
Arka sudah di pindahkan ke rumahnya, Adel memutuskan untuk merawatnya di rumah saja, dengan menyewa 2 orang dokter dan seorang perawat yang menjaganya secara bergantian.
Sudah 3 bulan Arka mengalami koma, namun belum juga ada perkembangan, Arka seperti cangkang kosong yang tidak memiliki jiwa, Reva selalu setia mendampinginya.
"Lihat sayang daddy masih tidur, ayo suruh daddy untuk bangun, daddy pasti mendengarkan mu" Ucap Reva dengan mengelus pipi Arka yang semakin terlihat kurus, dengan menggendong Arva di pangkuannya.
Reva memberikan nama untuk anak laki-lakinya, dengan mengambil nama Arka yang di satukan dengan namanya menjadi Arva wijaya kusuma.
"Kamu bobo dulu deket daddy ya, mommy mau bikinin kamu susu dulu sebentar" Ucap Reva yang meletakan Arva di samping Arka.
Arva mengoceh sambil mengacungkan kedua kakinya dan tangan yang ia masukan ke dalam mulutnya, menendang-nendang perut Arka dengan kakinya yang mungil.
Arva yang kelaparan tiba-tiba saja menangis dengan kencang, dan semakin kencang saat tidak ada yang menenagkannya.
Mendengar tangisan anak kecil, membuat Arka menggerakan tangannya, dan seperti keajaiban dia mampu membuka matanya perlahan dan melihat ke arah bayi yang berada di sampingnya.
"Ba bayi, bayi siapa itu?" Gumam Arka.
Reva kembali dengan tergesa, mendengar anaknya menangis, dan membawa botol susu milik Arva yang sudah terisi.
Namun langkahnya terhenti, dan botol di tangannya terjatuh saat dia membuka pintu dan melihat suaminya dengan mata terbuka.
"DOKTER!!! DOK!! IBUUU!!!" Teriak Reva dengan panik, membuat Arka melihat ke arahnya.
Dokter dan Adel yang sedang berada di luar, langsung berlari masuk ke kamar tersebut, dan Adel tidak kalah terkejutnya dengan Reva melihat Arka yang sudah sadarkan diri.
Dokter langsung memeriksanya dengan seksama, dan tersenyum ke arah Adel dan Reva yang sudah menggendong Arva kembali.
"Doa kalian di kabulkan, tuan Arka sudah sadar dan semuanya normal, tinggal pemulihan saja" Ucap Dokter itu, membuat Adel dan Reva meneteskan air matanya.
"Bu?? apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arka dengan suara yang masih lemas.
"Kamu mengalami kecelakaan sayang, tapi syukurlah sekarang kamu sudah baik-baik saja" Ucap Adel mendekat ke arah Arka, dan Revapun mengikuti langkah Adel.
"Syukurlah kamu sudah sadar a, aku tidak akan meninggalkan mu lagi" Ucap Reva dengan terisak.
Namun Arka menatap Adel dengan bingung.
"Bu, siapa wanita itu?" Tanya Arka, membuat semua orang di ruangan itu saling melemparkan pandangannya.
"Aku tahu kamu masih marah padaku, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal a, tapi tolong jangan bercanda seperti ini, aku Reva aku istrimu dan ini anak kita lihat wajahnya mirip sekali denganmu kan?" Ucap Reva yang mendekat ke arah Arka dan mendekatkan Arva yang berada di pangkuannya.
"Istri..anak..aggghhhh" Arka meringis kesakitan, memegang kepalanya yang sangat terasa sakit.
Dokter segera mendekat, dan dengan sigap langsung memeriksa keadaan Arka kembali.
__ADS_1
"Sepertinya putra anda mengalami hilang ingatan nyonya, akibat benturan waktu itu" Ucap Dokter, membuat Reva menangis histeris.
"Ti tidak mungkin dok, jika dia hilang ingatan maka dia juga tidak akan mengingatku, tapi tadi dia memanggilku ibu" Ucap Adel syok.
"Ada sebagian pasien yang hanya melupakan beberapa orang saja" Jawab Dokter.
"Ke kenapa harus aku, kenapa dia tidak mengingatku?" tanya Reva di sela-sela isaknya.
"Mungkin karena anda adalah orang yang paling penting dalam hidupnya" Jawab dokter.
Reva memberiakan Arka ke pangkuan Adel dan kembali mendekat ke arah Arka, dan mencengkram bahu Arka dengan kuat.
"Lihat wajahku, tolong lihat baik-baik, aku istri mu dan kita sudah memiliki anak, lihat foto pernikahan kita, tolong ingat aku, jangan melupakan aku hiks..hikss kamu boleh menghukum ku dengan cara apapun, tapi jangan melupakan aku seperti ini hiks..hiks.." Ucap Reva prustasi.
"Agghhhh" Arka hanya meringis menahan sakit di kepalanya.
