
Saat Fabyan hendak pergi. Dengan kuat Clara menarik tangan Fabyan. Hingga tubuh Fabyan terjerembab ke sofa. Dengan cepat Clara duduk di atas perut Fabyan.
"Hooooo!" Fabyan sedikit tertarik dengan pemandangan di depannya.
"Fabyan Bramantyo, Apakah Kau menyebut tadi sebuah ciuman?" Clara nampak sangat kesal.
"Apa aku salah?"
"Tentu saja kau salah! Yang tadi bukanlah ciuman!" ucap Clara.
Clara mendekatkan wajahnya, "Ini yang namanya ciuman!"
Clara menempelkan bibirnya ke bibir Fabyan dan memberikan gerakan kecil yang semakin lama semakin ganas. Fabyan awalnya merasa sangat aneh, tapi lama-lama dia mulai menikmatinya.
Clara memegang pipi Fabyan. Dia memberikan isyarat pada rektor tampan itu agar membuka mulutnya. Fabyan membuka mulutnya, memberikan Clara kesempatan memasukkan lidahnya. Fabyan tidak tinggal diam, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Clara lakukan. Mereka saling menautkan lidahnya satu sama lain.
Kedua tangan Fabyan memegang pinggul Clara. Membuat wanita itu tersentak saat fabyan mengelusnya.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Hingga mereka kehabisan nafas. Clara lebih dulu melepaskan pagutan. Dan bernafas dalam-dalam. Kemudian pipi mereka merona merah. Merasakan perasaan malu yang luar biasa.
"Ini yang namanya ciuman!" ucap Clara.
"Cukup bagus!" jawab Fabyan santai.
"Uh." Clara tersadar merasakan sesuatu yang keras dibawahnya.
Tidak mungkin kan hanya berciuman saja, terong Afrika nya langsung membengkak seperti itu!
"Ohoooooo! Sudah jam berapa ini?" Clara beranjak dari duduknya di atas perut Fabyan.
"Aku harus pulang! Aku tidak mau Bu Laura dan Sofia khawatir dengan ku!"
"Apa kau yakin tidak mau meneruskan ini?" kekeh Fabyan.
Hahaha ...
"Maaf ya, Pak! Saya tidak bisa! Saya hanya akan memberikan mahkota saya pada seseorang yang akan menjadi suami saya!"
"Baiklah, kalau begitu! Ayo aku antarkan pulang!"
Mereka pun keluar dari bungalow itu menuju mobil. Clara mendudukkan pantatnya, berusaha untuk mengatur nafasnya.
Astaga! Jantungku berdetak kencang!
Hanya karena ciuman, terong Afrika Pak Fabyan bisa sampai sebesar itu!
Itu sangat besar! Bagaimana kalau aku melihatnya secara langsung?
Ah!
Clara menepuk pipinya dengan kuat, "Clara, sadarlah!"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fabyan saat masuk ke dalam mobil.
"Eh, tidak apa-apa!" ujarnya gelagapan.
"Kau masih berpikiran mesum?"
__ADS_1
Clara hanya menyunggingkan bibirnya miring.
____
____
Fabyan menjalankan mobilnya meninggalkan bungalow. Disepanjang perjalanan mereka saling membisu. Mereka masih sangat malu dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Hingga sampai di depan gang. Clara masih saja terdiam.
"Sudah sampai!"
"Eh, iya. Terimakasih banyak, Pak!"
Bergegas Clara turun dari mobil Fabyan. Dia langsung masuk ke lorong gang, berjalan dengan cepat menghindari tatapan elang Fabyan. Sementara itu, Fabyan kembali menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah sambil tersenyum tipis.
____
____
Malam itu, Clara tidak bisa memejamkan mata karena peristiwa tadi siang. Rasanya dia sangat malu bersikap seliar itu. Dan ini adalah pertama kali baginya.
Bukannya Clara tidak memiliki teman pria. Dia memiliki banyak teman pria. Namun saudara-saudaranya tidak pernah membiarkan para pria mendekati dirinya.
Mereka semua memperlakukan Clara seperti boneka porselen yang harus dijaga dengan sangat baik. Clara bisa memahaminya. Mereka melakukan semua itu, karena mereka sangat menyayangi dirinya.
Astaga! Aku tidak bisa memejamkan mataku! Ini semua gara-gara kegilaan ku tadi siang!
Berbeda pula dengan Fabyan. Dia terus tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Ia heran dengan dirinya sendiri. Ini bukan pertama kalinya dia berciuman. Ia pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan beberapa perempuan. Dan tentunya dia pernah tidur dengan mereka.
Selama itu pula dia tidak pernah merasakan gairah sekuat itu sebelumnya. Ia tidak pernah tertarik dengan hubungan yang lebih intens. Ia melakukan karena mereka yang meminta. Ia tidak pernah merasakan nikmat, bahkan sedikit terpaksa.
