
Clara membuka ponsel. Banyak notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dan salah satunya dari Shane. Dia begitu terkejut setelah tahu isi dari pesan tersebut.
Ia berjalan mondar-mandir, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Apakah dia akan pergi tanpa berpamitan, atau menunggu sampai Pak Rektor pulang dari kampus. Karena Pak Rektor sendiri berjanji mengantarkannya pulang.
"Aduh, bagaimana ya? Aku nggak bisa menunggu Pak Rektor pulang! Aku ada urusan penting!"
Clara meminta secarik kertas pada pelayan. Dia menuliskan sebuah pesan singkat pada Fabyan. Bagaimanapun hari ini dia harus pulang, karena jika tidak pulang mereka semua akan membuat kacau. Pikir Clara.
Clara memberikan surat itu kepada salah satu pelayan kepercayaan Fabyan. Dia memutuskan untuk pergi dari kediaman rektor itu.
Dengan bersusah payah, Clara melajukan motornya. Meskipun tangannya masih sakit. Dia bersikeras untuk pergi dari rumah Pak Rektor.
Motornya melaju ke sebuah alamat yang ditunjukkan Shane. Sebuah hotel berbintang lima, dengan alam pemandangan pantai yang sangat indah.
Ia tidak habis pikir, kenapa sih mereka semua harus menyusulnya kesini. Dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Clara berjalan memasuki area hotel. Mendial nomor Shane. Namun yang membuatnya sangat jengkel, Shane tidak mengangkat telepon darinya. Hingga sepanjang lorong hotel, Ia ngomel-ngomel sendiri.
"Hallo Shane! Kau ada dimana?" teriak Clara. Rasa kekesalannya sudah ada di ubun-ubun.
"Hey, Cantik! Kau datang saja ke pantai! Kami sedang mengadakan party!" ucapnya santai.
"Hey Brengsek!" belum juga ngomong, Shane main tutup saja. Tentu Clara semakin jengkel dan dongkol.
"Awas kalian ya!"
____
____
Terpaksa Clara turun lagi ke lantai bawah. Ternyata mereka semua ada di pantai. Sambil bersungut-sungut, Clara mencari mereka semua di sekitar pantai.
Memang ada party kecil di ujung sana. Dari tempat Clara berdiri, Ia bisa melihat party yang diiringi dengan dentuman musik dan wanita-wanita cantik nan seksi memakai bikini sedang berjoged di sana.
Dengan langkah berat Clara menarik kakinya untuk mendekat ke arah Party tersebut. Clara mengambil pistolnya yang ia selipkan di pinggang. Mencari seseorang yang sangat ia kenal, dan membuatnya sangat kesal hari ini.
Ia terus mencari sosok yang sangat tidak asing baginya. Dan cukup lama mereka tidak bertemu. Dari balik tirai, Ia bisa melihat keempat pria sedang berpesta ria dengan minuman serta wanita seksi.
Clara mendekat ke arah mereka. Dan menodongkan pistol ke kepala Felix. Namun dengan gerakan gesit, Felix berhasil merebut pistol tersebut. Dan menyelipkan ke pinggangnya sendiri.
Satu tinju dengan kepalan kuat melayang ke udara, dan hampir mengenai wajah tampan Felix. Felix dengan cepat dan gesit, menghindari serangan demi serangan yang dilakukan oleh perempuan cantik itu.
Perkelahiannpun tidak terelakkan lagi. Saling tinju dan tendang, mereka sama-sama memiliki ilmu beladiri yang hebat. Sementara Shane, Niko dan Canon hanya bisa menjadi penonton saja.
"Wah, ternyata ilmu beladiri mu semakin meningkat saja! Kau bisa menangkis semua jurusku!"
Hahahaha ...
"Kau pikir, Aku Clara yang dulu!"
Clara mengeluarkan semua kemampuan yang Ia miliki. Tidak perduli dengan tangannya yang terluka. Baginya tangan terluka itu sudah biasa. Bahkan di bagian punggung dia pernah kena luka tembak oleh musuh.
Bugh ...
Tidak sengaja Felix menangkis kuat tangan Clara dibagian yang terluka, membuat dia mengaduh kesakitan. Clara memegangi tangannya tersebut.
"Auw."
__ADS_1
"Clara, Are you okay?" Felix khawatir. Sepertinya tadi dia terlalu keras menangkis tangan Clara. Membuat lukanya kembali mengeluarkan darah.
"Yes, I am fine! Just a small wound!"
"There's blood! Let's go to the hospital!"
"Not. Thank you! I'm OK!" jawab Clara.
____
____
Shane, Niko dan Canon mendekat karena cemas dengan keadaan saudara perempuannya. Niko langsung memanggil dokter untuk datang ke hotel. Sementara Canon membubarkan para gadis, dia mengatakan bahwa pesta sudah usai. Dan mereka harus meninggalkan pesta. Dengan perasaan kecewa, mereka pun membubarkan diri.
Felix membopong tubuh Clara ke kamar hotel untuk diperiksa Dokter. Sedangkan Clara ngomel-ngomel memarahi Felix, Ia malu harus dibopong dari pantai sampai kamar hotel. Padahal yang terluka itu tangannya, bukan kedua kakinya. Tentu dia menggerutu tidak jelas.