"Tolong tenang nyonya, jangan paksa suami anda, kita harus melakukannya secara perlahan, jika kita memaksanya terlalu keras, mungkin itu akan membuat suami anda kehilangan ingatannya secara permanen, dan akan lebih sulit untuk di sembuhkan" Ucap dokter, membuat tubuh Reva menjadi lemas.
****
Reva dengan telaten mengurus suami dan anaknya bergantian, walaupun selalu mendapatkan penolakan dari Arka.
"Sayang, sepertinya Arva sedang tidak enak badan, dari tadi dia rewel terus, badannya juga agak sedikit panas" Ucap Adel ketika Reva tengah menyuapi Arka, dan mengambil Arva setelah menaruh makanan Arka di atas nakas.
"Kamu urus Arva saja sayang, biar perawat yang mengurus Arka" Ucap Adel, dan di angguki oleh Reva.
"Aku pergi dulu a, kalau butuh apa-apa panggil aja ya" Ucap Reva kepada Arka.
"Aku tidak membutuhkan mu" Ucap Arka.
Sejak Arka siuman, Reva dan Arka tidur di kamar terpisah, Reva kembali ke kamarnya dulu yang berada di sebelah kamar Arka, karena Arka selalu mengeluh kepalanya sakit saat berdekatan dengan Reva.
Karena Arva semakin besar, dan Reva tidak ingin menggunakan baby sister untuk anaknya, jadi dia sedikit kewalahan untuk mengurus suami dan anaknya sekaligus, jadi dia di bantu oleh seorang perawat untuk mengurus Arka, perawat itu bernama Alya.
Alya seorang gadis yang sopan, dan pendiam, dia juga bekerja dengan telaten dan giat.
Reva sudah menganggapnya seperti adik sendiri, karena Alya juga tidak sungkan untuk membantu menjaga Arva ketika Reva sedang sibuk.
"Sus..!! sini makan bareng" Ucap Reva melambai ketika melihat Alya tengah menggendong Arva.
"Enggak usah nona muda, saya momong denn Arva saja" Ucap Alya sopan.
"Udah sini aja makan, Arva anteng kok taruh saja di situ, jangan di gendong terus nanti kebiasaan" Ucap Adel kepada Alya.
Dan Alya pun dengan segan ikut duduk bergabung dengan Reva dan Adel serta Arka yang berada di kursi roda.
__ADS_1
"Apa kamu sudah punya pacar? gadis secantik dan baik seperti kamu pasti punya banyak penggemar?" Tanya Reva di sela-sela makannya.
"Sa saya cuma ingin bekerja nona muda, belum kepikiran masalah laki-laki, saya hanya ingin membiyayai sekolah adik-adik saya" Ucap Alya dengan segan.
"Kamu anak yang baik" Ucap Adel menimpali.
Setelah selesai makan, Reva membantu Arka untuk menaiki tempat tidurnya.
"Minum dulu obatnya" Ucap Reva menyodorkan beberapa butir obat dan sebuah gelas kepada Arka.
"Aku bisa melakukannya sendiri, jangan membuatku merasa menjadi orang yang tidak berguna, jadi berhentilah bersikap seperti itu padaku" Ucap Arka memalingkan wajahnya.
Reva menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Baiklah, maafkan aku, dan tolong minum obatnya agar kamu bisa segera sembuh, dan buktikan kepadaku jika hidupmu memang berguna" Ucap Reva, membuat Arka mengambil dan meminum obatnya.
"Suami yang pintar, selamat malam" Ucap Reva tersenyum dan mencium kening suaminya, lalu meninggalkan kamar Arka.
"Ahhh ada apa ini? kenapa hatiku tiba-tiba merasa senang" Gumam Arka melihat Reva menutup pintu kamarnya.
Arka menghampiri Adel yang tengah memangku cucunya di ruang tamu.
"Arka sudah meminum obatnya sayang?" Tanya Adel kepada Reva yang baru saja duduk di sampingnya.
"Iya bu" Ucap Reva murung.
"Kenapa kamu terlihat sedih sayang?" Tanya Adel.
"Sudah hampir satu bulan sejak dia siuman bu, aku sudah berusah untuk membuat ingatannya kembali, tapi tidak sedikitpun usahaku yang berhasil, mungkin dia memang sengaja ingin melupakan ku" Ucap Reva lirih.
"Sayang, kamu enggak boleh menyerah, kita harus tetap berusaha untuk membuatnya sembuh, kamu tidak boleh lemah, dan kamu harus sabar ya sayang" Ucap Adel menenangka Reva.
"Ini sangat berat bu" Ucap Reva.
"Kamu wanita yang kuat sayang, kuatlah untuk keluarga kecil kalian terutama untuk Arva, lihat malaikat kecil ini membutuhkan daddy dan mommy nya, jadi semangatlah" Ucap Adel menguatkan hati Reva.
Dan Reva tersenyum melihat Arva yang sedang tersenyum kepadanya.
Bersambung..
Mohon Like dan komentarnya, tekan bintang lima dan Love juga ya.
Jangan lupa kasih Vote juga yang banyak.
Terima kasih
__ADS_1