Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 75 : Kedatangan Niko


__ADS_3

"Apa kau bilang?" Niko sangat terkejut.


"Kenapa dia tidak bilang kalau mau ke Jerman?" tanya Felix.


"Memangnya kalian tidak tahu?"


"Kami benar-benar tidak tahu! Mungkin Clara masih marah!" ujar Felix.


"Sebaiknya biarkan dia sendiri dulu!' ujar Shane.


"Kau serius, Shane?" tanya Niko.


"Iya, Aku serius,"


"Aku harus menemui Fabyan!" Niko bangkit dari tempat duduknya.


"Ngapain kamu ketemu Fabyan?" tanya Felix.


"Aku harus meminta maaf padanya!" jawab Niko, "Shane antarkan aku bertemu Fabyan?"


"Tapi ... !"


"Shane, mungkin dengan meminta maaf pada Fabyan, dia bisa kembali pada Clara. Dan aku bisa menebus rasa bersalahku pada Clara!"


"Tapi percuma saja, Bro! Kau memberitahu Fabyan, Clara sudah berangkat ke Jerman!"


"Iya, setidaknya aku sudah berusaha! Please, demi Clara!"


"Oke, oke. Demi Clara!" ujar Shane, "Come on!"


____


____


Mama Santi sudah bersiap menunggu putranya di dalam mobil. Rencananya hari ini Fabyan akan kontrol ke Dokter, jahitannya sedikit membuka, hingga darah segar merembes keluar. Mama Santi sangat khawatir melihat luka putranya.


"Sudah siap, Bian?"


"Sudah, Mah!"


"Ayo kita harus segera ke Rumah Sakit!"


Belum juga naik mobil, sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah Fabyan. Keluar dua orang laki-laki dari mobil tersebut, dan Fabyan serasa mengenal pria-pria itu.

__ADS_1


"Permisi!" sapa Shane, "Pak Fabyan ini aku!"


"Pak Shane!" Fabyan terkejut, ternyata yang datang Shane, "Ada apa, Pak? Kok Anda tahu rumah saya?" Fabyan memang tidak tahu menahu Shane termasuk bagian dari Clara.


"Iya, ini saya, Pak! Apa kabar?"


"Iya, Saya baik," Fabyan masih agak bingung.


"Sepertinya Bapak mau pergi!"


"Iya, Saya memang mau pergi! Ada apa ya, Pak Shane? Apa ada hal penting mengenai dana donatur?"


"Oh, bukan itu. Saya ingin membicarakan masalah Clara!"


"Clara?" menyebut nama Clara, Mama Santi langsung keluar dari mobil.


"Siapa mereka, Bian?" tanya Santi.


"Pak Shane ini donatur kampus kita, Mah!" jelas Fabyan.


"Oh, donatur. Kenapa berdiri saja? Silahkan duduk!" Santi mempersilahkan para tamunya duduk di ruang tamu.


"Silahkan duduk, Pak Shane!" giliran Fabyan yang mempersilahkan mereka duduk.


"Terimakasih," Shane duduk di kursi, diikuti oleh Niko.


"Sebenarnya saya dan Clara juga bersaudara. Kami tumbuh bersama!" jelas Shane, Fabyan sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Shane dan Clara adalah saudara. Iya, mereka semua bersaudara, "Dan pria yang ada disamping saya bernama Niko. Mungkin Anda kenal dengan pria bernama Niko!" Shane melanjutkan kata-katanya.


Sontak Fabyan berdiri dari tempat duduknya, dia mendekat ke arah Niko dan menghajar pria bertubuh tinggi itu. Niko yang merasa bersalah dia hanya diam tanpa melakukan perlawanan. Mama Santi menjerit dengan aksi brutal putranya. Dan ini adalah pertama kalinya, Mama Santi melihat putranya begitu emosi.


"Brengsek Kau! Harusnya kau mati ditangan ku!"


Bugh ... Bugh ... Bugh


"Fabyan, berhenti!" teriak Mama Santi. Niko sudah babak belur dihajar Fabyan. Mama Santi takut kalau pria yang dipukul putranya mati, dia pun berusaha untuk menghentikan aksi Fabyan.


"Pak Fabyan, Tolong hentikan! Niko datang ke sini untuk meminta maaf!" ucap Shane.


"Apa? Meminta maaf? Setelah apa yang Kau lakukan pada Selena?" geram Fabyan.


"Aku tahu, aku salah! Aku ingin menebusnya!"


"Dengan apa?" bentak Fabyan.

__ADS_1


"Dengan nyawaku jika memang itu membuat kau puas!" ucap Niko.


"Cih, Sialan Kau!"


"Sebenarnya ini ada apa? Kenapa Kau memukuli orang, Bian?" tanya Mama Santi.


"Pria ini adalah pria yang selama ini aku cari. Dia yang sudah memperkosa Selena, Mah!"


"Apa?" Santi sangat kaget dengan penuturan putranya.


"Aku mengaku salah, Byan! Tapi Clara tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa. Tolong susul dia! Dia pergi ke Jerman!"


"APA?" Fabyan sangat terkejut, kemudian dia mencengkeram kerah baju Niko, menatapnya tajam, "Kau jangan bohong padaku! Kau pikir aku akan percaya!"


"Apa yang dikatakan Niko benar, Pak Fabyan! Clara memang pergi ke Jerman, dia juga mengatakan tidak akan kembali ke negara ini!"


"SHITT!" buru-buru Fabyan mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Kamu mau kemana, Bian?"


"Aku harus susul Clara, Mah!"


"Tapi hari ini kau harus ke Rumah Sakit!"


"Mah, Aku harus susul Clara! Aku nggak mau kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya!"


"Tapi ... !"


"Bian baik-baik saja! Mama percaya ya sama Bian!"


"Tapi tidak mungkin kau bisa menyusulnya! Jarak rumah dengan Bandara itu jauh, butuh waktu berjam-jam! Kau ke Bandara, mungkin Clara sudah sampai di Jerman!"


"Tapi aku akan tetap menyusulnya!"


"Ish, Kau ini keras kepala sekali!" decak Mama Santi, "Kau ke Rumah Sakit dulu, setelah lukamu di periksa Dokter, setidaknya perbaiki jahitan itu yang terlepas, kalau tidak secepatnya ditangani bisa infeksi, Bian!"


"Yang terpenting kau tahu keberadaan istrimu. Kau bisa menyusulnya nanti. Kan kau bisa berkomunikasi dengan Pak Shane!" tutur Mama Santi. Fabyan sedikit berfikir, apa yang dikatakan Mamanya ada benarnya juga.


"Oke, Aku akan pergi ke Rumah Sakit dulu. Setelah itu aku akan langsung ke Jerman, Mah!"


"Ah, terserah kau saja!" sahut Mama.


Sementara Niko sudah babak belur dihajar oleh Fabyan, sudut bibirnya sedikit sobek karena pukulan Fabyan yang terlalu keras, hingga darah segar keluar dari sana.

__ADS_1


To be continued ...


Terimakasih sudah setia membaca cerita ini....🙏🙏


__ADS_2