepedean?
Aku pikir, Pak Rektor akan ... !
Ya Ampun, Aku benar-benar sangat malu!
"Makanlah! Setelah itu minum obat Anda!"
"Terimakasih banyak, Pak!"
____
____
Fabyan menatap Clara dengan intens. Clara jadi kikuk ditatap seperti itu. Akhirnya dia salah tingkah sendiri.
"Kenapa Pak Rektor menatap saya seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajah saya?" tanya Clara untuk mengusir kecanggungannya.
"Sudah tiga kali saya menyelamatkan Bu Clara! Dan Saya bisa melihat ilmu beladiri Ibu, sangatlah hebat. Sebenarnya Ibu ini siapa?"
"Ck, Pak Rektor ini bicara apa? Memang seorang dosen dilarang memiliki ilmu beladiri!"
Fabyan masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Clara hanya meliriknya sejenak. Kemudian dia sibuk dengan makanan yang ada ditangannya. Dengan cepat Ia menyuapkan makanan ke mulutnya. Tak perduli dengan tatapan sang Rektor.
__ADS_1
Fabyan tersenyum melihat Clara menghabiskan makanannya. Hingga kepalanya menggeleng pelan, melihat Clara menyantap makanan seperti anak kecil. Mulutnya belepotan.
"Hey, Pak Rektor! Jangan menatapku terus! Lama-lama Anda bisa jatuh cinta pada saya!" ujarnya kepedean.
"A-pa?"
Hahahaha ...
Tawa keras terdengar menggelegar dari mulut Fabyan. Bukan hanya pintar bela diri, ternyata wanita itu pintar melawak juga. Kata-kata Clara membuat Fabyan tidak bisa menahan tawanya.
"Ternyata kau pandai melawak juga ya?" gelaknya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kata saya?"
"Ish, Kau bukan tipeku!" ujarnya.
"Bagaimana tipe Anda? Cantik, seksi atau smart!"
Fabyan lebih mendekatkan tubuhnya ke arah dosen cantik itu. Perempuan cantik itu tersipu malu, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Fabyan menyentuh rambut gelombang milik Clara, dan menyisipkan ke telinganya. Dengan malu-malu Ia menatap ke arah Fabyan.
"Aku suka dengan wanita yang seksi dan memiliki buah melon yang besar!" bisiknya tepat ditelinga Clara.
"Buah melon?" dia melirik ke arah dadanya sendiri.
"Ck, dasar mesum!" Clara mendorong tubuh Fabyan agar menjauh dari tubuhnya. Sementara Fabyan terkekeh geli melihat ekspresi Clara.
"Kau cantik kalau tidak memakai kacamata tebal! Kenapa Kau menutupi kecantikan wajahmu dengan kaca mata tebal itu?" ujarnya.
"Apa?" Clara baru sadar kalau kacamatanya hilang, "Dimana kacamata ku?"
"Sudah aku buang!" jawabnya santai.
"Karena aku rasa kau tidak membutuhkannya! Matamu juga normal!"
"Ck."
Hhhhhhhhh, Apakah dia sudah mulai mencurigai ku? Apa yang harus kulakukan jika dia tahu aku bukanlah seorang dosen?
"Sebenarnya siapa yang sedang kau kelabui?"
"Pak Rektor ini sebenarnya bicara apa? Siapa yang mengelabui siapa? Saya benar-benar nggak ngerti arah pembicaraan Pak Rektor!" Clara mulai kesal.
Hahahaha ..
"Tidurlah! Sudah malam!" suruh Fabyan mengusap puncak kepala Clara. Kemudian dia keluar dari kamar perempuan cantik itu. Clara bisa bernafas dengan teratur.
Astaga! Aku benar-benar tidak bisa bernafas saat berada di dekatnya!
°°°°°°
Keesokan harinya,
Seorang pelayan datang dan mengantarkan satu stel baju dan dalaman untuk Clara. Dia menyuruh Clara untuk mandi dan mengganti bajunya. Pelayan tersebut juga mengatakan, kalau Tuannya sudah menunggu di meja makan.
