
"Bagaimana? Apakah kau berhasil menemukan orang yang sudah memperkosa Selena?" tanya Martin pada seseorang yang memiliki keahlian khusus untuk menyelidiki sebuah kasus.
"Berhasil, Tuan. Ini orangnya!" Orang itu memberikan sebuah foto kepada Martin. Martin memandangi foto tersebut dan menyeringai lebar.
Sementara pasangan suami istri itu baru keluar dari kamarnya, mereka melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Di sana sudah ada Uncle Jo dan juga yang lainnya, manik Clara begitu bahagia saat melihat kedatangan Niko dan Canon ke acara pentingnya. Meski terlambat.
"Hey, adikku sayang!" Niko langsung mendekat ke arah Clara dan memeluknya, "Maaf aku telat! Aku harus menunggu bajingan kecil ini menyelesaikan pekerjaannya. Makanya aku terlambat!"
"Enak saja Kau! Bukannya kau telat gara-gara ulah mu sendiri, bermain dengan wanita seharian! Dan aku harus menunggu sampai kau datang!" Canon tidak mau disalahkan, "Clara, Selamat ya! Akhirnya kau menikah, padahal aku pikir kau akan menjadi perawan tua lho! Hahahaha!"
"Sialan kalian semua!" cebik Clara, "Jika kalian kesini mau menghinaku lebih baik kalian tidak usah datang sekalian!" kesal Clara.
"Iyuh galak banget sih?" goda Canon.
"Hey, berhentilah kalian menggoda Clara, kalau tidak mau peluru ini menebus kepala kalian!" Felix tidak terima jika adiknya digoda.
"Hehehehe, Slow Brother! Kami hanya bercanda!"
"Hadiah apa yang kalian bawa untukku?" tanya Clara bersemangat.
"I'm sorry sister, we don't bring gifts. But we brought a special gift for you and your husband!" ucap Niko dan Canon sambil cekikikan.
Clara mengernyitkan alisnya. Dia yakin kalau pria-pria tengil itu hendak mengerjainya.
"Apa ini?"
"You open it later, let us get acquainted with your husband!" kekeh mereka.
Clara menoleh ke arah Fabyan, dia menggandeng sang suami untuk diperkenalkan kepada kedua saudaranya itu. Fabyan sangat terkejut melihat saudara yang dimaksud oleh Clara, karena salah satu pria itu adalah seseorang yang sedang dicarinya selama ini.
Bukankah itu Niko? Jadi benar Niko adalah saudara sepupu Clara!
"Fabyan, perkenalkan ini Niko dan yang itu Canon," Clara memperkenalkan saudaranya pada sang suami. Fabyan sedikit terperanjat, namun dia bisa menguasai keadaan. Fabyan mengulurkan tangannya, berjabatan tangan dengan Niko dan Canon.
"Senang bertemu dengan kalian!" Fabyan mengulas senyum kepada mereka.
"Sudah kan acara perkenalannya, sekarang ayo kita sarapan dulu!" ajak Mama Santi kepada mereka semua.
Mereka duduk dalam satu meja yang panjang, muat untuk dua puluh orang. Makanan sudah siap disajikan oleh pelayan di meja makan, berbagai macam makanan Nusantara dihidangkan. Dan salah satunya makanan kesukaan Fabyan dan juga Clara.
Clara sudah menyendokkan nasi dan lauk untuk sang suami, barulah dirinya menyendokkan nasi dan lauk untuk dirinya sendiri. Disusul oleh yang lainnya. Selama acara makan memang tidak banyak obrolan yang dibahas, mereka hanya mengobrol ringan, meskipun begitu mereka semua terlihat sangat akrab satu sama lain.
Acara sarapan telah selesai, kini waktunya mereka pulang meninggalkan Orchid Mansion. Abrisam juga istrinya sudah meninggalkan mansion lebih dulu, sementara Bu Laura dan Sofia ikut mobil uncle Jo dengan Felix yang mengemudikan mobilnya. Sementara mobil Niko dan Canon menyusul dari arah belakang.
Kini tinggal Clara dan Fabyan yang masih tinggal di Mansion mewah itu. Rencananya Fabyan ingin mengajak sang istri untuk berbulan madu ke London, segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Mama Santi. Dari tiket pesawat, hingga voucher bulan madu disebuah hotel mewah di London sudah dipersiapkan oleh Mama Santi.
"Sudah siap?" tanya Fabyan pada istrinya yang sedang memasukkan bajunya ke tas koper.
__ADS_1
"Sebentar lagi,"
"Boleh aku bertanya?"
Clara justru terkekeh, "Tentu. Masa mau bertanya harus izin dulu?"
"Sudah kebiasaan," jawab suaminya.
"Mau bertanya apa?"
"Ehm, Sepertinya kamu dan Niko sangat dekat!"
"Oh, itu, memang Aku dan Niko dekat. Tapi bukan hanya Niko, aku dan semuanya juga dekat. Kami satu keluarga," jawab Clara.
