Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 28 : Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Sepuluh kilometer menuju Desa Suka Maju, dua truk membawa beban barang-barang yang akan disumbangkan untuk proyek kemanusiaan. Dan empat mobil dibelakangnya.


Sepanjang perjalanan tidak terjebak rambu merah dan macet yang panjang. Sehingga perkiraan sampai lebih cepat ke Desa tersebut.


Ketika memasuki jalan Desa, mereka melihat perbukitan dengan hamparan rumput hijau yang menyelimuti dataran lapang dan bukit-bukitnya teramat nyaman selama mata memandang.


Pada sisi kanan dan kiri jalan terdapat pohon-pohon damar menjulang tinggi. Dan jurang curam kedalamannya lebih dari seratus meter di sisi kiri.


Kendatipun jalannya berkelok-kelok dengan jurang yang cukup terjal, sang Sopir sangat lihai mengendarai truknya. Apalagi saat melewati kelokan tajam. Membuat semua was-was dan jantung jadi terasa berdebar kencang.


Akhirnya mereka sampai juga di tempat pengungsian warga sekitar. Kedatangan mereka disambut hangat oleh warga setempat terutama orang yang memiliki andil besar sebagai penggerak kemanusiaan tersebut.


Mereka langsung menurunkan semua barang-barang dari truk. Dan menyerahkan pada petugas, supaya dikelola langsung oleh mereka untuk warga tersebut.


Mereka semua sangat bahagia dengan adanya proyek kemanusiaan. Bukan hanya bantuan materil yang mereka dapatkan, mereka juga mendapatkan bantuan moril. Terutama bantuan moril yang diberikan kepada anak-anak. Para mahasiswa akan memberikan semangat untuk anak-anak supaya tidak traumatik dengan bencana tersebut.


°°°°°°°°


TRINGG ...


Sebuah notifikasi pesan masuk ke nomor ponselnya. Clara mengambil HP-nya dengan malas, dan mendapati pesan dari Fabyan. Bergegas dia membuka pesan tersebut, dan dia sedikit mengerutkan kedua alisnya.


"Datanglah ke Restaurant Gemini, pukul 8 malam. Berdandanlah dengan cantik. Aku menagih janjimu untuk mentraktirku makan malam!" pesan dari Fabyan.


Sontak wanita dengan bulu mata lentik itu membulatkan maniknya dengan sempurna. Setelah beberapa hari tidak ada kabar, tiba-tiba pria itu mengirimkan pesan. Dan yang paling aneh meminta traktir. Itu yang membuat Clara tidak habis pikir.


Ck, dia pikir, dia siapa? Tidak ada kabar, tiba-tiba mengirimkan pesan agar aku datang dan berdandan Cantik!


Aku tidak akan datang!


Tapi kalau aku tidak datang, , ,


Ah, aku ingin sekali tahu apa alasan dia tidak memperkarakan Bima pada Polisi!


Kenapa jadi ribet begini sih?


Tau ah, aku pusing!


Aku datang tidak ya?


Clara menghembuskan nafasnya kasar.


Lebih baik aku datang! Aku harus tahu apa alasannya!


____


____


Jam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Clara bersiap-siap dengan memakai dress selutut warna merah, dengan bahu yang sedikit terbuka. Ada kelopak bunga besar di dress tersebut sebagai pemanis untuk pemakainya.


Clara memadukan dress yang dipakainya dengan high heels warna merah juga. Sedikit berdandan, supaya terlihat lebih cantik. Dan malam ini, Clara benar-benar terlihat sangat cantik.


Ia turun dari kamarnya ke lantai satu. Bu Laura yang sedang menonton televisi, begitu terkejut dengan penampilan cantik dari dosen cupu itu. Clara tersenyum manis ditatap seperti itu.


"Wah, cantik sekali!" puji Bu Laura.


"Terimakasih, Bu Laura!"


"Mau kemana, Neng?"


"Ehm, saya ada undangan makan malam!" ujarnya malu-malu.


"Wah, pacarnya ya, Neng!"


Hahahaha ...

__ADS_1


"Bukan, Bu!" gelak Clara, "Ehm, ya sudah saya pergi dulu ya, Bu!"


"Hati-hati, Neng!"


"Iya, Bu!"


_____


_____


Dengan taksi, Clara datang menuju tempat yang sudah dipesan oleh Fabyan. Dia sedikit gugup, tapi, sebisa mungkin dia menutupi kegugupannya dengan bersenandung kecil. Pandangannya mengamati ke luar jendela.


Dia baru sadar, ternyata kota kecil yang selama dia tinggali, cukup ramai jika malam hari. Banyak kaum muda mudi memadu kasih, ataupun sekedar jalan-jalan menikmati suasana malam. Dan yang paling membuatnya menarik, suasana malam hari lebih indah dan ramai dibandingkan dengan siang. Gemerlap lampu warna warni, dengan berhias langit malam, menambah keindahan suasana itu sendiri.


Tidak terasa taksi yang Ia naiki berhenti tepat di depan Restaurant. Clara membayar ongkos taksi. Dan masuk ke dalam Restaurant. Ia mencari sosok Fabyan.


Dari sudut ruangan, seseorang melambaikan tangannya. Memberikan tanda bahwa ia duduk di sudut sana. Clara tersenyum dan mendekati tempat Fabyan duduk.


"Selamat malam!" sapa Clara dengan senyum manisnya.


"Selamat malam juga!" Fabyan mempersilahkan Clara duduk.


