Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 32 : Mafia Liar


__ADS_3

Clara melangkahkan kakinya menuju parkiran. Tubuhnya terasa letih setelah seharian dia mengajar dan memberikan pelajaran tambahan. Apalagi otaknya, seakan mendidih.


Bu Maya yang baru datang ke arah parkiran untuk mengambil mobil, Ia menyapa Clara dengan ramah. Clara pun membalasnya dengan anggukan kepala. Kemudian mobil dosen itu meninggalkan area parkir dengan membunyikan klaksonnya. Clara mengulas senyum dengan melambaikan tangan.


Wanita cantik itu bersiap-siap menyalakan motornya. Saat dia hendak menjalankan motor, seseorang menarik tangannya dengan kuat. Sontak Clara sangat terkejut.


"Pak Fabyan!"


"Ikut aku!" Fabyan menarik tangan Clara.


"Hey, Hey! Apa yang Anda lakukan? Lepaskan Aku!" pekik Clara.


"Tolong, ikutlah denganku! Ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Fabyan.


"Aku tidak mau! Kenapa juga Anda tiba-tiba ingin berbicara? Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Clara dengan melototkan matanya.


"Tidak disini! Kita pergi ke suatu tempat!"


"Hah?" Clara melayangkan tinjunya ke arah Fabyan, dengan mudah Fabyan menahan tangan Clara. Kemudian Fabyan membopong tubuh Clara dan meletakkannya di atas bahu seperti sedang membawa karung beras, ia letakkan dengan hati-hati masuk ke dalam mobil.


"Hah, motorku!"


"Motormu aman, kau tenang saja!" ujar Fabyan.


"Ck, dasar pria aneh! Lepaskan aku!"


"Duduk dengan tenang! Pakai seal belt mu dengan benar!" suruhnya.


"Hey, Pak Rektor! Ayolah, ini penculikan namanya!" ujar Clara.


"Ssssstttttttt, duduk!" ucap Fabyan dengan meletakkan telunjuknya di depan mulut memberikan tanda pada Clara agar dia duduk dan diam.


Fabyan pun menjalankan mobilnya ke suatu tempat. Tempat yang Clara tidak tahu apa namanya. Tempat yang sangat indah, sebuah bungalow dengan pemandangan yang sangat memukau.


Untuk sampai ke tempat tersebut, mereka harus melewati kawasan pepohonan Cemara. Disisi kanan dan kirinya rimbun dengan pepohonan Cemara. Membuat udaranya sangat sejuk dan segar.


"Kita mau kemana, Pak?" tanya Clara panik.


"Ke suatu tempat!" ujar Fabyan.


"Pak, Anda baik-baik saja kan? Kenapa sikap Pak Fabyan sangat aneh hari ini?"


"Hah, kenapa? Apa kau takut?"


"Duh, jangan begitu dong, Pak! Saya jadi takut Bapak bersikap seperti itu!" ujarnya. Sementara Fabyan hanya menyeringai kecil.


____


____


Mobil mereka sampai di sebuah bungalow besar. Dimana di sana sudah berjejer banyak pria dengan berjas warna hitam. Saat Fabyan keluar dari mobil, mereka menyambutnya dengan membungkukkan badan. Clara yakin di dalam hatinya, memang Fabyan bukanlah orang sembarangan.


"Ayo masuk!" ajaknya.


"Kenapa Anda membawa saya kesini? Sebenarnya tujuan Anda apa sih?" kesal Clara.


"Masuklah dulu!"


Clara mendudukkan pantatnya di sebuah sofa single. Dia bingung, kenapa sikap Fabyan sangat aneh hari ini. Ia merasa tidak memiliki salah apapun.


Fabyan menarik kursi, dan duduk persis di depan Clara. Pria itu menatap intens ke arah Clara. Tanpa berkedip dan memberikan tatapan elangnya.


"Ke-na-pa Anda menatap saya seperti itu?"


"Apa hubungan kamu dengan Pak Shane?" tanya Fabyan.


"A-pa?" Clara terkejut.


Bagaimana bisa Pak Rektor tahu aku bertemu dengan Shane? Apakah dia melihatku sedang ngobrol dengan Shane? Apakah dia tahu sesuatu tentang kami?


"Ayo jawab! Kenapa diam?"

__ADS_1


"Memang salah ya pak, jika saya kenal dengan Pak Shane?"


"Kenapa? Apakah kau sudah mengenalnya lama? Kalian nampak begitu akrab!" sindirnya.


Degh ...


Apa ini? Apakah dia mulai mencurigai ku?


Hahahaha ...


Tiba-tiba Clara terkekeh mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Fabyan. Dia merasa kalau dirinya sedang diintimidasi oleh rektor itu.


"Lho, apa salahnya saya kenal dengan Pak Shane?" tanyanya, Fabyan hanya mencebikkan bibirnya, "Pak Shane itu tampan, kaya, mapan dan sangat menarik untuk ukuran wanita seperti saya!"


"Hah, Apanya yang menarik? Dia hanyalah kaki tangan seseorang. Bukan dia pemilik LNK, jadi berhentilah berpikiran dia itu kaya dan mapan! Kalau masalah tampan, aku rasa ketampanannya biasa-biasa saja!" ujarnya sangat aneh.


Ada apa ini? Kenapa sikapnya aneh begitu?


"Lalu apa urusannya dengan Anda? Kenapa Anda begitu ingin mengetahui masalah pribadi saya?"


"Ck, siapa yang ingin mengetahui masalah pribadimu? Aku hanya penasaran, kenapa kau begitu akrab dengan Pak Shane? Aku harap yang kau katakan jujur adanya! Aku tidak mau ada mata-mata di kampusku!" sengitnya.


