
Clara sedikit kesusahan berjalan karena gaun yang dikenakannya menjuntai ke lantai, membuat Fabyan gemas dan langsung membopong tubuh istrinya ala bridal style.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ah, sudah diam saja! Gaunmu sangat mengganggu!"
"Enak saja. Ini gaun mahal tau!" manyun Clara. Fabyan terkekeh.
"Turunkan aku. Aku malu!"
"Biarkan saja. Toh kita sudah suami istri, siapa yang akan mengolok-olok kita?"
"Iya juga sih! Hehehehe!"
Fabyan meletakkan tubuh istrinya di kasur, kemudian berlutut di bawah kaki istrinya. Fabyan meletakkan kaki Clara di atas pangkuannya. Tentu tindakan Fabyan membuat Clara terkejut.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Clara menarik kakinya, namun Fabyan berusaha menahannya.
"Biar aku pijit! Kakimu pasti sakit!"
"Ah, so sweet!" Clara jadi tersanjung. Suaminya tersenyum.
"Gimana? Enakkan?"
"Hooooooh, lumayan!" Clara menggerak-gerakkan kakinya.
"Baguslah kalau begitu!" senang suaminya, "Aku harus keluar, karena masih banyak tamu undangan!"
"Baiklah, aku akan disini saja!"
"Ehm, Apa perlu aku memanggil Bu Laura untuk menemani mu?"
"Eh, tidak perlu! Kau pikir aku ini anak kecil?"
"Baiklah, Aku keluar dulu ya!" ucap Suaminya.
"Iya, keluarlah! Aku tunggu sampai Kau datang!" Fabyan tersenyum sambil mencium kening istrinya.
Setelah suaminya keluar, Clara langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ternyata berdansa seperti tadi membuatnya sangat kelelahan, tapi dia sangat menikmatinya.
******************************
Keesokkan Harinya
"Heum, segarnya!"
Clara merasa nyaman saat air hangat merendam tubuhnya, membuatnya merasa lebih segar. Memang setelah acara dansa, dia langsung tertidur. Bahkan saat sang suami menyusulnya ke kamar dia tidak mendengar apapun. Aroma terapi lavender yang biasa Ia pakai tercium wangi, membuat tubuhnya rileks.
"Hm, Eh, sudah bangun?" tanya Clara saat melihat suaminya masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, Aku sudah bangun,"
"Ehm, Apa Kau mau membasuh muka mu?"
"Tidak,"
"Lalu kenapa Kau masuk ke kamar mandi?"
Fabyan melepaskan jubah mandinya, "Menurutmu?"
Clara terkejut saat melihat tubuh telanjang suaminya. Maniknya tidak lepas dari buah yang menggantung milik suaminya. Fabyan yang sadar akan pandangan istrinya, dia tersenyum licik penuh ide yang jahil, "Kenapa kau menatapnya seperti itu? Kemarin kau dibuat merem melek!"
"Hey!" pipi Clara merona merah mendengar ucapan suaminya.
"Jangan malu begitu, Kau harus terbiasa!" Fabyan langsung turun memasuki bathtub yang muat untuk dua orang.
"Kau mau apa?"
"Berendam,"
"Tapi aku kan sedang mandi?"
"Kita bisa mandi bersama!"
Clara langsung duduk, dan memberikan sedikit tempat untuk suaminya agar bisa duduk di belakangnya. Fabyan duduk tepat dibelakang istrinya, Clara bisa merasakan hembusan hangat nafas suaminya. Membuat pipinya merona merah hingga telinga. Fabyan yang iseng, dia sengaja menggelitik punggung istrinya, membuat istrinya terkekeh kegelian.
"Kau kenapa sih?"
"Apa kau malu?"
"Siapa yang malu?"
"Jangan malu, kemarin kan kita sudah saling lihat. Kau juga sempat pegang-pegang!" goda suaminya.
"Ih, Kau apaan sih?" Clara sangat malu, ingin rasanya dia bersembunyi di lubang semut.
"Kemarilah!" Fabyan menarik tubuh istrinya hingga posisi Clara bersandar di dada bidang suaminya.
"Jangan malu begitu, Kau harus terbiasa!" ucap Fabyan memeluk pinggang istrinya.
Entah kenapa, dia merasa sangat nyaman jika sudah ada di dekat suaminya. Dan ini adalah pertama kalinya dia merasakan nyaman dengan seorang pria.
"Boleh aku bertanya?"
"Hem, tanyakanlah?"
"Saat aku berdansa dengan Martin, dia bercerita tentang mantan tunanganmu!"
Ekspresi Fabyan yang awalnya tenang kini terlihat sangat kesal, "Apa saja yang dia katakan?"
__ADS_1
"Dia bilang kalau tunanganmu sangat cantik, pintar dan dia seorang dokter. Katanya kau sangat mencintainya?"
"Itu ... !"
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu, "
"Apa?"
"Kau menikahiku, bukankah kau mencintaiku?"
"Tentu,"
"Aku senang mendengarnya!" senang Clara.
"Apa Clara mengkhawatirkan sesuatu?" Fabyan berpikir seperti itu karena saat istrinya berbicara sedikit bergetar.
"Tapi Kau harus tahu satu hal. Aku tidak mau ada kebohongan diantara kita!" ujar Clara.
"Bagaimana kalau selama ini aku berbohong padamu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu aku tidak akan tinggal diam! Kau tahu apa yang akan ku lakukan!"
"Percayalah, dia hanya masa laluku! Dan kau adalah masa depanku!"
"Ih, mati sana!" Clara menyandarkan tubuhnya ke tubuh sang suami.
"Imutnya istriku!" Fabyan mengeratkan pelukannya.
"Ih, menyebalkan!"
Clara yang menggerutu langsung diam saat sang suami menyentuh dadanya, awalnya hanya sentuhan biasa, namun kelamaan sentuhan itu semakin liar. Membuat istrinya sedikit mendesah.
Fabyan semakin gencar menyentuh dada istrinya. Dia menyentuh dagu Clara dan berusaha untuk menciumnya dengan brutal, Clara sampai kehabisan nafas akibat ulah nakal sang suami. Sama-sama mendapatkan keinginan bercinta, Fabyan langsung mengangkat tubuh istrinya, dengan sekali hentakan miliknya masuk ke inti istrinya.
"Ukh," Clara yang terkejut langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Rasanya sangat hangat di dalam sini!"
Fabyan mengecup bibir istrinya, hingga istrinya mulai menikmati, dan Fabyan mulai mengerakkan pinggulnya naik turun.
"Ahhhhhhh, Kau sangat hangat!"
"Kau juga,"
Air di dalam bathtub mulai turun karena adanya pergerakan panas dari dua insan yang berbeda jenis.
"Ammmmmhhhhh, ahhhhhh!" mereka keluar bersamaan, mereka menatap wajah satu sama lain, wajah penuh kepuasan.
Bersambung ...
__ADS_1
Mana dukungannya???