
Arka menaiki mobilnya dengan tergesa, menarik tangan Alya agar ikut masuk ke dalamnya, menyusul mobil yang Reva dan Adel naiki.
"Pelan-pelan tuan, sa.. saya takut" Ucap Alya ketakutan melihat Arka membawa mobil dengan ugal-ugalan.
"Kau takut mati?? tapi kau tidak takut saat berbohong dan memfitnahku, apa kau tidak berpikir lebih baik mati bersamaku daripada kau mati sendirian di dalam penjara?" Ucap Arka dengan menyunggingkan senyumnya.
Ucapan Arka mampu membuat tubuhnya gemetar, bahkan dia kesuliatan untuk menelen salivanya sendiri.
Arka masih melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas batas mengendara, hingga dia membanting stirnya saat tiba-tiba mobil di depannya berhenti mendadak karena lampu merah menyala.
Untung saja mereka memakai sabuk pengaman, jadi mereka tidak mengalami luka, namun Arka menundukan kepalanya cukup lama di setir dan memegang kepalanya dengan kuat.
Kenangannya dengan Reva satu persatu muncul, kejadian saat dirinya kecelakaan juga ikut masuk menyerbu ke dalam ingatannya.
Arka tersenyum dengan menitikan air matanya, tidak memperdulikan Alya yang meringis.
"Akhirnya aku mengingatmu" Gumam Arka senang, namun saat Arka melihat darah yang mengalir di kaki Alya dia mengalihkan pandangannya, melihat wajah Alya yang sudah memucat.
"Apa kau terluka?" Tanya Arka.
"To..tolong sa..saya" Ucap Alya lemas, melihat hal itu Arka langsung melajukan kembali mobilnya yang mulai di kerubuni orang yang hendak membantu mereka.
Hingga tiba di rumah sakit, Arka keluar dari mobilnya dan sudah ada pak Ade yang menunggunya di depan rumah sakit.
"Bagaimana keadaan ibuku?" Tanya Arka.
"Nyonya masih di tangani dokter tuan muda" Jawab pak Ade.
"Bantu dia, dan cari tahu semuanya!!" Ucap Arka melirik Alya yang masih berada di dalam mobilnya, dan langsung masuk ke dalam rumah sakit tanpa memperdulikan Alya.
Pak Ade langsung memanggil perawat dan dokter agar membantu Alya dengan segera.
Sementara Arka dengan tergesa menghampiri istrinya yang sedang berdiri bersandar pada dinding rumah sakit, dengan sotot mata yang kosong.
Arka langsung memeluknya dengan erat, tidak memperdulikan Reva yang sedang memberontak di dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!!!lepaskan!!" Ucap Reva kesal berusaha mendorong tubuh Arka yang menempel padanya.
"Diamlah, biarkan aku memelukmu, aku sangat merindukanmu" Ucap Arka dengan memeluk Reva dengan lebih erat.
Akhirnya Reva pasrah karena tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Arka.
"Apa kau tidak punya malu, merindukan ku setelah kau meniduri wanita lain? serakah sekali" Ucap Reva ketus.
"Ternyata kamu sangat pendendam sayang" cetus Arka.
"Apa maksudmu?" Tanya Reva bingung.
Arka melepaskan pelukannya dan memegang bahu istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu sangat pendendam, kamu membalas perbuatanku, apa kamu masih marah saat aku tidak mempercayai ucapanmu tentang Luna, sehingga sekarang kamu membalas dan tidak mempercayaiku juga?" Tanya Arka dengan tatapan teduhnya.
Reva membulatkan matanya karena kaget mendengar perkataan suaminya.
"Ap..apa kau..?" Tanya Reva tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Ya aku mengingat mu sayang, dan aku senang bisa melihatmu lagi" Ucap Arka mengangguk dan mencium kening Reva yang mulai menangis.
"Khmmm" pak Ade terpaksa mengganggu majikankan, karena harus memberikan laporan kepada Arka.
"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku inginkan?" Tanya Arka serius, melepaskan pundak istrinya.
"Ya tuan, dokter ingin bertemu dengan anda" Ucap pak Ade.
Arka menarik tangan Reva dengan lembut, walaupun Reva awalnya menolak namun tatapan Arka merubah keputusannya.
"Tolong jaga ibuku sebentar, aku ingin menemui dokter itu" Ucap Arka kepada pak Ade, dan tentu saya pak Ade mengangguk.
Arka dan Reva sudah berada di ruangan dokter itu, dan awalnya Reva terkejut dan ingin keluar dari ruangan itu ketika melihat Alya terbaring di ranjang pasien, namun Arka menggenggam tangannya lebih kuat, dan meyakinkannya agar tetap di sampingnya.
"Aku akan membuktikannya kepadamu" Ucap Arka membuat Reva mau duduk di samping Arka.
"Bagaimana dok?" Tanya Arka kepada dokter yang tadi memeriksa Alya.
"Usia kandungannya masih sangat muda, dan kondisinya juga kemah, jadi dengan benturan sedikit saja bisa berakibat pendarahan seperti ini, tapi syukurlah kandungannya masih bisa bertahan" Ucapan dokter itu membuat Arka dan Reva saling melemparkan pandangannya.
