
"Clara!" panggil Shane. Clara menoleh, saat ini dia memang membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.
"Shane!" Clara memeluk pria itu. Dia membutuhkan bahu seseorang saat ini. Dulu saat dirinya sedih karena sering diolok teman-teman, bahu Papa Ferdinand yang menjadi sandaran. Sekarang dia sudah tidak memiliki sandaran itu.
"Aku menembak suamiku sendiri, Shane!" Shane sangat terkejut, tapi sebisa mungkin dia tenang.
"Ikut aku!" Shane mengajak wanita itu ke suatu tempat. Ternyata Shane mengajak Clara ke sebuah taman. Di seberang hotel memang ada taman, mereka duduk di sana.
"Kenapa kita kesini?" heran Clara.
"Agar suasana hatimu baik," ujarnya, "Sekarang ceritakan!"
Clara kembali terisak, Shane mengusap lembut kepala wanita itu. Dengan perlahan Clara menceritakan semuanya kepada Shane, dari dia disekap Martin hingga perihal dia menembak suaminya sendiri. Kemudian dia tinggalkan Fabyan begitu saja di sana. Itu semua dia lakukan, karena dia sangat marah pada Fabyan. Clara merasa dibohongi oleh suaminya sendiri. Kini dia menyesal, tapi juga kecewa. Mendengar cerita Clara, Shane hanya bisa menguatkannya.
"Ck, darimana saja Kau. Kenapa kau baru kelihatan?"
"Aku harus mengurus Perusahaan LNK, ada sedikit masalah!"
"Apakah sudah selesai?"
"Syukurlah sudah," jawabnya, "Ayolah mana Clara yang aku kenal! Clara yang kuat dan hebat?"
"Hhhhhhh, aku bukan wonder woman. Aku juga punya perasaan. Mereka semua yang tidak waras karena membuatku emosi!" Shane tersenyum, ternyata wanita cantik yang ada didepannya masih sama seperti dulu.
"Kalau begitu hapus ingusmu!"
"Kau mau cari mati ya!" galak Clara.
"Ini yang aku suka, Clara yang galak! Hehehehe!" tawa Shane. Clara ikut terkekeh.
Dret ... Dret ... Dret
Sebuah notifikasi masuk ke dalam kontak ponselnya. Sebuah nomor yang tidak ia kenal, Clara sedikit memicingkan matanya.
"Siapa?"
"Entahlah,"
"Angkat saja?" suruh Shane.
_____
_____
Raut muka Clara mendadak berubah setelah mendapat panggilan itu. Shane jadi panik melihatnya.
"Ada apa?" tanya Shane.
"Papa Bastian,"
"Ada apa dengannya?"
__ADS_1
"Dia sakit,"
"Benarkah?"
"Shane aku harus ke rumahnya!" ujar Clara.
"Baiklah aku antarkan!"
"Oke, Terimakasih!"
Disisi lain, Fabyan mengerjapkan matanya, dia mulai tersadar setelah beberapa jam pingsan. Saat membuka mata, Abrisam dan Santi sudah duduk disampingnya. Mereka mengulas senyum saat dirinya tersadar.
"Byan, kamu sudah sadar, Nak?" Santi khawatir.
"Aku ada dimana, Mah?"
"Kamu di Rumah Sakit, By! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Abrisam.
"Bagaimana bisa?"
"Mana Papa tau. Kami ditelfon seseorang, katanya kamu di Rumah Sakit. Kami panik dan langsung kesini!" jelas Abrisam.
Fabyan menoleh ke arah Mamanya.
"Iya, Nak. Kamu tertembak, tapi saat kami kesini, Kamu sudah dioperasi dan kamu tidak sadarkan diri," imbuh Mama, "Sekarang katakan sama Mama, siapa yang tega melakukan ini, Nak?"
"Ehm, itu hanya tembakan salah sasaran kok, Ma! Dan secara kebetulan kebetulan Fabyan tertembak!" jawab Fabyan. Tidak mungkin dia menceritakan kalau yang menembaknya adalah istrinya. Bisa panjang urusannya.
"Ah, rasanya Papa nggak percaya!" ucap Abrisam, "Lalu dimana istrimu? Saat seperti ini kenapa istrimu tidak ada di sampingmu?"
Tuh kan pasti Papa akan bertanya keberadaan Clara!
Sial, Aku harus jawab apa!
"Byan, Ayo jawab pertanyaan papa kamu?" ucap Mama.
"Clara, dia pergi, Ma, Pa. Kami sedang ada sedikit masalah!" jawab Fabyan asal.
"Tuh kan, sejak awal Papa juga nggak setuju kamu dengannya. Tapi kamu dan Mama ngeyel!" ketus Papa, "Istri macam apa, melihat suaminya terluka begini dia malah pergi keluyuran!" sengit Papa.
