
Hampir dua hari, Shane tidak menemukan jejak Clara. Berkali-kali dia berusaha untuk menghubungi sang queen mafia, tapi sayang ponsel Clara tidak aktif. Dan sejak itu, Shane memberhentikan pencariannya.
Shane hendak kembali ke hotel, tempat Uncle Jo dan Felix berada. Mungkin saja Clara menghubungi mereka, dengan begitu dia tidak perlu mencari keberadaan Clara.
Dengan kecepatan tinggi, Shane melajukan kendaraannya menuju hotel. Di kamar hotel Shane tidak menemukan keberadaan mereka, sampai dia harus menghubungi Felix. Dan Felix bilang, kalau mereka sedang makan siang bersama dengan Bu Laura dan Sofia di Restaurant hotel. Bergegas Shane menuju ke sana.
_____
_____
"Jadi begitu ceritanya, Bu Laura! Jadi berhentilah untuk membenci suami Anda. Dia melakukan itu semua untuk kehidupan Ibu dan Sofia supaya kehidupan kalian lebih baik. Karena itu dia memilih bergabung dengan kelompok mafia. Karena memang yang ada dipikirannya saat itu adalah Anda dan putrinya Sofia!" jelas Uncle Jo panjang lebar. Dia menjelaskan secara detail pada Bu Laura.
"Selama ini saya selalu berpikiran negatif kepada suami saya. Saya pikir suami saya mengkhianati saya!" isak Bu Laura.
"Tidak, Bu! Ferdinand menikahi Elisa supaya Clara kecil memiliki identitas yang jelas. Elisa hanya ingin menjauhkan Clara dengan ayah kandungnya!" jelas Uncle Jo lagi, "Saat mencari Ibu di alamat lama Ibu, Ferdinand tidak menemukan Ibu. Katanya Ibu pindah. Saat itu, Ferdinand putus asa. Dia yakin kalau Ibu sudah salah paham dengannya! Tapi saya maklum, semua masalah ini terjadi karena dari keluarga saya. Saya mewakili keluarga, saya mohon maaf sebesar-besarnya!"
"Iya, Tuan, saya sudah maafkan! Yang penting semuanya jelas, saya sudah ikhlas dan memaafkan semuanya!"
"Baguslah kalau begitu! Nanti saya akan suruh Felix untuk mencarikan rumah yang layak untuk kalian!"
"Terimakasih banyak, Tuan Jonathan!"
_____
_____
"Selamat siang! Boleh Saya bergabung!" ucap Shane kepada mereka semua.
"Kemarilah, Bro! Kita makan siang bersama. Disini sudah ada Bu Laura dan Sofia!" Shane menganggukkan kepalanya kepada kedua wanita itu. Dan mendudukkan pantatnya di kursi sebelah kursi Felix.
"Ehm, Bukankah Anda, Pak Shane! Donatur kampus?" Sofia membuka suara.
Tentu Shane jadi salting, Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehehe, iya! Kau masih ingat?"
"Tentu," Sofia ingat betul, saat itu pria yang duduk didepannya keluar dari ruangan Pak Rektor, "Atau jangan-jangan, ini semua rencana Pak Shane dan Bu Clara?" tanya Sofia lagi.
Hah, gadis ini terlalu pintar! Aku harus hati-hati.
Shane menarik nafasnya," Ini rencanaku, bukan rencana Clara!" jawabnya.
"Oh," gadis itu membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut.
"Lo, mau pesen apa?" sela Felix. Entah kenapa dia tidak suka jika tatapan Sofia tertuju pada Shane. Padahal Sofia sedang mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Shane.
"Gue sudah makan. Gue pesen ice cappucino saja!"
"Oke," Felix pun memesankan ice cappucino untuk Shane, sahabatnya.
"Gimana sudah ada kabar dari Clara?" tanya Shane.
"Gue pikir Lo sudah dapatin informasi mengenai keberadaan Clara, Bro!"
"Ah, belum. Tiba-tiba ponselnya tidak aktif!"
"Gue akan minta tolong Canon untuk melacak keberadaan gadis nakal itu!"
"Ah, Cepatlah!" ujar Shane.
Setelah menelfon dan memberitahukan kabar terbaru tentang Clara, Canon pun bergegas mencari keberadaan gadis itu. Dan itu pun desakan dari Felix dan Shane.
