
Reva bingung di satu sisi, dia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dia cintai, tapi di satu sisi dia ingin menolong Adel. Mengingat kejadian kecelakaan itu, membuatnya sangat khawatir.
Reva mengangguk walaupun hatinya masih ragu.
"Ak aku mau tante, aku akan membantu tante, tapi bagaimana dengan anak tante, dia sudah mencintai seseorang, jadi tidak mungkin dia mau di jodoh kan, apa lagi dengan orang yang tidak dia kenal."Ucap Reva
"Yang terpenting kamu sudah setuju sayang, urusan Arka itu tante yang akan mengurus nya. Terimakasih sayang kamu memang gadis yang baik" Adel memeluk Reva dengan sayang.
"Teh, hayu atuh berangkat, aku ada kuliah pagi nih" Ajak Asep yang terlihat menuruni anak tangga.
"Hayu..hayu..bentar teteh ambil tas di kamar dulu" Reva berdiri dan tergesa menuju ke kamarnya setelah Adel melepaskan pelukannya.
"kami berangkat kerja dulu ya tan" Reva menghampiri Adel dan mencium tangan nya, dan di ikuti oleh asep.
"Assalamualaikum" Ucap Reva dan Asep berbarengan.
"Waalaikumsalam" Jawab Adel
Adel yang melihat Reva sudah menghilang di hadapan nya, mengambil ponsel dan menekan beberapa nomor di ponselnya, menghubungi seseorang.
"Hallo sayangg" Ucap Adel setelah beberapa kali nada tutttt nya terdengar.
"ada apa bu? aku akan mengirim pak Ade untuk menjemput ibu hari ini"
"Ibu tidak mau di jemput pak ade, ibu ingin kamu yang menjemput ibu" Adel merajuk.
"Hari ini aku ada meeting bu, aku tidak bisa meninggalkan kantor" jelas Arka.
"Apa kantor lebih penting dari pada ibu mu yang sudah tua ini, ibu masih trauma naik mobil, ibu ingin anak ibu yang menjemput" Ucap Adel dengan nada kecewa.
"..." tidak ada jawaban apapun dari Arka.
"Hallo..Arka, pokonya ibu tidak mau tahu, jemput ibu SE.KA.RANG!!!!" Setelah jurus merajuknya di rasa gagal kini Adel menggunakan jurus ancaman.
"Ta..._tut..tut..tut.."
Adel menutup telefon nya sepihak, sambil tersenyum menang. Dan berjalan keluar menghampiri bi ihat yang sedang menyiram tanaman di halaman.
__ADS_1
Sementara di kafe Reva tengah termenung, tidak sadar dengan kehadiran Salfa yang mengendap endap di belakang nya.
"DOOOOR" Salfa mengagetkan Reva dari arah belakang.
"AGGHHHH...BANGKONG LUNCAT..BANG.. Ishhh teteh iseng pisan, untung jantung aku buatan Allah kalo buatan china udah copot ini" Ucap Reva kesal.
(Bangkong luncat \= kodok loncat).
"Lagian pagi - pagi udah bengong, kaya orang ga kebagian BLT dari pemerintah aja hihiii" Goda Salfa yang sudah duduk di samping nya.
"Aku lagi bingung teh" Reva menyangga dagu nya dengan ke dua tangan yang bertempu di atas meja.
"Ada masalah apa?? Tentang hutang lagi??" Tebak salfa.
"Bukan, kalo hutang itu kan udah di lunasin kemarin sama tante Adel, kan kemarin aku udah cerita, masa lupa. Masih muda udah pik*n, judul sinetron ikan terbang aja selalu inget" Reva sedikit menggoda Salfa.
"ishhh..iya maaf, terus bingung kenapa. Kamu di jodohin??" Tanya Salfa asal, Reva langsung kaget dan menghadapkan badan nya menghadap Salfa yang tengah menyedot minuman di tangan nya.
"Da..dari mana teteh tahu" Tanya Reva langsung.
"Uhukk.uhukk" Salfa tersedak, memukul mukul dada nya pelan, mata nya sedikit berair karena rasa perih pada tenggorokan dan hidungnya.
Reva mengangguk pelan dan menceritakan semua nya pada Salfa.
