ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 29


__ADS_3

Di ruangannya, Arka tengah mengamuk dokumen yang biasanya tertata rapih kini sudah berhamburan seperti terkena badai.


Wajah pak Ade pias, melihat tuannya dalam keadaan marah.


"Kenapa kau tidak mengawasinya? sejak kapan kau menjadi lalai menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, biasanya kau bisa memprediksinya lebih awal" Ucap Arka geram, setelah melampiaskan kekesalannya, nafasnya masih saja memburu, dalam dadanya masih berkecamuk.


"Saya kira dia tidak akan melakukan hal ini tuan, saya hanya menghukumnya untuk di rumahkan saja karena dia adalah karyawan yang sudah lama bekerja untuk perusahaan ini tuan, dan selama ini kerjanya juga bagus" Ucap pak Ade hati-hati.


"Tapi sekarang kau lihat kan, kekacauan apa yang dia lakukan. Dia bahkan berani membuntuti ku, karena foto itu harga saham kita terus menurun sejak pagi tadi?".


Setelah melihat Gatan membawa Reva pergi, Arka langsung masuk ke ruangannya, melihat chat grup yang sedang booming.


Arka mengepalkan tangannya setelah melihat beberapa foto Reva ketika sedang mengobrol dengan Gatan di pinggir jalan, foto ketika pak Udin membukaan pintu mobil sampai Reva memasuki mobil mewah tersebut, dan yang terakhir foto saat Arka dan Reva sedang di puncak kemarin, foto saat mereka duduk berdua di kebun teh dan foto ketika Arka menggendong Reva masuk ke dalam pilanya.


Amarahnya memuncak ketika membaca chat dari para karyawan yang memyebut Reva dengan kata - kata yang kasar dan menghinanya.


Saat itu lah Arka menyapu bersih semua benda yang ada di atas meja dengan tangannya.


"Maafkan saya tuan, saya lengah" Ucap pak Ade setelah melihat kemarahan tuannya mereda.


"Bereskan semua duri itu, jangan sampai menyakiti istri ku lagi, masukan nama Sinta ke dalam blacklist agar dia tidak dapat bekerja di perusahaan manapun lagi, setelah kita memecatnya dan laporkan ini secepatnya karena pencemaran nama baik" Arka memberikan perintah yang mutlak tidak dapat lagi di tawar, pak Ade hanya mengangguk dan keluar dari ruangan Arka.


"Seharusnya aku tidak mengijinkannya bekerja" Gumam Arka membayangkan istrinya yang di permalukan.


Sementara di atap gedung Gatan masih terpaku dengan apa yang ada di layar ponselnya.


Gatan beralih menggenggam tangan Reva yang dingin, karena syok.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, mereka akan mengetahui kebenarannya, besok semua akan kembali seperti biasanya" Niat Gatan ingin menenangkan Reva tetapi yang terjadi malah Reva semakin menangis kencang karena ucapan Gatan.


"Ja jangan menangis lagi, ma maafkan aku aku tidak akan bicara lagi" Ucap Gatan yang kini memeluk Reva.


Setelah Reva mulai tenang Reva melepaskan dirinya dari pelukan Gatan yang masih erat.


"Maafkan saya pak, saya tidak bisa mengontrol emosi saya" Ucap Reva menunduk malu karena menerima pelukan atasannya.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya minta maaf, karena sudah kurang ajar memeluk mu tadi, aku panik melihat mu menangis seperti itu" Ucap Gatan merasa tidak enak.


Reva hanya mengangguk pelan.


"Aku tidak akan bertanya tentang foto - foto itu, aku akan mempercayai semua yang kau katakan, karena aku tahu foto saat kita sedang berbincang itu kita kebetulan bertemu saja, jadi aku akan menganggap semua foto itu hanya kesalah pahaman saja" ucap Gatan tersenyum lembut.


"Kita hanya punya dua tangan tidak mungkin bisa untuk membekap semua mulut mereka, lebih baik kita pakai kedua tangan itu untuk menutup telinga kita saja, biarkan mereka berbica sampai mereka lelah" Ucap Gatan menatap langit yang sangat terik.


Reva menarik garis tipis di bibirnya mendengar ucapan Gatan.


"Kita harus segera kembali bekerja, jam makan siang sudah habis beberapa menit yang lalu" Ucap Gatan setelah melihat jam di tangannya.


Reva mulai bekerja lagi, kini dia tidak mengindahkan pandangan orang terhadapnya, dia hanya ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang pikirnya.


