
Mendengar Clara menikah, Niko dan Canon langsung menyusul ke Indonesia. Mereka sudah tertinggal banyak momen penting itu. Mereka sampai di Indonesia saat pesta dansa hampir selesai, dan mereka belum sempat bertemu dengan pasangan pengantin baru itu.
Melihat kedatangan kedua putranya, Jonathan begitu bahagia, dia pun memperkenalkan Niko dan Canon kepada keluarga Bramantyo. Dan mereka disambut hangat oleh keluarga itu.
Acara pesta telah usai, semua tamu undangan pun langsung beristirahat ke kamarnya masing-masing, termasuk Sofia dan Ibunya. Sementara ketiga anak Jonathan, mereka masih berkumpul dan berbincang hangat.
"Kenapa kalian terlambat?" tanya Felix kepada kedua adiknya.
"Sorry, Aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan!" jawab Canon. Lalu manik Felix menoleh ke arah Niko.
"Kalau aku memang menunggu Canon selesai!" jawab Niko.
"Hhhhhh, Kalian ini. Besok temuilah Clara dan suaminya. Kalian pasti belum pernah bertemu dengan suami Clara!" kata Felix.
"Oke, besok kami akan menemuinya!" ujar Niko.
"Oya, Daddy bilang kalau Bastian papa kandung Clara, apa itu benar?" tanya Niko.
"Iya. Dia memang ayah kandung Clara!"
"Lalu, Bagaimana reaksi Clara?"
"Tentu dia syok. Dan belum mengakui Bastian sebagai Papanya. Tapi pas acara pernikahan, Bastian datang sebagai walinya. Sepertinya hubungan mereka sedikit membaik, walaupun Clara masih saja ketus, dingin, dan galak!" jelas Felix, "Aku yakin, seiring berjalannya waktu, Clara pasti mau menerima Bastian sebagai Papanya!"
"Ah, Semoga saja!" sahut Niko, "Eh, ngomong-ngomong sedari tadi aku tidak melihat Shane?"
"Shane memang tidak hadir. Entah kemana anak itu?"
"Ada apa dengannya?" tanya Canon menautkan kedua alisnya.
"Dia patah hati," jawab Felix singkat.
"Patah hati? Maksudmu?" Niko bingung.
"Apa kau tidak merasakan selama ini perhatian-perhatian Shane untuk Clara?" Felix sedikit kesal karena kedua adiknya tidak peka.
"Aku nggak ngerti apa maksudmu?" ucap Niko.
"Shane patah hati karena Clara menikah dengan pria lain!"
"Apa? Jadi menurutmu, Shane menyukai adiknya sendiri?"
__ADS_1
Bugh ...
Felix menampol kepala Canon.
"Auw," pekik Canon, "Kenapa Kau menampolku?"
"Clara dan Shane bukanlah kakak beradik kandung. Jadi nggak ada salahnya jika dia menyukai Clara!"
"Oh, begitu!" Canon membulatkan mulutnya.
"Oh Tuhan, Kenapa aku baru tahu kalau selama ini Shane memiliki perasaan pada Clara?" Niko tidak mau ketinggalan berita.
"Ck, Kau mana ada waktu, yang diotakmu hanyalah wanita!" cibir Felix.
Niko terkekeh geli, "Hhhhhhh, kau kan tahu, aku tidak pernah bisa jauh-jauh dari wanita cantik dan seksi!"
"Terserah kau saja!" ucap Felix beranjak dari tempat duduknya, "Aku mau tidur. Ngantuk!" Felix berlalu pergi dari hadapan mereka.
____
____
Saat semuanya terlelap, Fabyan masih terjaga dan berdiri di atas balkon. Sesekali dia menenggak minuman yang ada di tangannya.
"Pria ini yang sudah menghancurkan Selena. Dialah penyebab kematian Selena," monolognya sendiri, "Aku seharusnya lebih teliti lagi! Bodoh, Bodoh, Bodohnya aku!"
Saat bermonolog sendiri, tiba-tiba Clara datang dan memeluknya dari belakang. Fabyan sempat terkejut, namun mendengar suara Clara yang membuatnya nyaman, dia menutupi keterkejutannya sendiri.
"Sedang apa disini sendirian?" tanya Clara manja.
"Aku belum mengantuk," jawab Fabyan, "Kok bangun sih? Ini masih malam lho!"
"Ehm, habisnya nggak ada suami yang menemani aku tidur!"
"Baiklah, Ayo kita tidur!" ajak Fabyan seraya mengandeng tangan istrinya. Dengan hati-hati Fabyan menyimpan foto itu kembali di sakunya.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Keesokkan Harinya
Sambil menunggu sang istri mandi, Fabyan memperhatikan ponselnya, tiba-tiba ada sebuah panggilan, dan nama Martin yang tertera di sana. Fabyan langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo!"
"Ada apa Martin?"
"Setelah kematian Selena, aku pikir kau tidak akan tertarik dengan yang namanya perempuan. Ternyata aku salah. Kau sudah menambatkan hatimu pada seorang perempuan yang sepertinya dia bukan orang sembarangan sehingga mampu menaklukkan pimpinan dari Black Rose." kata Martin dari seberang telepon sana.
"Apa maumu?"
"Aku hanya ingin kau fokus pada pembunuh Selena. Itu saja?"
"Selena itu mati bunuh diri. Kenapa aku harus mencari siapa penyebabnya? Aku sudah mengubur semuanya, jadi tolong jangan usik kebahagiaan ku!" tegas Fabyan.
"Apa? Jadi kau tidak mau mencari tahu siapa penyebab kematian Selena?"
"Bukan begitu Martin. Aku ... !" belum menyelesaikan kalimatnya, Martin sudah menyela.
"Dasar pecundang, Andai saja Selena tahu, pria seperti apa yang dia cintai, pasti dia akan sangat kecewa padamu!"
"Cukup Martin! Aku sekarang punya kehidupan sendiri!"
"Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia bersama dengan wanita itu. Akan aku pastikan, kalian tidak akan hidup tenang dan bahagia!"
"Jangan pernah kau usik kebahagiaan ku, Martin! Karena jika itu sampai terjadi aku tidak akan tinggal diam!"
Tut ... Tut ... Tut
"Hallo, Martin, Martin! Sial"
"Sayang, Siapa sih kok serius banget?" tanya Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Eh, bukan siapa-siapa," ucap suaminya, "Sudah mandi?"
"Iya, Kamu mandilah! Sebentar lagi kita akan sarapan bersama!"
"Oke, Aku mandi dulu, Istriku Yang Cantik!" goda Fabyan sambil menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
Clara hanya tersenyum tipis, "Tadi siapa yang telfon ya?"
To be continued ..
Hey-hey semua, Ayo dong bantu Like karya ini. Caranya mudah banget kok, tinggal tekan tanda 👍, komentar di kolom komen, favorit ❤️, Gift 🎁, dan Vote. Gampang kan?
__ADS_1
Biar author tambah semangat menulisnya.....