
Rumah bi Ihat tengah sibuk dengan orang-orang yang tengah berdandan sejak dini hari.
Reva baru selesai memandikan baby Arva, dan memakaikan pakainya yang seragam dengan semua anggota keluarganya.
"Sayang, kaos kaki aku dimana ya? tolong cariin dong" Ucap Arka.
"Ada di rak sepatu A di bawah, aku lagi sibuk ngurusin Arva nih" Jawab Reva.
"Aku udah cari tapi gak ketemu dari tadi sayang" Ucap Arka yang duduk di tempat tidur.
Reva menghembuskan nafasnya dengan kesal, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Ini yang namanya kaos kaki bukan sih A? dari kemarin aku udah simpen di deket sepatunya, makannya kalau nyari itu pakai mata, bukan pakai mulut" Ucap Reva kesal.
Arka tersenyum lebar mendengar istrinya mengomel, dan mengambil kaos kaki dari tangan istrinya.
"Ini coba gendong Arva dulu, aku mau siap-siap nanti keburu siang" Ucap Reva, dan Arkapun menggendong Arva membawanya keluar kamar.
Setelah semuanya siap, mereka langsung menuju rumah Salfa menyusul rombongan Gatan yang sudah lebih dulu pergi ke tempat acara.
Salfa sudah duduk dengan anggun memakai kebaya putih dengan hiasan adat sunda, dan Gatan yang gagah dengan balutan jas berwarna senada.
Arka yang ikut menjadi saksi, duduk di belakang Gatan yang berwajah pucat.
Arka mendekatkan dirinya, dan berbisik di dekat telinga Gatan.
"Tan, jangan gugup gitu, wajah mu udah kaya mayat hidup gak ada darahnya sama sekali, dan inget kalau 3 kali kau gagal maka pernikahannya akan gagal" Bisik Arka, membuat Gatan semakin berkeringat dingin, sementara Arka malah menyeringai jahat setelah berhasil menggoda saudaranya.
Ketika acara akad sedang berlangsung, Reva malah sibuk menggendong Arva yang tengah menangis.
"Kenapa neng kok tumben dia rewel gitu?" Tanya Adel yang menghampirinya.
"Gak tau nih bu, mungkin karena gak biasa ngeliat banyak orang, atau karena dia kepanasan kali ya bu" Jawab Reva sedikit panik.
"Ya udah sini biar ibu yang gendong" Ucap Adel yang mengambil Arva dari Reva.
Sampai akad sudah selesai Arva masih saja menangis, semua keluarga sudah kewalahan menenangkan anak lucu tersebut.
"Di kasih ASI gak mau juga emangnya yank?" Tanya Arka, dan Revapun hanya mengangguk.
Arka tidak tahu lagi harus melakukan apa, Revapun sudah bingung dan duduk lemas di kursi tamu.
Namun Arva tiba-tiba diam saat mang Kokom membawanya ke dekat meja parasmanan, Arva tiba meronta saat melihat makanan yang terhidang di sana.
__ADS_1
Reva yang tadinya duduk langsung menghampiri saat anaknya berhenti menangis.
"Kayanya dia mau makan neng" Ucap mang Kokom.
"Tapi minggu depan baru 6 bulan mang, dan gak mungkin kita ngasih dia makan nasi sama sate" Ucap Reva bingung.
"Itu ada yang nyediain bubur ayam juga neng di pojok sana, deket meja cendol" Ucap bi Ihat yang menghampiri.
Mendengar hal itu Arka langsung mengantri mengambil bubur untuk anaknya.
"Nih, coba aja kasih mungkin dia bener-bener pengen makan" Ucap Arka menyodorkan bubur polos ke istrinya.
Ternyata Arva makan dengan lahap, membuat semua orang tersenyum ketika melihat Arva sudah tidak rewel lagi.
Acarapun selesai dengan lancar, semua keluarga besar menuju hotel tempat acara makan malam akan di selenggarakan sekalian keluarga besar Gatan akan menginap di hotel tersebut.
Tapi karena meresa kelelahan akhirnya rombongan Reva kembali ke rumah bi Ihat minus Adel yang memutuskan untuk menginap di hotel bersama keluarga yang lain.
Setibanya di rumah Arva kembali menangis, dan tidak mau minum ASI sama sekali, keluarga kembali kelabakan menenangkannya.
Bi Ihat membuatkan sufor untuk Arva sedangkan Reva tengah mengayun-ngayunkannya, Asep dan Arka sibuk membunyikan hampir semua mainan Arva nanti tidak juga membuatnya berhenti menangis.
