Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 78 : Honey Moon 1


__ADS_3

Mereka memasuki area hotel, seorang petugas hotel menyambut ramah kedatangan tamunya. Fabyan memesan dua kamar. Satu kamar untuk dirinya sendiri bersama sang istri, dan satu kamar lagi untuk anak buahnya.


Sampai di kamar, Clara langsung meraih ponselnya untuk menelfon Bastian. Dia harus memberitahukan pada sang Papa kalau dirinya menginap di hotel bersama sang suami. Dari ujung telepon sana, Bastian tersenyum. Ternyata rencananya mendatangkan Fabyan berhasil dan sangat lancar.


Fabyan duduk di belakang istrinya yang sedang menelfon, sesekali dia mencium tengkuk sang istri. Dan itu membuat Clara kegelian, dia terkekeh geli mendorong tubuh suaminya.


"Berhenti! Aku sedang menelepon Papa!" ujarnya.


"Aku rindu padamu!" bisik Fabyan ditelinga sang istri.


"Ih, Apa kau datang kesini hanya untuk bercumbu denganku?" protes Clara.


"Hem, bukan hanya bercumbu. Aku sengaja datang ke sini untuk mengganti momen bulan madu kita," gelak Fabyan.


"Hah, Apa?" raut wajah Clara berubah memerah, "Ehm, aku harus mempersiapkan mental ku!"


"Orang bodoh macam apa yang mempersiapkan mental untuk bulan madu!"


"Iya tentu, karena menurut ku ini sangat mendadak!" ucap Clara terbata, Fabyan terkekeh geli melihat tingkah laku istrinya yang malu-malu.


"Aku mencintaimu!" ucapnya, "I love you, my Mafia Queen!"


Clara tersipu malu mendengarkan ucapan suaminya.


"Kenapa diam saja?" tanya Fabyan.


"Lalu aku harus menjawab apa?"


"Tentu saja kau harus menjawab, "I Love you too!"


Clara menutup mukanya karena malu, karena Fabyan terus saja menggodanya.


"Mandilah dengan air hangat, kau pasti capek seharian berjalan-jalan!" ucap Fabyan.


"Tapi aku tidak ada baju ganti?"


"Aku sudah menyiapkan bajumu!" jawab Fabyan.


"Hah, bagaimana bisa?" heran Clara.


Fabyan tersenyum lebar, "Karena sebelum menjemputmu aku sudah membelikan beberapa baju hangat untukmu!"


"Kau sedang tidak bermain rahasia denganku kan?" bukannya menjawab Fabyan justru terkekeh.


"Cepat mandilah! Setelah mandi aku akan mengajakmu makan malam di luar!"


"Ah, Aku tidak mau. Di luar sedang turun salju! Dingin!"


"Iya sudah. Aku pesankan makanan saja, biar kita makan malam di kamar!"

__ADS_1


"Oke, aku setuju!"


Clara pun bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Seharian berjalan-jalan membuat tubuhnya sedikit gerah, padahal cuaca di luar sudah mulai dingin. Sementara Fabyan sedang menyiapkan makanan di meja makan. Banyak menu yang ia beli di Restaurant dekat hotel.


Clara keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi. Sambil mengeringkan rambutnya, maniknya menelisik mencari keberadaan sang suami.


"Kau sudah mandi?" suara bariton mengagetkannya.


"Ih, Kau mengangetkan ku!" Fabyan tersenyum.


"Kau sedang tidak menggodaku kan?" Fabyan mengerling nakal saat melihat istrinya hanya memakai jubah mandi.


"Siapa yang menggoda mu?" cebik Clara, "Mana bajuku?"


"Tuh!" Fabyan menunjuk ke arah sofa tertawa jahil.


Bergegas Clara meraih bajunya, dan menggantinya di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi sang suami sudah duduk manis di meja makan.


"Kemarilah! Ayo kita makan, Aku lapar sekali!"


"Iya sebentar!"


