
"Jadi ini ruangan tempat ķamu bekerja?" Tanya Arka setelah Reva mengajaknya untuk masuk ke ruangan, tempat sebelumnya ia bekerja.
"Iya" Jawab Reva.
Arka berkeliling, melihat foto-foto di dinding ruangan tersebut dan tersenyum melihat satu persatu gambar wajah istrinya bersama orang-orang terkenal yang pernah memgunjungi kafenya, mulai dari artis sampai youtuber.
"Kau tidak bisa terlihat cantik dari sudut manapun" Ucap Arka tersenyum jahil menatap foto istrinya.
"Iya aku memang jelek, tidak secantik pacarmu itu" Ucap Reva menekuk bibirnya kesal.
"Dia bukan pacar ku lagi" Ucap Arka menghampiri Reva yang sedang duduk melihat laporan keuangan kafenya bulan ini.
Reva menghentikan kegiatannya dan menatap Arka dengan serius.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Reva khawatir.
"Kamu kira aku anak ingusan yang akan menangis saat di khianati dan putus cinta?" Ucap Arka menyebikan bibirnya.
"Ahhh kau benar-benar pohon pisang yang hidup" jawab Reva mengangguk-ngangguk.
"Apa maksud mu?" Tanya Arka
"Iya, pohon pisang yang memiliki jantung saja tanpa memiliki hati" Jawab Reva.
"Apa kau pikir aku tidak memiliki perasaan?" Tanya Arka lagi.
"Iya, jika kau memilikinya, setidaknya kau akan merasa sedih walaupun itu cuma sedikit" Reva menjelaskan.
"Untuk apa aku bersedih karena wanita seperti itu, aku malah senang karena aku mengetahui kebusukannya lebih cepat" Jawab Arka tersenyum.
"Apa kau terbiasa bersedih untuk laki-laki yang mencampakan mu?" Lanjut Arka menatap Reva yang terlihap memikirkan sesuatu.
"Kau bodoh sekali" Ucap Arka lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari Reva.
"Dia benar, k**enapa aku harus menangisi semua orang yang sudah menyakiti ku, seharusnya aku bahagia ketika Tuhan menunjukan kebusukan mereka pada ku" Pikir Reva mengingat orang-orang yang meninggalkan saat Reva kehilangan kemewahannya.
"Tokk..tok..tok.." Arka mengetuk kening Reva, membuat Reva mengaduh karena sakit.
"Apa?? Kau kira jidat ku ini pintu, kau memukul kepalaku yang berharga" Reva mengusap-usap kening dengan menggunakan rambutnya.
"Otak mu saja langsung ngehank ketika aku mengajak mu berbicara, apanya yang berharga? ganti saja isi kepala mu dengan RAM yang lebih besar" Jawab Arka.
"Memang kau pikir otak ku ini sebuah mesin, kenapa kau tidak pulang saja ke jakarta, kau membuat tensi ku terus naik, kau memang lebih pantas sibuk bekerja daripada kau sibuk nyinyir dengan mulut mu" Reva mengomel membuat Arka tersenyum.
"Lihat si g*la itu, malah tersenyum ketika aku sedang marah" pikir Reva menatap Arka sinis.
__ADS_1
"Aku akan kembali ketika kau sudah tenang" Ucap Arka.
"Aku sudah tidak apa-apa, kau tidak usah khawatir" Jawab Reva meyakinkan.
"Kalau begitu nanti sore kita akan pulang" Ucap Arka menatap tajam ke arah Reva.
"Ki kita? pu pulang?" Tanya Reva tak mengerti.
"Iya, kita pulang, kau dan aku akan pulang, aku kemari menyusul mu untuk menjemput mu, aku sudah katakan kau adalah tanggung jawabku sekarang jadi aku tidak akan pulang tanpa dirimu" Ucap Arka tegas.
"Ta..tapi..sekarang kau sudah mengetahui kejahatan ayah Luna, dan kau juga sudah tidak bersama dia lagi, kata ibu aku hanya harus bertahan menjadi istri mu sampai ibu bisa menyingkirkan orang-orang jahat itu, jadi tidak bisakah kita_" Reva menunduk tidak berani menatap wajah suaminya ketika Arka menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Apa kau pikir, memulai dan mengakhiri sebuah pernikahan itu sesuatu yang gampang? Apa kau pikir bisa mempermainkan ikatan suci itu? Apa kau tidak mendengar saat aku menyebut nama Almarhum ayahmu di belakang namamu saat aku mengucapkan Ijab qobul, bukan hanya di hadapan para saksi tapi aku mengucapkannya di hadapan Tuhan kita dengan sakral? Apa kau pikir aku melakukannya dengan main-main?" Tanya Arka menatap Reva dengan marah.
Arka berdiri dari duduknya, meninggalkan Reva yang masih tertunduk di kursinya.
Arka keluar dari kafe dan menghentikan sebuah taxi yang melintas di hadapannya.