Hingga semua pekerjaan selesai Reva mulai membereskan meja kerjanya, sambil menunggu jam kerjanya usai, namun saat Reva masih sibuk dengan kegiatannya Reva mendengar suara langkah yang tergesa menuju ke arahnya, Reva mengangguk hormat namun...


"PLAKKKKK" Pipi Reva terasa panas setelah mendapat tamparan dari pacar suaminya yang baru saja menghampiri.


"Ke ken kenapa anda me_"


"PLAKKKKK" Belum juga Reva menyelesaikan ucapannya, kini Reva sudah tersungkur karena tamparan yang kembali di dapatkannya.


"Wanita ******, dasar ******, tidak tahu malu, bisa-bisanya kau menggoda calon suami ku, kau lebih pantas kerja di tempat hiburan malam, di sana lebih banya om-om mata keranjang yang kesepian, kau bisa lebih mudah mendapatkan uang dari mereka, apa suami mu tidak mampu memberimu uang, dasar *******" Luna memaki Reva dengan sangat murka, melihat Reva yang sudah menangis di lantai belum membuatnya puas.


Luna menghampiri Reva, dia sudah menaruh tas yang ia bawa dan hendak menjangkau rambut Reva yang terkuncir.


"APA YANG KAU LAKUKAN!!!!" JANGAN MEMPERMALUKAN KU!!!" Teriakan seseorang menghentikan tangan Luna dan berbalik ke arah suara di belakangnya.


Arka mendekat dan menarik kasar tangan Luna agar mengikutinya, dengan kesal Luna menyambar tasnya dan mengimbangi langkah Arka.


Arka membawa Luna keruangannya meninggalkan Reva yang masih menangis tersedu.


"Kenapa hati ku lebih sakit di bandingkan dengan bekas tamparan tadi" Ucap Reva dalam hati melihat suaminya lebih memilih Luna.


Reva mencoba berdiri dengan lututnya yang masih sakit, di tambah dengan pipinya yang memar, dia mengambil tasnya dan berjalan terseok tak memperdulikan pandangan orang dan bisikan di sekitarnya.

__ADS_1


Di ruangan Arka, Luna mengerucutkan bibirnya dan mengusap -usap tangan nya yang memerah karena tarikan Arka tadi.


"Apa yang kau lakukan" Tanya Arka menahan amarahnya.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kenapa kau bersama wanita itu? kenapa aku melihat foto - foto itu di televisi?" Tanya Luna tidak kalah garang.


"Apa yang ingin kau tahu?" Tanya Arka datar.


"Apa dia menggoda mu, bahkan kau berani menyakiti tangan ku" Luna merengek manja.


Arka hanya menatapnya datar.


"Sayang, kenapa kau jadi marah, seharusnya aku yang marah karena wanita itu, kenapa kau tidak membujuku?" Luna bergelayut manja di lengan Arka.


Arka menepisnya dengan kasar.


"Sayang, apa kau benar-benar berselingkuh dengan ******* itu?" Luna menghampiri Arka yang menjauhinya.


"Siapa yang kau bilang *******?" Tanya Arka berbalik menatap Luna dengan mata yang memerah.


"Kalau bukan ******* terus aku harus menyubutnya apa? wanita yang bersuami bermalam berdua dengan bosnya di pila apa itu bisa di sebut wanita baik-baik?" Ucap Luna ketus.


"Wanita yang kau sebut ******* itu adalah istri ku" Ucap Arka geram, membuat Luna membukatkan matanya tapi seketika Luna mengubah wajahnya tersenyum sangat manis dan mendekati Arka.


"Sayang jangan bercanda seperti itu, kau membuat ku takut, aku minta maaf karena sudah bersikap kasar, kau pasti mengertikan aku sangat cemburu melihat kau di goda wanita murahan itu, maafkan aku sudah meragukan mu" Ucap Luna


"Jangan menghina istriku lagi" Arka memegang dagu Luna dengan kuat, sampai Luna meringis menahan sakitnya.


"Aku tidak bercanda, aku sudah menikahinya lebih dari satu bulan, jadi kau harus ingat jangan berani mengganggunya lagi" Ucap Arka melepaskan cengkramannya dengan kasar.


"Kau..kau tega melakukannya, apa salah ku? bukankah kau sudah berjanji akan menikahi ku setelah ibu mu merestuinya?" Ucap Luna kini terisak.


"Itu sebelum aku mengetahui ini" Arka melemparkan sebuah amplop berwarna coklat ke arah Luna.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon Like, Vote & Coment ya..


Terima kasih.


__ADS_2