Clara mengucapkan terimakasih kepada pelayan tersebut. Bergegas dia mandi. Ia tidak mau, membuat Fabyan menunggu lama di meja makan.
Clara memakai baju pemberian Rektor tampan itu. Dia heran, bagaimana bisa Fabyan memilih pakaian dan dalaman yang pas dengan tubuhnya. Clara menepis pikiran kotornya.
Clara melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia melihat Fabyan setia menunggunya di meja makan. Clara tersenyum manis.
"Huft, Apakah kau tidak bisa cepat sedikit? Lama aku menunggumu di sini!"
__ADS_1
"Ma-af, Pak! Mandi saya lama, karena saya harus berhati-hati.Tangan saya kan terluka, Pak!" Clara mencari alasan yang tepat.
"Baiklah. Duduklah! Kita sarapan dulu!" ujarnya.
"Terimakasih."
"Hari ini sebaiknya izin dulu! Nggak mungkin juga kan, Ibu mengajar dengan kondisi seperti itu!"
"Tapi ... !"
"Nggak usah tapi-tapian! Saya melakukan ini kan untuk kebaikan Ibu! Untuk kesembuhan Ibu sendiri! Lihat tuh muka Ibu bonyok! Tangan juga terluka!"
"Baiklah. Saya menurut saja! Tapi, bisakah Bapak mengantarkan saya pulang?"
"Kenapa? Apa kau tidak betah disini?"
"Bu-bukan itu, Pak! Saya hanya nggak enak saja jika ada yang melihat! Saya takut istri Pak Rektor marah!" lirihnya.
Fabyan tersenyum lebar tanpa memberikan jawaban apapun. Fabyan sedikit berpikir. Kemudian dia menoleh ke arah Clara.
"Baiklah, Nanti sore aku antarkan kamu pulang! Lalu bagaimana dengan motor kamu?"
"Motor saya? Jadi Bapak berhasil menyelamatkan motor saya?"
"Iya. Ada tuh di depan!"
"Iya sudah. Saya pulang sendiri saja! Biar saya pulang dengan motor saja, Pak!"
"Tangan kamu kena sayatan pisau! Apa kamu bisa membawa motor sendiri?"
"Eh, itu ... !"
"Sudahlah. Nanti sore, Saya antarkan kamu pulang! Masalah motor, Saya akan suruh orang untuk antar ke rumah kamu!"
"Anda yakin, Pak? Saya tidak mau merepotkan Bapak loh! Saya juga tidak mau berhutang budi terus dengan Bapak!"
"Gampang! Kamu bayar saja hutang kamu!" ujar Fabyan.
"A-pa? Jadi Bapak nggak ikhlas menolong saya?"
"Kamu sendiri kan yang bilang tidak mau berhutang budi! Kalau begitu bayar saja! Gitu aja kok repot!"
Ish, Pria ini benar-benar sangat menyebalkan!
____
____
Selepas kepergian Fabyan, Clara duduk sendiri di sofa. Dia mengatur nafasnya. Berdekatan dengan pria itu, membuat jantungnya berdegup kencang.
Bisa-bisa aku kena serangan jantung!
Clara berkeliling rumah mewah itu. Dia heran, rumah sebesar itu Fabyan tinggal sendiri bersama para pelayan. Apakah Fabyan tidak memiliki keluarga ataupun istri?
Clara duduk sendiri di dekat kolam renang. Kemudian seorang pelayan membawakan teh hangat dan cemilan. Padahal Clara tidak memintanya. Katanya, semua yang mereka lakukan atas perintah majikannya. Melayani tamu dengan sebaik-baiknya. Sedikitnya Clara tahu kepribadian pria itu.
Clara membuka ponselnya. Banyak notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dan salah satunya dari Shane. Dia begitu terkejut setelah tahu isi dari pesan tersebut.
To be continued ....
Pesan apa ya kira-kira dari Shane? Tunggu kelanjutannya!!!!😘😘😘😘
__ADS_1