ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 35


__ADS_3

"Bi, hari ini gak usah ke kafe, biar neng aja yang ke sana" Ucap Reva yang membereskan piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.


"Emangnya kamu udah sembuh, itu suara masih serak terus juga matanya masih sembab kaya yang gak tidur semalaman, mending istirahat di rumah aja" Jawab bi ihat yang membantu membawa gelas - gelas yang kotor.


"Neng baik - baik saja bi" Ucap Reva yang mulai mencuci perabotan tersebut.


"Ya udah, terserah kamu we lah" bi Ihat menyerah akhirnya.


Setelah bersiap dengan jaket dan helmnya, Reva turun ke bawah menuju tempat motornya biasa terparkir.


"Sedang ngapain kamu di situ?" Tanya Reva ketika melihat Arka yang sudah bersandar di mobilnya.


"Melihat kafe mu" Ucap Arka singkat.


"Ayoo" Lanjut Arka membuka pintu mobilnya untuk Reva.


"Aku naik motor saja, jam segini jalanan pasti macet karena jam masuk kantor, lagian tempatnya juga tidak terlalu jauh" Ucap Reva yang melewati Arka dan naik ke motornya.


"Motor?" Tanya Arka melihat ke arah motor metic milik istrinya.


"Pasti panas jika harus mengendarai motor dan bagaimana jika nanti masuk angin" Lanjut Arka.


"Aku tidak akan mengajak mu, lagian lelaki macam apa kamu itu takut panas dan masuk angin, kamu pikir kamu itu vampir yang akan mati karena sinar matahari" Jawab Reva meledek suaminya.


"Aku tidak takut, aku hanya tidak mau kulit ku menjadi kering nantinya, seperti kulit mu coba lihat itu kusam dan kering" Arka menatap tangan Reva yang sudah memegang stir motornya.


"Iya, kulit ku memang kering sudah siap untuk di goreng biar jadi kerupuk kulit, enak kok buat jadi temen makan bakso" Ucap Reva kesal, dan hendak menjalankan motornya.


"Tunggu...tunggu" Arka menahan laju motor Reva.


"Apa lagi? kau mau bilang jika kulit ku bersisik seperti ikan nila?" Tanya Reva yang masih kesal.


*Yang aku rasain sebagai seorang wanita kalau ada yang komentar tentang masalah fisik yang negatif tuh suka sensitif, ada yang ngerasa gitu juga gak sih??


"Ambilkan aku helm, aku akan ikut dengan mu naik motor" Ucap Arka datar.


"Aku akan berangkat sendiri, aku tidak akan lama, kamu tunggu saja di rumah sebentar" Jawab Reva.


"Aku tidak mengijinkan mu pergi sendirian" Ucap Arka mengambil kunci motor yang sudah Reva pasang di motornya.


Reva memutar bola matanya kesal, Reva menuruni motornya, masuk ke dalam rumah dan beberapa saat Reva kembali dengan sebuah helm dan jaket di tangannya.


"Nihh, pakai jaket juga biar kulit kamu tetep glowing dan gag kering" Ucap Reva menyindir Arka.

__ADS_1


"Pendendam" Gumam Arka yang mulai menakai jaket dan helm yang di pijam Reva dari Asep.


"Gak sekalin ganti celana panjang aja, nanti kalau item gimana, di marahin ibu lho hihihii" Ucap Reva menjahili Arka.


"Terus aja terus, bawel, ayo naik" Ucap Arka yang sudah menaiki motor tersebut.


Reva menuruti perkataan Arka dan naik di belakang suaminya, namun Reva bingung ketika Arka tidak kunjung juga melajukan motornya.


"Kenapa belum jalan juga, apa kamu tidak bisa mengendarai motor?" Tanya Reva.


"Enak saja, pesawat juga bisa aku jalankan, apalagi hanya benda sekecil ini" Jawab Arka sombung.


"Lalu?" Tanya Reva.


"Aku hanya takut jika kau jatuh" Ucap Arka tersenyum jahil.


Reva mengerti maksud Arka dan meletakan kedua tangannya di atas punggung Arka.


"Apa kau pikir sedang di bonceng abang-abang ojol?" Tanya Arka kesal.


Reva menghembuskan nafasnya kasar dan turun kembali dari motor tersebut.


"Sebenarnya mau kamu itu apa? kapan kita akan berangkat, jika mengendarai motor saja banyak sekali persyaratannya?" Tanya Reva yang berdecak pinggang menatap Arka kesal.


"Bilang dari tadi jika kau ingin aku peluk" Ucap Reva malu-malu dan membuat pipi Arka memerah.


Bibi, Mamang dan Asep tertawa melihat drama yang di lakukan pengantin baru itu.


