
"Bibi pulang dulu ya neng, bibi khawatir sama si eneng di rumah sendirian takutnya dia belum makan" Ucap bi Ihat setelah selesai membantu Salfa di kafe.
"Iya bi, salam buat Reva ya, nanti setelah kafenya tutup aku langsung mampir ke rumah" Jawab Salfa.
"Iya sayang bibi pamit ya, sebentar lagi asep pulang kampus, bibi suruh langsung ke sini buat bantuin kamu". Ucap bi Ihat yang di angguki oleh Salfa.
Sesampainya di rumah, bi Ihat langsung naik menuju kamar Reva.
"Tok..tok..neng ini bibi, boleh bibi masuk?" Tanya bibi sambil mengetuk pintu kamar Reva.
"ceklek" Reva membukakan pintu kamarnya.
"Apa kamu belum makan sayang?" Ucap bibi karena melihat makanan di dapur nasih utuh.
"Neng lagi gak enak badan bi, jadi makan juga enggak enak lidahnya berasa pahit" Ucap Reva memberikan alasan.
"Apa kamu enggak eungap pakai masker terus, atuh lepasin aja kalau di dalem rumah mah" Ucap bi Ihat melihat Reva memakai maskernya sejak semalam.
"Ihhh bibi mah kumaha sih, neng kan lagi sakit bi, apalagi sekarang musim corona kita harus lebih hati-hati dan jaga jarak. Walaupun neng cuma gak enak badan aja, neng ga mau nanti bibi kena flu juga" Ucap Reva.
"Neng, bibi gak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi, dan bibi juga gak akan maksa kamu buat cerita sama bibi, tapi bibi cuma ngingetin kamu aja kalau kamu gak harus memendamnya sendirian, kamu masih punya bibi, mamang dan temen - temen kamu yang selalu siap buat mendengarkan keluh kesah yang kamu rasain" Ucap bibi mengusap rambut Reva dengan sayang.
Reva menggigit bibirnya, menahan tangis yang ingin keluar, matanya sudah berkaca-kaca.
"Neng gak kenapa-napa bi, neng cuma rindu rumah, rindu sama bibi" Ucap Reva memeluk bi Ihat erat.
"Neng cuma butuh istirahat aja bi, neng mau tiduran lagi ya" Lanjut Reva menatap bi Ihat dengan tatapan memohon, dia masih ingin sendirian.
"Ya udah kamu istirahat aja, bibi bikinin bubur buat kamu ya" Ucap bi Ihat yang meninggalkan kamar Reva dengan tatapan khawatir.
Reva menuju kamar mandinya, membuka masker dan menatap lebam yang masih sedikit terlihat di pipinya.
Air mata yang tadi di bendungnya, kini mengalir deras tanpa bisa di hentikan, hatinya kembali terasa sakit ketika melihat luka yang ia dapatkan.
Dia mengguyur badannya dengan air dingin, membuat isi kepalanya sedikit terasa segar kembali.
Setelah selesai mandi dan berpakaian dia membaringkan tubuhnya di sofa menatap kosong langit-langit kamarnya.
Kemudian dia mencium aroma yang sedap dari arah nakas dekat tempat tidurnya.
Reva menghampiri aroma tersebut, di temukannya semangkuk bubur dengan toping yang lengkap di atasnya.
Perut yang meronta memohon kepada sang pemilik agar memakan bubur tersebut, di ambilah mangkuk tersebut dan Reva mulai melahapnya.
__ADS_1
Hanya beberapa suap namun cukup untuk membuat tenaganya sedikit terisi.
Reva menaiki tempat tidurnya, meringkuk dan mata nya yang sejak kemarin terjaga kini mulai terpejam.
"Assalamualaikum bi, apa Reva ada di kamarnya?" Ucap Salfa yang baru datang bersama asep setelah menutup kafenya.
"Dia tidak keluar dari kamarnya, barusan bibi ke kamarnya dan dia lagi tidur, jangan di ganggu kasian. Besok aja kamu kesini lagi ya?" Ucap bi Ihat membuat Salfa mengerutkan bibirnya.
"Dihhh ini bibir udah kaya pantat ayam aja" Ucap bi Ihat sambil mencomot mulut Salfa.
