Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 27 : Eksekusi


__ADS_3

Clara sangat geram mengetahui Bima di biarkan begitu saja oleh Fabyan. Rektor itu hanya mengeluarkannya dari kampus. Dan sekarang Bima sudah tidak mengajar lagi di kampus.


Clara langsung menemui Fabyan. Namun saat akan ditemui, ternyata Fabyan tidak ada di ruangannya. Wanita cantik itu sedikit kecewa dengan sikap Fabyan. Dia pun kembali ke kelasnya dengan tangan kosong.


____


____


Tiga hari berlalu, Clara masih belum bisa menemui Fabyan. Padahal dia ingin sekali membahas masalah Bima. Tapi, sepertinya memang Fabyan sengaja menghindari dirinya.


Clara berjalan ke arah parkiran, dengan sedikit rasa kecewa di dada. Dia berfikir, mungkin dia harus menemui Fabyan di rumahnya.


Clara pun memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimum. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk datang ke rumah Fabyan. Karena memang jalanan sedang sepi. Clara leluasa memacu kendaraannya.


Sampai di depan rumah Fabyan, Clara turun dari motornya. Dia mengetuk rumah itu. Seorang pelayan membukanya.


"Selamat siang! Apakah Pak Fabyan di rumah?" tanya Clara dengan sopan.


"Siang! Mba yang kemarin disini kan?" ujar pelayan. Ternyata pelayan itu masih ingat kalau Clara pernah dibawa Fabyan ke rumahnya.


"Iya, betul sekali! Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Fabyan?" ujar Clara tersenyum manis.


"Maaf, Mba! Pak Fabyan nggak ada di rumah!"


"Kemana?"


"Biasanya kalau akhir pekan, beliau menjenguk orangtuanya di Swiss!"


"Jadi dia ke Swiss?"


"Iya, Mba!"


"Kira-kira pulangnya kapan?"


"Mungkin satu atau dua Minggu, Mba!"


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya! Saya permisi!" Clara pun pergi meninggalkan rumah Fabyan.


____


____


Dari balik tirai, Fabyan nampak memperhatikan sosok Clara. Wanita cantik itu pergi meninggalkan rumahnya. Dia sengaja tidak menemui Clara. Karena pasti Clara akan mempertanyakan masalah Bima yang sengaja tidak ia kasuskan ke pihak Polisi.


Setelah kejadian kemarin, dia sempat akan membawa Bima ke kantor polisi. Tapi, tiba-tiba sebuah mobil menghadang jalannya. Terpaksa Fabyan harus berhenti.


"Papa!"


"Fabyan!"


"Apa yang Papa lakukan disini?" tanya Fabyan pada seorang pria separuh baya.


"Papa mencegah mu melaporkan kasus itu ke polisi!" seru Zul Bramantyo, "Lepaskan dia Fabyan! Biarkan Bima pergi!"


Zul memberikan amplop coklat kepada Bima, dan menyuruh Bima segera pergi dari kota ini. Dia tidak mau masalah pelecehan mahasiswi sampai terdengar telinga orang, dan menurutnya itu akan sangat berbahaya.


"Pergilah!" bentak Zul pada Bima.


"Terimakasih, Pak! Terimakasih!" ujar Bima. Dia langsung memberhentikan taksi, dan segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Kenapa, Pah?" tanya Fabyan yang tidak habis pikir dengan perbuatan sang Papa.


"Kau tidak tahu, apa dampaknya jika berita buruk itu sampai tersebar! Kampus kita akan tercoreng! Dan Papa tidak mau itu sampai terjadi!" ujarnya.


"Tapi, Pah! Bima sudah melakukan hal asusila terhadap mahasiswinya! Bukan hanya Sofia korbannya, masih ada lagi mahasiswi lainnya, Pah!"


"Papah nggak perduli dengan mereka! Papa hanya perduli dengan nama baik kampus kita! Kamu beri saja mereka uang dengan jumlah yang besar, pasti mereka akan tutup mulut!" perintah Zul Bramantyo.


Fabyan hanya menghela nafasnya panjang. Dia bingung bagaimana menjelaskan semua itu pada Clara. Pasti dosen itu akan mempertanyakan masalah Bima.


Untuk sementara aku harus menghindarinya!


°°°°°°°


Rafael begitu marah setelah mendengar cerita Sofia. Dia dan teman-temannya mencari keberadaan Bima di rumah kontrakannya. Namun rumah itu nampak sepi, tidak ada siapapun di dalam.


Rafael sangat kesal. Dia menendang meja di teras rumah Bima sebagai sasaran atas kemarahannya.


"Mas-masnya mencari siapa?" tanya seorang wanita.


"Bima. Kemana dia, Bu?"


"Oh, Pak Bima! Orangnya sudah pergi, buru-buru sekali dia pergi!"


"Ibu tahu kemana Pak Bima pergi?" tanya Rafael.


"Ehm, sayangnya nggak tahu, Mas!"


"Baiklah, Bu! Terimakasih banyak infonya!"


____


____


"Kau benar, Ton! Laki-laki bejat macam dia tidak pantas hidup!" ujar Angga.


