
"Apakah kalian sudah menemukan tempat tinggalnya?" tanya Bastian pada Kriss dan Gabriel.
"Kami ke rumah lamanya, Bos! Dan mereka sudah tidak ada di sana! Mereka sudah pindah, Bos!"
"BODOH! Kalian tidak bisa menemukannya?" marah Bastian.
"Maafkan kami, Bos! Kami tidak menemukannya!" ujar Kriss.
"SIAL!" Bastian nampak menghubungi seseorang. Dia mengusap wajahnya kasar.
Aku harus bisa menemukan mereka!
Dret ... Dret ... Dret
Bastian menghubungi seseorang. Dia nampak berbicara serius dengan orang itu. Lalu kepalanya manggut-manggut, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Kriss dan Gabriel hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Bastian berjalan ke arah mereka. Dia menyeringai lebar.
"Dengar! Mereka tinggal di jalan x. Cepat bawa mereka ke hadapan ku!" tandas Bastian.
"Baik, Bos!" ucap Kriss dan Gabriel.
____
____
Kriss dan Gabriel bersiap-siap untuk pergi ke rumah Bu Laura dengan membawa banyak anak buah. Mereka sudah siap dengan empat mobil yang mengiring mereka ke tempat tujuan.
Dalam waktu dua puluh menit mereka sampai di tempat tujuan. Mereka bergerak pada malam hari, menunggu keadaan aman dan sepi. Karena rumah Bu Laura yang sedikit masuk ke dalam gang, membuat mereka harus bergerak secara hati-hati.
Seperti pengintai, mereka masuk ke latar rumah Bu Laura. Dengan perlahan mereka mengendap-endap memasuki rumah. Sedikit mencongkel pintu supaya terbuka.
Pengawal bayangan melihat aksi mereka. Mereka pun langsung turun tangan untuk menghadapi Gabriel dan Kriss. Saling pukul dan tinju pun tidak terelakkan lagi. Mereka yang sudah ahli, mereka bertarung dengan sengit. Sementara itu, Bu Laura dan Sofia masih belum menyadari kedatangan mereka.
Mereka masih saling memukul dan menendang. Kemudian salah satu teman Kriss mengeluarkan senjatanya, Dan ...
Dorr ..
Dorr ..
Dorr ..
Pengawal bayangan bersembunyi. Ada yang terluka dan ada juga yang tumbang karena tubuhnya tertembak. Bu Laura dan Sofia yang mendengar suara tembakan, mereka sangat terkejut dan langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Mereka sangat ketakutan dengan suara rentetan tembakan yang tidak berhenti. Tubuh mereka bergetar hebat.
Dengan inisiatif sendiri, Sofia berusaha untuk mengirimkan panggilan ke Rafael. Namun kekasihnya tidak mengangkat panggilan darinya. Sofia pun mengirimkan pesan singkat.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Tiba-tiba senyap, suara tembakan itu tidak terdengar lagi. Bu Laura keluar dari kolong tempat tidur, dia ingin melihat Sofia. Dengan kaki lemah, Bu Laura tertatih-tatih menuju kamar Sofia.
Baru membuka pintu kamar, sudah berdiri Kriss dan Gabriel. Mereka bertubuh besar dan tinggi. Mereka memakai jas hitam dan earpeace di telinganya. Bu Laura begitu terkejut dan ketakutan.
"Siapa kalian?" Bu Laura hendak memukul Kriss dengan payung, namun ditahan dengan tangan Kriss. Dan merebut payung itu, lalu mematahkannya.
__ADS_1
"Ayo ikut kami!" ajak Gabriel.
Bu Laura memberontak, dia tidak mengenal dua orang didepannya, dan juga orang-orang yang berpakaian serba hitam. Dia tidak mau ikut dengan mereka.
Bu Laura berusaha untuk berteriak, namun dengan sigap Kriss membungkam mulutnya.
Sofia keluar dari kamar setelah mendengar ibunya berteriak. Dia melihat sang ibu sudah ditangkap mereka. Lalu Sofia berusaha untuk memukul salah satunya dengan vas bunga yang ada di atas nakas.
Prangg ...
Pyarrrr ...
"Aaaaaaaa!" pekik orang itu.
"Sofiaaaaaaa!" teriak Ibunya.
"Ibuuuu!" teriak Sofia melihat ibunya ditangkap oleh orang itu.
Sofia bisa melihat jelas, banyak mayat yang tergeletak di rumahnya dengan bersimbah darah. Mereka mati diberondong pistol yang dia dengar tadi.
Hiks .. Hiks ... Hiks
"Siiiiiiiapa kalian?"
"Ikut kami!" Kriss menarik Sofia dengan kasar. Sementara Gabriel menarik tangan Bu Laura.
Mereka membawa Laura dan Sofia masuk ke mobil. Tubuh Sofia didorong kasar oleh Kriss. Mobil melaju meninggalkan rumah Bu Laura, kemudian diikuti oleh empat mobil lainnya.
°°°°°
Keesokkan paginya,
Mereka kalah dalam jumlah. Dan tentu saja kalah tenaga juga.
