Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 48 : Markas Besar Black Rose


__ADS_3

Clara Lunoks


Aku melajukan motorku dengan sangat kencang, aku tidak perduli yang penting aku ingin jauh dari tempat itu. Menyendiri.


Sepanjang perjalanan, aku menangis. Aku tidak mampu membendung air mataku. Yang kian keluar membasahi pipi dan bajuku.


Mungkin karena aku tidak bisa menerima kenyataan. Bahwa Bastian adalah papa kandungku. Jadi ini misteri yang selama ini aku tidak tahu.


Kenapa Papa tega merahasiakannya dari Clara, Pa?


Kenapa Mama juga tega?


Kalian tega menyembunyikan kebenaran ini dariku! Hiks ... Hiks ... Hiks


Tin ... Tin ... Tin


Tiba-tiba suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah mobil tersebut, ternyata itu mobil Fabyan. Aku tidak menyangka diam-diam dia mengikutiku.


Fabyan memberikan kode padaku untuk menepikan motor. Awalnya aku menolak. Karena memang aku ingin sendiri. Tapi dia terus membunyikan klakson, membuat kami menjadi perhatian banyak orang.


Dengan terpaksa aku menepikan motor matic ku. Fabyan keluar dari mobilnya, kemudian mengulas senyum ke arahku. Aku sengaja membuang mukaku malas.


"Kenapa Anda mengikuti saya?" tanyaku ketus.


Dia tersenyum manis, "Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu!" jawabku.


"Hey, Hey! Apa begini caramu berterimakasih padaku? Orang yang sudah menyelamatkan hidupmu!" ujarnya menjengkelkan.


"Terus, Pak Fabyan maunya apa?" tanyaku.


"Traktir lah!"


"Oke, Bapak mau saya traktir apa? Makanan atau minuman?" tanyaku.


"Ikut aku!" pria menyebalkan itu tiba-tiba saja menarik tanganku agar masuk ke mobilnya.


"Motorku!" ujar ku.


"Sudah biar orangku yang mengambil!" ujarnya. Aku hanya menuruti keinginannya yang sedikit memaksa.


Fabyan melajukan mobilnya ke sebuah tempat, entah tempat apa namanya. Tempat itu terletak ditengah hutan. Untuk ke sana, kami harus melewati jalanan yang berkelok-kelok. Naik turun bukit. Dan melewati hutan Pinus yang sangat lebat. Tapi yang membuatku heran, ditengah pohon Pinus yang berjejer, terdapat jalanan aspal yang yang sudah dihotmix rapi. Aku jadi penasaran, kemana sebenarnya Fabyan membawaku.


Akhirnya mobil kami sampai di sebuah gudang besar. Kelihatannya seperti markas.


Apa ini markas Black Rose? Batinku.


"Ayo turunlah!" ajaknya padaku.


Dengan perlahan aku turun. Aku mengamati setiap sudutnya.


Ada dua pengawal yang menjaga pintu gerbang berukuran besar. Di atas gerbang ada simbol bunga mawar berwarna hitam. Dan Aku yakin ini adalah markas besar Black Rose.

__ADS_1


"Bukankah ini markas besar Black Rose?" tanyaku pada Fabyan. Dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Entah apa arti dari senyumannya itu.


Fabyan menggandeng tanganku masuk ke dalam. Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa pengawal. Kemudian pengawal lainnya datang. Mereka sedikit membungkukkan badannya. Sebagai penghormatan kepada ketua Mafia Black Rose.


"Wow, ternyata dia benar-benar ketua mafia!" kekeh Clara dalam hati.


Fabyan menarik tanganku melewati banyak ruangan di gudang itu. Dan semua ruangan itu memiliki simbolnya masing-masing.


Keluar dari ruangan itu, Aku dibuat takjub melihat pemandangan di depanku. Ternyata tepat di belakang markas Black Rose, ada sebuah rumah yang cukup unik dan lucu.



"Ayo, Masuk!" ajak Fabyan.


"Ini indah sekali! Aku tidak menyangka, dibelakang markas besar Black Rose ada rumah seunik ini!" ucapku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku saat melihat rumah dibelakang markas. Fabyan terkekeh.


Fabyan mempersilahkan ku masuk ke dalam.


Baru membuka pintu, Aku mendapati bar mini disudut ruangan. Aku berlari ke arah bar mini itu, dan mengambil Vodka. Yang kemudian Aku tuangkan ke sebuah gelas.


Glek ..


Aku menenggak minuman itu sekali habis. Fabyan mendekat ke arahku. Dia tahu, hati ku sedang tidak baik-baik saja. Namun aku sangat pintar merahasiakan kegelisahan hatiku di depan banyak orang. Aku bisa melihat Fabyan begitu khawatir denganku.