Mereka menikmati makan malamnya di tengah hujan salju turun dengan deras di luar. Dari kaca jendela hotel terlihat sangat jelas salju mulai turun seperti butiran kristal putih yang sangat indah. Bahkan sudah mulai menutupi sebagian ruas jalan kanan dan kiri.



"Enak?" tanya suaminya.


"Kau suka?"


"Hem, aku sangat suka! Rasanya seperti mimpi di siang bolong!"


"Kalau begitu setiap bulan aku akan mengajakmu berbulan madu?"


"Ish, Kau ini!"


____


____


Setelah acara makan malam selesai, Mereka duduk di sofa sambil memakan keripik kentang. Sesekali Clara tertawa karena melihat film kartun lucu, dan Fabyan merasa terabaikan.


"Hey!" Fabyan menyentuh hidung istrinya dengan jari telunjuknya, "Apakah kau hanya akan menghabiskan waktumu dengan menonton kartun dan memakan keripik kentang?"


Clara menoleh ke arah suaminya, kemudian tersenyum. Fabyan menarik pinggang istrinya, mendekatkan posisi tubuh mereka. Mereka bertatapan cukup lama, kemudian Fabyan mengecup bibir Clara. Kecupan kecil itu menjadi kecupan pelan. Fabyan mengubah posisinya, sekarang menindih tubuh Clara tanpa melepaskan pagutannya.


"ummmmm, Bian!" meskipun sudah sah menjadi suami istri, Clara tetap saja memanggil suaminya dengan namanya saja.


"Bisa kita melakukannya? Aku sangat merindukanmu!" pinta suaminya.

__ADS_1


"Nanti saja,"


"Aku maunya sekarang?" Fabyan mencium leher jenjang Clara.


Dret ... Dret ... Dret


Baru akan memulai aktivitas bulan madunya, ponsel Fabyan berdering nyaring, membuat keduanya terkejut dan menghentikan aktivitasnya.


"Itu siapa?"


Fabyan melihat nama Santi dikontak teleponnya.


"Mama!"


"Angkat dong?"


"Hallo, Ma?"


"Hallo, Bian. Gimana? Kamu sudah ketemu dengan Clara?" tanya Mama Santi.


"Sudah, Ma! Sekarang Fabyan sedang bersama menantu Mama!"


"Sini dong, Mama pengen ngobrol sama mantu Mama!" ucap Mama Santi.


"Iya, Ma! Ini Clara!"


"Halo, Mah!"


"Hallo, Sayang! Kamu kemana aja selama ini? Kamu sehatkan?"


"Iya, Mah! Aku sehat!"


"Kamu tahu nggak sih, kemarin Fabyan tuh habis ditembak orang. Dia sempet masuk ke Rumah Sakit. Mama khawatir banget, Sayang! Apalagi dia memaksa untuk menyusul kamu setelah tahu kalau kamu ke Jerman!"


Clara tersenyum canggung, "Iya, Mah. Mamah tenang saja. Sekarang Fabyan sama Clara!"


"Sayang, Kalau kalian memang ada masalah, tolong dong selesaikan dengan kepala dingin! Mama nggak mau melihat kalian berpisah. Mama juga nggak tega melihat Fabyan yang hampir frustasi mencari kamu, Sayang!"


"Iya, Mah. Maafin Clara ya?"


"Iya sudah, sekarang di sana kalian baik-baik saja! Anggap saja kalian sedang honeymoon di sana! Jadi kalian harus tetap happy!" gelak Mama Santi.


"Iya, Mah. Kami memang akan honeymoon disini!"


"Baiklah, Mama lega mendengarnya! Sudah dulu ya, happy-happy di sana!"


"Iya, Mah! See You!"


Clara merasa beruntung mendapatkan mertua seperti Mama Santi. Bukan hanya baik, Mama Santi tipikal seseorang yang keibuan. Dan itu membuat Clara merasa nyaman di dekat Mama Santi.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2