"Syukurlah sepertinya mereka sudah baikan yah pak" Ucap bi Ihat yang melihat pasangan itu sudah pergi.


"Bapak sudah bilang, kita gak perlu terlalu khawatir bu, karena dalam rumah tangga yang namanya pertengkaran itu seperti bumbu pemanis, yang dapat mempererat suatu hubungan" Ucap mang Kokom sebelum masuk ke dalam rumah.


Sepanjang perjalanan Reva memeluk pinggang Arka, dengan dagu yang di tempelkan di punggung suaminya.


"Apa tidak apa-apa, hari ini kamu gak masuk kantor?" Tanya Reva kepada suaminya.


"Apa, kamu bicara apa? aku tidak dengar?" Arka berbicara dengan suara setengah berteriak.


"Makanya jangan ngebut bawa motornya, apa kamu pikir kita sedang balapan liar?" Suara Reva tidak kalah kerasnya.


"Hahaaa maafkan aku, aku hanya senang, karena sudah lama sekali aku tidak mengendarai sepeda motor" Ucap Arka yang menurunkan kecepatan kendaraannya.


"Apa yang kau bicarakan tadi?" Lanjut Arka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, nanti saja kita bicarakan kalau sudah sampai kafe" Jawab Reva dengan mengeratkan pelukannya, membuat Arka tersenyum melihat tangan yang melingkar di pinggangnya.


Setibanya di kafe, Reva langsung masuk dan menghampiri Salfa di meja kasir.


Mereka langsung berpelukan sambil meloncat-loncat kecil seperti anak-anak yang sudah lama tidak bertemu.


"Maaf semalam aku ke rumah, tapi kata bibi kamu udah tidur, dan tadi pagi aku bangun kesiangan jadi tidak bisa menemui mu dulu" Ucap Salfa setelah melepaskan pelukannya.


"Tidak apa-apa, tapi sepertinya teteh seneng ya setelah aku pergi, tuh buktinya pipi makin lebar aja" Ucap Reva mencubit pipi Salfa.


"Ihhhh sakit, ini tuh gara-gara bibi kamu, hampir setiap kali datang kesini, bibi nyobain bikin resep baru dan kami yang di jadiin kelinci percobaannya" Ucap Salfa mengusap pipinya.


Reva tertawa dan mengalihkan pandangannya ketika mendengar kegaduhan seisi kafe yang histeris melihat ke arah luar.


Reva dan Salfa saling melempar pandang, setelah mengangkat kedua pundak masing-masing, mereka melangkah mendekati sumber kegaduhan itu.


Reva membulatkan matanya ketika melihat suaminya yang menjadi penyebab keributan di dalam kafenya, semua pengunjung perempuan mencuci matanya dengan pemandangan yang langka, mereka berdecak kagum sambil memotret dengan kamera ponsel masing-masing.


Arka masih berdiri di dekat motor sambil berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.


Reva terlihat kesal mendengar para wanita memuji ketampanan suaminya, dan memandangnya dengan tatapan genit.


"Kenapa dia harus terlihat setampan itu hari ini, seharusnya aku memakaikan masker tadi?" Gumam Reva yang menghampiri Arka ke luar.


"Kamu sengaja menggoda iman para wanita itu?" Tanya Reva ketus.


Arka yang baru mengakhiri pembicaraannya bingung dengan pertanyaan Reva yang baru saja menghampirinya.


"Apa yang kau maksud, apa aku terlihat seperti setan yang suka menggoda iman seseorang, apa ada setan yang setampan diri ku?" Tanya Arka narsis.


"Coba kau lihat ke arah kafe, kaca itu penuh di tempeli mata yang melihat ke arahmu sejak tadi, coba kau bayangkan jika mata mereka mengeluarkan sinar laser, tubuh mu pasti sudah bolong-bolong terkena tatapan mereka" Ucap Reva kesal.


"Lihat lah dia sedang cemburu, ahhh lucu sekali semakin cute saja" Pikir Arka tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Kau yang meninggalkan ku disini, kenapa kau yang marah, ayo bawa aku masuk, aku takut badan ku bolong-bolong nanti" Ucap Arka tersenyum dan merangkul pundak Reva.


Tatapan para wanita berubah kecewa melihat Arka merangkul Reva dengan mesra, berbeda dengan Reva yang tersenyum bangga memperlihatkan kepemilikan lelaki tampan tersebut.


Bersambung.


Jangan lupa Like terus komentar ya, dan kasih aku bintang lima juga, jangan lupa untuk kasih Vote yang banyak.


Terima kasih, hari ini aku kasih doble up buat reader setiaku, jadi jangan lupa kalian kasih aku Vote doble juga....

__ADS_1


__ADS_2