Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 66 : Martin mati Kutu


__ADS_3

Pasangan pengantin baru itu mulai berdansa, tarian yang selama ini dipelajari Clara, terasa ringan dan dapat dinikmati, seolah-olah mereka sedang menari di atas awan.Tepuk tangan dari para tamu terdengar saat lagu telah usai. Para tamu lain juga ikut berdansa setelah lagu kedua diputar.


"Apa boleh saya berdansa dengan istri Anda?" seseorang mengulurkan tangannya ke arah Clara.


"Martin!" gumam Fabyan dalam hati. Clara menoleh ke arah suaminya, meminta persetujuan. Dan Fabyan mengangguk pertanda kalau dirinya setuju jika sang istri berdansa dengan pria lain.


Kini Clara dan Martin berdansa bersama. Mereka sangat menikmati lagunya, kemudian mereka berdansa dengan penuh perasaan.


"Dimana Nona mengenal Fabyan?" tanya Martin di sela mereka sedang berdansa.


"Di kampus. Saya seorang dosen!" jawab Clara.


"Oh, cuma seorang dosen!" jawabnya.


"Kenapa cuma Oh ? Memang ada apa dengan kata dosen?"


"Karena mantan Fabyan itu seorang dokter," jawabnya.


"Oh, seorang dokter!" jawabnya singkat.


"Kenapa cuma seperti itu jawaban mu?"


"Lalu Kau berharap apa? Berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil?"


"Apakah kau tidak cemburu?"


"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Toh, sekarang dia sudah menjadi milikku!"


Apa yang dikatakan wanita itu memang benar . Kenapa di harus cemburu, Fabyan kan sudah menjadi miliknya!

__ADS_1


"Tapi, Apakah kau tidak tahu? Dulu mereka pasangan yang sangat serasi. Dan Fabyan sangat mencintainya! Aku yakin sampai sekarang Fabyan masih mencintainya!"


Clara tidak bereaksi apa-apa, dia hanya mengulas senyum tipis, "Aku tidak masalah. Karena bagaimanapun Fabyan sudah menjadi milikku. Tidak mungkin kan dia kembali pada orang yang sudah mati!" ucap Clara santai, "Tapi, justru Saya heran dengan Anda! Kenapa Anda begitu kepo ingin mengurusi kehidupan orang lain?"


Degh ...


"Siapa bilang aku kepo? Aku hanya sekedar bertanya!"


"Benarkah? Saya tidak percaya!" ucap Clara, "Apa jangan-jangan Anda juga menyukai Selena?"


"Ck, Kau jangan sembarangan!" Martin memberhentikan gerakannya, dia nampak sedikit kesal. Tapi Clara tidak perduli. Melihat istrinya sudah selesai berdansa dengan Martin, Fabyan langsung menghampiri istrinya. Clara mengulas senyum ke arah sang suami. Justru Fabyan heran melihat raut muka Martin yang sedikit masam.


Apa yang Clara katakan hingga raut muka Martin masam begitu?


"Sudah selesai?" tanya Fabyan.


"Apa kau lelah? Mau beristirahat?" tanya Fabyan pada istrinya.


"Iya, sepertinya aku kelelahan. Apakah Kau bisa mengambilkan minum untukku?"


"Baiklah. Kau tunggu disini!"


"Terimakasih, Sayang!"


Martin kembali ke kamar dengan perasaan dongkol, dia tidak percaya pertanyaan Clara membuatnya mati kutu tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan wanita cantik itu.


"Sial, ternyata aku tidak bisa membuatnya menangis ataupun sakit hati! Dia malah membuatku mati kutu tidak bisa menjawab pertanyaannya! Siapa sebenarnya wanita itu? Dia sangat pintar dan cerdik!"


Prangg ...

__ADS_1


Martin meninju vas bunga itu dengan tangannya. Saat ini hatinya benar-benar sangat dongkol. Dia sangat marah dan geram.


"Bos, Ada apa?" anak buah Martin begitu terkejut saat mendengar sesuatu pecah di dalam kamar bos-nya.


"Bantu obati lukaku!" suruh Martin pada anak buahnya.


"Baik, Bos!"


Anak buah Martin memberikan Betadine lalu membalutnya lukanya dengan kain kasa. Martin meringis kesakitan menahan rasa perih yang luar biasa, baginya hari ini benar-benar sangat menjengkelkan, saking menjengkelkannya, kaca-kaca yang tertancap di bagian tangannya, terasa tidak perih saat dicabut sang pengawal.


Sementara Clara terlihat kelelahan. Dia meminta pada suaminya untuk kembali ke kamar, Fabyan pun merasa tidak tega melihat raut muka Clara yang pucat karena kelelahan.


"Baiklah, Ayo kita kembali ke kamar!" Fabyan mengandeng tangan istrinya menuju kamar.


Clara sedikit kesusahan berjalan karena gaun yang dikenakannya menjuntai ke lantai, membuat Fabyan gemas dan langsung membopong tubuh istrinya ala bridal style.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ah, sudah diam saja! Gaunmu sangat mengganggu!"


"Enak saja. Ini gaun mahal tau!" manyun Clara. Fabyan terkekeh.


"Turunkan aku. Aku malu!"


"Biarkan saja. Toh kita sudah suami istri, siapa yang akan mengolok-olok kita?"


"Iya juga sih! Hehehehe!"


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2