Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 31 : Tugas Dari Clara


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi, Clara kembali melajukan motornya. Tujuannya untuk pergi ke Cafe X, karena dia ada janji dengan Shane. Dan ternyata Cafe tersebut letaknya tidak terlalu jauh dengan kampusnya mengajar.


Clara memberhentikan motornya di parkiran Cafe. Dia masuk ke Cafe sambil menunggu Shane datang. Seorang pelayan datang memberikan buku menu.


"Saya pesan sandwich dan Susu Coklat!"


"Baik, Sudah saya tulis, Nona! Ditunggu ya!"


"Terimakasih."


____


____


Clara sudah sarapan tadi. Tapi karena kebanyakan tertawa, membuat perutnya terasa lapar. Sambil menunggu Shane, Ia pun menikmati sarapannya.


"Selamat Pagi!" sapa seorang pria. Ternyata dia adalah Shane.


"Pagi!" maniknya melirik ke arah pria itu yang datang secara tiba-tiba dan duduk dihadapannya tanpa permisi.


"Kau sudah datang! Sudah sarapan?"


"Wah, Anda perhatian sekali!" ujarnya tersenyum, "Kebetulan saya belum sarapan!"


"Pesanlah sarapan!" suruhnya, "Tapi bayar sendiri!" gelak Clara.


"Ck, dasar pelit!" cibirnya.


"Mba!" panggil Shane kepada pelayan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Saya pesan makanan yang sama dengan Nona cantik yang ada di depan saya!"


"Baik, Tuan! Ditunggu ya!"


"Terimakasih!"


"Sama-sama!"


Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa pesanan Shane. Shane pun menikmati sarapan paginya ditemani oleh seorang gadis cantik di depannya.


"Ehm, ada apa Nona ingin bertemu saya?" tanya Shane di sela waktu makannya. Mulutnya mengunyah potongan roti dengan isian sayuran, daging dan keju di dalamnya.


"Shane, Aku butuh bantuanmu! Selidiki masa lalu Papaku! Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Papa! Tapi aku tidak tahu itu apa!" ucap Clara.


"Ehm, Apakah Nona curiga sesuatu?"


"Iya, Tentu saja. Ada yang disembunyikan Papa. Aku ingin korek semua informasi tentang Papa!"


"Tapi lewat siapa? Ini sulit Nona!"


"Iya, Aku tahu!" Clara sedikit kesal, "Kira-kira siapa yang tahu masa lalu Papaku?" gumam Clara. Mereka nampak berfikir.


____


____

__ADS_1


"Uncle Jo!" ucap Mereka serentak, membuat pengunjung lain terkejut mendengar suara mereka.


"Maaf!" Mereka jadi kikuk mendapatkan tatapan aneh dari pengunjung lain.


"Shane, hanya Uncle Jo yang tahu masa lalu Papa! Aku yakin Uncle Jo juga tahu masa lalu Mama! Kau harus bertemu dengan Uncle Jo! Korek informasinya, selengkap-lengkapnya!" bisik Clara.


"Saya tidak bisa!"


"Kenapa?"


"Saya tidak bisa meninggalkan Nona disini sendirian. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Anda!" ucap Shane, "Lagipula saya sudah berjanji pada Bos Ferdinand akan menjaga Nona dengan nyawa saya!"


"Aku bisa menjaga diriku!"


"Iya, Saya tahu! Tapi bahaya sedang mengintai Nona! Black Shadow tidak akan berhenti memburu Anda!"


"Kau tidak perlu khawatir, kan masih ada pengawal bayangan yang selalu menjagaku!"


"Tapi mereka tidak bisa menjamin keselamatan Anda!"


"Tapi informasi ini sangat penting untukku Shane! Aku perlu tahu masa lalu Papa!" lirihnya lemah, "Entah kenapa apa yang Bu Laura ceritakan padaku, Ada sesuatu yang berkaitan dengan diriku! Aku hanya takut, perpisahan mereka, pemicunya adalah Aku!"


Shane tidak sampai hati melihat Clara bersedih.


"Haaaaaah, Baiklah! Aku ini orangnya sangat baik. Aku akan membantumu! Aku akan pergi ke tempat Uncle Jo!"


"Benarkah?" senang Clara, "Terimakasih banyak, Shane! Kau memang sahabat sekaligus saudaraku yang baik! Aku tidak akan melupakan jasa-jasamu!"


Shane menoleh ke arah genggaman tangan Clara ke lengannya. Ada desiran aneh dalam hatinya. Rasa bahagia melihat wanita itu tersenyum riang, dan ikut merasakan sedih jika wanita itu menangis. Tapi sejauh ini, dia baru satu kali melihat Clara menangis, yaitu saat Clara masih kecil dijahili oleh ketiga saudaranya.


Mereka kembali melanjutkan sarapannya. Setelah perut Clara kenyang, dia pun berpamitan pada Shane untuk ke kampus. Clara hendak membayar makanannya ke kasir, tapi Shane melarangnya.


"Wah, terima kasih banyak! Sering-seringlah mentraktirku!" gelaknya. Shane juga ikut tersenyum.


____


____


Shane memandangi kepergian Clara hingga gadis itu tidak terlihat lagi. Dia mengulas senyum tipis, rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya hatinya yang tahu.


