Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 65 : Pesta Dansa


__ADS_3

Memangnya benda sebesar itu bisa masuk semua ke milikku?


"Kau suka?"


"Suka apanya? Bisa mati jika aku dimasuki benda sebesar itu!"


"Kau tidak akan mati jika dimasuki benda sebesar ini!"


Clara sedikit malu, "Ini baru pertama kalinya untukku!"


"Ish, Aku akan pelan-pelan!" jawab Fabyan mengerlingkan matanya.


Fabyan berjanji akan pelan-pelan, gerakannya sangat lembut dan halus. Sesekali wanita cantik itu merintih kesakitan, tapi dia tidak mau kalah dengan rasa sakit dan perihnya di bawah sana. Dengan pegangan eratnya pada kain sprei, dia menahan sebisa mungkin. Jika dia bisa menahan rasa sakit saat terkena benda tajam ataupun peluru, maka dia harus bisa menahan rasa sakit di bagian intinya oleh benda tumpul, yang nantinya akan membuatnya keenakan hingga merem melek. Sambil membayangkan, dia senyam-senyum sendiri.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Fabyan masih di posisi atas menindih tubuh Clara.


"Ti-dak. Aku tidak memikirkan apapun! Kau ini terlalu perasa!" kekehnya. Hingga satu jam lamanya mereka melakukan penyatuan, dan tentu itu membuat tubuh mereka berkeringat.


Tubuh Clara begitu lemas tak bertenaga, Fabyan menggarap tubuhnya hingga lima ronde sekaligus. Clara sangat kualahan, dia sudah tidak kuat, setelah pertempuran panas itu pun akhirnya tubuh Clara lemas dan lemah, dia langsung tertidur.


*************************


Seorang laki-laki berdiri di tepi kolam renang, dengan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, memejamkan mata, dan mendongakkan wajahnya ke atas.


"Kak Felix!" bisik Sofia sambil menahan gorden dengan satu tangan agar sedikit lebar.


Tiba-tiba Sofia menutup gordennya dengan cepat dan rapat, saat tatapan itu tiba-tiba menatap ke arah jendela kamarnya. Jantungnya dibuat terkejut keseperkian detik.


"Padahal aku hanya berbisik, tapi kenapa dia bisa dengar?" gumam Sofia, dia menyangka kalau Felix mendengar gumamannya.


"Kenapa Kau ngomong sendiri dekat jendela, Sofia?" tiba-tiba ibunya datang dan melihat putrinya yang sedang bicara sendiri.


"Eh, Ibu. Tidak apa-apa, Bu! Tadi ada kecoa, makanya Sofia berusaha untuk mengusirnya!" bohong Sofia.


"Kecoa? Masa iya di kamar sebagus ini ada kecoa?"


"Adalah, Bu! Yang namanya kecoa itu tidak pilih-pilih tempat, dimana dia mau tinggal!"


"Iya juga sih!"

__ADS_1


Untungnya Ibu percaya!


"Ini pakaian dari Clara. Katanya kau harus memakai gaun ini!" ucap Laura menyerahkan gaun cantik berwarna merah, "Ini untuk pesta dansa malam ini!" ujar ibunya lagi.


"Baiklah, taruh saja di sini, Bu! Nanti Sofia pakai!" kata Sofia.


_____


_____


Waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga, sebuah pesta resepsi digabung dengan pesta dansa yang cukup mewah diselenggarakan di orchid mansion hall. Orchid mansion hall terletak di samping mansion ini, tempatnya sangat luas dapat menampung 500 tamu undangan, tapi Abrisam hanya mengundang 200 tamu undangan, itupun keluarga besar Bramantyo, kerabat dan teman pengusaha. Belum lagi keluarga besar Clara, termasuk Papa Bastian juga turut hadir menjadi wali untuk putrinya, tapi setelah acara selesai, Papa Bastian langsung berpamitan pulang. Dia tidak mau membuat putrinya semakin membencinya, makanya Bastian langsung meninggalkan acara tanpa berpamitan kepada putrinya.


Sofia keluar dengan gaun pesta yang cukup mewah, gaun yang Clara belikan untuk adiknya. Begitulah Clara, meskipun bukan adik kandung, Clara sudah menganggap Sofia seperti adiknya sendiri. Karena memang dia sudah berjanji kepada Papa Ferdinand untuk menjaga adik dan Mama Laura.



Sofia begitu cantik berbalut gaun berwarna merah, dengan high heels warna hitam. Dia sengaja memangkas rambutnya sepundak, itu sebagai caranya menikmati hidup baru setelah kepergian Rafael. Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, karena masa depannya masihlah panjang. Saat mau keluar dari kamar, dia dikejutkan dengan kedatangan Felix yang berdiri tepat di pintu kamarnya.