"Dia nggak keluyuran, Pah. Kami hanya sedang ada masalah! Makanya kami membutuhkan waktu masing-masing!" jawab Fabyan tidak terima kalau istrinya dijelek-jelekkan oleh Papanya sendiri.
"Alah, Alesan! Memang kalian ada masalah apa sampai dia harus pergi meninggalkan kamu! Baru saja menikah sudah ada masalah, bagaimana satu Minggu, satu bulan, apalagi satu tahun!"
"Itu bukan urusan Papa!" bela Mama, "Mereka sudah sama-sama dewasa. Lagipula kita tidak perlu ikut campur!"
"Iya, Ma! Tapi ... !"
"Sudah nggak usah tapi-tapian! Habisnya Papa, bukan membantu menyatukan mereka, malah memperkeruh suasana!" sindir Mama.
"Bukan begitu, Ma. Papa cuma heran!"
__ADS_1
"Sssssstttttttt! Diam, Pah! Papa nggak liat Fabyan sedang sakit, dan butuh istirahat!"
"Iya, Papa liat kok!"
"Makanya diam!" seru sang istri. Fabyan hanya tergelak di dalam hati.
******###******
Mobil mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang, membuat Clara kelelahan dan tertidur sambil bersender di jok mobil. Sesekali Shane melirik ke arah wanita itu, dia tersenyum saat melihat Clara tertidur pulas. Wanita itu selalu cantik meskipun dalam keadaan tidur.
Tidak terasa mobil mereka sampai di Mansion milik Bastian. Para pengawal yang tahu kalau Clara adalah putri kandung pimpinannya, dengan ramah mereka mempersilahkan mereka masuk.
"Papa!" Clara berlari kecil menuju ruangan Bastian. Terakhir bertemu pria itu, saat dipesta pernikahan. Pria itu menjadi wali, dan sebenarnya Clara bahagia, di acara penting itu sang ayah menyaksikannya menjadi seorang pengantin.
"Clara!" Bastian tergolek lemah ditempat tidur. Melihat putrinya datang dia begitu bahagia.
"Papa sakit apa?"
"Cuma sakit biasa. Papa tidak apa-apa!"
"Wajah Papa pucat. Apakah Papa sudah memanggil Dokter?" Clara khawatir. Meskipun mereka pernah bermusuhan, tetap saja Clara khawatir.
"Belum. Tapi sebaiknya tidak usah! Melihatmu datang, Papa bahagia! Kau adalah obat kesembuhan Papa!" ucap Bastian menggenggam tangan putrinya.
"Aku akan panggilkan Dokter!"
"Tidak perlu. Obat Papa masih banyak, Nak. Baru satu Minggu yang lalu Papa ke Dokter!"
"Papa yakin?"
"Iya, Kau tenang saja! Papa hanya membutuhkanmu untuk selalu dekat dengan Papa!"
"Baiklah, Aku akan ada disini untuk Papa!" Bastian tersenyum.
Manik Bastian menoleh ke arah pria yang bersama dengan putrinya. Dan pria itu bukanlah Fabyan. Tapi dia tidak mau bertanya sebelum sang putri menjelaskan. Bastian hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan putri satu-satunya.
"Shane, Kau pulanglah! Aku ingin disini!"
"Baiklah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku!" Clara menganggukkan kepalanya.
Shane pun berpamitan kepada Bastian, dia menitipkan Clara kepada ayahnya. Mungkin memberikan waktu untuk ayah dan anak itu bisa menumbuhkan rasa sayang sebagai ayah dan anak dihati keduanya. Terutama Clara, dia memang harus menghabiskan waktu banyak untuk ayahnya, dengan begitu Clara bisa akrab dan memaafkan sang ayah.
To be continued ...
***Hey-hey, ketemu lagi sama Author kece tentunya dengan cerita yang kece juga. Tetap berikan dukungan kalian dengan memberikan Like, rate bintang lima, favorit, komentar sebanyak-banyaknya, gift kalian bisa berupa bunga atau kopi yang penting ikhlas. Hehehehe ...
Dan bantu Author untuk menambah populeritas karya ini. Karena karya ini sedang author ikutkan lomba. Bagaimana caranya? Penasaran.
Gampang banget! Berikan dukungan kalian dengan memberikan komentar disetiap Bab nya. Dengan memberikan like dan komentar secara otomatis akan menambah kepopuleritasannya.
Terimakasih buat teman-teman yang sudi memberikan bunga dan kopinya. Author ucapkan banyak-banyak terimakasih. Sun jauh dari Author CF .....😘😘😘***
__ADS_1