
Martin berdiri di balkon dengan segelas wine ditangannya, ia terus memikirkan wanita itu. Istri Fabyan. Dan Ia sangat tidak menyukainya. Dia merasa kalau istri Fabyan bukanlah orang biasa, dia sangat cantik, namun terlihat sangat pintar.
Pertanyaannya, siapa wanita yang dinikahi Fabyan?
Gara-gara wanita itu, Fabyan melupakan Selena!
Martin mengingat tatapan Clara padanya. Wanita itu memiliki aura yang sangat kuat, aura kepemimpinan. Dia tersenyum elegan, memiliki daya pikat tersendiri.
"Aku tidak menyangka, Fabyan melupakan Selena. Harusnya dia mencari tahu tentang kematian Selena! Kenapa justru dia menikahi wanita lain!" gumam Martin merasa tidak senang dengan pernikahan itu.
"SIALAN!"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
"Emmm, segarnya!" ucap Clara saat masuk ke dalam bathtub.
"Apa hangatnya pas?" tanya Emmy.
"Iya, sudah cukup. Terimakasih banyak, Emmy!"
"Sama-sama, Nyonya!" semenjak Clara sah menjadi istri Fabyan, Emmy merubah panggilannya untuk Clara.
Clara berendam di bathtub dengan aromaterapi yang sangat segar, dua pelayan yang berdiri di belakangnya, memijit bahunya dari belakang. Dia merasa sangat nyaman dengan pijitan itu, otot-otot yang pegal serasa hilang.
"Hem, Aku sudah tidak sabar!" seloroh Clara. Dua pelayan yang berdiri dibelakangnya, sedikit menahan tawa, terutama Emmy. Ucapan Clara membuat pikiran dua pelayan dan Emmy traveling kemana-mana. Clara merasa aneh dengan perubahan wajah Emmy.
"Kenapa wajahmu aneh?"
"Anda sangat bersemangat, Nyonya ku! Nanti mainnya hati-hati ya, biar besok Anda bisa beraktifitas lagi!"
"Hah, tentu akan berhati-hati!" jawab Clara.
Kenapa aku harus hati-hati? Aku kan memang akan bermain game di Hape, kemudian setelah bosan, aku langsung bobo cantik!
Apa Emmy khawatir jika aku bermain game sampai malam?
"Tenang saja, Emmy! Aku akan bermain, tapi setelah lelah aku langsung akan tidur!" ujar Clara.
Emmy dan kedua pelayan itu langsung memerah. Emmy merasa kalau dirinya sudah tidak pantas mengobrol seperti itu, mengingat usianya sudah tidak muda lagi.
Keluar dari bathub, Clara langsung memakai jubah mandinya. Dia duduk di depan meja rias, sambil menunggu Emmy mengambilkan pakaian.
"Nyonya, Silahkan!" Clara menoleh ke arah pakaian tersebut, matanya membola sempurna melihat pakaian yang disodorkan oleh Emmy.
"Apa ini? Kenapa pakaiannya seperti ini?" tentu saja Clara protes, karena pakaian yang disodorkan oleh Emmy adalah pakaian yang sangat transparan, macam saringan tahu. Dan Clara menolak untuk memakai pakaian seperti itu.
"Setelah menikah, seorang istri memang harus memakai pakaian seperti ini, Nyonya. Supaya menarik perhatian sang suami. Dan Tuanku sudah mempersiapkan itu semua!" jawab Emmy.
Clara baru ingat, sekarang dia adalah seorang istri Fabyan. Dan hari ini adalah malam pertamanya.
Apa yang dilakukan suami istri sampai pagi? Apakah bermain game bersama? Atau bermain catur? Tentu saja tidak,
__ADS_1
Ah, aku mulai frustasi.
Clara mengacak rambutnya sendiri.
"Nah, Mari! Biar saya bantu!"
"Eh, tunggu sebentar! Bagaimana kalau aku pakai piyama?" Clara menahan tangan Emmy.
"Tidak bisa, Nyonya! Seorang istri jika memakai pakaian seperti ini, maka akan menambah hubungan pasangan tersebut menjadi semakin harmonis. Gairah pasangan tersebut juga akan meningkat!"
"Tapi .. !"
"Sudah, jangan tapi-tapian!"
Setelah beragam penolakan, akhirnya Clara menyerah juga. Terpaksa malam ini dia memakai pakaian seperti itu. Pakaian yang baru pertama kali Ia pakai seumur dalam hidupnya. Clara memakai lingerie warna ungu dibalik jubah mandinya. Dia masih sangat malu, dan tidak menyangka akan memakai pakaian seperti itu. Saking malunya, Clara menutupi tubuhnya di balik selimut tebal.
Setelah kepergian Emmy dan dua pelayan, Fabyan masuk ke dalam kamar. Dia heran karena istrinya bersembunyi dibalik selimut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fabyan.