"Wahhh..wahhh hidup kamu udah kaya sinetron yang sering aku tonton itu neng, biasanya di jodohin terus jadi cinta beneran, pas lagi cinta- cinta nya nanti datang deh orang ketiga dan ku menangissss melepaskan kepergian diri mu dari sisi hidup ku harus slalu kau tahu..aku lah hati yang telahhhhh kau sakiti" Salfa menyanyi dengan penuh penghayatan.
"ehh ehh mau kemana? kamu belum selesai cerita!!!" Reva pergi meninggalkan Salfa, dan membuka pintu ruangan nya.
"Nyesel aku cerita ama ratu halu kaya teteh" Ucap Reva sebelum menutup pintu tersebut.
Matahari sudah meredup tanda siang akan segera pergi.
Terlihat sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan pagar rumah Reva.
Adel duduk bersama anak nya di teras rumah, dengan segelas teh dan kopi, beserta beberapa potong bolu kukus pisang yang masih mengepulkan asapnya.
Adel menatap anaknya yang masih sibuk dengan ponsel di tangan nya.
__ADS_1
"Ibu mau kamu menikah" perkataan Adel mampu mengalihkan perhatian Arka dari ponselnya, kini Arka menatap Adel dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
"Bukan nya ibu ga suka sama Luna?? kita bisa membicarakan nya nanti di rumah bu, tidak di sini" Arka masih menatap ibunya.
"Ibu tidak menyuruh mu untuk menikahi perempuan itu" Adel menghindari tatapan anak nya.
"Lalu?" Tanya Arka
"Reva..ibu ingin kamu menikahi Reva" Kini Adel menatap Arka yang sudah membulatkan mata nya lebar, terlihat dia sangat kaget tentang keinginan ibu nya tersebut.
"Jangan bercanda berlebihan, apalagi kita masih di rumah nya, tidak enak jika nanti keluarga nya tahu ibu menjadikan wanita ibu sebagai lelucon" Arka mencoba menetralkan ekspresinya.
"Ibu serius sayang, ibu ingin Reva menjadi menantu ibu, dia gadis yang baik, dia gadis yang tepat untuk menjadi istri mu" Adel meyakin kan Arka.
"Aku tidak mau..!!! Ayo kita pulang sekarang aku tidak mau membahasnya lagi". Ucap Arka tegas, berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Baik..kalau begitu ibu akan mencoret nama mu dari kartu keluarga" Adel mengancam Arka, dan Arka pun membalikan badan nya lalu tersenyum sinis dan melipat kedua tangan nya di atas perut roti sobek nya.
"Lakukan saja, aku akan sangat senang bisa jadi pengangguran" jawab Arka santai.
"Ibu akan membuat kartu keluarga baru setelah ibu menikah lagi" Adel tidak pantang menyerah.
"Aisshhh..jurus kuno itu lagi". Adel tersenyum menang melihat Arka yang sudah duduk kembali di samping nya.
"Kuno tapi masih ampuh kan". Adel tersenyum bangga pada diri nya sendiri, dia tahu jika anak nya selalu kalah dengan ancaman itu. Sejak suami nya meninggal, dia memang tidak pernah punya niat untuk menikah lagi, karena Adel sangat mencintai mendiang suami nya. Tapi dia selalu mengguna kan cara itu untuk menaklukan anak kesayangan nya.
Arka terdiam memikirkan permintaan ibunya, dia memang tidak suka dengan perjodohan, tapi dia sangat tidak suka ada orang yang akan menggantikan sosok ayah nya, setiap membayangkan nya saja dia akan merasa sangat marah.
" Membayangkan ibu duduk di pelaminan bersama laki - laki dengan usianya yang sekarang, pasti akan sangat memalukan, apalagi ibu yang sudah tidak muda lagi sampai memberi ku adik, pasti akan menjadi tranding topik dan masuk ke on the spot" pikir Arka yang mengacak ngacak rambut nya prustasi.
"Tapi mungkin dengan cari ini aku bisa memulai untuk membalas mereka" Pikir Arka dan membenarkan posisi duduknya kemudian menatap ibu nya serius.
"Aku mau menikahinya dengan satu syarat"
Bersambung....
Mohon Like & Coment nya ya...
__ADS_1
Kalau punya poin dan koin lebih bisa Menyumbang Vote juga ya...
Terima kasih...