"Kak Felix!" hampir saja jantung Sofia terlonjak karena kaget melihat Felix di depan pintu kamarnya. Dia tersenyum manis. Tapi ada sesuatu yang beda dengan pria dewasa itu.


Iya, pria itu terlihat begitu tampan dengan balutan tuxedo warna hitam. Rambutnya tertata rapi dengan brewok yang sudah dipangkas habis, dan kini dia terlihat sangat berbeda dan tentunya terlihat sangat tampan.


"Kak Felix sedang apa disini?" tanya Sofia yang merasa heran dengan kedatangan Felix.


Dia tersenyum manis sekali, "Aku menjemputmu untuk datang ke pesta denganku!"


"Oh, Tapi aku bersama I ... !"


"Sudah sana, Kau pergi saja dengan Nak Felix. Ibu nanti nyusul!" ucap Laura di belakang Sofia. Setelah tahu yang datang Felix, Laura langsung berjalan ke arah pintu.


"Tapi, Bu ... !"


"Sudah, Ibu nggak apa-apa kok ditinggal. Lagian ini kan pesta anak muda! Jadi kalian yang muda harus menikmatinya!" ucap Laura.


"Mari!" sengaja Felix melingkarkan tangannya ke pinggang Sofia, dan itu membuat jantung Sofia berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kami duluan, Bu!" pamit Felix. Laura menganggukkan kepalanya.


Ada apa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba berdetak kencang begini? Biasanya juga tidak!

__ADS_1


Duh, bertambah kencang, bagaimana jika dia mendengarnya?


Felix menjentikkan jarinya tepat dimuka Sofia yang sedang melamun, "Hey, Ayo kita berangkat!" ajaknya.


"Eh, iya!" Sofia langsung mengikuti ajakannya, dia tidak protes dengan tangan Felix yang masih menempel di pinggangnya.


Belum mulai saja pestanya sudah sangat meriah. Apalagi kalau sudah mulai, pasti bertambah meriah. Felix dan Sofia ikut bergabung di meja Uncle Jo.


Setengah jam kemudian, pasangan pengantin itu keluar. Clara tampil cantik malam ini dengan balutan gaun yang sangat indah, berwarna biru dengan pita besar menutupi dadanya. Rambutnya Ia sanggul, dengan hair piece di sebelah kanan rambut, membuatnya terlihat begitu anggun.



Acara pesta dansa di mulai, suara musik romantis di setel sebagai pengiring dansa. Felix mengajak Sofia berdansa dengannya, namun Sofia menolak karena memang dia tidak pandai berdansa.


"Aku akan mengajarimu!" ucap Felix, "Ayolah kita berdansa! Kita nikmati pesta ini!" Felix memberikan telapak tangannya agar disambut oleh Sofia, namun Sofia masih saja membeku di tempatnya.


"Hey! Ayolah!" ajak Felix lagi, Sofia pun menganggukkan kepalanya, dia menyambut uluran tangan Felix ke genggamannya.


Mereka berdansa dengan suasana hati Sofia yang sedikit canggung, pasalnya memang ini pertama kalinya dia berdansa, tapi Felix bisa membimbingnya dengan sangat baik. Sesekali tanpa sengaja Sofia menginjak kaki Felix, hingga Felix mengaduh kesakitan, gadis itu merasa tidak enak.


"Maafkan aku. Aku memang tidak bisa berdansa. Pasti gerakanku sangat kacau!" ujarnya.


Felix tersenyum, "Tidak apa-apa, sebagai pemula gerakan mu sudah bagus!"


"Benarkah?" Sofia terlihat sangat senang dipuji seperti itu.


"Ayo kita berdansa lagi!" ajak Felix.


Sementara Fabyan menggenggam tangan Clara, mengajaknya untuk berdansa. Clara agak canggung, dia takut gerakannya salah, tapi Fabyan sudah meyakinkannya, kalau dia pasti bisa melakukannya.


Setelah pernikahan, pesta ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga besar Bramantyo. Niatnya ingin sedikit memamerkan keahlian dansa yang dimiliki keluarga Bramantyo kepada khalayak ramai, namun karena sudah menjadi kebiasaan, akhirnya pesta dansa menjadi kegiatan yang harus dilakukan setelah acara pernikahan.


Pasangan pengantin baru itu mulai berdansa, tarian yang selama ini dipelajari Clara, terasa ringan dan dapat dinikmati, seolah-olah mereka sedang menari di atas awan.Tepuk tangan dari para tamu terdengar saat lagu telah usai. Para tamu lain juga ikut berdansa setelah lagu kedua diputar.


"Apa boleh saya berdansa dengan istri Anda?" seseorang mengulurkan tangannya ke arah Clara.


To be continued....


°°°°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


Dukung karya Author dengan Like, komentar dan favorit. Terimakasih banyak sudah setia menunggu karya Author....


__ADS_2