"Kan..kandungan?? di..dia ha..hamil?" Tanya Reva syok.
"Berarti sebelumnya dia sudah tidak.._" Reva tidak melanjutkan ucapannya, karena Arka memotong ucapannya.
"Mana mungkin dia masih perawan, kamu pikir dengan waktu beberapa jam saja dia bisa langsung hamil 2 bulan?" Tanya Arka.
"Tapi darah di tempat tidur?" Tanya Reva menatap Arka.
"Tanyakan saja pada wanita itu, aku mungkin tidak mengingatmu, tapi aku tidak pernah menghianati mu" Ucap Arka membuat Reva tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa mengingatnya, istri saja kamu melupakannya" Ucap Reva sinis.
"Ahhh aku kan sudah minta maaf, kenapa kamu terus mengungkitnya, sekarangkan aku sudah mengingat semuanya" Ucap Arka kesal, namun Reva tidak memperdulikan Arka, dia masih penasaran dan menatap dokter itu.
"Tapi apa dokter bisa mengetahui siapa ayah si bayi itu, karena mungkin saja dia dan suami saya melakukannya dari dulu? apa dokter bisa memeriksanya apa benar jika tadi mereka melakukannya?" Arka menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan istrinya.
"Apa kamu benar-benar tidak percaya kepada ku?" Tanya Arka lebih kesal.
"Diam!!!aku tidak ingin mati karena penasaran dan menduga-duga saja, jadi biarkan aku memastikanny" Ucap Reva tanpa menoleh ke arah Arka.
Dokterpun tersenyum melihat pasangan suami istri itu.
"Tenang nyonya, saya akan menjawab pertanyaan anda dan rasa penasaran di dalam hati anda" Jawab dokter dan memberikan sebuah amplok kepada Reva.
__ADS_1
"Apa ini dok?" Tanya Reva.
"Hasil pemeriksaannya, tadi saya sudah memeriksa semuanya" Jawab dokter itu.
"Saya ingin mendengar penjelasan dari dokter langsung" Ucap Reva antusias.
"Baiklah, saya belum bisa memastikan siapa ayah dari janinnya, namun saya bisa memastikan jika suami anda tadi tidak berhubungan dengan nona itu, karena saya tidak menemukan adanya ****** di bagian intimnya" Ucap dokter itu membuat Reva bernafas lega.
"Sekarang kamu percaya?" Ucap Arka, dan tersenyum ketika melihat Reva mengangguk.
"Terima kasih dok!!" Ucap Arka menjabat tangan dokter tersebut setelah berdiri dan di ikuti oleh Reva.
Mereka keluar dari ruangan tersebut tanpa menyadari bahwa dari tadi Alya sudah terbangun namun pura-pura menutup matanya karena merasa takut.
Mereka kembali ke tempat dimana Adel kini sudah sadarkan diri, mereka langsung masuk ke dalam ruangan Adel untuk melihat keadaannya, setelah dokter menjelaskan bahwa Adel mengalami serangan jantung ringan.
Arka menatap ibunya dengan khawatir, namun Reva menggenggam tangannya dengan erat.
"Jangan khawatir ibu pasti baik-baik saja" bisik Reva, yang di angguki oleh Arka.
Mereka melihat Adel mulai membuka matanya perlahan, Reva langsung menggenggam tangan mertuanya, dan tersenyum bahagia.
"Ibu sudah siuman, apa ibu mau minum?" Tanya Reva, namun mata Adel langsung menuju arah Arka.
"Suruh dia pergi sayang, bilang kepada anak kurang ajak itu jangan menunjukan wajahnya di hadapan ibu" Ucap Adel dengan suara yang masih parau.
Reva langsung menenangkan Adel dan perlahan menjelaskan apa yang tadi dia dengar dari dokter, awalnya Adel tidak percaya namun perlahan setelah Reva terus meyakinkannya Adelpun mulai percaya.
"Apa itu benar?" Tanya Adel menatap Arka.
"Bahkan ibu tidak percaya ucapan dokter?" Ucap Arka pura-pura marah.
"Maafin ibu dasar anak nakal, kemarilah!!" Ucap Adel dengan tersenyum, melambai kepada Arka yang sejak tadi duduk di sofa.
"Tadi ibu mengusirku, sekarang menyuruku mendekat, wahhh labil sekali" Ucap Arka menyebikan bibirnya.
"Ibu lihatkan, sifatnya kembali setelah ingatannya juga kembali" Ucap Reva menatap Adel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ap..apa?" Tanya Adel, dan Reva mengangguk meyakinkan jika apa yang Adel pikirkan itu benar-benar terjadi.
Merekapun menangis sambil berpelukan karena bahagia.
Tamat...
Tapi boong!!!
Masih Bersambung kok beberapa episode lagi, jangi terus tungguin up selanjutnya ya.
Jangan lupa Like dan komentarnya, jangan lupa Vote juga.
__ADS_1
Terima kasih