Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 25 : Tentang Bastian


__ADS_3

Bastian sangat marah saat semua anak buahnya yang menjaga wilayah A dihabisi oleh Tiger Eye. Dia tidak menyangka tanpa pimpinannya klan Tiger Eye masih sekuat dulu.


Bastian mengepalkan tangannya, memukul meja. Dia menunjukkan rasa kekesalan dihati. Melihat Bastian yang begitu kesal, para anak buah pun berdiri ketakutan.


Bastian Croft adalah pemimpin dari klan Black Shadow. Setelah ayahnya meninggal, kursi kepemimpinan jatuh pada Bastian. Kekejamannya tidak jauh berbeda dengan sang ayah, bahkan kekejaman Bastian melebihi sang ayah.


Melihat sebagian anak buahnya dihabisi, dia sangat geram. Apalagi dihabisi oleh anak-anak kemarin sore. Ia pun mengerahkan seluruh orangnya untuk mencari Clara. Tidak perduli dalam keadaan hidup ataupun mati, Dia menginginkan semua klan Tiger Eye dihabisi hingga akar-akarnya. Semua yang berhubungan dengan Ferdinand haruslah lenyap.


Dua orang pria dan wanita datang. Mereka adalah pengawal pilihan yang dibayar Bastian dengan bayaran fantastis. Bastian menugaskan mereka untuk mencari keberadaan Clara. Termasuk semua anggota klan tersebut.


"Cari mereka semua hingga lubang semut sekalipun! Jika perlu habisi nyawa mereka! Sesuatu yang berhubungan dengan Ferdinand harus mati!" titahnya pada dua orang tersebut.


"Baik!" mereka langsung bergerak.


"Sayaaaaang!" panggil seorang wanita mendekat ke arah Bastian. Wanita cantik dengan rambut pirang bergelombang, duduk di atas pangkuan Bastian. Wanita ini bernama Beatrice.


"Kenapa marah-marah?" tanya Beatrice.


"Hhhhhhhh. Aku sedang kesal!" ketus Bastian.


"Kenapa? Apa yang membuatmu kesal, Sayang?" tanya Wanita itu dengan lembut. Dia memainkan kumis tipis Bastian.


"Klan Tiger Eye berhasil mengusir anak buahku dari Wilayah A. Padahal, sebelumnya aku sudah menghabisi mereka semua!" Bastian tersenyum kesal, "Cih, Mereka membalas semua serangan ku!" decih Bastian.


"Lagi-lagi mereka! Apakah kamu tidak bisa melupakan dendammu pada Ferdinand, Sayang?" ucap Beatrice, "Lupakan dendam mu, Sayang? Lupakan sesuatu yang berhubungan dengan Ferdinand dan wanita itu! Aku juga butuh kamu, Sayang! Kau bilang, kau akan menikahiku! Kapan? Sampai sekarang Kau hanya menjadikanku alat pemuasmu saja!" ujarnya.


Bastian menatap tajam ke arah wanita itu. Dia mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat. Bastian paling tidak suka ada seorang wanita mencampuri urusan pribadinya. Dia sangat tidak suka.


"Sa-kit, Bastian!" Beatrice mengerang kesakitan. Bastian terlalu kuat mencengkram dagunya.


"Asal kau tahu saja! Aku tidak akan melupakan dendamku pada Ferdinand juga keturunannya! Mereka akan aku habisi sampai akar-akarnya!" ujar Bastian, " Dan satu lagi, sampai kapanpun aku tidak akan menikahi wanita lain, termasuk Kau! Kau hanyalah perempuan ****** yang aku bayar untuk memuaskan ku! Jadi kerjakan sesuai dengan bayaran yang kau terima!" marah Bastian.


"Tapi, Wanita itu sudah mati! Mereka sudah bersama di alam sana! Kau tidak usah mengingatnya lagi! Karena meskipun hidup, wanita itu tidak akan pernah mau denganmu!"


"Brengsek kau! Wanita ******! Beraninya kau bicara seperti itu!" teriak Bastian.


Bastian mendorong tubuh Beatrice dengan kasar. Tubuh wanita itu terjungkal ke lantai. Bastian menodongkan pistolnya tepat dikepala Beatrice.


"PERGI KAU! JIKA TIDAK, AKU TEMBAK KAU!"


Bergegas wanita itu pergi. Dia takut, peluru pistol Bastian mengenai tubuhnya. Wanita itu hafal betul, orang seperti apa Bastian itu. Dia tidak akan segan-segan membunuh seseorang. Entah wanita ataupun pria, dia tidak perduli.


Bastian membuka album lama. Dimana terdapat banyak foto. Satu buah foto terselip di sana. Perempuan yang sangat cantik. Mata biru. Kulit putih, dan rambut hitam bergelombang.


Jujur, Bastian sangat merindukannya. Dia adalah wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun, cinta yang dia miliki hanyalah sebuah kisah masa lalu. Yang tidak pernah bisa terealisasi dalam kehidupan nyata. Semuanya hanyalah kosong, sandiwara dan khayalan semata.


Dia menghembuskan nafas kasar ke udara. Rasanya begitu berat hidup yang dia jalani. Dengan kekosongan hati yang dia miliki. Rasa dendam dan benci sudah menutup relung hati. Membuat ia tidak berpikir secara rasional.


Bastian mengeluarkan benda pipih di saku celananya. Menghubungi seseorang. Hanya dengan hitungan beberapa menit saja, orang tersebut datang ke hadapan Bastian.


