
"Ayo kita ke kolam renang!" ajak Fabyan.
"Hah, kita mau berenang di musim dingin seperti ini?" heran Clara.
"Ih, Kau ini. Kita berenang di kolam yang airnya hangat," jawab Fabyan.
"Memangnya ada?"
"Ada. Pihak hotel menyediakan kolam hangat besar bagi tamu hotel,"
"Wah, pasti seru," senang Clara bersemangat.
Mereka berjalan beriringan menuju kolam hangat yang disediakan oleh pihak hotel. Clara sangat bahagia, dia menggelayut manja di tangan suaminya. Dia pikir Fabyan membencinya, ternyata tidak. Bahkan dia rela datang jauh-jauh ke Jerman hanya untuk dirinya. Apa perlu dia meragukan cinta dan kesetiannya.
Dia tidak menyangka Fabyan bakal menyusulnya. Mengingat kejadian kemarin, dia merasa sangat bersalah. Karena emosi dia sempat menembak sang suami, untung sang suami tidak apa-apa.
"Apa yakin akan berenang? Lukamu kan belum sembuh benar?" ucap Clara.
Fabyan tersenyum, "Kalau begitu kita lihat-lihat saja,"
"Hah, datang ke sini cuma mau lihat-lihat? Percuma dong!"
"Hehehe, iya sudah kita berenang,"
"Tapi kau masih terluka, Bi!"
"Iya sudah, kau yang berendam, aku lihat kau dari sini!"
Clara kembali berfikir.
"Ehm, baiklah," jawab Clara enteng. Dia pun langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian renang.
Fabyan menelan salivanya melihat Clara sudah mengganti bajunya dengan baju renang berwarna merah yang nampak sangat seksi. Saat Clara akan menjeburkan tubuhnya, Fabyan langsung menahannya.
"Stop!" seru Fabyan. Karena terkejut, sontak Clara menoleh.
"Ada apa, Bi?"
"Sudah pakai saja pakaianmu kembali!" suruh nya sambil menggandeng tangan sang istri agar keluar dari kolam renang.
"Ada apa?" Clara jadi bingung sendiri.
"Sudah pakai pakaianmu kembali!" Fabyan mendorong istrinya untuk mengganti pakaiannya.
"Aku mau berenang,"
"Sepertinya airnya kotor, tidak pernah dibersihkan. Aku takut tubuhmu akan gatal-gatal!" jelasnya. Sementara Clara menautkan kedua alisnya. Dia merasa sangat aneh dengan sikap sang suami.
"Iya, iya, sebentar. Aku ganti baju dulu!"
Clara sudah mengganti bajunya kembali. Sekarang pakaiannya sudah kembali tertutup. Fabyan tersenyum melihat sang istri yang menurut.
Sampai di kamar hotel, Clara masih sangat penasaran dengan alasan suaminya menyuruhnya untuk tidak berenang. Padahal dia sendiri yang mengajaknya.
"Sebenarnya ada apa sih?"
__ADS_1
"Apa?" Fabyan justru balik bertanya.
"Yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba tidak memperbolehkan Aku berenang? Aku rasa airnya bersih!"
Fabyan mengulas senyum, "Kau berpakaian sangat seksi. Dan kau menjadi perhatian banyak pria di sana, Sayang!"
"Hah, Apa?" Clara terbahak setelah itu, "Ya Ampun, ternyata hanya gara-gara itu!"
"Kenapa? Aku suamimu, tentu aku cemburu!"
"Hehehehe, iya Kau suamiku. Siapa bilang Kau bodyguard ku!" Clara menepuk bekas luka suaminya sambil terkekeh.
"Auw, sakit, Sayang!" pekik Fabyan.
"Apa masih sakit?"
"Tentu saja sakit. Kau menembak ku tepat dipundak,"
"Iya aku sengaja. Coba kalau aku tembak tepat dikepala!"
"Oh, Kau ingin melenyapkan ku?"
Mendengar ucap suaminya, Clara jadi semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku ya. Aku bersalah. Semua gara-gara perbuatan ku!" Clara menudukkan kepalanya.
Fabyan tersenyum kemudian meraih kepala istrinya, dan Ia sandarkan di dadanya yang bidang. Dengan lembut Fabyan mengecup kening Clara.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah menyukai mu. Lupakan semuanya, kita mulai dari awal. Kau mau kan hidup bersama denganku hingga menua?"
Mendengar kata-kata Fabyan, Clara menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka Fabyan begitu baik. Memang dari awal pria ini selalu baik. Bahkan saat pertama kalinya bertemu di sebuah universitas, pria ini sangat ramah dan sopan.
"Aku menginginkannya. Sekarang!" Fabyan tersenyum nakal.
Pipi Clara bersemu merah. Dia tahu Fabyan menginginkan dirinya.
"Aku pikir satu ronde tidak masalah!" ucap Clara. Fabyan terkekeh, tidak mau menunggu lama, ia membopong tubuh sang istri ke tempat tidur.
