Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 26 : Penjahat Kelamin


__ADS_3

Sofia dan mahasiswa lain selesai menggalang dana, dan hasilnya lumayan banyak. Belum lagi dari teman-teman yang lain. Mereka berhasil mengumpulkan sumbangan makanan, minuman, pakaian, obat-obatan, sembako dan lain-lain.


Mereka mengumpulkannya menjadi satu di sebuah truk yang akan mengangkutnya besok pagi. Bekerja seharian membuat tubuh Sofia penuh dengan peluh. Dia pun membuka jaketnya.


Semua teman-temannya berpamitan pulang. Sementara Sofia menunggu Clara menyelesaikan pekerjaannya. Karena rencananya hari ini dia akan ke bengkel diantarkan dosennya. Cukup lama Sofia menunggu dan duduk di bangku.


"Bu Clara lama sekali!" gerutunya, "Ini semua gara-gara Rafael yang nggak bisa mengantar ku pulang!" sungutnya sedikit kesal.


"Sendirian?" tiba-tiba Pak Bima datang dan duduk disebelah Sofia.


"Eh, Pak Bima! Iya, Pak. Saya sedang menunggu, Bu Clara!"


"Mau pulang?" tanya pria itu, "Kalau memang nggak ada yang mengantarkan, Bapak bisa kok mengantarkan Sofia!"


"Nggak perlu, Pak!" ujar Sofia, "Saya tunggu Bu Clara saja! Karena kami sudah janjian!"


Bima nampak berfikir. Dia sedang mencari cara agar bisa membujuk Sofia agar menurut dengannya.


"Oya, Bapak juga mau menyumbang untuk acara kemanusiaan! Tapi barang-barangnya masih ada digudang! Bisakah Sofia menolong Bapak?"


"Di gudang?" Sofia sedang berpikir, "Tapi saya sedang menunggu Bu Clara!"


"Sudah, nanti Saya antar pulang!" ujarnya.


Bima menarik tangan Sofia. Sofia pun menurut. Karena dia pikir ucapan Bima serius.


Pak Bima membuka gudang. Dia memang mengeluarkan satu buah kardus besar. Jika diangkat memang sedikit berat. Kemudian meminta Sofia untuk membantu mengangkatnya ke depan.


Kardus pertama berhasil dikeluarkan. Sekarang kardus kedua. Bima menyuruh Sofia untuk membawa kardus yang ke-dua. Dan selajutnya yang ketiga.


Setelah kardus terakhir keluar, dengan cepat Bima menutup pintu. Sontak Sofia sangat terkejut. Dia tidak tahu apa maksud Pak Bima menutup pintu gudang.


"Kenapa Bapak tutup pintunya?" tanya Sofia panik. Pria itu menyeringai lebar.


"Maaf, Sofia! Kamu tuh cantik, tapi, sangat susah dijinakkan!" ujarnya menjijikkan, "Bapak butuh pelampiasan!" kekeh dosen itu.


"Bapak jangan macam-macam ya! Saya akan teriak!"


Hahahaha ...


Pria itu malah tertawa lebar. Dia tahu betul kalau korbannya akan berteriak jika disekap. Namun diam-diam, gudang kosong itu sudah disulap Bima menjadi ruangan kedap suara. Sekeras apapun korbannya berteriak, pasti tidak satupun orang yang mendengar.


"Ruangan ini kedap suara! Tidak seorangpun yang akan mendengar jeritan kamu!" ujarnya.


"Tolooooooooong!" teriak Sofia, "Toloooooooong!"


Hahahaha ...


"Percuma. Tidak ada yang akan mendengar suaramu!"


Bima menarik tangan Sofia. Dan mendorongnya ke matras. Tubuh Sofia terjungkal di sana. Dia merasa ketakutan.


"Bu Clara, Tolooooooong!" teriaknya.


"Sudah aku bilang, tidak ada yang mendengar kamu!" kekehnya.

__ADS_1


"Lepaskan saya! Dasar bajingan! Brengsek!" Sofia menendang keras benda tumpul yang bergelantungan di dalam celana bujang lapuk itu.


"Auw." Pekik bujang lapuk itu mengerang kesakitan.


"BRENG-SEK!"


Sofia berlari untuk membuka pintu. Namun pintunya terkunci. Dia mencari di meja dan laci. Tetap tidak ditemukan.


"Kemana kuncinya?"


"Kamu mencari ini?" Bima menyeringai.


Sofia menoleh ke arah Pak Bima. Ternyata pria itu mengantongi kuncinya. Membuat Sofia sangat kesal.


"Kembalikan, Pak! Kembalikan kuncinya!" teriak Sofia.


Hahahaha ...


"Kau mau lari kemana lagi? Ayo menurut lah padaku! Aku akan melakukannya pelan-pelan!"


"Cih, menjijikkan!" Sofia meludah tepat di muka Bima. Membuat Bima murka dan marah. Dia melepas ikat pinggangnya, dan mencambuknya tepat di tubuh Sofia.


"Auw, sakit, Pak!"


"Auw!" isak Sofia mengaduh kesakitan sambil menangis.


Sofia berusaha untuk mencari cara lepas dari penjahat kelamin itu, namun seluruh tubuhnya terasa sakit karena luka bekas cambukan yang dilayangkan Bima. Bukan hanya cambukan, Bima bertumpu di leher Sofia. Pria itu berusaha mencekik dengan kuat, supaya lawannya tidak bisa berkutik. Beberapa kali Sofia terbatuk, membuat Bima melepaskan cengkeramannya.


Sofia bangkit dan duduk, ketika pria itu menjatuhkan diri ke samping. Kemudian Ia menghirup oksigen dengan brutal, karena cekikan itu membuat Sofia kesulitan bernapas untuk beberapa saat.