Setelah membayar makanannya ke kasir, dia pun pergi dari Cafe itu menuju parkiran. Menyalakan mobil, dan meninggalkan area parkir.


Sepasang mata elang Fabyan mengamati mereka berdua dari sudut ruangan. Dan Clara tidak menyadari itu. Fabyan tidak menyangka, kalau Clara dan Shane memiliki hubungan yang terlihat sangat dekat. Mereka saling bercanda dan tertawa riang.


Mereka ada hubungan apa? Kenapa mereka terlihat sangat akrab?


Atau jangan-jangan mereka sudah saling mengenal!


Fabyan beranjak dari tempat duduknya. Setelah membayar minumannya di kasir, dia pun pergi dari Cafe itu menuju kampus.


°°°°°°


Shane menyiapkan segala sesuatunya untuk penerbangannya menuju Finlandia. Dia melakukan semua itu atas permintaan dari Clara.


Dia duduk, bersandar di bangku pesawat. Mengaitkan sabuk pengaman. Sambil tersenyum, dia mengingat tentang kata-kata wanita itu yang mampu mengubah dunianya.


Tidak terasa matanya terpejam. Badannya terasa sangat lelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, rasanya AC pesawat membuatnya sangat nyaman.

__ADS_1


Di dalam tidurnya, dia bertemu dengan Clara. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan dress bunga, dan rambut yang terurai indah. Di tangan kanannya dia membawa keranjang yang berisi bunga-bunga yang sangat cantik. Bunga cantik berwarna merah, kuning, putih dan pink. Dia tersenyum sangat manis.


Shane berjalan mengikuti langkah Clara, berjalan hingga ke sebuah taman yang tidak kalah indahnya. Berbagai macam bunga ada di sana. Tapi wanita yang ada di mimpinya, tiba-tiba dijemput oleh seorang pria. Shane samar melihatnya.


Shane terus mengikuti arah mereka pergi. Hingga mereka hilang di sebuah pintu besar penuh dengan cahaya. Shane berteriak memanggil Clara, namun sepertinya wanita itu tidak mendengar panggilannya. Hingga terasa tubuhnya berguncang-guncang.


"Pak, Anda tidak apa-apa?" Shane terkejut, ternyata suara seorang pramugari membangunkannya.


"Sa-ya ti-dak a-pa-a-pa!" Shine sedikit malu. Ternyata dia sedang bermimpi aneh.


Hufttttttt ...


"Apa yang ada di otakku? Kenapa aku terus memikirkan Clara akhir-akhir ini?" batinnya.


Shane sedikit menepuk kepalanya agar dia tersadar dari mimpinya yang tidak mungkin bisa terwujud.


Sialan! Ada apa dengan otakku?


____


____


Ternyata pesawat sudah mendarat di Helsinki. Shane bersiap-siap untuk turun dari pesawat. Baru keluar dari Bandara saja, Shane sudah bisa menghirup udara yang sangat segar bebas dari polusi udara.


Kota ini disebut sebagai salah satu kota dengan kualitas udara paling bersih di dunia. Pemerintah kota sangat memperhatikan transportasi umum di sini. Sehingga masyarakatnya pun lebih banyak yang menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Hal ini yang menjadi salah satu faktor mengapa Helsinki minim polusi udara. Selain itu, kota ini juga memiliki fasilitas yang menunjang untuk para pengguna sepeda yaitu dengan dibuatnya jalur sepeda sepanjang 3.800 meter.


Shane mengeluarkan benda pipihnya menghubungi tiga bersaudara untuk menjemputnya di Bandara. Sontak mereka terkejut dengan kedatangan Shane yang begitu tiba-tiba untuk bertemu dengan ayah mereka. Itu menjadi pertanyaan besar bagi mereka.


Niko dan anak buahnya diperintahkan oleh Felix untuk menjemput Shane di Bandara. Dengan kecepatan kencang, pria itu melajukan mobilnya.


____


____


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Bandara, karena jarak dari rumah ke Bandara tidak terlalu jauh. Mobil Niko sudah berhenti di pintu masuk.


"Shane!" panggilnya melambaikan tangan.


"Hey, Bro!" Shane mendekat ke arah Niko. Dan memeluk saudaranya itu.


"Tumben kau datang kesini! Ada angin apa, Bro?" kekeh Niko.


Hahahaha ...


"Aku ada tugas dari Clara. Aku ingin bertemu dengan Uncle Jo!"


"Okey, Come On! Ikuti aku!" ajak Niko.


Mereka berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Niko menyalakan mobilnya, dan mobil mulai berjalan pelan meninggalkan Bandara. Sepanjang perjalanan Shane bergumam kagum melihat kota yang sangat bersih. Sebagian alat transportasi yang mereka gunakan adalah sepeda. Itulah yang membuat kota ini bebas polusi udara.


To be continued ...


Mana dukungannya?????


Hey², Ayo dong kasih like, favorit dan komentarnya. Mau komentar sampai lima atau sepuluh komentar boleh banget... Author nggak melarang...😁😁😁


Jangan lupa juga Gift nya, bisa berupa bunga ataupun kopi. Author jadi semangat lagi ....wkwkwk

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya....🙏🙏


__ADS_2