Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 35 : Kencan 1


__ADS_3

"Nih, buat ganti kerugian!" Clara menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan pada wanita itu. Kemudian dia pergi meninggalkan wanita itu yang sedang ngomel-ngomel nggak jelas.


Setelah membayar barang-barang belanjaannya, Dia pun langsung melenggang meninggalkan supermarket.


"Dasar wanita gila! Tidak waras! Kurang ajar! Dia pikir aku miskin apa! Awas saja jika aku bertemu lagi dengannya, akan aku beri dia pelajaran!" ujar wanita itu mengepalkan tangannya.


Wanita itu berjalan dengan menenteng tas kresek belanjaannya. Dia berdiri di depan Supermarket menunggu kedatangan seseorang.


Wanita itu adalah Belle. Wanita cantik dengan rambut hitam lurus. Memakai dress diatas lutut menampilkan pahanya yang putih dan mulus.


____


____


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan Belle. Wanita cantik itu masuk ke mobil mewah dengan mulutnya yang masih menggerutu.


"Ada apa?" tanya pria yang duduk dibelakang kemudi. Pria itu adalah Fabyan.


"Aku bertemu dengan wanita gila!" kesalnya. Terlihat urat-urat kemarahan di wajah Belle.


"Wanita gila!" Fabyan bingung.


"Iya, Sayang. Wanita gila!" ujarnya lagi, "Sudah ah, jangan memikirkan wanita itu! Lama-lama aku juga jadi gila!" bibir Belle mengerucut tidak jelas.


"Oke. Kita langsung pulang!" ajak Fabyan.


"Iya, Sayang!"


Mobil mereka meninggalkan supermarket, melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah perumahan elit nan mewah. Belle begitu manja, menggelayut di lengan tunangannya.


"Apa yang kau beli?" tanya Fabyan di sela dia mengemudi.


"Aku membeli makanan ringan, minuman kaleng, dan buah-buahan," jawab Belle.


"Memangnya siapa yang membuatmu kesal?" tanya Fabyan.


"Wanita gila itu. Dia sudah menyenggol lenganku, membuat semua barang-barang belanjaan ku terjatuh berantakan! Dasar menyebalkan!" kesal Belle, "Dan yang membuatku tambah kesal, wanita itu pergi setelah memberikan aku uang sebesar 500 ribu rupiah! Dia pikir aku wanita miskin!" dongkol Belle.


"Memang dia tidak meminta maaf?"


"Sudah, Tapi tetap saja aku tidak suka!"


"Lalu apa masalahmu, Belle! Wanita itu kan sudah meminta maaf, lalu kenapa kau masih kesal?" Fabyan jadi sedikit kesal dengan Belle yang bersikap egois.


"Aku tidak terima, Sayang!"


"Tapi kan wanita itu sudah meminta maaf. Dia juga memberikanmu uang sebagai ganti rugi!"


"Nah itu yang tidak aku suka. Dia memberikan aku uang!" sengitnya, "Apa dia pikir aku orang miskin yang perlu dikasihani? Hey, Aku ini anak pemilik Perusahaan Bima Nusantara! Pengusaha terkenal disini!" sombongnya, "Jika aku bertemu lagi dengan wanita itu, aku akan melaporkannya ke Polisi!"


"Kau tidak bisa begitu, Belle! Lagipula ini hanyalah masalah kecil! Kenapa harus dibesar-besarkan?"


"Kau membelanya, Sayang?" Belle menoleh ke arah Fabyan dengan tatapan menghunus.


"Bukan begitu maksudnya, Belle! Wanita itu sudah meminta maaf, dan kau tidak puas. Karena dia merasa Kau tidak puas, dia memberikan uang sebagai ganti rugi! Jadi menurutku wanita itu memiliki sikap toleran yang luar biasa!"


"Tuh kan Kau membelanya!"


"Aku tidak membelanya! Disini aku hanya mengutarakan pendapat ku! Dan masalah ini kau sangat kekanak-kanakan!"


"Sayang, Kok kamu gitu? Kamu tega ya mengatakan aku kekanak-kanakan!" kesal Belle.


Sampai di halaman rumah, Belle langsung turun dari mobil Fabyan. Dia berlari memasuki rumah. Dan Pak Mun sudah berdiri di pintu menyambut kedatangan Belle. Namun dia tidak perduli dengan keramahan yang ditunjukkan Pak Mun. Wanita itu melewati Pak Mun begitu saja, sepertinya Belle memang sedang kesal dengan Fabyan.


Pak Mun menoleh ke arah Tuannya, sementara Fabyan hanya mengangkat pundaknya, dia tidak perduli dengan wanita itu. Bagi Fabyan, Belle sangat kekanak-kanakan, hanya masalah sepele, dia harus membesar-besarkan nya. Membuat mood Fabyan jadi buruk. Fabyan pun kembali menjalankan mobilnya, dia ingin sedikit menghirup udara kebebasan. Kebebasan dari Belle maksudnya. Wkwkwkwk ...


°°°°°°


Clara baru sampai di rumah. Bu Laura sudah berdiri di depan pintu hendak menyambutnya. Wanita itu langsung mendekat ke arah Clara saat melihat Clara kesusahan menurunkan semua barang-barang belanjaannya.

__ADS_1


"Sepertinya Neng Clara habis belanja banyak ya?" tanya Bu Laura.


Clara terbahak, "Tolong bantu saya, Bu!"


"Iya, Iya! Apa isinya? Kenapa berat sekali?" tanya Laura.


"Saya belanja sayur buat Ibu! Ibu kan hobi masak!" kekehnya.


"Wah, Neng ini bisa aja!"


Mereka membawanya masuk ke dalam rumah. Bu Laura membantu menatanya di dalam kulkas. Sementara Clara langsung naik ke lantai dua ingin segera berendam di air.


