Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 44 : Apakah Kau cemburu?


__ADS_3

Jika memang dia Fabyan Schultz, kenapa dia harus berpura-pura menjadi seorang rektor?


Lalu, kenapa tiba-tiba dia datang menemui ku?


"Jangan berpikir macam-macam!" ujarnya.


"Bagaimana bisa aku tidak berpikir macam-macam saat ada orang berbahaya di depan ku?"


Fabyan terbahak.


"Bukankah kau juga lebih berbahaya?"


"Apa?" mata Clara membola.


"Bukankah kau lebih berbahaya dariku?" tanya Fabyan dengan mengerlingkan matanya.


Hahahaha ..


"Anda suka bercanda rupanya!" tawa Clara.


"Clara Lunoks. Cucu dari Santo Federic Costa. Dan putri dari Ferdinand Costa. Dan kau sendiri adalah seorang Queen Mafia. Dan semua keluargamu adalah mafia. Betul bukan?" ucap Fabyan.


"A-PA? Ba-gai-ma-na ka-mu tahu semuanya?" tanya Clara heran.


"Dan kau bukanlah seorang dosen. Betul begitu?" Clara memutar bola matanya ke arah Fabyan. Dia tidak menyangka Fabyan mengetahui semuanya tentang dirinya. Bahkan sebelum dirinya mengatakan semuanya.


"Hhhhhhhhh, Kau gila ya!"


"Jadi Kau benar seorang Queen Mafia?" Fabyan menatap lekat.


"Kau jangan mencoba untuk menutupi kesalahanmu! Akan aku habisi Kau!" Clara berniat untuk meninju wajah tampan Fabyan, tapi dia berhenti saat sebuah pistol mengarah padanya.


"Tenangkan dirimu!" ujar Fabyan.


"Cih, Saat berdekatan dengan pria brengsek seperti dirimu, apakah aku harus tenang?" Clara menghentikan aksinya. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, dan melipat kedua tangannya dengan wajah yang ditekuk.


"Maksudmu?"


"Hhhhh, Apa? Kau masih tanya apa maksudku?" kesal Clara, "Apakah kau akan memperlakukan semua wanita seperti itu? Apakah kau pikir wanita itu mainanmu?"


Fabyan baru mengerti dengan arah pembicaraan Clara, lalu dia tersenyum lebar, "Maksudmu Belle!"


Clara menoleh ke arah Fabyan dengan kesal. Ternyata otak pria itu sangat pintar, dia langsung mengerti arah pembicaraannya.


"Kami itu dijodohkan. Aku sama sekali tidak mencintainya. Bagiku dia sama seperti wanita murahan!" ujarnya dengan santai.



Fabyan duduk di sofa, dia menoleh ke arah wanitanya. Yang ditatap langsung menundukkan kepalanya. Clara jadi salah tingkah sendiri.


"BODO AMAT! Aku nggak perduli! Jika memang Kau tidak mencintainya, Lalu kenapa Kau bisa tidur dengannya?"


"Hey, Ayolah hal seperti itu normal bagi seorang laki-laki!" seru Fabyan.

__ADS_1


"Tapi tidak bagiku!"


"Kau cemburu?"


"APA? AKU CEMBURU?"


Hahahaha ...


"Hey, Tuan Fabyan yang terhormat. Mana ada aku cemburu? Kau pikir siapa dirimu?"


"Lalu, kenapa kau begitu marah?" Fabyan mengerlingkan satu matanya.


"Aku marah?"


Hahahaha ...


"Mana ada aku marah? Tidak, aku tidak marah. Dan aku tidak cemburu! Aku hanya tidak suka ada seorang pria mempermainkan perasaan seorang wanita! Itu saja!" jawab Clara.


"Dia yang menggodaku. Dan semua pria yang digoda pasti akan luluh melihat mangsa yang begitu empuk di depan mata."


"Oh, pemikiran macam apa itu?" cibir Clara.


"Bukankah benar apa yang aku katakan. Semua pria jika digoda seperti itu pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Lagipula dia yang memulainya! Bukan aku!"


"Astaga, kenapa aku dipertemukan dengan pria macam kau sih?"


Hahahaha ...


"Kecuali jika Kau menikah denganku. Hari ini juga aku akan memutuskan pertunangan ku dan Belle!"


"Karena itu, aku sangat menyukaimu. Kau wanita yang berbeda dari semua wanita yang aku kenal," ujar Fabyan, "Wanita yang aku kenal, dia rela memberikan mahkotanya pada setiap pria! Termasuk aku!" kekeh Fabyan.


"Hhhhhh, maaf ya! Tapi aku tidak tertarik!"


