ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 34


__ADS_3

Arka keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk bergambar hello kitty, Reva terlihat menahan senyum melihat pemandangan langka di hadapannya.


"Apa yang kau tertawakan? biasanya seorang gadis akan berteriak dan menutup matanya ketika melihat lelaki tampan bertelanjang dada" Ucap Arka menatap Reva.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu, aku justru menikmati pemandangan lelaki yang memakai handuk pink, wahhh manis sekali, apa aku harus mengabadikannya?" Tanya Reva menantang.


"Dasar tidak tahu malu" Arka mengambil baju gantinya, celana abu-abu pendek dengan kaos warna hitam.


"Apa kau tidak akan mandi, sepertinya kau ingin melihat ku mengganti pakaian?" Lanjut Arka.


"Kau kira aku akan rela menodai mataku yang suci ini hanya untuk melihat cacing yang sudah kau jinakan" Ucap Reva yang berjalan melewati Arka dan menuju kamar mandi.


"Heiii enak saja kau menyebut naga ku ini cacing, tokk..tokk..tokk.." Arka menggedor - gedor pintu yang sudah Reva tutup.


"Buka heyy ayo buka, aku akan menunjukan cacing yang kau bicarakan!!" Ucap Arka kesal.


Sedangkan Reva di dalam kamar mandi cekikikan karena berhasil membuat Arka kesal.


Arka meninggalkan kamar, dan menghampiri mang kokom yang sedang menyiram tanaman, di depan rumah.


"Selamat pagi" Ucap Arka.


"Udah bangun jang?" Tanya mang kokom yang menutup kran air.


"Iya mang, udara di sini seger banget ya mang bikin betah aja, apalagi pagi-pagi kaya gini" Ucap Arka merenggangkan otot-ototnya.


"Kalau betah, tinggal disini aja, ini juga kan rumah kalian" Ucap mang Kokom yang sudah duduk di kursi dan di ikuti oleh Arka.


"Cieee pengantin baru, rambutnya basah terus, di panggil ibu tuh di suruh sarapan." Ucap Asep yang baru saja datang.


Arka dan mang Kokom mengangguk dan berdiri, berjalan menuju meja makan.


"Sep tolong bangunin kakak kamu sana, masa gak malu sama suaminya yang udah bangun dari tadi" Ucap Arka kepada Asep.


"Gak usah Sep, biar aku aja yang manggil Reva" Ucap Arka menghentikan Asep yang sudah berdiri.


Arka masuk ke dalam kamar, dan melihat Reva yang sudah berpakaian dengan handuk yang masih melilit di kepalanya, sedang duduk menunduk mengoleskan salep di lututnya yang terluka.


Arka mendekat dan berjongkok di hadapan Reva yang duduk di tempat tidur, Arka mengambil salep di tangan Reva dan mengoleskannya lembut.


Sesekali Arka meniup lutut istrinya ketika ia mengoleskan salepnya.


"Maafkan aku" Ucap Arka untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Pasti sangat sakit" Lanjut Arka yang melihat luka istrinya.


Arka mendongak dan menatap istrinya yang tidak menjawab perkataannya, Arka melihat Reva tengah menggigit bibirnya yang bergetar dan matanya yang sudah berair.


Arka menyentuh pipi kiri Reva yang masih sedikit membiru, mengusapnya lembut.


"Apa masih sakit?" Tanya Arka yang di angguki oleh Reva dengan air mata yang deras mengalir.


Arka memeluk Reva dengan erat, berharap bisa menenangkan istrinya.


Reva membalas pelukan Arka, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Setelah Reva sudah tenang Arka melepaskan pelukannya, mengusap pipi Reva yang masih basah dan mengucupnya, membuat pipi Reva kini bersemu merah.


"Lihat pipi mu itu, sudah seperti kepiting rebus saja" Ucap Arka terkekeh.


"Ikhh kamu mah ngerusak suasana aja" Ucap Reva memukul pelan dada Arka dengan manja.


Arka memeluk istrinya kembali dengan lembut.


"Kenapa kau berani sekali tidak menjawab telfon ku?" Tanya Arka.


"Aku tidak menyentuh ponselku setelah keluar dari kantor" Jawab Reva yang melepaskan pelukan suaminya dan berjalan menuju tasnya di atas nakas.


"Ahh ternyata batrainya habis" Ucap Reva mengambil power bank dari dalam laci dan mencolokan pada ponselnya.


Reva menekan tombol power pada ponselnya, dan menunggu beberapa saat sebelum Reva menggunakan ponsel tersebut.