"Jangan mendekat!" teriak Clara dibalik selimut.
"Kau kenapa?"
"Aku bilang jangan mendekat! Jika kau mendekat, aku hajar kau!"
Fabyan yang merasa aneh dengan sikap istrinya, dia langsung menarik selimut itu hingga tersingkap. Fabyan terdiam begitu melihat istrinya memakai lingerie yang ditutupi oleh jubah mandi yang agak kedodoran. Dan jubah mandi itu sedikit terbuka karena gara-gara gerakan Fabyan.
"Diam! Kalau tertawa, ku bunuh Kau!" ancam Clara.
"Apa?" Fabyan tidak mengerti dengan pemikiran Clara, masa situasi seperti ini dia harus tertawa. Justru sekarang yang dia rasakan adalah rasa sesak di bawah sana.
Ya, Fabyan mulai terangsang hanya melihat Clara memakai pakaian seperti itu. Kalau diingat-ingat, dulu dia juga pernah seperti itu saat hanya merasakan ciuman.
"Clara .. !" Fabyan mendorong Clara, dan menindihnya di bawah kungkungannya. Wajah Clara bersemu merah melihat gairah sang suami.
"Kau, Kau mau apa?" tanya Clara hendak memukul suaminya, namun berhasil ditangkap oleh Fabyan.
"Cepat minggir!"
Fabyan tersadar, dan dia langsung menyingkir. Ia duduk di tepi ranjang, sementara Clara menutupi tubuhnya dengan jubah mandinya.
"Aku belum si-ap!" ujar Clara.
"Tapi kita sudah sah menjadi suami istri!"
"Iya, Aku tahu. Tapi berikan aku waktu!"
"Hhhhhhh, baiklah. Jika kau tidak mau, maka kau tidak perlu melakukannya!" ucap Fabyan hendak keluar dari kamar.
"Apa kau bilang?" Clara mencekal lengan suaminya, "Kau pikir aku ini apa? Wanita murahan? Aku ini sudah sah menjadi Nyonya Fabyan!"
__ADS_1
Clara menarik tangan suaminya, dan mendorongnya ke kasur. Lalu, ia duduk di atas perut suaminya. Fabyan yang dibawah bisa melihat tubuh seksi Clara dengan memakai lingerie.
"Jika kau belum siap, maka kau tidak perlu melakukannya?" ucap Fabyan sambil tersenyum nakal.
"Omong kosong!" Clara menempelkan bibirnya ke bibir suaminya, seperkian detik Fabyan pun membalas ciuman itu, dan menarik tubuh Clara hingga lebih merapat pada tubuhnya.
"Aku memang menunggu momen ini sejak lama!" kekeh Fabyan.
"Dasar mesum!"
Bibir mereka saling menempel, lidah mereka saling bertautan. Tangan Fabyan bergerak di tubuh istrinya, menarik tali yang terikat dipunggung istrinya dan melepaskan lingerie itu. Fabyan membalikkan posisi tubuh istrinya, hingga istrinya sekarang di posisi bawah. Secara perlahan Fabyan menarik lingerie Clara hingga lepas, dan itu membuat sesuatu yang ada di bawah meronta-ronta ingin dikeluarkan.
Cantik? Itulah yang sekarang ada dipikiran Fabyan. Fabyan mengecup leher Clara, dan menyesapnya dengan kuat memberikan jejak kepemilikan di sana.
Clara merasa sakit di sana, tapi dia menikmatinya, sensasinya luar biasa. Tangan Fabyan melepaskan semua pakaiannya, membuat pipi Clara merona karena malu, ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Kau tidak berencana kabur kan?" tanya suaminya.
"Aku malu!" ucapnya sambil menatap dada bidang sang suami, dan perut kotak-kotak sang suami.
"Kau mau menyentuhnya?" dengan perlahan Clara menyentuh perut kotak-kotak itu.
"Bagaimana?" tanya suaminya.
"Besar,"
"Apanya?"
"Otot-otot mu lah!"
"Kau belum lihat yang dibawah!" bisik Fabyan.
Clara melirik ke bawah, ada sesuatu yang menonjol di bawah sana. Di lihat dari luar saja sudah besar, bagaimana dibuka. Pikir Clara.
Clara melotot saat tangan suaminya menuntunnya untuk memegang benda keramat itu.
Memangnya benda sebesar itu bisa masuk semua ke milikku?
"Kau suka?"
"Suka apanya? Bisa mati jika aku dimasuki benda sebesar itu!"
"Kau tidak akan mati jika dimasuki benda sebesar ini!"
Clara sedikit malu, "Ini baru pertama kalinya untukku!"
"Ish, Aku akan pelan-pelan!" jawab Fabyan mengerlingkan matanya.
To be continued ...
Bantu Like Sayang ...🙏🙏
__ADS_1