Reva meneteskan air matanya, mengingat setiap ucapan Arka yang baru saja di dengarnya, Reva berdiri dan menyusul Arka keluar dari kafenya, namun ia tidak melihat sosok yang ia cari, air matanya semakin deras karena menyesali perkataan yang menyakiti hati Arka.
Reva bergegas mengambil jaket dan helmnya, menuju motor dan melajukannya.
Sepanjang perjalanan Reva sesekali mengusap air matanya yang masih saja keluar, hingga ia sampai di rumahnya, memarkirkan sepeda motor dan melepaskan helm yang ia kenakan.
Ia masuk ke dalam rumah namun hanya melihat bi Ihat sedang memasak makan siang untuknya.
Langkah Reva terhenti mendengar Arka yang belum pulang.
"Kemana dia? aku kira dia tadi pulang kesini, apa jangan-jangan dia pulang ke jakarta? tapi enggak mungkin dia ninggalin mobilnya disini, terus kemana dia pergi?" Pikir Reva.
Reva mendekati bibinya yang masih sibuk di dapur.
"Aku melupakn sesuatu bi, jadi aku pulang untuk mengambilnya dan Arka masih di kafe" Ucap Reva menuangkan air ke dalam gelas, dan meminumnya.
"Aku balik lagi ke kafe ya bi, Assalamualaikum" Ucap Reva bergegas meninggalkan rumah dan kembali melajukan motornya.
"Katanya ada yang ketinggalan, tapi anak itu tidak terlihat mengambil apapun" Gumam bi Ihat setelah kepergian Reva.
Sepanjang jalan Reva memperhatikan sekelilingnya, mencari sosok suaminya.
"Tidak mungkin dia nyasarkan?" Gumam Reva.
Reva kembali sampai di kafenya.
"Teh tadi lihat Arka keluar dari kafe gak? dia pergi ke arah mana ya?" Tanya Reva yang melihat Salfa.
__ADS_1
"Aku cuma lihat tadi teh dia naik taxi, kalian bertengkar ya?" Tanya Salfa kepo, yang di angguki oleh Reva dengan menunduk.
"Aisshhh pengantin baru masa udah pasea, seharusnya mah kan lagi lengket-lengketnya kalian tuh" Ucap Salfa menatap Reva tidak percaya.
Reva tidak mendengarkan ocehan Salfa, dia langsung masuk ke dalam ruangannya dengan lesu.
Hari mulai gelap tanda matahari sudah berpamitan, Reva sudah sampai di rumahnya.
Reva langsung menaiki anak tangga dengan tergesa menuju kamarnya.
Dia tersenyum melihat sosok yang mengisi pikirannya seharian tadi, Reva langsung menghambur ke arah Arka yang sedang duduk di atas tempat tidur, dan memangku laptop di pahanya.
Arka menatap aneh Reva yang berlari ke arahnya dan tersenyum dengan linangan air mata di pipinya.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Arka yang menurunkan laptop dari pangkuannya.
"Aku minta maaf hiks..hiks.." Ucap Reva langsung memeluk suaminya dengan kuat, sehingga membuat Arka yang tadinya duduk kini terjatuh ke belakang karena serangan Reva yang mendadak.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Arka yang di tindih oleh Reva.
"Ak aku min minta maaf, dan ak aku menyesal hiks..hiks.." Ucap Reva di tengah tangisannya.
Arka menganggkat wajah istrinya yang tenggelam di lehernya.
"Aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal" Ucap Arka menatap wajah istrinya dan menghapus air mata di pipi itu.
Reva melihat wajah Arka dari dekat, dan merasakan jantungnya hampir meledak.
"Kenapa aku murahan sekali, menghambur memeluknya, dan kenapa aku ingin sekali menyentuh bibir itu?" pikir Reva memandang wajah suaminya.
"Cupp" Reva mencium bibi Arka di bawahnya.
"Aggghhhh aku pasti sudah gila kenapa aku melakukannya, kenapa aku tidak bisa menahan keinginan gilaku" Reva merutuki kebodohannya.
"Wahhh kau sudah berani sekarang mencuri ciumanku" Ucap Arka membuat pipi Reva memerah.
"Dan kenapa badan mu berat sekali" Lanjut Arka menatap jahil, dan mendekap tubuh Reva yang hendak turun dari tubuhnya.
"Le lepaskan, ka kau bilang tu tubuhku berat, singkirkan tangan mu, aku mau turun" Ucap Reva berontak saat tangan Arka mendekat tubuhnya erat.
"Enak saja kau mau pergi, kau harus tanggung jawab karena sudah membangunkan cacing yang sedang tidur" Ucap Arka menyeringai jahat.
Bersambung....
Mohon Like, terus komentarnya, lalu klik bintang lima untuk ku.
__ADS_1
Dan jangan lupa Vote yang banyak ya..
Terima kasih