
Bastian melihat anak gadisnya selalu termenung di depan kolam renang. Sebagai seorang ayah, ia bisa merasakan kalau Clara sedang ada masalah. Bastian pun mendekati putrinya, dan duduk disebelahnya.
Clara terkejut, "Papa!"
Bastian tersenyum, "Ada apa? Papa perhatikan kau banyak melamun. Apakah ada masalah? Apakah Fabyan menyakitimu?"
"Entahlah, Pa. Clara bingung!" ucap Clara. Dengan lembut, Bastian menggenggam tangan putrinya.
"Jika kau mau, Papa siap menjadi pendengar yang baik!"
Clara menoleh ke arah Papanya, dia belum yakin dan belum siap untuk menceritakannya. Tapi untuk mengurangi rasa sesak di dadanya, nggak salah juga Ia bercerita kepada sang Papa.
Clara pun menceritakan semuanya kepada Bastian. Bastian menjadi pendengar yang baik, mendengarkan cerita sang anak. Clara terisak, Bastian menepuk pundak putrinya dengan sayang. Clara tidak menolak, karena memang dia membutuhkan seseorang saat ini.
"Clara, itulah yang membuat Mama kamu sangat membenci Papa. Dia bahkan sengaja menyembunyikan kehamilannya dari Papa, karena sangat membenci Papa. Begitupun Fabyan. Dia merasakan apa yang dirasakan oleh tunangannya. Rasa sakit, terluka, dan sedih. Hanya saja Selena tidak sekuat Mama kamu, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dan Fabyan sebagai tunangannya, tentu saja dia sangat marah!" tutur Bastian kepada Clara, "Clara, Papa tahu kamu terluka. Papa yakin kamu kuat, karena yang Papa tahu, kau adalah wanita yang kuat dan pemberani!"
"Minggu depan Papa akan ke Jerman dan menetap di sana. Kalau kau mau ikutlah dengan Papa ke Jerman. Mungkin kau butuh suasana baru untuk menenangkan hati dan pikiranmu!"
__ADS_1
"Tapi .. !"
"Kamu pikirkanlah dulu! Papa akan menerima semua keputusan kamu kok!"
"Baiklah, Pa! Akan aku pikirkan lagi!"
____
____
Disisi lain, Fabyan sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Lukanya belum mengering, tapi dia memaksa untuk pulang ke rumah. Mama Santi sudah menyiapkan barang-barang putranya ke dalam koper, sementara Abrisam semakin heran karena menantunya tak kunjung datang sekedar untuk menjenguk suaminya.
Dia sudah mengirim beberapa orang untuk mencari keberadaan Clara, namun istrinya memang sengaja tidak mau diketahui keberadaannya.
Sampai-sampai di rumah Fabyan, Santi membantu putranya untuk turun dari mobil. Pak Mun kepala pelayan sudah menunggu kedatangan majikannya di depan pintu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menghormati kedua orang tua Fabyan.
"Selamat datang, Tuan Besar dan Nyonya Besar! Senang rasanya saya bisa bertemu lagi!"
__ADS_1
"Pak Mun, Tolong siapkan makanan untuk Fabyan! Dia harus minum obat lalu istirahat!" suruh Mama Santi.
"Ma, Aku harus pergi!" ucap Fabyan.
"Apa? Kamu tuh baru sembuh lho!"
"Iya, Ma. Aku tahu, tapi Aku harus mencari Clara. Clara sangat penting buatku, Ma!"
"Tapi kamu baru sembuh, Nak. Dokter saja menyarankan kamu untuk langsung istirahat!"
"Iya, Ma. Aku tahu! Tapi Aku sehat kan! Lihat nih!"
"Tapi, Nak ... !" belum juga menyelesaikan kalimatnya, Fabyan sudah menyambar jaket dan kunci mobilnya.
"Nak, Kamu mau kemana?" tanya Santi sedikit berteriak.
"Aku harus mencari Clara," Fabyan memasuki mobilnya, bergegas dia melajukannya.
__ADS_1
Abrisam sampai terbengong melihat tingkah aneh putranya, padahal baru saja pulang dari Rumah Sakit, tapi Fabyan sama sekali tidak memperdulikan lukanya yang belum mengering.
Bersambung ...