
Hari pernikahan tiba, lokasi pernikahan ada di mansion milik keluarga Fabyan. Mansion yang tidak kalah mewah dengan Mansion milik Clara. Halaman rumah disulap menjadi sebuah tempat pesta yang sangat mewah dan Elegan.
Ada air mancur yang di penuhi dengan bunga-bunga yang sangat cantik. Lalu meja bundar dan kursi tamu undangan dihiasi menyerupai kelopak bunga mawar yang sangat indah. Sepuluh catering makanan sudah berjejer dengan makanan dan minuman yang menggugah selera.
Ratusan tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah seorang pengusaha, karena Abrisam sendiri seorang pengusaha yang cukup terkenal di kota tersebut.
Fabyan berdiri dengan tuxedo berwarna putih, serta sebuah bunga mawar di dada kanannya. Rambut yang biasanya ditata itu-itu saja, sekarang di rapikan oleh seorang penata rambut, sehingga Fabyan yang notabenenya sudah tampan, kini semakin tampan.
Penampilan baru Fabyan membuat semua wanita terpukau. Sejak dulu mereka memang terpukau, mereka selalu berusaha mendapatkan hati Fabyan, namun semuanya berubah saat dia kehilangan seseorang yang begitu Ia cintai. Setelah kematian Selena tunangan Fabyan, tiba-tiba saja hati Fabyan membeku. Mereka pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Fabyan.
Namun setelah kedatangan Clara, hati Fabyan mulai mencair. Dia bisa tertawa lepas, dan banyak tersenyum.
_____
_____
"Kakak gugup?" tanya Sofia.
"Tentu saja aku gugup!" Clara berusaha untuk mengatur nafasnya.
"Aku tidak percaya, ini adalah hari terpenting untuk Kakak!"
"Aku sendiri juga tidak percaya. Aku pikir aku tidak akan menjadi seorang istri! Aku akan menjadi Queen Mafia terus!" gelak Clara.
"Gugup adalah hal yang wajar. Tapi Anda harus yakin bahwa Anda bisa melakukannya!" tutur Emmy berusaha untuk memperbaiki gaun yang di pakai Clara, "Kalau Anda belum siap, saya bisa minta waktu sebentar lagi untuk bersiap!"
Hufffffttttttt ...
"Tidak perlu, Aku sudah siap!" ucap Clara.
Tok ... Tok ... Tok
"Maaf mengganggu!" ucap seorang pelayan, "Nona, Ada seseorang yang ingin bertemu Anda!" ucap pelayan itu.
"Siapa?"
"Clara!" panggil seorang pria di depan pintu. Clara sedikit terkejut. Pasalnya dia memang sengaja tidak mengundang Bastian sebagai walinya. Tapi hari ini dia datang dan berdiri di hadapannya.
"Aku tahu, Aku tidak pantas menjadi Papamu. Karena mengingat kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Tapi Papa mohon untuk yang terakhir kalinya, biarkan Papa yang mengantarmu sampai di depan penghulu!" mohon Bastian, "Hanya untuk yang terakhir kalinya!" ucapnya lagi.
Setelah Clara menimbang-nimbang akhirnya Ia pun menyetujui Bastian yang akan mengantarnya hingga ke kursi pelaminan.
__ADS_1
"Baiklah!"
Mereka mulai bergerak, Bastian menggandeng tangan putrinya, sementara Sofia memegang ujung gaun pengantin. Mereka masuk ke ruangan pernikahan, semua tatapan mata mengarah ke Clara. Mereka nampak tertegun melihat kecantikan Clara. Beberapa orang sampai mematung, melihat karya seni Tuhan yang begitu indah dan sempurna. Kecantikan yang sejati. Kecantikan yang dipahat semesta selama ribuan tahun silam.
Abrisam terdiam, dia tidak menyangka calon menantunya, itu benar-benar sangat cantik. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi memang tidak bisa dipungkiri, memang menantunya benar-benar sangat cantik.
Sementara Fabyan sudah menunggu di depan penghulu dengan waktu yang cukup lama. Dia juga nampak tertegun, melihat kecantikan Clara, kecantikan yang bersinar, dan sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Hey, passtttt!"