"Puihhh puihhh bibi mah tangannya bau ihh, abis megang apa sihh? belum cuci tangan ya?" Ucap Salfa mengusap - usap bibirnya.
"Hihiii bibi abis cuci ikan asin peda, bibi lupa pake sabun pas tadi cuci tangan" bi Ihat terkekeh setelah mencium tangannya sendiri.
Salfapun pamit untuk pulang, walaupun bi Ihat menyuruhnya untuk menginap.
Malam semakin larut, saat mobil Arka sampai di depan rumah istrinya.
Dia melihat lampu di dalam rumah itu sudah padam, Arka berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Tokk..tokk.." Sudah sekian kali Arka mengetuk pintu namun belum juga ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.
"Sepertinya semua orang sudah tidur, aku akan kembali besok pagi saja" Gumamnya membalikan badan dan berjalan menjauhi pintu tersebut.
Arka membalikan badannya segera setelah namanya di panggil.
Dia tersenyum dan kembali mendekat, setelah melihat mang Kokom di dekat pintu.
"Maaf mang saya mengganggu, saya datang terlalu larut malam" Ucap Arka seraya mengambil tangan mang Kokom dan memciumnya.
"Tidak apa-apa, ayo masuk" Ajak mang Kokom dan di angguki Arka.
"Siapa yang dateng pak?" Ucap bi Ihat yang terlihat sibuk memakai kerudungnya, bi Ihat mendekati mereka yang sudah duduk di sofa.
"Eleuhh si kasep ning yang datang teh, bentar ya bibi bikinin kopi" Ucap bi Ihat menuju dapur.
"Jangan kopi buk, nanti jang Arka gak bisa tidur semaleman karena minum kopi" Ucap mang Kokom menghentikan bi Ihat.
"Air putih saja bi" Ucap Arka sopan.
Bi Ihat membawa nampan berisi dua gelas air putih hangat, dan meletakannya di atas meja.
"Sok di minum dulu, kamu pasti capek karena perjalanan jauh" Ucap bi Ihat yang duduk di samping suaminya, dan melihat Arka meminum air yang di suguhkan.
__ADS_1
"Apa jalannya macet jang?" Tanya mamang.
"Hanya di beberapa titik saja mang" Jawab Arka.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, besok kita ngobrol lagi" Ucap mang Kokom setelah melihat Arka beberapa kali menguap.
(Coba bayangin deh kalau cowok ganteng nguap itu kaya gimana?)
Arka mengangguk setuju.
"Mau bibi antar ke kamar Reva?" Tanya bibi kepada Arka.
"Tidak usah bi, saya masih ingat kamarnya, saya permisi dulu, dan sekali lagi maaf karena saya sudah membangunkan bibi dan mamang" Ucap Arka sopan, dan berlalu menuju kamar Reva.
Arka terpaku beberapa saat di depan pintu tersebut, dia bingung apa yang harus dia lakukan, hatinya bimbang dengan beberapa pikiran yang bermunculan.
"Apa yang harus aku katakan padanya, jika dia bertanya alasanku datang kesini?" Gumamnya yang masih berada di depan pintu.
Setelah membulatkan tekadnya, kini Arka membuka perlahan pintu kamar yang tidak terkunci itu.
Arka mendekat dan melihat Reva yang tidur meringkuk.
Arka menatap sedih ketika melihat pipi istrinya.
"Apa itu masih sakit?" Pikirnya.
Arka memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum kembali mendekati Reva yang masih tertidur.
Arka perlahan menaiki tempat tidur Reva, dan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, dia melihat punggung istrinya yang sesekali bergetar karena isakan tangisnya sebelum tidur.
Arka memberanikan diri untuk memeluk tubuh mungil yang meringkuk itu, dan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Ketika Arka mulai terlelap, Arka kaget dan melepaskan pelukannya saat tubuh yang di peluknya tadi tiba-tiba berbalik ke arahnya, dan menatap wajah Arka dengan kesal.
Bersambung...
**Udah semaksimal mungkin buat up tepat waktu bahkan ngasih doble kalau ada waktu luang, tapi Like dan comentnya makin menurun ya padahal yang baca bertambah.
Kalau Like dan Comentnya bertambah aku baru up lagi deh (heeeehe maaf ya sedikit maksa?
jadi** Mohon Vote, Like & comentnya ya.
Terima kasih
__ADS_1