"Wah, kulkas ibu penuh dengan sayur-sayuran!" gelak Bu Laura, "Neng Clara benar-benar the best deh!"


"Ibuuuuuuu!" panggil Sofia tiba-tiba datang dan memeluk ibunya dari belakang.


"Sofia!" Laura terkejut, "Ih, kamu ini ngagetin Ibu aja sih!"


Hehehehe ...


"Maafin Sofia! Habisnya dipanggil-panggil Ibu nggak nyahut! Ibu lagi lihatin apa sih? Kok berdiri di depan kulkas!"


"Ibu lagi seneng, karena untuk satu Minggu ke depan. Ibu nggak mikirin beli sayuran!"


"Lho, kenapa?"


"Karena Bu Clara sudah membelikan Ibu sayuran dan buah-buahan! Tuh kulkas Ibu jadi penuh!" kekehnya.


"Wow, Ini sih bukan kulkas, tapi, warung sayur!" kekeh Sofia.


"Hush, Kamu ini!"


_____


_____


Clara berendam di bathtub dengan nyaman. Sambil bersenandung kecil, Clara memainkan sabun. Seketika dia teringat wanita yang sedang kesal dan menggerutu di Supermarket. Kemudian dia tergelak. Pasalnya Ia ingat, saat akan keluar dari Supermarket, Ia sempat menempelkan permen karet yang ada di mulutnya ke rambut panjang wanita itu.


Hahahaha ...


Habisnya sombong sih!


Selesai mandi, Ia menggunakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya. Ia berjalan ke nakas mengambil ponsel, karena memang dari tadi ponselnya terus berdering.


Ada beberapa panggilan dari Shane dan Fabyan juga. Dia bingung pilih yang mana.


"Hallo!" hatinya memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Fabyan.


"Bu Clara, Bisakah keluar? Saya ada di depan Gang! Saya tunggu disini sampai Anda keluar!"


"A-pa? Apa yang Anda lakukan di depan Gang?"


"Hey, Tunggu! Ke ... ?" belum selesai bicara Fabyan sudah memutus panggilan teleponnya.


Ih, dasar pria tidak waras! Kenapa juga dia harus menunggu di depan Gang?


Apa sih maunya?


Menyebalkan sekali!


Clara menggerutu sendiri.


Bergegas Clara memakai bajunya. Dia memakai kaos ketat, dipadukan dengan jaket jeans dan celana jeans. Dia langsung keluar rumah dengan berjalan kaki.


"Pak Fabyan!" panggilnya. Karena memang benar, Fabyan sudah menunggu di depan Gang. Dia berdiri di dekat mobilnya.


Fabyan tersenyum manis, "Naiklah!"


"Kita mau kemana?"

__ADS_1


"Ikutlah dulu!"


"Aku tidak mau! Nanti kau membawaku ke tempat yang aneh-aneh lagi!" Clara mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Fabyan terkekeh geli.


"Tidak. Aku hanya mau mengajakmu jalan-jalan!"


"Hey, Apakah ini ajakan kencan?" tanya Clara.


"Anggap saja seperti itu?" gelaknya, "Masuklah!" Clara pun masuk ke mobil Fabyan.


Mobil Fabyan berjalan dengan kecepatan sedang. Menembus jalanan yang cukup ramai. Kemudian terus saja berjalan.


"Sebenarnya kita mau kemana?"


"Kemana enaknya?"


"Ih, Anda ini bagaimana? Kan Anda yang mengajak saya!" gerutu Clara. Fabyan benar-benar gemas dibuatnya.


"Ke pantai,"


"Ah, tidak mau. Anginnya besar!"


"Mall!"


"Apalagi! Aku paling nggak suka dengan mall!" ujar Clara.


"Kenapa? Biasanya Mall adalah tempat kesukaan para wanita!"


"Itu benar! Tapi bukan untukku. Karena menurutku itu terlalu mencolok!" ujar Clara.


"Lalu kita mau kemana?" tanya Fabyan.


"Hey, lihat! Itu ada keramaian apa?" tunjuk Clara. Manik Fabyan menoleh arah telunjuk Clara.


"Itu pasar malam!"


"Wah, Bagaimana kita ke sana saja?"


"Kau yakin?"


"Ayolah! Sejak kecil aku belum pernah ke pasar malam! Aku selalu penasaran. Ada apa saja di tempat itu? Kenapa selalu saja ramai?"


"Hey, Hey! Kau tidak pernah ke pasar malam?"


Clara mengangguk.


Hahahaha ...


"Memangnya Kau lahir di jaman apa? Masa tidak pernah ke pasar malam!" gelak Fabyan.


"Iya, itu karena Papaku tidak pernah mengizinkan ku keluar rumah!"


"Lho kenapa? Kau kan sudah bukan anak bayi!"


"Itu karena! Ah, tidak penting! Pokoknya hari ini aku ingin ke pasar malam! Ayo!"


"Iya, Iya! Baiklah. Aku parkirkan mobilku dulu!"


____


____


Clara nampak begitu bahagia. Wajahnya begitu sangat cantik, karena berasal dari senyum yang tersungging di bibirnya.


"Kalau begitu, Anda harus memandu ku!" Clara menggenggam tangan Fabyan, "Ini kencan kan? Jadi kita harus berpegangan tangan!" ucap Clara tersenyum.


"Iya, mungkin!" jawab Fabyan. Jujur perasaannya menghangat saat berada di dekat wanita itu. Mungkin pembawaan gadis itu yang selalu ceria dan berkata apa adanya. Penampilannya juga seadanya. Berbeda dengan gadis kebanyakan.


To be continued ...

__ADS_1


Kasih like dan komentar, Jangan lupa ya rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐...


__ADS_2