"Lokasi terakhir Clara di Utara. Terakhir di tempat itu, tiba-tiba sinyalnya tidak terdeteksi. Sepertinya dia sengaja tidak mengaktifkan ponsel!" ujar Canon dari seberang negara nun jauh di sana.
"Oke, terimakasih, Bro! See you!"
Tut ... Tut ... Tut
__ADS_1
"Biarkan Clara sendiri dulu!" Uncle Jo angkat bicara, "Dia membutuhkan waktu untuk menerima semuanya. Sehebat apapun seorang wanita, dan segarang apapun seorang wanita, jauh di dalam hatinya ada perasaan yang lembut, yang hanya dirinya saja yang tahu! Dan sebagai orang terdekatnya, kita hanya perlu menunggu." tutur pria paruh baya itu.
"Clara itu gadis pintar. Sejak kecil, dia di didik menjadi karekter yang kuat, hebat dan tangguh! Aku yakin, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri! Jadi tugas kita hanyalah menunggu!" imbuhnya lagi.
"Maaf kalau saya ikut bicara!" Bu Laura menambahkan, "Apa yang dikatakan Tuan Jonathan benar! Kita harus memberikan waktu untuk Bu Clara. Saya juga merasa bersalah karena sudah salah paham dengannya."
°°°°°°°°°
"Akh," Clara terjatuh, saat Ia salah melangkah. Tangannya memegangi mata kakinya yang terasa sakit.
"Sudah saya bilang, jangan bergerak seperti itu, Nona!" ucap Emmy mendekati Clara lalu membantu Clara berdiri.
"Aakh, Sakit!" pekik Clara. Emmy memapah tubuh Clara ke sofa.
"Sini kan kakinya!" Emmy menarik kaki Clara, dan sedikit memutar kakinya. Beberapa saat kemudian, kaki Clara kembali normal.
"Ayo berdiri, kita lanjutkan latihan!"
"Apakah tidak bisa istirahat sebentar? Aku lelah sekali!" ucap Clara.
"Jangan cengeng, Nona!"
"Hey, Kau membuatku bergerak tanpa henti!"
"Baiklah beristirahat 10 menit!" jawab Emmy.
Emmy duduk di sofa single menatap Clara. Sudah satu Minggu lamanya setelah Clara mengatakan setuju menikah dengan Fabyan, Ia berlatih dansa dengan Emmy. Namun gadis itu tidak memiliki peningkatan.
"Nona sangat pandai dalam teori dan praktek tata Krama, juga menembak. Tapi latihan dansa saja, Nona tidak bisa?" tanya Emmy heran.
"Ya karena aku memang tidak pernah mau belajar dansa atau semacamnya! Untuk apa? Hanya merepotkan saja!" cebik Clara, "Menurutku dansa itu sulit. Kenapa sih harus ada pesta dansa segala?"
"Jika Nona tidak mempelajarinya, Nona akan mempermalukan keluarga Bramantyo! Anda tidak hanya menari dengan Tuan Fabyan, tapi Anda akan menari dengan tamu undangan yang lain!"
"Awas saja kalau Anda melakukannya!" ancam Emmy.
"Ck, aku seorang mafia, aku juga anak seorang mafia! Tapi kami tidak diwajibkan harus bisa berdansa!" cibir Clara.
"Tentu saja berbeda! Tuan Fabyan itu memang mafia. Tapi seluruh keluarganya bukan. Mereka termasuk kaum ningrat modern! Dan Anda akan diperkenalkan kepada seluruh keluarganya. Tentu saja Nona harus bersikap seperti wanita ningrat lainnya!"
"Ih, menyebalkan!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Fabyan yang tiba-tiba masuk ke dalam.
"Oh, Tuan Fabyan! Nona penyebab utamanya!" jawab Emmy.
"Apa? Aku?" Fabyan menoleh ke arah wanitanya. Sementara Clara hanya tersenyum simpul.
"Saya sudah berusaha untuk mengajarinya berdansa, Tuan! Tapi sepertinya, Nona sangat susah untuk dilatih berdansa!" jelas Emmy, "Mungkin jika Tuan mempraktekkannya, dia sedikit akan belajar, Tuan!"
"Baiklah. Aku dan Emmy akan memperlihatkan mu cara berdansa dengan benar. Kau perhatikan baik-baik!" ucap Fabyan kepada Clara.