Reva mengerutkan dahinya dan langsung menatap Arka, setelah melihat list panggilan dalam ponsel yang sudah menyala.


"In ini nomor kamu ka" Tanya Reva memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukan 47 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.


Arka hanya mengangguk.


"Ja jadi pria aneh yang me memanggilku alien itu kamu?" Tanya Reva tak percaya.


Lagi - lagi Arka hanya mengangguk namun kali ini dengan senyuman.


"Wahhhh takdir ini memang sangat ajaib, ternyta pria itu lebih aneh dari yang aku kira" Ucap Reva takjub dengan takdir yang ia terima.


"Aneh? kau menyebut ku aneh? Bahkan kau memanggil ku pria tanpa udel, apa kau tidak mengingatnya hah, ini ini coba lihat ini aku memiliki udel yang sangat indah" Ucap Arka membuka baju dan menunjukan perutnya kepada Reva.


Reva tidak memperdulikan ucapan Arka, dia malah sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Apa ini, kenapa banyak sekali notofikasi dari medsos ku? banyak sekali yang mentag namaku" gumamnya heran, dan mulai membuka satu video yang menandai dirinya.


"Ap apa ini?" Tanya Reva melihat ke arah Arka dan mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponselnya.


Reva terpaku dengan apa yang di lihatnya, matanya berair lagi sepertinya sungai di matanya belum mengering.


"Ap apa yang se sebenarnya terjadi?" Tanya Reva setelah melihat tayangan tentang siaran langsung yang Arka lakukan kemarin.


"Maaf, karena aku terlambat menyingkirkan duri - duri itu, sehingga mereka menyakiti mu" Ucap Arka dengan nada penyesalan.


Tangis Reva kini pecah dan dia menghambur kepelukan Arka.


"Aku sudah menyingkirkan semua orang yang membully mu, dan Sinta sudah mendekam dalam penjara, dia sudah mengincar posisi sekretaris sudah sejak lama, jadi dia marah saat kau yang mengisi posisi itu, dia membuntuti mu dan mengambil foto - foto mu kemudian menyebarkannya melalui media" Arka menjelaskan kepada Reva yang masih menangis.


Arka melepaskan pelukannya, memegang bahu Reva dengan lembut.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan melindungi mu" Ucap Arka meyakinkan.


"Ta tapi.." Ucap Reva ragu dan menunduk.


"Luna juga sudah aku singkirkan" Ucap Arka dengan tatapan matanya yang teduh.


"Sejak awal, sebelum kita menikah aku sudah mengetahui kebusukan Luna dan ayahnya, awalnya aku tidak percaya dengan ucapan ibu yang selalu mengingatkan tentang Luna, tapi saat aku menyelidiki kecelakaan ibu, aku mendapat bukti bahwa yang menabrak mobil ibu adalah orang suruhannya pak Adit ayahnya Luna, dan bukti tentang perselingkuhan Luna dengan Fahmi, saingan bisnis ku sejak lama" Arka mencoba menjelaskan secara perlahan kepada istrinya.


"Kenapa kau tidak langsung melaporkan mereka ke polisi?" Tanya Reva yang mengusap sisa air matanya.


"Hanya dengan bukti seperti itu, maka dengan mudah mereka akan lolos dari hukuman menggunakan uang yang mereka punya, jadi aku berpura-pura tidak tahu agar aku bisa tetap mendekati Luna agar lebih mudah mendapatkan bukti tentang kejahatan mereka yang lain" Ucap Arka membelai rambut Reva.


"Apakah berhasil?" Tanya Reva penasaran.


"Iya, aku mendapatkan bukti tentang korupsi besar-besar yang di lakukan pak Adit dalam beberapa proyek besar, itu akan cukup membuatnya masuk ke dalam sel, di tambah dengan bukti tentang rencana pembunuhan yang di lakukan terhadap ibu" Jawab Arka menatap Reva dengan senyum.


Suasana kamar menjadi hening setelah pembicaraanya selesai, mereka bingung tentang apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya, mereka hanya saling menatap kaku.


"Tok...tok...tok...teh buruan itu udah di tungguin ibu sama bapak buat sarapan!!" Asep mengetuk pintu, menyusul Arka yang memanggil Reva namun tidak kunjung datang juga sampai sarapannya menjadi dingin.


Reva berdiri dan mendekat ke arah pintu kemudian membukanya.


"Iya.." Jawab Reva dan mengikuti Asep untuk turun di susul oleh Arka di belakangnya.


Tolong Like terus komentarnya, kemudian kembali ke cover lalu tekan bintang lima.


Jangan lupa kasih Votenya juga biar aku terus semangat buat up ya.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2