Bibir mereka menyatu, membuat ciuman kecil. Fabyan bergerak ke ranjang, dan membaringkan Clara di kasur tanpa melepaskan pagutan mereka. Tangan Fabyan masuk ke dalam dress istrinya. Dan menari-nari di sana.
"Emmhh,"
Ciuman terlepas, Fabyan mencium leher istrinya, dan menyesapnya pelan memberikan tanda kepemilikan di sana.
Fabyan menarik dress yang dikenakan istrinya, dan melepaskan celana berenda yang dipakai Clara. Ia juga melemparkan benda itu ke sembarang tempat. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang sangat Ia suka.
Clara merintih merasakan jari-jari suaminya menari-nari di bagian lekuk tubuhnya.
"Fabyan," Clara meraih dagu Fabyan dan menyatukan bibirnya dengan bibir sang suami.
"Sayang, lebih cepat!" nafas Clara ngos-ngosan mendapat gencatan senjata di dalam sana.
...°°°°®®®®°°°°...
Sementara di negara lain, seorang gadis terlihat gelisah. Dia tidak bisa berfikir waras, karena sebuah kalimat yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
__ADS_1
Iya, Felix menyatakan cinta kepadanya. Dengan segala pesona yang Felix miliki, dia berani nyatakan cinta pada gadis manis yang sekarang duduk di depannya.
"Bagaimana? Apa kau menerimaku menjadi kekasih mu?"
Pipi Sofia memerah, dia terlalu malu untuk mengatakan iya. Bagaimana tidak, baru saja hatinya bisa move on dari seorang pria. Kini justru dia ditembak oleh seorang pria yang lebih dewasa darinya, dan sepertinya memang dia sudah sangat matang.
"Kenapa diam saja? Apakah kau menerima cintaku?" tanya Felix tidak sabaran. Pernah gagal satu kali dalam bercinta, kali ini dia tidak mau untuk gagal hingga kedua kalinya. Dia pun tidak basa-basi menyatakan cinta pada gadis muda di depannya.
"Iya, aku mau," Sofia menganggukkan kepalanya.
Wajah Felix langsung sumringah. Dia meraih jari-jari lentik wanitanya, dan menciumnya beberapa kali. Itu adalah sebuah ungkapan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Sementara Sofia hanya terkekeh melihat tingkah konyol pria tua di depannya.
"Aku akan langsung melamar mu!" ucap Felix serius.
"Hah, kenapa cepat sekali? Hari ini bahkan aku baru menerima Kakak!"
"Iya, karena aku ingin cepat-cepat menjadikanmu milikku! Aku tidak mau sampai kau diambil orang lain!" jelasnya.
"Alah, alasan. Aku tahu kenapa Kakak langsung ingin menikahi ku? Itu karena Kakak pernah punya pengalaman dengan seorang wanita kan? Kakak pernah ditinggal dia nikah kan?"
"Hahahaha," Felix terbahak, kemudian menarik kepala Sofia agar lebih mendekat dengan tubuhnya, "Iya kau benar. Tapi kali ini justru aku lebih takut. Aku takut kau juga meninggalkan ku, karena tau latar belakang ku!"
Sofia bisa mengerti dengan kekhawatiran Felix. Bagaimanapun Falix juga seorang mafia. Pasti musuhnya banyak. Mungkin dia terlalu takut kehilangan untuk kedua kalinya.
Sofia mengulas senyum, "Aku tidak akan meninggalkan Kakak. Aku janji!" ujarnya.
"Benarkah?"
"He'em,"
"Besok aku akan melamar mu ke Bu Laura,"
"Hey, tidak besok juga kali! Setelah aku lulus kuliah!"
"Ah, tidak mau terlalu lama. Besok tetap besok!"
"Tiga bulan lagi," tawar Sofia.
"Nggak. Itu juga terlalu lama. Aku keburu tua!"
"Hehehe, ternyata Kakak sadar kalau Kakak itu sudah tua!" kekeh Sofia.
"Hey, aku tidak tua ya? Aku dewasa!" Felix menekan kata dewasa.
"Iya, iya, tidak tua. Cuma terlalu dewasa!" gelak Sofia.
____
____
Akhirnya tiga Minggu lagi menjadi keputusan mereka untuk acara lamaran. Dan tentu kabar gembira ini langsung disampaikan pada sang Papa. Dia tidak mau menjadi anak durhaka sampai tidak memberitahukan kabar gembira ini pada kedua orang tuanya. Dan Uncle Jo begitu bahagia mendengar putra pertamanya akan menikah.
Sebuah kabar yang selama ini dinanti-nanti oleh sang Papa tercinta. Dengan kebahagiaan melimpah, hari itu juga Jonathan beserta istri datang ke Indonesia. Dan kabar tersebut juga sampai ditelinga Fabyan dan Clara. Mereka juga tak kalah bahagiyanya. Akan ada seseorang yang mengikuti jejaknya.
To be continued ...
__ADS_1
Hey-hey pembaca setia Cahyaning Fitri. Maaf baru sempat update, karena kesibukan RL membuat Author super sibuk
Terimakasih yang terus setia dengan ceritanya....mmmmmmmuuuuaaaachh