Clara melenggang pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Sementara Fabyan hanya terkekeh melihat wanita di depannya, yang menurutnya sangat menggemaskan.


To be continued ...


Rekomendasi novel aku yang lain nih, bantu like dan komentarnya dong...kasih bunga dan vote juga boleh banget. Author sangat berterimakasih sekali...


Judul : Istriku Berbeda


cuplikan Bab :


"Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini."


"Kekecewaan sebenarnya hanya sebutan bagi penolakan kita untuk melihat sisi baiknya."


"Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi.""Harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati." - William Shakespeare


🍁🍁🍁🍁🍁


Nathan melangkahkan kakinya keluar Rumah Sakit. Kakinya bergetar hebat setelah mengetahui hasil Rumah Sakit mengatakan dirinya terjangkit penyakit Sifilis.

__ADS_1


Dengan tergesa dia melangkahkan kakinya menuju Apartemen Dewi. Hatinya bergemuruh, pikirannya sedang tidak sinkron. Rasa marah, kesal dan jengkel melebur menjadi satu.


Dengan kecepatan penuh, Nathan melajukan kendaraannya menuju Apartemen Dewi. Sampai di depan Apartemen, Nathan mempercepat jalannya, memasuki lift dan berhenti di depan kamar Dewi.


Tok ... Tok ... Tok


Beberapa kali mengetuk pintu, Dewi baru membukanya.


"Nathan?" kagetnya. Nathan tidak kalah terkejutnya dengan Dewi. Wanita yang biasanya cantik dan menarik, wajahnya sangat pucat, dengan lingkaran mata yang menghitam.


"Kamu sakit, Wi?" tanya Nathan.


"Nggak," elaknya.


"Kenapa wajah kamu sangat pucat?" tanya Nathan.


"Masa sih?" Dewi meraba wajahnya. Nathan terkesiap, dia baru teringat dengan tujuan utamanya.


"Dewi, katakan sejujurnya! Apa kamu sakit?" ketus Nathan.


"Kamu ini datang-datang malah bertanya aku sakit? Maksud kamu apa sih?" kesal Dewi. Nathan memberikan surat kesehatan dari Rumah Sakit.


"Ini, Bacalah!" perintah Nathan kepada Dewi. Dewi nampak sedang membaca surat tersebut, dia nampak serius membaca perkalimatnya. Meskipun tidak begitu paham, tapi, disitu dengan jelas mengatakan bahwa Nathan mengidap penyakit sifilis. Dewi nampak terperangah, dia tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Sebelumnya aku tidak pernah mengidap penyakit terkutuk itu. Apakah kau yang membawa penyakit itu?" marahnya. Dewi sangat terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan kekasihnya.


"Apa maksudmu, Nathan? Kau bicara apa sih? Aku nggak ngerti!" ucapnya.


"Sudahlah, Dewi. Jangan mengelak lagi!" marah Nathan, "Berapa pria yang sudah tidur denganmu?" tanya Nathan sambil mencekram lengan Dewi.


"Auw, sakit Nathan. Kau menyakitiku!" pekiknya, mengaduh kesakitan.


"Katakan padaku?" bentaknya.


"Bukan urusanmu! Sekarang pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!" isaknya.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya dengan jujur!" ucap Nathan.


"Aku tidak pernah merasa kalau diriku memiliki penyakit. Jadi, jangan pernah menuduhku sembarangan! Pergi dari sini! Jika tidak, Aku akan memanggil security!" ancamnya. Dewi mendorong tubuh Nathan supaya keluar dari Apartemennya.


"Dewi!" panggil Nathan menggedor pintu Apartemen Dewi.


"Pergi kamu, Nathan. Biarkan aku sendiri!" teriaknya dari dalam Apartemen.


Suara gedoran pintu dan teriakkan mereka membuat orang yang tinggal di kamar lain menjadi merasa terganggu. Satu persatu keluar dari kamarnya, membuat Nathan merasa tidak enak. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang.


Satu Minggu Berlalu


Nathan merasakan seluruh tubuhnya terasa nyeri, lemas dan sedikit demam. Dia mengambil kotak P3K, mencari obat demam. Dan meminumnya. Istirahat sebentar saja, demamnya agak menurun.


Badannya terasa sangat gerah dan lengket. Dia memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Ia merasa aneh dengan tubuhnya. Entah sejak kapan banyak sekali ruam-ruam merah menempel di tubuhnya. Namun terkadang ruam itu hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ia menganggap penyakitnya tidak terlalu berbahaya.


Lama berdiam diri di rumah membuatnya sangat bosan. Nathan memutuskan untuk pergi ke luar. Memang dia sudah mengirimkan surat izin untuk tidak masuk ke kantor.

__ADS_1


to be continued ...


__ADS_2