"Hey, Kak! Kau pikir aku ini Hello Kitty mu lagi? Kau tidak perlu memperlakukan aku seperti bayi Hello Kitty! Aku ini Mafia Queen! Malu dong Kak!" gerutunya pada Felix. Tentu saja itu membuat Shane, Niko dan Canon terkekeh. Melihat Mafia Queen menggerutu.
"Aku selalu menganggap kau itu Hello Kitty ku! Dan bayi manis dan imut kesayangan ku!"
"Otakmu sudah koslet ya Kak! Mana bisa kau selalu memperlakukan ku seperti bayi! Aku ini sudah dewasa! INGAT YA SUDAH DEWASA! Jika kau memperlakukan ku seperti bayi, tidak ada pria yang mendekati ku! Mereka nanti mengira aku ini anak Mommy dan Daddy! Yang hidupnya selalu dibawah ketiak kalian!" Clara memanyunkan bibirnya, "Lagian kenapa kalian datang kesini tidak memberitahu dulu sih?"
Shane, Canon dan Niko sudah tidak bisa menahan tawanya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Clara merajuk. Dan menurut mereka itu sangatlah lucu.
Lama mereka tidak berjumpa. Hanya dengan panggilan Video, sebagai alat komunikasi mereka jika mereka saling merindu. Persaudaraan diantara mereka bagaikan saudara kandung. Felix dan kedua adiknya selalu memperlakukan Clara seperti Hello Kitty yang manis, cantik dan menggemaskan.
"Kenapa tanganmu sampai terluka begitu?" sela Niko.
"Oh, ini! Saat aku pulang dari kampus, Aku di begal, Kak!"
"A-pa?"
Hahahaha ...
"Kalian pikir aku sedang bermain akrobat! Heran! Kenapa justru menertawakan ku? Memang ada yang lucu apa?"
"Clara, Clara! Bagaimana bisa sih kau jadi dosen?" tanya Canon, "Mana cocok kau jadi dosen? Kau itu cocoknya bawa pistol dan pisau!" ejek Canon terkekeh geli melihat ekspresi wajah Clara.
"Siapa bilang? Aku bisa kok jadi dosen! Secara kan aku pintar! Memang cuman kamu yang pintar dengan keahlian hacker mu itu! Aku juga memiliki keahlian, selain memegang pistol!" sombongnya tidak mau kalah dengan Canon.
Hahahaha ....
Selain mafia, Canon juga seorang hacker. Dia sangat pandai mengutak-atik sesuatu yang berhubungan dengan jaringan data. Hari-harinya dia habiskan untuk meretas. Dia menggunakan keterampilannya untuk mengeksploitasi pertahanan keamanan siber musuh.
"Aduh, perutku sakit kebanyakan tertawa!" ujar Niko.
"Niko, Kau sudah panggilkan Dokter kan? Kenapa sampai sekarang belum datang?" Felix mulai kesal.
"Paling sebentar lagi! Kau pikir Dokter itu Jin, dipanggil langsung datang! Dia perlu waktu untuk datang kemari!"
"Kesal aku! Rasanya ingin aku tembak saja!" seru Felix.
"Hey, tenang, Bro! Jangan main tembak saja! Ini Indonesia, Bro! Ini bukan Italia!" cebik Shane menenangkan Felix.
___
___
__ADS_1
Akhirnya Dokter yang ditunggu datang. Dokter tersebut memeriksa luka Clara yang mengeluarkan darah. Jahitannya sedikit terbuka karena aksi perkelahian tadi. Dan itu membuat Felix bersalah karena sudah terlalu keras mengeluarkan tinjunya.
"Sudah aku tutup lukanya! Tiga sehari sekali ke Rumah Sakit ya untuk kontrol! Jika dibiarkan saja takutnya infeksi!" tutur Dokter itu.
"Oke, Dok. Terimakasih banyak!" ucap Clara tersenyum manis.
Selepas Dokter itu pergi, Felix mengambil pistolnya di koper. Dia menyelipkannya di pinggang. Clara tahu, Felix sedang kesal. Tapi kesal dengan siapa ya?
"Kak, mau kemana?" tanya Clara.
"Katakan padaku, siapa yang berusaha membegal kamu? Akan aku habisi dia!" marahnya.
Astaga, dia pikir nyawa manusia itu seperti lalat apa! Main bunuh saja!
"Kak, sudahlah! Namanya juga begal, kerjanya ya membegal! Aku sudah nggak apa-apa kok?"
"Tidak bisa. Aku akan menghabisinya!"
"Shane!" panggil Clara pada Shane yang hanya berdiri mematung, "Cegah Kak Felix untuk menghabisi orang! Bisa-bisa penyamaran ku terbongkar!"
"Iya," Shane berlari mengejar Felix. Dia memberikan pengertian pada Felix.
Felix terlihat tenang. Memang Felix saudara laki-laki Clara yang paling emosional jika menyangkut sesuatu yang membahayakan bagi saudaranya yang lain.
"Tenang, Bro! Lagipula Clara kan baik-baik saja! Kita tidak boleh membunuh orang begitu saja, karena ada hukumnya, Bro!" tutur Shane.
Huffffff, Aku bisa bernafas lega. Akhirnya Shane bisa mencegah Felix membunuh seseorang!
To be continued ...
°°°°
Author kasih Visualnya biar menghalunya tambah maksimal....
Felix
Niko
Canon
__ADS_1
Ayo kasih vote biar Author semangat...., sun jauh dari Author...