
"Bi, saya dan Reva akan pulang besok pagi, terima kasih sudah menjaganya selama saya tidak ada, dan maaf kami telah merepotkan bibi sekeluarga" Ucap Arka saat berada di ruang keluarga bersama bi Ihat dan mang Kokom setelah makan malam selesai.
"Husst jangan ngomong kaya gitu, kalian semua itu anak bibi sama mamang, jadi sudah menjadi tugas bibi untuk menjaganya, dan kami tidak merasa di repotkan malah kita seneng yah pak kalian tinggal disini, rumahnya jadi rame" Ucap bi Ihat yang di angguki mang Kokom.
"Mamang cuma pesan jang, kalau kalian lagi ada masalah coba di bicarakan baik-baik, dalam rumah tangga memang sudah biasa jika ada sedikit perselisihan, itu hal yang wajar" Ucap mamang memberi petuah pada Arka.
"Iya mang" Jawab Arka.
"Ini tehnya, lagi ngobrolin apa ini teh, serius pisan" Ucap Reva yang menyuguhkan teh panas di atas meja.
"Dihhhh kepo" Ucap bi Ihat membuat Reva memuar bola matanya sebal.
"Saya pamit ke kamar dulu bi, mang" Pamit Arka sopan setelah menghabiskan teh di gelasnya.
"Nya jang, sok istirahat biar besok gak capet saat perjalanan ke jakarta" Ucap bi Ihat.
"Neng, sana temenin suami kamu istirahat, pastiin juga barang - barang yang mau di bawa udah masuk koper semua, kamu mah kan kebiasaan pas waktunya berangkat baru siap-siap" Lanjut bi Ihat yang di sambut dengan tatapan kaget.
"Si siapa yang ma mau ke jakarta bi?" Tanya Reva tidak mengerti.
"Bukannya kalian mau pulang ke jakarta besok, tadi suami kamu yang pamit sama mamang dan bibi" Ucap bi Ihat menjelaskan.
"Ishhh dasar orang itu, seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa bertanya padaku terlebih dahulu" Gumam Reva yang menyusul Arka ke kamar.
"Ka, kok kamu mutusin buat ke jakarta besok tanpa bertanya sama aku dulu, kamu kan udah bilang kita bakal pulang kalau aku sudah tenang" Tanya Reva setelah sampai ke kamarnya.
"Bukankah kau sudah tenang, lebih aku melihat seperti tidak ada masalah sebelumnya" Ucap Arka menatap Reva.
"Aku masih takut untuk kembali kesana" Reva menunduk.
"Tolong percaya padaku, aku berjanji akan melindungi mu" Ucap Arka menggenggam tangan Reva dan menariknya perlahan, membuat Reva mendekat ke arah Arka yang duduk di kasur, Arka menarik pinggang Reva sehingga membuat Reva duduk di pangkuannya.
"Aku harus segera kembali, banyak hal yang harus aku kerjakan disana, aku harap kau bisa mengerti dan mau mendampingiku" Ucap Arka yang meletakan dagunya di pundak Reva dan memeluk pinggang ramping istrinya.
Reva hanya mengangguk dan tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.
"Apakah itu masih sakit?" Tanya Arka.
"Kamu bisa lihat luka di lutut ku sudah mengering dan tidak terlalu sakit, kalau pipi ku sepertinya sudah tidak memar lagi" Ucap Reva memperlihatkan luka-luka nya.
"Bukan luka yang itu, tapi yang tadi" Ucap Arka tersenyum jahil, membuat Reva langsung berdiri dari pangkuan suaminya.
"AGHHHHH" Arka berteriak ketika kakinya di injak dengan keras oleh istrinya.
"Rasain, dasar mesum!! Apa kamu ingin membuatku tidak bisa berjalan?" Tanya Reva kesal.
"Aku hanya bertanya apa salahnya, dasar barbar" Ucap Arka sambil mengusap kakinya yang sakit.
Mentari mulai muncul menampakan sinarnya, Reva dan Arka sudah siap dengan koper yang sudah tersimpan di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Neng pulang dulu ya bi, titip salam buat teh Salfa, bilangin maaf karena tidak sempat berpamitan" Ucap Reva yang mencium pipi kiri dan kanan bibinya.
"Iya, nanti bibi sampein" Jawab bi Ihat.
"Kami pamit, Assalamualaikum" Ucap Ark setelah menyalami paman dan bibinya serta Asep.
Arka melajukan mobilnya setelah Reva mengikutinya masuk ke dalam mobil tersebut.
Beberapa jam berlalu hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di rumahnya, Arka memarkirkan mobil di depan gerbang rumahnya.
"Kok mobilnya gak di masukin Ka?" Tanya Reva yang segera menuruni mobil suaminya.
"Aku hanya mengantarmu saja, aku akan berangkat ke kantor, hari ini ada meeting penting dengan perusahaan X" Ucap Arka tanpa menuruni mobilnya.
Pak Udin menurunkan barang bawaan majikannya dan membawanya masuk.
"Aku pergi dulu, aku akan pulang setelah pekerjaan ku selesai" Ucap Arka.
Reva mengangguk dan memgulurkan tangannya, Arka menatapnya bingung dan segera m mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.
Arka meletakan kartu tersebut di tangan Reva yang masih terulur.
"Bukan ini, aku minta tangan mu" Ucap Reva mengembalikan kartu ke tangan suaminya, dan menarik tangan kanan suaminya.