Bima menarik tangan Sofia ke atas. Sofia memberontak dengan kuat. Namun tenaga pria itu sangatlah kuat. Membuat Sofia kalah dalam tenaga.


Bima menyeringai lebar, melihat wanita cantik yang sudah tidak berdaya di depannya. Seakan-akan Sofia adalah mangsa yang empuk dan lezat.


Dengan sekali tarikan, pakaian yang dikenakan Sofia terlepas. Menyisakan bra dan ****** ********. Sofia masih terus memberontak. Dan ...


BRAKK ...


Dengan satu tendangan, pintu itu berhasil terbuka. Clara berdiri di ambang pintu. Menatap tajam ke arah dosen cabul itu.


Kilatan itu memerah. Ia menatap tajam ke arah pria itu. Satu tendangan berhasil melayang pada perut Bima. Sofia terisak dengan luka disekujur tubuhnya.


Tangan Clara mengepal erat, dia mengangkat dagunya dengan amarah yang sudah sampai di puncak.


Bugh, Bugh, Bugh ...


"Kenapa Bu Clara memukuli saya? Apa yang saya lakukan tidak ada hubungannya dengan Ibu?" ujarnya.


Tinju dan kepalan tangannya berhasil menghajar wajah pria itu. Clara mengambil botol kaca di atas nakas, dan memukulkannya ke kepala Bima.


"BANGSAT! BAJINGAN! MATI KAU!"


Prang ....


"Aaaaahhhhhh!" pria itu tersungkur dengan darah di kepalanya.

__ADS_1


"PRIA MENJIJIKKAN!"


"Ampun! Ampun, Bu!" Bima bersujud di bawah kaki Clara.


"Cih, Aku tidak sudi memaafkan keparat sepertimu!" Clara hendak menusukkan pecahan botol itu persis di perut Bima.


Bima berhasil merebut, dan mengarahkan tepat ke Clara. Namun pecahan botol itu hanya mampu menggores kulit tangannya. Darah menetes dari kulit tangan. Ia tidak perduli. Luka seperti itu baginya sudah biasa. Bahkan ia pernah terluka lebih parah dari lukanya sekarang.


Dengan gerakan gesit, Bima kembali tumbang. Karena pria itu tidak mampu memprediksi gerakan lawan. Clara kembali menghajar pria itu dengan membabi buta.


"Ampun, Bu! Ampuuuuuun!" pekiknya yang sudah terlihat lemah.


"Bu Claraaaaa!" seru seseorang melihat Clara yang brutal.


"Apa yang Anda lakukan?" tanya Fabyan dengan sorot mata yang tajam.


"Saya akan membunuh penjahat kelamin ini! Dia akan menggagahi adik saya! DAN SAYA TIDAK TERIMA!" murkanya.


"A-pa?" Fabyan benar-benar dibuat syok dengan kejadian ini. Dia tidak menyangka mempekerjakan dosen seperti Bima. Seorang dosen cabul.


Fabyan menoleh ke arah Sofia. Sofia ketakutan dengan berbalutkan selimut. Clara mendekat ke arah Sofia, dan membantunya memakai pakaiannya kembali. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah gagal melindungi Sofia.


"Sebaiknya Pak Rektor urus penjahat kelamin itu! Saya yakin bukan hanya Sofia korbannya! Masih banyak lagi korban-korban yang lain!" ucap Clara dengan amarah yang meluap.


"Tolong, Maafkan saya! Saya khilaf!" ujar Bima.


"Saya benar-benar tidak menyangka. Anda tega melakukan itu pada mahasiswi sendiri! Saya sangat menyayangkan tindakan Anda, Pak Bima! Maka dengan berat hati, Saya sebagai rektor dan pemilik kampus, Saya mengeluarkan Anda dari sini!"


"Jangan, Pak! Saya mohon!" Bima berlutut di kaki Fabyan, "Saya minta maaf! Saya memang salah!"


"Berhenti mengatakan hal yang menjijikkan!" teriak Clara, "Penjahat sepertimu pantas buat mati!"


"Bu Clara, Saya akan urus masalah ini! Lebih baik Ibu menenangkan Sofia dulu! Bawa pulang ke rumah! Saya yakin, Sofia pasti ketakutan!"


"Baiklah! Saya harap, Anda bisa bertindak tegas! Jika Anda tidak bisa bertindak tegas, saya yang akan melakukannya!" sengit Clara.


Clara menggandeng tangan Sofia. Dan membawa Sofia ke Rumah Sakit. Awalnya, Sofia menolak untuk dibawa ke Rumah Sakit. Namun Clara terus memaksa. Ia takut kalau adiknya kenapa-napa.


Dokter memeriksa keadaan Sofia. Dan memang tidak ada luka yang serius. Hanya luka bekas cambukan. Setelah diperiksa, Clara pun mengantarkan Sofia pulang.


Bu Laura begitu terkejut melihat keadaan Sofia. Ibu mana yang tidak terkejut melihat anak gadisnya pulang dalam keadaan berantakan dan terluka.


"Kamu kenapa?" cemas Laura, "Apa yang terjadi?"


"Dia ... !" Clara bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya.


"Sofia terjatuh, Bu! Tapi tidak apa-apa!" Sofia terpaksa berbohong, karena tidak mau membuat sang Ibu khawatir.


Untung bekas cambukan nya, aku tutupi jaket! Syukur Ibu nggak bisa lihat!


Clara hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia jadi merasa bersalah.


To be continued ...


Mana dukungannya? Ayo dukung karya ini dengan tap like, favorit dan komentar...

__ADS_1


__ADS_2