"Mata-mata? Kan sudah jelas kalau Pak Shane itu adalah donatur kampus. Dia bukan mata-mata!" Clara mematahkan tudingan Fabyan.


"Hey, dia hanyalah bawahan saja! Dia bukan donatur yang asli!"


"Ah, sama saja!"


"Tentu saja berbeda! Dia hanyalah kaki tangan pemilik Perusahaan LNK!"


"Memangnya Anda tahu siapa pemiliknya?"


"Ah, Sayangnya tidak seorangpun tahu siapa pemilik Perusahaan LNK!" cibirnya.


"Bisa saja kan, Pak Shane sendiri pemiliknya! Karena dia orangnya rendah hati, baik dan tidak sombong. Dan dia tidak mau mengaku!" kekeh Clara.


"Ck, Sepertinya kau begitu mengaguminya ya?"


Apanya yang baik?


"Jadi Bu Clara sudah mengenal lama Pak Shane?"


"Saya baru mengenalnya!" jawab Clara, "Kenapa sih Anda begitu penasaran? Kenapa sih Anda begitu ... ?"


Cup ...


Clara terkejut saat Fabyan mengecup bibirnya. Fabyan menarik pipi Clara, membuat wanita itu berteriak pelan, dan menepis tangannya.


"Anda kenapa sih?" Clara mengusap pipinya yang sedikit sakit.


"Kau menggemaskan!"


"Anda tahu, tatapan Anda seperti sedang mengintimidasi saya!"


"Benarkah?" Fabyan mendekatkan wajahnya.


Clara mendorong wajah Fabyan, "Jika Anda mendekat lagi, Saya akan menghajar Anda!"


Fabyan menarik jari-jari Clara. Dan membelai jari-jari tersebut. Kemudian dia menggigit jari telunjuk Clara.


Clara bingung harus berbuat apa. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tahu kalau rektor itu sedang menggodanya.


Aku harus membalasnya!


Clara menarik wajah Fabyan dan mengecup bibir pria itu, membuat Fabyan terkejut.


"Bukannya kau yang meminta?" Clara tersenyum nakal.


Ia meletakkan tangannya pada dada bidang Fabyan. Dan sedikit memainkannya. Memberikan gerakan kecil untuk menggodanya. Pria itu menunjukkan ekspresi dingin padanya.


"Clara!" Fabyan menarik tangan Clara dan mendorong tubuh Clara hingga berbaring di sofa. Fabyan langsung menindihnya. Jarak wajah mereka sangat dekat, tinggal beberapa centi lagi hampir bersentuhan.

__ADS_1


"Aku punya batas kesabaran!" lirihnya.


"Lalu, Apa kau terangsang?" tangan Clara bergerak hingga menyentuh benda Fabyan yang terbalut oleh celana.


Saat itu Clara sangat terkejut. Dia terus menatap ke arah bawah sana.


Apa yang baru aku sentuh?


Kenapa rasanya sangat besar sekali?


"Kenapa terkejut begitu?" Fabyan tersenyum miring, "Bukannya wanita suka sesuatu yang besar?"


"Hah." Clara berusaha mendorong dada Fabyan, hingga pria itu menyingkir dari tubuhnya. Namun usahanya sia-sia. Pria itu begitu kuat.


"Nampaknya kau panik ya?" kekeh Fabyan.


"Tolong, Minggir, Pak! Ini namanya pelecehan!"


"Kenapa? Kau takut aku melakukan sesuatu?"


Wajah Clara memerah saat membayangkannya, "Minggir!"


Fabyan tidak bergerak walau Clara memukul dadanya.


"Kau cukup kuat, tapi kau tidak mampu untuk menggoyahkan ku!" bisik Fabyan.


Fabyan menarik kedua tangan Clara dan menyatukannya di atas kepala. Fabyan tersenyum senang, senyuman penuh arti. Clara menjadi sangat ketakutan.


Sial, seharusnya aku tidak menggodanya!


"Hey, Hey! Anda mau apa?"


"Kenapa, kau takut?"


"Dengar ya, kita bukan pasangan kekasih! Jadi ini tidak boleh dilakukan!"


"Lho, kenapa? Banyak kok pasangan yang melakukan ini tanpa memiliki hubungan!"


"Tapi saya bukan wanita seperti itu! Saya hanya akan memberikan mahkota saya pada suami saya!"


"Apa?"


Hahahaha ...


Sontak Fabyan tertawa keras.


"Masih adakah wanita perawan di jaman sekarang ini?" gelaknya.


"Tentu saja ada! Minggir sana! Dasar mesum! Tubuh Anda berat sekali!" Clara berusaha mendorong tubuh Fabyan.


Fabyan mendekatkan wajahnya ke wajah Clara. Membuat wanita itu memejamkan matanya. Tak seperti dalam bayangannya, ternyata pria itu hanya mengecup keningnya. Dan melepaskan tangannya. Fabyan beranjak dari tubuh Clara.


"Hah!" Clara membuka matanya dan mendapati Fabyan yang sedang tersenyum geli.


"Kau pikir aku benar-benar akan melakukannya?" tanya Fabyan.


"Kau, Kau ... !" wajah Clara memerah.


"Rupanya kau juga mesum!" gelaknya.


"Ish, dasar!"


"Aku hanya membalas ciuman tadi!"


"Apa membalas?" Clara mengernyitkan alisnya.


Saat Fabyan hendak pergi. Dengan kuat Clara menarik tangan Fabyan. Hingga tubuh Fabyan terjerembab ke sofa. Dengan cepat Clara duduk di atas perut Fabyan.


Bersambung ...


Ayo kasih like and komentar buat Fabyan dan Clara....🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2