Dengan menyeret kaki, dan memegangi perutnya, dia berusaha untuk duduk bersender di dinding. Dia berusaha untuk mendial nomor Clara. Namun usahanya untuk menelpon tidak membuahkan hasil. Hanya operator telepon yang menjawab.
Jacobs pun mengetikkan sesuatu di ponselnya yang kemudian Ia kirimkan ke Clara. Tubuhnya limbung ke samping, karena dia sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit diperutnya.
Tubuhnya terasa sangat dingin bagaikan es. Kedua kakinya mulai mati rasa. Pandangannya juga sudah sedikit kabur. Kemudian dia tersenyum, karena sejauh ini dia bisa menjadi seorang pengawal yang luar biasa. Jacobs pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan mengulas senyum.
____
____
Clara mengerjapkan mata saat sinar matahari mulai menyeruak masuk lewat celah korden. Perlahan bulu mata lentik itu mulai terbuka.
Maniknya menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk manis sambil menyesap cerutu. Kemudian menghembuskannya ke atas.
Clara begitu terkejut saat melihat Fabyan di kamar hotelnya. Pria itu duduk sambil mengulas senyum.
Clara bergegas bangun, dan menutupi tubuhnya dengan jubah tidurnya. Karena memang dia tidur hanya menggunakan pakaian tidur yang sangat tipis, bertali satu.
"Bagaimana bisa kau disini?" tanya Clara menatap tajam ke arah Fabyan.
Dia bangun dan hendak menghajar Fabyan. Tangan mulusnya hampir mendarat di wajah Fabyan yang ganteng. Namun Fabyan berhasil menahannya. Lalu pria itu tersenyum tipis.
"Dasar kelinci kecil. Aku cari-cari ternyata kau disini!"
__ADS_1
"Siapa yang kau katakan kelinci kecil?" marah Clara.
"Kau lah."
"SIALAN!"
Clara mendaratkan tinjunya kembali, dia tidak terima. Dan tentu dia masih mode marah. MARAH. CATET YA!
Aksi hantam pun terjadi antara Fabyan dan Clara. Clara meluapkan semua amarahnya pada pria itu. Termasuk pria itu yang sudah berhasil membodohinya.
"Bagaimana bisa kau datang ke kamar ku?" tanya Clara, tangannya tidak berhenti memberikan bogeman ke arah Fabyan.
"Tenanglah dulu! Kita bicara baik-baik!" ucap Fabyan.
"Buat apa aku bicara pada orang brengsek seperti dirimu!" ucapnya, hampir menendang perut Fabyan namun Fabyan berhasil menarik kaki Clara, hingga terjatuh ke kasur. Fabyan juga mengunci tubuh Clara dengan kakinya. Membuat Clara tidak bisa bergerak, karena kaki Fabyan yang sangat kuat.
"Dengarkan aku dulu!"
"Aku tidak mau mendengarkan mu! Lagipula siapa kau?" marahnya, "Lepaskan aku, bagaimana bisa kau masuk ke kamar hotel ku?" teriaknya.
"Untuk masuk ke hotel ini sangat mudah bagiku. Karena hotel ini adalah milikku!"
"APA?"
"Iya, hotel ini adalah milikku! Kau tidak percaya? Kau bisa tanyakan kepada resepsionis!"
"Omong kosong!" kesal Clara, "Bagaimana kau bisa menemukan ku?"
Fabyan mengulas senyum.
"Itu sangat mudah bagiku! Kota ini adalah milikku dan kekuasaan ku!"
"APA?" mata Clara membola, "Kau ini sebenarnya siapa?"
Fabyan mengulas senyum, "Kau pasti pernah mendengar nama Fabyan Schultz. Aku yakin kau pernah dengar sebelumnya."
"Fabyan Schultz. Bukankah dia Mafia yang sudah lama tidak terdengar namanya lagi. Mafia dari klan Black Rose. Mafia yang terkenal berdarah dingin." Clara langsung berhati-hati.
Fabyan melepaskan tangan Clara. Begitu juga wanita cantik itu.
"Aku sudah bukan mafia lagi. Aku ingin berhenti dan hidup dengan tenang. Sekarang seperti yang kau lihat!" ujarnya. Kemudian mendekati nakas dan menghisap cerutunya kembali.
"Apa?" Clara masih sangat terkejut, "Oh, Aku tidak salah dengar kan! Kau sungguh Fabyan Schultz yang itu?" pikiran Clara dipenuhi dengan berbagai hal.
Jika memang dia Fabyan Schultz, kenapa dia harus berpura-pura menjadi seorang rektor?
Lalu, kenapa tiba-tiba dia datang menemui ku?
"Jangan berpikir macam-macam!" ujarnya.
"Bagaimana bisa aku tidak berpikir macam-macam saat ada orang berbahaya di depan ku?"
Fabyan terbahak.
"Bukankah kau juga lebih berbahaya?"
"Apa?"
__ADS_1
To be continued ..
Kira ² apa yang diketahui Fabyan????