"Banyak mahasiswi di kampus kita, dinodai oleh dosen cabul itu!" timpal Andre.


"Ayo kita cari lagi! Pokoknya kita harus menemukannya! Dan membawanya ke kantor polisi!" ajak Rafae.


"Ayo!" jawab mereka serentak.


Mereka berempat pun pergi meninggalkan kontrakan Bima dengan tangan kosong. Sementara Sofia, dia berlari-lari mencari keberadaan dosennya. Kebetulan Clara baru saja dari ruangan Pak Rektor, di persimpangan lorong kampus Clara melihat Sofia sedang berlarian.


"Sofia!" panggil Clara melambaikan tangannya.


"Bu, Rafael mencari Pak Bima! Mereka akan memberi pelajaran pada Pak Bima!" jawabnya ngos-ngosan. Lalu dia berhenti berbicara dan mengambil nafas sedalam mungkin.


"Rafael ke rumah Pak Bima?"


"Iya, Bu!" Sofia mengangguk.


"Percuma! Bima sudah tidak ada di rumah! Dia sudah pergi!" ujar Clara.


"Bagaimana Ibu bisa tahu?"


"Saya sudah datang sendiri ke rumah Bima! Dia tidak ada di sana!"


"Kok bisa, Bu? Memangnya Pak Fabyan tidak membawa penjahat itu ke kantor Polisi! Banyak mahasiswi disini yang menjadi korbannya lho!" kesal Sofia.

__ADS_1


"Ini Ibu baru saja dari ruangannya! Ibu hanya ingin mendapatkan penjelasan Pak Rektor! Dan ternyata Pak Rektor belum pulang dari acara liburan!" ucap Clara.


"Lalu bagaimana, Bu?"


"Hhhhhhhh, kau tenang saja! Aku akan mengurusnya! Jika memang hukum tidak bisa menjeratnya, maka Aku yang akan memberikan keadilan pada wanita-wanita yang sudah dilecehkan oleh dosen cabul itu!"


"Terimakasih ya, Bu! Jika saja kemarin Ibu tidak datang tepat waktu, mungkin Pak Bima berhasil menodai saya!" Sofia memeluk Clara. Dia sangat bersyukur memiliki dosen seperti Clara. Clara menjawabnya dengan senyuman.


"Oya, Bu! Saat kejadian itu, Ibu mengatakan kalau saya itu adik Bu Clara! Maksudnya apa ya, Bu?"


Degh ...


Astaga, aku keceplosan!


"Oh, itu!" Clara menggaruk bagian ujung hidungnya yang tidak gatal, "Karena aku sudah mengganggap mu seperti adikku sendiri! Dan aku menganggap Ibumu seperti Ibuku!" kekehnya.


"Oh!" gadis itu membulatkan mulutnya.


____


____


Dua orang pria dengan balutan pakaian serba hitam. Menyeret pria separuh baya yang terlihat kacau dengan tubuh penuh dengan luka. Bahkan wajah pria itu tidak bisa dikenali karena akibat puluhan pukulan yang didapatkannya.


Mereka memasuki ruangan yang begitu luas. Lantai berwarna putih seketika ternoda dengan darah yang menetes dari pria yang diseret itu.


Diruangan itu terdapat puluhan pria yang berdiri melingkar. Ditengah-tengah terdapat sosok yang paling mencolok, sedang duduk di sebuah sofa single. Dengan anak buahnya yang berdiri gagah di belakangnya.


Bima yang diseret oleh dua orang, dilempar hingga tersungkur tepat dikaki pria itu. Pria itu menatap Bima dengan tatapan elangnya yang tajam.


Siku kanannya bertumpu pada pinggiran sofa, sembari menyangga pipinya. Sedangkan tangan kirinya di letakkan dipinggir sofa dengan jari-jari mengetuk pinggiran sofa.


Dua orang pria tadi, menyeret Bima supaya berlutut di depan pria yang sedang duduk di sofa. Pria itu menyulutkan sebuah cerutu, dan menghisapnya dalam-dalam.


"Ke-na-pa saya disekap?" ujarnya terbata.


Buaghh!


Bima terpental setelah pria itu memberikannya tendangan. Pria itu memegangi dagunya yang miring akibat tendangan yang dilayangkan olehnya.


"Nampaknya kau sudah bosan hidup!" ujarnya dengan mengatupkan rahang.


"Kau ju-ga breng-sek seperti ayah-mu!" ujarnya terbata.


"Berani-beraninya kau menantangku!"


Pria itu menginjak Bima yang sudah tidak berdaya. Menginjak hingga Bima kesakitan.


"Aaaaaaaaaa!" pekik Bima.


"Ambil pistol ku!" pria itu memasukkan senjatanya tepat di mulut Bima. Dan ...


DORRRRRR ...


Bima terkapar dengan peluru yang menembus pangkal tenggorokan. Bima tewas dengan mata terbuka dan mulut menganga.


To be continued ...


Kasih dukungannya say biar novel ini semakin bersinar....⭐⭐⭐⭐⭐, jangan lupa like dan komentarnya....🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2