Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 51 : Kecantikan Tersembunyi


__ADS_3

"Nona, Tolong bangun!"


"Eum, lima menit lagi!" Clara memeluk bantal lebih erat.


Seorang pelayan duduk disisi ranjang dan menepuk lembut pipi Clara, "Tuanku sudah menunggu, Nyonya harus bersiap untuk sarapan. Ayolah!"


Clara mengerjapkan matanya, dia penasaran dengan orang yang sudah berusaha membangunkannya.


"Si-si-siapa Kau?" tanya Clara membulatkan matanya.


"Perkenalkan, nama saya Bibi Emmy. Saya yang akan mengurusi semua keperluan Anda!"


"Apakah Pak Fabyan yang menyuruhmu?"


"Betul sekali, Silahkan lepaskan baju Anda! Anda harus mandi!" ujarnya.


"A-pa?" Clara nampak terkejut.


Tidak dengan Emmy, Emmy justru mendorong pelan tubuh Clara ke kamar mandi. Air mandi sudah di siapkan. Clara terkejut saat Emmy hendak melepaskan baju Clara.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Clara mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh dinding.


"Saya akan melepas pakaian Anda?"


"Ta-tapi?"


"Sudah nggak usah tapi-tapian!" Emmy mendekati Clara.


"Aku bisa mandi sendiri!"


"Sudah nggak usah malu-malu. Mungkin setelah ini Anda akan terbiasa. Lagipula kita ini kan sama-sama perempuan!"


Emmy menarik Clara, membuat Clara sedikit terkejut karena kekuatan Emmy sungguh sangat besar.


Bagaimana bisa wanita separuh baya bisa memiliki kekuatan sebesar ini?


Akhirnya Clara menyerah, karena wanita itu sangatlah memaksa. Kini Ia telah telanjang bulat, dan masuk ke bak mandi yang berisi air. Kemudian Emmy memasukkan wewangian dan sabun cair di dalam sana.


"Apakah Pak Fabyan yang menyuruhmu melakukan semua ini?" tanya Clara penasaran.


"Iya,"


Clara tersenyum manis, "Wangiiiiii."


"Ini air mawar. Baunya sangat wangi dan bisa merilekskan pikiran."


Clara mengangguk dan mulai memainkan busa sabun. Sementara Emmy, mulai menggosok punggung Clara. Mulai dari lengan sampai kaki. Ia juga memijit tubuh Clara, membuat Clara merasa nyaman.


"Kau sangat berbakat!" ujar Clara pada Emmy.


"Ini hanyalah kemampuan dasar yang harus dimiliki semua pelayan Black Rose!"


"Jadi semua pelayan di markas ini memiliki kemampuan ini!"


"Begitulah," Emmy mengambil shower dan mulai membilas tubuh Clara dengan Air, "Tutup mata, saya akan membilas seluruh badan Nona!"


Setelah mandi, Emmy juga membantu Clara memakai baju. Emmy memperlihatkan dua dress cantik bermotif bunga-bunga dan motif kotak-kotak.


"Anda mau pilih dress yang mana?" tanya Emmy.


"Yang itu!"


Clara bingung harus memilih yang mana, karena semuanya bagus, cantik, dan elegan. Kelihatannya juga sangat mahal. Tapi masalahnya, semuanya gaun. Dan Clara jarang memakai gaun.


"Apa tidak lain selain gaun?" tanya Clara.

__ADS_1


Emmy tersenyum, lalu mengambil dress bunga-bunga. Dan mencocokkannya di tubuh Clara.


"Anda sangat cantik jika memakainya!" puji Emmy.


"Tapi aku tidak suka memakai gaun. Karena menurutku sangat tidak nyaman jika dipakai!"


"Karena itulah Anda harus membiasakan. Sebentar lagi Anda akan diperkenalkan dengan Tuan Abrisam Bramantyo! Jadi di depan Tuan Abrisam, Anda harus terlihat cantik!"


"Tuan Abrisam. Siapa lagi itu?" tanya Clara, memang pada kenyataannya dia tidak tahu.


"Memang Tuan tidak memberitahukan pada Anda?"


"Tidak. Bahkan aku tidak tahu, kenapa aku disuruh memakai pakaian ini?"


Emmy tersenyum, "Saya tidak berani menjelaskan semuanya pada Anda. Biar Tuan saja yang menjelaskan pada Anda!"


"Ya, Baiklah!"


Emmy membantu mendadani wajah Clara dengan makeup tipis, dan juga sedikit lipstik warna pink. Emmy juga membantu Clara menata rambutnya.


"Sebaiknya Nona lepaskan kacamatanya! Apakah Nona membutuhkan softlens?"


"Ah, tidak. Mataku baik-baik saja!" gelak Clara.