Fabyan sontak keluar dari pikirannya saat Clara sudah ada didepannya. Clara tersenyum kesal saat tangannya tidak juga diraih oleh Fabyan.
"Hari ini Kau sangat cantik," Fabyan meraih tangan Clara dan menciumnya dengan lembut.
"Aku memang cantik," jawabnya.
Acara pernikahan pun dimulai dengan khidmat hingga mereka sah menjadi pasangan suami istri.
____
____
Setelah acara pernikahan, Fabyan mengajak istrinya berkenalan dengan keluarga besar Bramantyo. Dia juga dikenalkan pada nenek Fabyan yang terkenal jutek dan galak. Namun Clara bisa mengatasinya dengan mudah, karena memang Clara wanita yang mudah bergaul dengan siapapun.
"Martin!"
Pria yang bernama Martin mendekat ke arah mereka. Dia mengulas senyum ke pasangan suami istri itu.
"Aku Martin Garrix. Sahabat baik Fabyan. Senang bertemu denganmu!" Martin memperkenalkan dirinya pada Clara.
Clara hanya tersenyum saat menjabat tangan pria itu. Tangan pria itu sangat dingin, Clara bisa merasakannya meskipun Ia memakai sarung tangan. Tatapan yang dilontarkan oleh pria itu penuh dengan intimidasi.
"Kau memiliki mata yang Indah!"
"Terimakasih banyak," jawab Clara, "Kau juga memiliki mata yang indah. Karena sedari tadi kau menatapku terus!"
"Ahahahaha, ternyata istrimu sangat menarik, Byan!"
"Terimakasih,"
Martin melirik Fabyan, "Apa kau baik-baik saja, Byan?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kau ini tega sekali. Menikah tapi tidak mengundangku!" ujar Martin, "Ternyata Kau sudah bisa move on setelah lama kau ditinggal tunangan mu! Oh salah, maksudku Selena!"
Sontak Fabyan merasa tidak senang jika di hari bahagiyanya ada seseorang yang mengungkit masa lalu. Dan dia sangat tidak suka dengan kedatangan Martin.
"Anda tenang saja! Aku akan menjaganya dengan baik!" ucap Clara menggelayut manja. Martin hanya tersenyum.
"Baiklah, selamat menikmati pestanya!" ucap Martin berbalik kemudian meninggalkan pesta pernikahan Fabyan dan istrinya.
Martin menatap Clara dengan tatapan yang aneh. Namun Clara tidak terlalu mempedulikannya. Dia malah sibuk menyambut keluarga Bramantyo yang lain.
"Clara, Aku ke toilet dulu!"
"Baiklah, Aku akan menunggumu di sini!"
____
____
Martin mengikuti ke mana Fabyan pergi, dan Fabyan tahu kalau Martin mengikutinya. Saat di ujung toilet, dia sengaja bersembunyi untuk menunggu kedatangan Martin.
"Kenapa kau mengikuti ku?" Fabyan menodongkan pistolnya ke arah Martin, tanpa disadari ternyata Martin juga menodongkan pistol ke arah perut Fabyan.
"Ck,"
"Kenapa kau ikuti aku?"
"Bukannya mencari siapa penyebab kematian Selena, kau justru menikah dengan wanita lain! Apakah hanya segitu rasa cintamu pada Selena?" marah Martin.
"Apa maksudmu?"
"Jika memang kau tidak bisa mencari orang yang membunuh Selena, maka aku sendiri yang akan mencarinya!" ujar Martin.
"Berhentilah seolah-olah Kau perduli!" Fabyan mulai kesal dengan sahabatnya. Sepertinya Martin terlalu mencampuri urusannya. Dan itu tidak baik untuk menjalankan misinya.
"Aku memang perduli. Sepertinya memang hanya aku yang perduli!"
"Ck,"
Martin pun pergi begitu saja meninggalkan Fabyan yang mulai kesal. Dan dia benar-benar tidak suka dengan sifat sahabatnya yang seperti itu.
__ADS_1
Bersambung ...