"Coba kita bawa ke dokter saja neng, mungkin Arva sedang sakit, bibi jadi khawatir" Ucap bi Ihat yang memberikan botol susu kepada Reva.
"Iya yank, kita ke rumah sakit saja yuk, mumpung belum terlalu malam" Ucap Arka menimpali, dan Revapun mengangguk.
Setelah pemeriksaan Reva dan Arka duduk dengan tegang di depan dokter.
"Bagaimana dok, anak kami baik-baik saja kam?" Tanya Arka dengan khawatir.
"Dia sehat pak, buk dia tidak sakit apa-apa" Ucap dokter dengan senyum ramahnya.
"Terus kenapa dia nangis terus ya dok? dan gak mau minum ASI?" Tanya Reva kemudian.
"Mungkin karena ASI ibu encer jadi anaknya tidak merasa kenyang, coba ibu periksakan diri ibu ke dokter kandungan" Jawab dokter itu, membuat Reva dan Arka saling melemparkan pandang.
"Dokter kandungan?" Tanya mereka bersamaan.
Melihat dokter itu mengangguk membuat Arka tersenyum tapi Reva malah terlihat murung.
"Apa istri saya hamil dok?" Tanya Arka dengan mata yang berbinar.
"Anda dapat memastikannya setelah memeriksakannya" Ucap dokter dengan ramah.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Arka langsung berdiri dan mengambil Arva dari Reva, dan mengajaknya untuk menuju dokter kandungan.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan mereka kembali ke rumah, dengan wajah yang berbeda.
"Udah pada pulang, gimana hasilnya neng, Arva gak kenapa-napa kan?" Tanya bi Ihat khawatir.
"Dia gak kenapa-napa bi, tapi aku yang kenapa-napa" Ucap Reva dengan wajahnya yang di tekuk.
"Lah emangnya kamu sakit apa neng?" Ucap bi Ihat cemas, menarik tangan Reva agar duduk.
"Tuhh tanyain aja sama daddynya Arva, dia yang udah bikin aku kaya gini" Ucap Reva menyandarkan kepalanya dengan lemas.
Bi Ihat melihat ke arah Arka yang sedang menggendong Arva, sejak mereka pulang bi Ihat melihat Arka tidak berhenti tersenyum dengan wajah yang senang.
"Ada apa ini?" Tanya mang Kokom menepuk pundak Arka dan mengajaknya untuk ikut duduk.
"Aku membuatnya hamil lagi mang hihii" Jawab Arka dengan menyengir.
Mendengar hal itu mang Kokom dan bi Ihat terkejut dan menatap Reva yang tengah tertunduk dengan menutup wajah dengan tangannya.
"Wahhh Aa tokcer banget, pasti sering minum susu onta ya?" Tanya Asep yang ikut bergabung.
"Gak perlu susu onta, yang penting giat untuk membuatnya" Ucap Arka dengan nada sombong.
"Heyyy...jangan ngajarin dia yang aneh-aneh deh" Protes Reva dengan kesal, Arka menutup mulutnya rapat mendengar istrinya marah.
"Anak itu anugerah neng, jadi apa yang kamu khawatirkan, di luaran sana banyak loh orang yang susah untuk dapetin momongan" Ucap bi Ihat menenangkan sambil mengusap lembut punggung keponakannya.
"Tuh dengerin sayang, anuger_" Arka tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat Reva meliriknya dengan tatapan yang tajam.
"Iya bi neng tahu, tapi lihat Arva saja baru 6 bulan, masa dia udah mau punya adik lagi, usia kandunganku baru mau 1 bulan jadi aku melahirkan saat Arka baru belajar berjalan, aku harus bagaimana hiks..hiks.." Ucap Reva dengan menangis.
"Apa yang kamu takutkan neng, semua ini sudah takdir jadi kamu harus menerimanya, lagian kenapa juga gak pake KB?" Tanya bi Ihat lagi.
"Aku gak memakainya karena Aa kan hilang ingatan dan kami tidur di kamar yang terpisah, dan aku baru berencara memakai KB saat aku datang bulan nanti, aku kira hanya melakukannya beberapa kali tidak akan jadi" Ucap Reva terisak.
"Itu udah jadi rejeki kamu neng" Ucap mang Kokom menenangkan.
"Benar!! Rejeki yang sangat berharga" Ucap Arka kencang.
"Ishhh dasar, KAMU AJA YANG HAMIL SANA!!!" Ucap Reva berteriak dan pergi meninggalkan semua orang yang kaget bahkan Arva menangis mendengar Reva berteriak.
Bersambung..
__ADS_1
Mohon Like dan komentarnya ya, jangan lupa buat Vote juga
Terima kasih