"Cari tahu siapa saja keluarga Ferdinand? Jika kau tahu, kabari aku!" titahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Aku akan menghabisi orang-orang yang berhubungan dengan mu! Agar kau tidak tenang di alam sana!


°°°°°°


Kelopak mata itu perlahan membuka, kala sinar mentari masuk lewat celah korden dan mengenai maniknya. Dia mengerjapkan mata. Beranjak dari tempat tidur, menyambar handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.


Hari ini dia memakai kemeja panjang warna pink, dipadukan dengan celana panjang warna hitam. Ia biarkan rambutnya yang bergelombang tergerai indah.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Clara pada Bu Laura dan Sofia yang sedang menikmati sarapan paginya.


"Pagi Bu Clara!" sahut Sofia.


"Pagi, Neng!" sahut Bu Laura, "Wah, Bu Clara cantik banget kalau nggak pakai kacamata!"


"Terimakasih." Clara duduk disebelah Sofia. Kemudian mengambil piring yang sudah disiapkan oleh Bu Laura.


"Ayo sarapan! Ibu bikin nasi goreng seafood!"


"Wah, enaknya!"


Mereka menikmati sarapan pagi yang dibuat oleh Bu Laura. Memang masakan Bu Laura itu sangatlah lezat. Tidak kalah dengan masakan hotel berbintang.


"Oya, Sofia! Nanti kamu ikut kan? Ada kegiatan kemanusiaan di kampus kita!"


"Ikut dong Bu!"


"Bagus, Ajak juga Rafael dan teman-temannya!"


"Untuk penggalangan dana, Kamu bisa mengkoordinir teman-temanmu untuk saling membantu! Kita kumpulkan dananya, lalu berikan laporannya pada Ibu!"


"Siap, Bu! Semuanya berjalan sesuai rencana!" ujar Sofia.


"Wah kayaknya seru tuh! Memang ada acara kemanusiaan dimana, Bu?" tanya Bu Laura.


"Ehm, di Desa Suka Maju! Mereka korban tanah longsor! Saya sendiri juga belum melihatnya!" gelak Clara.


"Wah, kalau Ibu boleh tahu, Apa saja yang bisa disumbangkan untuk para korban tersebut?"


"Apa saja, Bu! Bisa uang, baju bekas layak pakai, obat-obatan, makanan, dan lain-lain! Yang penting berguna buat mereka semua!"


"Kalau begitu, Ibu boleh nyumbang?"


"Boleh dong, Bu! Memang Ibu mau nyumbang apa?"


"Oh, ini. Dulu saat masih muda ibu ini kan tukang kredit baju. Karena Ibu sudah tua, Ibu pun berhenti! Ibu masih punya stok baju bagus-bagus! Masih baru lagi! Ibu bisa menyumbang itu, Neng?"


"Bisa, Bu! Nanti biar Sofia dan teman-temannya yang mengkoordinir!"


"Wah, seru pastinya!"

__ADS_1


______


______


Setelah menyelesaikan sarapannya, Mereka pun berpamitan untuk ke kampus. Sofia ikut membonceng motor Clara. Karena kebetulan, motor bututnya ada di bengkel.


Sampai di kampus, mereka pun berpisah. Sofia menuju kelasnya, sedangkan Clara menemui Pak Rektor.


Di depan ruangan Pak Rektor, Clara berdiri mematung. Dia bingung, apakah harus masuk atau menunggu pulang mengajar untuk menemui Pak Rektor. Dia hanya ingin mengucapkan terimakasih dan permintaan maaf. Tapi saat hendak mengetuk pintu, Pak Rektor ternyata baru datang dan berdiri di belakangnya.


"Bu Clara!" suara bariton itu lagi-lagi membuatnya terkejut.


"Pak Rektor!" gugupnya.


"Sedang apa Anda disini?"


"Kedatangan saya kesini, Saya ingin minta maaf dan juga berterimakasih! Maaf, kemarin saya langsung meninggalkan rumah Bapak! Karena saya ada urusan yang sangat penting!" ujarnya.


"Oh, tidak apa-apa! Ibu tenang saja!"


"Bapak tidak marah?"


Fabyan terbahak.


"Kenapa saya harus marah? Saya tahu, Anda kan seorang wanita sibuk!"


"Ah, syukurlah!" rasanya lega.


"Tapi pertolongan saya tidak gratis ya?"


"A-pa?" Clara memutar matanya, melirik ke arah Fabyan.


"Saya kan sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk membopong tubuh Bu Clara yang berat! Jadi saya minta bayaran!"


"A-pa? Tubuh saya berat? Enak saja! Ramping begini dibilang berat!" cebiknya. Fabyan terkekeh karena berhasil menggoda.


"Katakan, Saya harus bayar berapa untuk membayar tenaga Anda yang terbuang sia-sia karena sudah menolong saya!" Clara mulai kesal.


"Bukan uang yang saya mau!"


"Lalu apa?"


"Saya minta traktir makanan!" ujar Fabyan.


"Makanan!" Clara berpikir, "Oke. Saya traktir makanan sepulang saya mengajar!"


"Sepulang mengajar saya tidak punya waktu! Masalah waktunya nanti saya kasih tahu Bu Clara!" ujarnya sambil berlalu masuk ke ruangan.


Apa ini? Apakah dia sedang mengajakku berkencan?


Kenapa gayanya aneh sekali?

__ADS_1


Dasar pria aneh!


To be continued ...


__ADS_2