°°°°°°
Keesokkan harinya, Clara nampak lesu dan tidak bersemangat. Dia berjalan lemah saat menuruni tangga. Lingkar matanya sedikit menghitam akibat begadang semalaman. Sedetikpun dia tidak bisa memejamkan matanya karena mengingat kejadian memalukan itu. Bahkan dia merutuki dirinya karena sudah melakukan perbuatan yang bodoh.
"Pagi!" sapa Clara malas. Tentu menjadi pusat perhatian Bu Laura dan Sofia. Mereka heran menatap dosen itu.
"Pagi juga!" jawab mereka.
"Lho Bu Clara kenapa? Kok lesu begitu?" tanya Bu Laura cemas.
Hoam ...
Clara menutup mulutnya yang menguap lebar.
"Semalam saya tidak bisa tidur, Bu! Makanya saya ngantuk berat!" ujarnya.
"Oh, Ngantuk. Memang kenapa nggak bisa tidur? Apa kamarnya kurang nyaman?" tanyanya lagi.
"Eh, bukan itu! Saya nggak bisa tidur karena ada hal yang saya pikirkan!"
"Oh, Kalau Ibu boleh tahu, memang hal apa sih sampai membuat Ibu nggak bisa tidur?"
"Pasti masalah Pak Fabyan kan?" celetuk Sofia.
Glek ...
__ADS_1
Clara berhenti menelan segelas susu hangat setelah Sofia mengatakan nama Pak Rektor. Ia menoleh ke arah Sofia dengan malu-malu. Pipinya pun bersemu merah seperti udang rebus.
"Kemarin Ibu di antarkan Pak Fabyan pulang kan? Saya lihat kok!" selorohnya lagi.
Bertambah memerahlah pipinya, "Ish, Kamu ngomong apa sih? Kami cuma ada urusan!"
"Ah, Masa?"
"Iya, serius!" sahut Clara.
"Oh, semua karena gara-gara cowok! Iya, iya. Ibu mengerti! Ibu juga pernah muda kok!" ledek Bu Laura, "Ahhhhhh, indahnya masa muda!"
Sofia hanya tergelak di tempatnya. Rasanya begitu lucu melihat raut muka dosen satu itu.
"Eh, ti-dak, ti-dak seperti itu!" Clara tersipu malu.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Bu Laura lagi sambil tersenyum.
"Emm, iya! Itu ... !"
"Masa muda memang menyenangkan ya!" gelak Bu Laura.
"Hah!" Clara takut Bu Laura berpikiran macam-macam kepadanya, "Ti-dak! Tidak seperti yang Bu Laura pikirkan! Aku bukan seperti itu!" kekehnya.
"Nggak usah malu! Saya hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk Neng Clara!" ujarnya, "Neng Clara kan wanita baik, jadi sudah sepantasnya mendapatkan pria yang baik!"
KAMI HANYA BERCIUMAN!
Uh, nanti kalau aku berkata jujur, Apa yang ada dipikiran Bu Laura dan Sofia?
Bisa-bisa mereka berpikir negatif padaku!
PLAKKK
"Neng Clara kenapa?" Bu Laura dan Sofia begitu terkejut saat Clara menampar pipinya sendiri.
"Sekarang aku lebih segar!" gelaknya.
Bu Laura dan Sofia menatap aneh ke arahnya. Kemudian mereka tersenyum lebar.
"Tapi Ibu harus ingat! Karena Pak Rektor sudah memiliki tunangan!" ujar Sofia kemudian.
"Hah!" Clara menoleh ke arah Sofia, "Benarkah?"
"Iya, Bu! Saya tidak mau Ibu sakit hati! Pak Fabyan memang sudah memiliki tunangan!" ujarnya lagi.
"Ish, memang kamu tahu dari mana?" tanya Bu Laura.
"Dulu tunangannya sering kok bolak-balik ke kampus! Namanya Belle. Cukup cantik dan manja, tapi GALAK! Sofia rasa mereka dijodohkan! Sofia nggak lihat tuh Pak Rektor ada perhatiannya dengan cewek bernama Belle!" jelas Sofia sambil mengunyah makanan.
"Terus kemana dia?" tanya Clara penasaran.
"Kabar terakhir yang saya dengar, tunangannya Pak Rektor melanjutkan studinya di Amerika! Kemungkinan mereka akan menikah setelah studinya selesai! Itu kabar terakhir yang aku dengar!" seketika mood Clara buruk, dia hanya bisa mengulas senyum tipis.
To be continued ...
Hey teman ², ayo dukung karya ini dengan memberikan rate bintang lima, dan komentar yang banyak. Supaya popularitasnya semakin meningkat....
__ADS_1
Dukung ya!!!!🥰🥰🥰