"Ayo minum!" ajakku setengah mabuk. Aku menuangkan air ke gelas baru, yang kemudian aku berikan untuk pria itu.


"Ayo temani aku minum!" ajakku.


Glek ..


"Hufffffttttt, ke-na-pa me-re-ka semua tega mem-per-main-kan pe-ra-saan ku?"


Fabyan hanya mengulas senyum tipis. Dia paham apa yang sedang aku alami, dan itu tidak mudah bagiku untuk menerima sebuah kenyataan.


"Kau sudah terlalu banyak minum!" ujar Fabyan merebut gelas ku.


"Ah, aku masih mau minum!" Aku kesal saat Fabyan merebut gelas di tanganku.


"Beriiiiiikan!" ujarku manja, "Beriiiiiiikan padaku?"


Terpaksa aku mengambil gelas baru, dan mengisinya dengan minuman lagi.


"Ah, rasanya e-nak!" ujarku. Satu gelas lagi aku habiskan.


Fabyan hanya geleng-geleng kepala.


Aku tahu kau sedang sedih. Tapi bukan seperti ini!


"Me-re-ka semua ja-hat!" ucapku lagi.


Brukk ...


Dengan sigap Fabyan menangkap tubuhku yang limbung ke belakang. Kepalaku terasa sangat pusing. Aku pun sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ck, kau ini! Aku mengajakmu bukan untuk minum-minum!" lirih Fabyan.


Terpaksa Fabyan membopong tubuhku ke kasur. Dia biarkan aku untuk beristirahat di kasurnya yang berbau wangi maskulin. Ah, rasanya tenang sekali!


_____


_____


Sementara Bastian duduk sendiri diruang kerjanya. Ia biarkan lampu diruang kerjanya tidak menyala. Sambil duduk di kursi kebesarannya, dia mengenang masa lalu. Masa-masa dimana dia mulai mengagumi sosok wanita yang selama ini menjadi musuhnya.


Iya, dia adalah Elisabeth Costa. Ratu mafia yang cukup dikenal para mafia lain. Cantik, pintar dan tidak mudah ditaklukkan. Itulah yang membuat Bastian begitu tertarik untuk memilikinya.


Namun Wanita yang dikenal dengan panggilan Elisa, sangat susah untuk menaklukkan hatinya. Banyak pria yang berusaha untuk mendekatinya, namun Elisa dengan tegas menolak.


Flashback


Dorr, Dorr, Dorr


Suara rentetan tembakan menggema disebuah gedung tua. Elisa si ratu mafia membabi buta melawan musuh-musuhnya. Dan itu membuat Bastian begitu tertarik ingin segera memilikinya.


Semua anak buah Elisa tumbang, kini tinggallah dirinya dengan wanita cantik itu.


"Bastian, keluar kau!" mendengar suaranya saja, serasa dunianya sudah runtuh. Entah getaran apa yang ada dihatinya, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Mereka saling berhadapan. Bastian bisa melihat jelas wajah cantik Elisa. Senyuman manisnya, sudah membuat hatinya terkunci hanya untuk Elisa seorang.


Bastian mendekat ke arah Elisa, dan Elisa mundur satu langkah.


"Menikahlah denganku!" tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Bastian. Dan ...


PLAKKK ...


Satu tamparan berhasil mendarat ke pipi Bastian. Dengan sumpah serapah, Elisa menghina Bastian. Namun pria itu tidak marah, dia hanya mengulas senyum dan menjadi pendengar yang baik mendengar omelan Elisa.


Sejak pertemuan itu, Bastian begitu ingin memilikinya.


_____


_____


Malam itu, disebuah dermaga terjadi perkelahian besar antar dua klan. Rentetan tembakan sangat memekikkan telinga. Dua klan bersiteru memperebutkan wilayah kekuasaan.


Suara kapal-kapal dermaga meledak, dan Boom ...


Kobaran api melahap semuanya yang ada disitu. Kini dermaga itu berubah menjadi lautan api yang menyala-nyala.


Bastian melihat Elisa tidak sadarkan diri di tempat itu. Sangat dekat dengan api yang berkobar. Bastian bergegas menyelamatkan wanita itu dari kobaran api.


Dia tersenyum saat melihat wanitanya berhasil Ia selamatkan. Meskipun masih pingsan, tapi setidaknya nyawanya tertolong.


Bastian pun segera membawa tubuh wanitanya ke suatu tempat yang aman.


To be continued ...

__ADS_1


Vote, Vote, Vote, Vote, Vote ....😘😘😘😘


__ADS_2