Arka tersenyum ketika Reva mencium tangannya.
"Hati-hati" Ucap Reva dengan malu dan masuk ke dalam rumah dengan hati yang senang.
"Apa ada yang terjadi selama aku pergi?" Tanya Arka menatap pak Ade dan Gatan yang sudah duduk di kursi.
"Luna terus saja datang ke sini, dan membuat keributan setiap hari, dia ingin sekali menemui mu" Ucap Gatan.
"Biarkan saja dia melakukannya sampai dia bosan" Ucap Arka acuh.
"Semua investor yang mengsponsori galery Luna kini menariknya kembali, dan gedung yang di sewanya juga membatalkan kontraknya secara sepihak, setelah berita tentang ayahnya Luna menyebar" Lanjut Gatan.
"Itu sudah seharusnya" Arka tersenyum menang.
"Jangan biarka dia mendekati, apalagi menyentuh istri ku" Lanjut Arka menatap pak Ade penuh ancaman.
"Baik tuan muda" Jawab pak Ade.
"Kalian bisa pergi" Ucap Arka.
Sementara di rumah Reva tengah mengobrol dengan para ART di rumah belakang, sambil memakan buah potong yang bi Atin sediakan.
Saat Reva di Bandung, Adel menyuruh bu Nur dan para ART yang lain supaya mengakrabkan diri dengan Reva supaya menantunya itu merasa nyaman dan tidak merasa kesepian saat di rumah.
"Apa yang mau nona makan untuk makan malam?" Tanya bu Nur.
__ADS_1
"Masak makanan yang Arka suka saja bi, kalau aku mah bebas bisa makan apapun yang ibu hidangkan di meja makan" Ucap Reva dengan memasuka potongan apel ke dalam mulutnya.
"Aku pamit ke kamar dulu bu" Ucap Reva setelah menghabiskan potongan buahnya.
Di kantor seorang wanita cantik tengah meronta-ronta saat kedua tangannya di seret oleh scurity yang berjaga di pintu masuk.
Dia tidak malu saat dirinya jadi perhatian semua mata di kantor tersebut.
"AKU TIDAK AKAN PERGI, SEBELUM AKU BICARA DENGAN BOS KALIAN, BERANI SEKALI KALIAN MENYENTUH TANGANKU AGHHHHHH LEPASKAN AKU!!!!" Wanita itu berteriak dengan penuh tenaga.
"Apa yang akan kau bicarakan dengan ku, Luna?" Tanya Arka dengin melihat Luna, mantan kekasihnya yang sedang meronta.
"Lepaskan dia" Lanjut Arka.
Kedua scurity itu melepaskan tangan Luna yang sudah memerah karena cengraman yang kuat.
Luna berlari ke arah Arka dengan cucuran air matanya, dia memeluk Arka dengan erat tanpa menghiraukan pandangan orang di sekitarnya.
"Lepaskan tangan mu dari tubuh ku" Ucap Arka tegas.
"Apa kau tidak mendengarkan perkataan ku?, LEPASKAN!!!" Lanjut Arka karena Luna masih menempel padanya, Luna yang kaget mendengar Arka berteriak langsung menjauhkan tubuhnya dari Arka.
Arka berjalan masuk kembali ke dalam kantor dan Luna mengikutinya dari belakang.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Arka setelah duduk di kursinya, melihat ke arah Luna yang tertunduk dengan isakan tangisnya.
"Aku mohon maafkan aku dan ayahku, semua ini hanya salah paham sayang, ayahku tidak melakukan kesalahan yang kau tuduhkan hiks..hiks.." Ucap Luna histeris.
"Aku tidak akan mungkin salah paham jika menyangkut keselamatan ibuku" Jawab Arka dingin.
"Ayahku tidak pernah berniat jahat pada ibumu, dia hanya di jebak" Ucap Luna meyakinkan.
Arka tersenyum sinis melihat wajah Luna yang berantakan.
"Kau hanya membuang waktu ku yang berharga, keluarlah sebelum orang menyeretmu!!" Ucap Arka tegas.
"Jika kau tidak bisa memaafkan ayah, kau pasti bisa memaafkan aku, aku sangat mencintaimu, yang kau lihat itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku dan lelaki itu tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya kebetulan bertemunya beberapa kali saja sayang" Luna berbicara dengan memelas.
"Wahhh kau sungguh tidak tahu malu, apa tidak sekalian kau bersujud memohon di kaki ku saja?" Tanya Arka menatap remeh.
"Aku akan melakukannya, jika kau menyuruhku" Ucap Luna membuat tangan Arka mengepal.
Arka berdiri dan mencengkram dagu Luna dengan kuat.
"Seharusnya kau meminta maaf dengan benar, sekarang kau dengarkan aku baik-baik" Ucap Arka melepaskan dagu Luna dengan kasar, sehingga membuat Luna meringis.
"Jangan tunjukan wajahmu di hadapanku lagi, kau masih beruntung karena aku melepaskan mu begitu saja, seharusnya aku memotong sayap burung peliharaan ku yang liar, sebelum aku melepaskannya, supaya burung itu mati perlahan tanpa bisa menikmati kebebasannya" Ucap Arka dengan tatapan menakutkan, membuat nyali Luna menciut sehingga tidak bisa berkata-kata lagi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like terus komentarnya, kasih aku bintang lima juga ya, dan jangan lupa Votenya yang banyak..
Terimakasih...