"Oh,"
Tiba-tiba Clara teringat dengan Shane, "Shane ada dimana ya? Kenapa dia tidak datang ke acara penting ku?" batin Clara.
"Apakah sudah siap?" tanya Fabyan lagi.
"Sudah," jawab Clara.
Mobil mereka mulai melaju meninggalkan Mansion menuju Bandara, karena memang sejak awal sudah di rencanakan. Clara terlihat sangat bahagia, apalagi akan pergi berlibur dengan suami tercinta, rasanya seperti mimpi dia sudah menikah.
"Kau kenapa?" Fabyan merasa aneh dengan sikap isterinya yang senyum-senyum sendiri.
"Eh, tidak apa-apa," jawab Clara tersipu malu.
"Siapa? Kau sepertinya yang sedang berfikiran mesum!" kekeh Clara dan Fabyan.
Fabyan memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba, saat tiga mobil berhenti tepat di depannya. Dari mobil itu keluar beberapa orang berpakaian serba hitam dengan senjata di tangan mereka. Fabyan tahu kalau dirinya dan juga sang istri dalam keadaan bahaya, dia pun langsung mengeluarkan pistolnya yang Ia simpan di dalam dasboard mobil.
"Siapa mereka?" tanya Clara.
"Sepertinya anak buah Martin," jawab Fabyan.
"Mau apa mereka?" tanya Clara.
"Entahlah, Aku kurang tahu!" jawab Fabyan, "Kau disini saja, Aku yang akan keluar!"
"Aku tidak mau. Aku ikut!"
"Please Clara, turuti kemauan ku! Ini demi keselamatan mu!"
"Aku juga tidak mau terjadi sesuatu denganmu!"
"Tolong kali ini saja, menurut lah padaku!" manik Fabyan menatap lekat manik istrinya.
__ADS_1
"Baiklah. Hati-hati!" ucap Clara.
"Ini untuk jaga-jaga!" Fabyan menyerahkan pistol itu pada istrinya.
"Tapi ... !" belum menyelesaikan kalimatnya, sang suami sudah keluar dari mobil.
Fabyan dikepung banyak orang, tapi dia tidak gentar menghadapi lawannya, dengan tangan kosong dia menghajar lawannya. Namun dia kalah dalam jumlah dan tenaga, dia pun tumbang dan jatuh tersungkur. Clara tidak bisa tinggal diam, dia pun keluar ingin membantu suaminya, namun na'as dari arah belakang seseorang memukul tengkuknya, membuat Clara terjatuh dan tidak sadarkan diri.
_____
_____
Setelah mengantarkan Daddy-nya, kini giliran Sofia dan Ibunya diantarkan pulang. Selama perjalanan mereka saling terdiam, Sofia bingung harus bertanya apa dan bercerita apa. Dia masih terasa canggung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Felix padanya.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai depan rumah. Bu Laura meminta izin untuk masuk ke dalam. Tubuhnya terasa lelah dan letih, bergegas Ia ingin beristirahat dan merebahkan diri di kasur. Sementara Sofia masih di dalam mobil Felix. Dia menoleh ke pria tampan itu, dan tersenyum tipis.
"Terimakasih, Kak! Kakak sudah mengantarkan Sofia dan Ibu sampai rumah!"
"Sama-sama," jawab Felix.
"Iya sudah, Sofia turun ya!"
"Tunggu! Aku mau bicara sesuatu," ujar Felix mencekal lengan Sofia.
"Ada apa, Kak?"
"Ehm, itu ... ! Nanti malam, maukah kau makan malam denganku?" tanya Felix ragu-ragu.
Sofia nampak berfikir.
"Nanti malam, baiklah! Jam berapa, Kak?"
Senangnya hati Felix, "Nanti aku hubungi. Yang penting kau dandan yang cantik nanti malam!"
"Baiklah, nanti Sofia dandan yang cantik,"
"Baiklah aku pulang!"
"Hati-hati, Kak!"
"Bye,"
Setelah mobil Felix tidak terlihat lagi, Sofia pun masuk ke dalam rumah. Dia berusaha untuk mengatur nafasnya, berdekatan dengan Felix terasa seperti orang yang habis berlari dengan jarak berkilo-kilo meter, jantungnya berdetak kencang, nafasnya ngos-ngosan, membuat dirinya harus menghirup udara lebih banyak.
To be continued ...
***Gimana kelanjutannya? Penasaran kan? Ayo baca dan ikuti ceritanya... kisah cinta mafia cantik kita.
__ADS_1
My Beloved Mafia Queen hadir untuk menghibur Anda semua, baca terus kejutannya dengan like, komentar sebanyak-banyaknya dikolom komentar, vote juga boleh banget, apalagi hadiah mau bunga mau kopi, Author dengan senang hati menerimanya. wkwkwk ...
Terimakasih atas dukungannya....😘😘😘***