Mereka pun memulai berdansa dengan diiringi alunan musik yang lembut. Mereka seperti menari di atas es, karena gerakan mereka yang lincah.
Clara tidak menyangka Fabyan begitu lihai berdansa, Clara terpukau, dan itu sangat indah.
Emmy juga tidak kalah lincahnya. Meskipun usianya terbilang tidak muda lagi, tapi gerakkannya sangat indah dan lincah. Clara yakin, saat muda dulu Emmy sangat pintar berdansa.
"Nah sekarang, Cobalah!" ujar Emmy, menyuruh Clara untuk berlatih dengan Fabyan.
"Aku," Clara langsung berdiri.
Bagaimana aku bisa mengingatnya? Semua gerakannya rumit.
Ah, aku benar-benar malas.
__ADS_1
"Kemari!" Fabyan menjetikkan jari telunjuknya.
"Oh, Tunggu sebentar! Ponselku berbunyi!" ujar Clara mendekati pintu, dan keluar, "Hallo, siapa ini? Tidak dengar! Siapa?"
Padahal dia sedang tidak menerima panggilan.
"Oke, kita bicara keluar. Disini tidak ada sinyal!" bergegas dia meninggalkan ruangan latihan. Fabyan dan Emmy tahu kalau Clara kabur dari ruang latihan.
"Tuanku tidak akan menangkapnya?" tanya Emmy.
"Biarkan dia istirahat dulu!"
"Baiklah, Tuanku!"
_____
_____
Fabyan mematikan laptop nya setelah jam menunjukkan pukul 12 malam. Pekerjaanya selesai lebih cepat. Fabyan keluar dari ruang kerja. Kemudian berhenti di depan kamar Clara.
Seperti biasa, dia mengecek keadaan wanita itu. Fabyan membuka pintu kamar itu, dan mendapati Clara yang sedang terkejut.
"Kau belum tidur?" tanya Fabyan.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Clara, "Kau sendiri, kenapa belum tidur?" dia berharap, Fabyan tidak tahu apa yang dilakukannya.
"Tadi kau sedang apa?" Fabyan menutup pintu dan mendekat.
"Ha ... Sedang mendengarkan musik." ujarnya gugup.
Fabyan sudah berada di depan Clara. Ia menghimpit Clara ke dinding. Saat mata mereka bertatapan, Fabyan merebut ponsel yang dipegang Clara. Clara yang panik berusaha untuk mengambil ponselnya, tapi Fabyan berusaha untuk menahannya.
"Bukankah ini music dansa? Apakah kau sedang berlatih?" tanya Fabyan.
Clara merebut ponselnya dengan kesal, "Apa urusannya denganmu? Mau aku berlatih atau tidak, itu bukan urusanmu!"
"Lebih baik Anda ke kamar dan tidur. Karena aku juga akan tidur!" rutuknya.
Fabyan menahan tubuh wanita itu saat hendak naik ke tempat tidur, "Bagaimana kalau kita latihan? Aku juga belum mengantuk!" ujarnya.
"Hoam, tapi aku ngantuk!"
"Kau bohong! Matamu besar seperti jengkol, mana ada ngantuk!"
"Tapi beneran aku ngantuk!"
"Jangan banyak alasan!" Fabyan menarik pinggang Clara, "Ayo kita latihan agar kita tidak dipermalukan saat pesta dansa nanti!"
"Aku masih canggung!"
"Aku akan memandu mu!"
Fabyan mengambil ponsel Clara dan menyalakan music dari ponsel itu. Dan meletakkannya di atas meja. Fabyan mengulurkan tangannya, dan menarik pinggang Clara.
"Ayo kita berdansa, My Queen!" ajaknya.
"Kau terlihat seperti pangeran kerajaan!" Clara meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Fabyan.
"Tentu saja, dan pangeran ini yang selalu membuat jantung mu berdebar-debar! Benarkan?"
"Hehehe, kepedean!"
Setelah mengambil posisi, mereka mulai bergerak ke kiri dan ke kanan. Fabyan membimbing Clara hingga gerakan Clara mulai lincah. Mereka terus menatap sambil tersenyum, Clara tidak menyangka, dirinya berlatih dansa. Padahal dulu saat sang Papa memberikannya guru dansa, Ia selalu menolak keras keinginan sang Papa. Sekarang dia baru merasa, ternyata belajar dansa itu tidak ada salahnya.
To be continued ...
__ADS_1