"Baiklah,"


Clara terdiam saat melihat pantulan dirinya di depan cermin. Penampilannya saat ini sungguh sangat berbeda. Dia saja merasa pangling.


"Apakah ini aku?" tanyanya pada Emmy.


"Itu memang Nona. Nona sangat cantik. Dirias sedikit saja sudah sangat cantik!"


"Terimakasih banyak Emmy!" Clara memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Itu sudah tugas kami, Nona!" jawab Emmy.


"Saya akan mengantarkan Anda, Nona!" balas Emmy.


Clara mengikuti Emmy keluar dari kamar. Wanita itu mengantarnya Clara ke sebuah ruangan. Sepertinya ruangan kerja Fabyan.


Tok ... Tok ... Tok


"Tuanku, ini saya Emmy."


"Masuk!" terdengar suara Fabyan dari dalam.


Emmy membuka pintu. Dan menyuruh Clara untuk masuk ke dalam.


"Masuklah, Nona!"


Setelah Clara masuk ke dalam, Emmy menutup pintu. Ruang kerja Fabyan sangatlah besar. Banyak sekali buku-buku yang berjejer rapi di rak buku.


Ada sebuah meja kerja besar. Dengan sebuah foto yang terpajang di atasnya.


Dimana Pak Fabyan?


"Aku ingin kau bereskan semuanya!"


Clara bisa mendengar suara Fabyan. Rupanya pria itu sedang menelfon dibalik kursi besar yang ada dibelakang meja. Kursi putar itu kini sedang membelakangi Clara, sehingga Clara tidak bisa melihatnya.


Sambil menunggu Pak Fabyan selesai dengan panggilannya, Clara duduk di kursi depan meja Fabyan.


Satu menit


Dua menit

__ADS_1


Tiga menit


____


____


Sepuluh menit


Fabyan mematikan teleponnya. Ia memutar kursi, lalu menatap dokumen yang ada diatas meja kerjanya.


"Baiklah, sampai kapan kau akan mengabaikan ku?" tanya Clara karena Fabyan tak menatapnya.


"Aku menyuruhmu datang kesini setengah jam yang lalu!" ucap Fabyan tanpa menoleh ke arah Clara.


"Jangan salahkan aku. Salahkan Emmy. Dia yang tidak mau berhenti merias wajahku!" ucap Clara.


"Aku penasaran, seperti apa wajahmu setelah dirias dengan waktu setengah ja ... !" Fabyan berhenti berbicara saat menatap Clara.


"Apa? Kenapa tatapan Anda seperti itu?" kesal Clara.


"Hah!" Clara mendengus kesal.


"Kau sungguh Clara Lunoks?"


"Apakah ini humor pemimpin Black Rose?" Clara berkacak pinggang.


"Dari logat bicaramu, Kau memang Clara!"


"Kau kenapa sih?"


Fabyan mendekat ke arah Clara. Ia kembali menatap Clara dengan lekat.


"Hey, Kau baik-baik saja?" Clara menjentikkan jarinya tepat di muka Fabyan, "Hey, Apa kau baik-baik saja? Apakah Kau sakit?"


"Aku sehat."


"Oh," gadis itu membulatkan bibirnya, "Menurut Anda penampilan saya bagaimana?"


"Kau tambah jelek dengan penampilan seperti itu!"


"Apa?" Clara tersinggung, "Kau bajingan sialan! Beraninya Kau mengatai ku jelek!"


"Tersinggung itu artinya benar!" Fabyan berjalan ke luar ruangan.


"Dasar rektor gila! Kau yang jelek!" maki Clara.


Clara mengejar Fabyan, dia tidak bisa berlari cepat karena dia memakai sandal berhak tinggi, "Hey, Fabyan Bramantyo! Cepat tarik kata-katamu! Jika tidak, aku hajar Kau!"


"Diamlah! Sekali jelek tetap jelek!"


"Oh, ya, Kau pikir dirimu tampan!" kesal Clara.


"Oh, tentu. Aku memang tampan sejak lahir ke dunia ini!"


"Cih, dasar narsis!" sungut gadis itu.


***Aku tarik kata-kata ku telah mengatakan mu jelek! Kau memang sangat cantik. Bahkan luar biasa cantik.


Meskipun hanya memakai make up tipis, tapi kau tetap cantik.


Apalagi dengan memakai gaun bunga-bunga, aku tidak menyangka kau secantik ini.


Dengan kecantikan seperti itu, aku harus menjaganya dengan baik. Akan aku jadikan Kau milikku. Hanya milikku.


Aku akan membawamu kehadapan ayah dan ibuku. Dan akan aku perkenalkan kau dengan mereka.

__ADS_1


To be continued*** ...


__ADS_2