Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 74 : Mencari Clara 2


__ADS_3

Abrisam sampai terbengong melihat tingkah aneh putranya, padahal baru saja pulang dari Rumah Sakit, tapi Fabyan sama sekali tidak memperdulikan lukanya yang belum mengering.


"Papa heran deh, sebenarnya mereka itu ada masalah apa sih?"


"Sudahlah, Pah! Mereka sudah dewasa, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri!" jawab Santi.


"Bukan begitu, Mah! Mereka itu baru menikah. Apa kata keluarga besar kita?"


"Iya, Pah. Mama ngerti, tapi kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung mereka!"


"Hhhhhh, Papa jadi menyesal sudah merestui mereka!"


"Kok Papa ngomongnya gitu sih?" sungut Santi.


"Iyalah, Ma. Jangan-jangan menantu kita itu bukan orang baik-baik!"


"Ish, Papa nggak boleh bilang begitu!" kesal Santi, dari awal memang suaminya tidak pernah menyukai Clara, "Fabyan sudah menjatuhkan pilihannya pada Clara, Mama yakin kok, pilihan Fabyan nggak salah. Nggak kayak Papa, menjodohkan Fabyan dengan wanita seperti Belle. Ih, ternyata dia tukang selingkuh!"


"Lho, kok Mama jadi menuduh Papa!"


"Tapi bener kan?"


____


____


Masih dalam keadaan terluka, Fabyan mencari keberadaan istrinya, lukanya belum mengering tapi dia tidak patah semangat untuk mencari sang istri.


Fabyan berhenti disebuah rumah bercat hijau, rumah yang cukup besar dan mewah, rumah milik Bu Laura dan Sofia. Rumah ini dulu dibeli Clara untuk mereka, karena Clara menganggap Bu Laura dan Sofia seperti keluarganya sendiri. Fabyan berharap Bu Laura tahu tentang keberadaan istrinya.


"Selamat sore!"


"Selamat sore!" jawab yang empunya rumah, "Eh, Nak Fabyan, Apa kabar?"


"Baik, Bu. Ibu apa kabar?"

__ADS_1


"Saya baik,"


"Apakah Clara ada disini, Bu?"


"Tidak. Clara tidak ada disini! Memangnya Clara pergi, Nak?"


Fabyan tersenyum kecut, "Iya, Bu. Kami sedang ada sedikit masalah!"


"Kok bisa? Bukankah harusnya kalian bulan madu ke London?"


"Iya, Bu. Tapi saya dan Clara ada sedikit kesalah pahaman, dan saya harus menyelesaikannya," jelas Fabyan.


"Oh, begitu!" Bu Laura sedikit paham kalau mereka memang ada masalah, "Ehm, gimana kalau Nak Fabyan masuk dulu. Kita tunggu Sofia pulang kuliah. Mungkin saja Sofia tahu dimana Clara tinggal!"


"Nggak usah, Bu. Saya langsung pulang saja. Badan saya juga sedang tidak fit!"


"Baik kalau begitu, hati-hati dijalan!" ucap Bu Laura, Fabyan menganggukkan kepalanya. Fabyan memutuskan untuk pulang, tapi tidak langsung pulang ke rumah, dia ingin berkunjung ke markasnya.


Sementara disisi lain, Clara mengiyakan ajakan Bastian untuk pergi ke Jerman. Dia ingin merilekskan pikirannya, mungkin berlibur adalah waktu yang tepat untuk sedikit melupakan masalahnya. Clara menghubungi keberangkatannya ke Jerman kepada Shane. Awalnya Shane sangat terkejut,tapi setelah mendengar penjelasan Clara, barulah ia mengerti dan justru mendukungnya.


"Kau sudah siap, Clara?" tanya Bastian.


"Siap, Pah!" jawab Clara sambil menyerahkan kopernya kepada asisten Papanya.


"Masuklah!"


"Iya, Pah!" Clara masuk ke dalam mobil duduk dikursi penumpang, sebelah sang Papa. Mobil mulai melaju meninggalkan rumah mewah milik Bastian.


Sekitar tiga puluh menit untuk sampai di Bandara. Clara duduk anteng sambil sesekali maniknya melihat arah jendela. Bastian tahu apa yang dirasakan oleh sang putri, dia menggenggam erat tangannya berusaha untuk menghibur.


"Tenanglah, ditempat baru kau akan sedikit melupakan masalahmu!"


"Bukan itu, Pah! Apakah Fabyan baik-baik saja? Aku sudah menembaknya, Pah?"


"Papa baru saja mendapat laporan dari orang Papa, katanya Fabyan sudah pulang dari Rumah Sakit. Dia sudah sehat. Jadi kau tidak perlu risau!" jelas Bastian, "Apakah kau ingin kembali untuk melihat keadaan Fabyan?"

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mau! Untuk apa aku kembali kepadanya, dia saja tidak mencintaiku! Dia hanya manfaatkanku hanya untuk kepentingannya saja!" ujar Clara. Bastian tersenyum.


"Iya sudah, Papa sih terserah kamu saja! Tapi jika kau berubah pikiran kabari Papa!"


Tidak terasa mobil sampai di depan Bandara. Mereka turun dan memasuki pintu masuk Bandara, sementara barang-barang di bawa oleh anak buah Bastian.


____


____


"Dari mana Kau, Shane?" tanya Felix yang baru saja melihat Shane.


"Oh, Aku baru dari kampus!"


"Kampus? Kau mau kuliah?" kekeh Felix.


"Tidak. Aku ada pertemuan penting dengan pihak kampus, mendiskusikan masalah dana donatur kampus!"


"Sejak kapan kau jadi donatur?" gelak Niko.


"Sepertinya Shane sama konyolnya seperti Clara!" kekeh Canon.


"Sebenarnya ini ide konyol ku saat Clara mengajar di kampus!" kekeh Shane, "Oya, Apa kalian tahu kalau hari ini Clara berangkat ke Jerman?" tanya Shane, dia baru ingat kalau Clara akan berangkat ke Jerman hari ini.


"Apa kau bilang?" Niko sangat terkejut.


"Kenapa dia tidak bilang kalau mau ke Jerman?" tanya Felix.


"Memangnya kalian tidak tahu?"


"Kami benar-benar tidak tahu! Mungkin Clara masih marah!" ujar Felix.


"Sebaiknya biarkan dia sendiri dulu!'


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2