Tidak bisa dipungkiri, memang malam ini, Clara terlihat sangat cantik. Bahkan Fabyan tidak berhenti menatap ke arahnya. Dan mengagumi kecantikan dosen yang selama ini dianggap cupu.


Memang setelah insiden kacamatanya retak, Ia sudah tidak pernah memakai kacamata tebalnya. Clara belum ada waktu untuk membeli yang baru.


"Mau pesan apa?" Fabyan bertanya kepada Clara untuk mencairkan suasana.


"Ehm, saya pesan spaghetti dan orange jus ya, Mba!"


"Dua porsi spaghetti dan orange jus!" ucap Fabyan pada pelayan yang mencatat menu pesanan.


"Ditunggu, Tuan, Nona!" mereka menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


Tidak menunggu waktu yang lama, makanan yang mereka pesan sudah terhidang di meja makan. Aromanya sungguh sangat menggugah selera. Dan memang perut Clara sedang lapar. Gadis cantik itu, menikmatinya dengan sangat lahap. Sesekali makannya seperti anak kecil. Mulut mungilnya belepotan saus. Fabyan gemas dibuatnya. Dia pun membersihkan sudut bibir Clara dengan tisu.


____


____


"Lima hari yang lalu, saya ke rumah Anda! Pak Rektor kemana saja?" tanya Clara selesai makan.


Fabyan tersenyum manis.


"Saya menjenguk orang tua di Swiss!" Clara melirik ke arah Fabyan, sedikit tidak percaya. Memang setelah Clara ke rumah Fabyan saat itu. Sorenya, Fabyan berangkat ke Swiss dengan sang Papa untuk menjenguk Mamanya yang sedang sakit dan dirawat di RS Swiss.


"Oya,"


"Iya,"


"Lalu, Apa alasan Pak Fabyan melepaskan Pak Bima? Kenapa Bapak tidak memperkarakan kasus tersebut pada pihak berwajib?"


"Itu karena, Aku tidak bisa!" lirihnya.


"Kenapa?"


"Apa yang dilakukan Bima sudah mencoreng nama baik Kampus! Jika berita tersebut sampai tersebar, pasti reputasi kampus akan hancur!" jelas Fabyan.


"Tapi kan, Pak! Apa yang dilakukan Bima itu sungguh keterlaluan! Ini kasus pelecehan mahasiswi lho, Pak!"


"Iya, Aku tahu! Tapi coba Anda pikir lagi. Kebanyakan korbannya adalah mahasiswi yang berhasil kena bujuk rayu Bima untuk mendapatkan nilai yang bagus. Coba kalau mereka tidak memberikan kesempatan Bima untuk melecehkan diri mereka sendiri! Dan jika dari awal mereka melaporkan kasus ini pada dewan, tapi mereka tidak melakukannya! Mereka juga melakukan atas dasar suka sama suka! Mereka semua memberikan kesempatan Bima untuk melakukan hal yang lebih gila lagi! Dan aku sangat menyayangkan itu semua!"


"Huuuuuuffffffffft!"


"Cobalah kita berpikir dari sisi pandang yang berbeda!" ujar Fabyan.

__ADS_1


"Tapi Sofia tidak seperti itu! Anda jangan menyamakan Sofia dengan perempuan lain!"


"Aku tidak menyamakan Sofia dengan wanita lain! Aku cuma mengatakan, kebanyakan!" jelasnya, "Ibu tenang saja, Saya tidak akan membiarkan pria itu hidup dengan tenang. Setelah peristiwa memalukan itu terjadi! Semuanya pasti ada harga yang harus dia bayar!"


Clara mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh Fabyan. Dia tidak mengerti ucapan terakhir yang dikatakan rektor itu.


Harga yang harus dibayar mahal! Apa maksudnya?


____


____


"Sudah malam, biar aku antar pulang!" ajak Fabyan.


"Eh, Saya bayar dulu!" ucap Clara.


"Tidak usah! Aku sudah membayarnya!"


"Lho bukannya saya yang mentraktir! Kenapa jadi Anda yang membayar?"


"Nggak apa-apa! Lain kali saja!"


"Oh nggak bisa! Saya nggak mau berhutang budi pada Anda!"


"Saya tidak pernah menganggap itu sebagai hutang budi!"


"Lalu apa?"


Fabyan tersenyum geli. Dia tidak menyangka wanita yang ada disampingnya ternyata wanita yang sangat cerewet dan banyak bicara. Tapi dia sangat menyukainya.


Lama rasanya dia tidak pernah tersenyum lepas seperti ini. Itu setelah kejadian beberapa tahun silam. Yang merenggut semua kebahagiaannya.


"Lupakan!"


"Kenapa? Pokoknya aku nggak mau berhutang budi! Dibayar sekarang lebih baik daripada ditunda terus!"


"Ternyata kau sangat cerewet dan sangat berisik ya?" ucap Fabyan beranjak dari tempat duduknya. Sementara Clara berjalan mengikuti langkah pria itu.


Sampai di tempat parkiran. Fabyan berhenti mendadak. Membuat tubuh Clara menabrak punggung pria itu.


"Auw! Kenapa sih harus berhenti mendadak?" sungutnya.


"Sssssttttttt! Ada seseorang mencurigakan yang berdiri di depan mobilku!"


"Siapa mereka?"


To be continued ...


Mana dukungannya????


Gift ...


Gift ...


Gift ...


Gift ...


Gift ...


Gift ...


Gift ...


Gift ...

__ADS_1


Gift ...


__ADS_2