
Arka memasuki kantornya bersama pak Ade, semua karyawan menunduk hormat melihat kedatangan bos besar nya, tak terkecuali Reva yang ikut - ikutan menunduk setelah melihat yang di lakukan para senior nya.
"Kamu ikut ke ruangan saya!!" perintah Arka melirik ke arah sekretaris barunya.
"Ba baik pak" Jawab Reva, langsung mengekori Arka ke ruangan nya.
Arka duduk di kursi kebesaran nya, menatap pak Ade dengan tajam.
"Saya permisi" Ucap pak Ade seakan mengerti tentang tatapan mengusir majikan nya.
"Apa jadwal ku hari ini?" Tanya Arka kepada sektetaris baru nya itu setelah kepergian pak Ade.
"Hari ini jadwal anda kosong pak, hanya ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani" Jawab Reva dengan meletakan beberapa map di atas meja kerja bos nya.
"Baik lah, jangan biarkan ada orang yang masuk, hari ini aku tidak ingin di ganggu, kecuali orang yang sudah memiliki janji sebelumnya" Arka berkata dengan melihat Reva yang menunduk.
"Baik pak!" Reva menjawab tegas.
"Kau bisa keluar sekarang" Ucap Arka tanpa melihat ke arah Reva.
"Baik, saya permisi" Reva membalikan badan nya, menghampiri pintu hendak keluar dari ruangan tersebut. Tapi pintu itu sudah terbuka sebelum Reva menyentuh nya.
Terlihat seseorang tersenyum manis kepadanya.
"Hai cantik, kita ketemu lagi". Ucap Gatan yang melihat Reva hanya mengangguk hormat.
"Permisi" Reva keluar ruangan, melewati Gatan yang masih berdiri di daun pintu.
"Nanti kita makan siang bareng ya" Ucap Gatan sambil mengedipkan sebelah mata nya genit. Reva hanya melihat nya biasa saja dan menuju meja kerja nya kembali.
Gatan duduk bersebrangan dengan Arka yang sudah sibuk dengan pekerjaan nya.
"Ka, bisa kali kita tukeran sekretaris. Punya Lo bening bener, cantik nya ga di buat - buat" Arka menghentikan kegiatan nya, langsung menatap Gatan tidak suka.
"Aku menggaji mu untuk bekerja, bahkan aku memberikan sekretaris pribadi untuk mu juga. Jadi bekerja lah dengan benar". Arka melemparkan balpoin yang di pegang nya, ke arah Gatan yang sigap menghindari serangan mendadak dari bos nya itu.
"Iya..iya bos, tapi dia udah nikah belum sih, lihat CV nya dong!! cuma nomor ponsel nya juga bolehh" Gatan cengengesan sambil memainkan alis nya ke atas dan ke bawah.
Arka hanya menajamkan pandangan nya, membuat nyali Gatan ciut.
"Iya, iya aku keluar, aku akan bekerja. Aku akan cari tahu tentang si cantik itu sendiri" Gatan bangkit dari duduk nya, dan berlalu keluar meninggalkan Arka.
__ADS_1
"si cantik?? yang benar saja, dan untuk apa wanita yang sudah menikah memakai rok pendek seperti itu?" Arka menggerutu kesal, padahal rok yang di pakai Reva lebih panjang, di banding dengan yang karyawan lain pakai.
Jam makan siang pun tiba, Reva memilih mencari makan di luaran kantor, Reva tidak ingin mendapatkan tatapan iri dari para karyawati yang mengagumi sang tuan besar.
Reva memilih makan di kaki lima, menu bakso dan es teh manis jadi pilihan nya.
Reva melahap makanan nya hingga kandas, dan kembali ke kantor setelah membayar nya.
"CANTIKKKK" Reva memutar bola mata nya ketika Gatan dan Arka menghampirinya di depan pintu lip.
"Aku muter - muter di kantin nyariin kamu, tapi ga ada. Kamu makan di luar ya?" Tanya Gatan so akrab.
"hmmm" Reva menjawab malas, dan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
"Nanti pulang aku antar ya" Gatan dan Arka mengikuti Reva masuk lift, dan menekan tombol nya, tanpa di sadari Arka mengepalkan tangan nya, terlihat kesal.
"Tidak usah, terima kasih" Reva menjawab sopan.
"Kenapa, udah ada yang jemput ya?" Gatan terlihat kecewa.
Reva mengangkat tangan nya, menunjukan cincin pernikahan yang terpasang di jari manis nya.
"Saya sudah menikah" Gatan menunduk sedih, berbeda dengan Arka yang kini tersenyum mendengar Reva mengakui pernikahan nya.
"Ahhh aku kira dia itu jodoh ku" Ucap Gatan sedih, Arka menepuk pundak sahabatnya itu memberikan semangat, lalu masuk ke dalam ruangan nya.
Jam kerja kantor pun hampir habis, Reva sedang membereskan meja kerja nya hingga melihat kedatangan wanita yang sangat cantik, tubuh nya yang saxy langsing,tinggi namun berisi, ramput panjang coklat yang di gerai dan menenteng tas mewah mendekat ke arah nya.
Wanita itu melepas kaca mata nya setelah berada di depan meja Reva.
"Sekretaris baru ya??" Tanya nya dengan sinis.
Reva tersenyum, lalu mengangguk.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Reva bertanya sopan.
Wanita itu mengabaikan pertanyaan Reva, dan langsung menuju ruangan Arka.
"Permisi nyonya, apa anda sudah memiliki janji dengan pak Arka, beliau berpesan tidak ingin menemui siapa pun" Reva menyusul Wanita itu yang tidak mendengarkan perkataan Reva, Dia langsung saja membuka pintu tanpa mengetuk.
"Sayangg, kenapa kamu gak ngasih tau kalau pengganti sekretaris mu masih muda?? Aku ga suka dengan nya, kenapa aku harus memiliki janji untuk bertemu dengan calon suami ku sendiri, apa dia tidak tahu siapa aku?" Ucap wanita itu manja menghampiri meja Arka.
__ADS_1
"Sudah beberapa kali aku kata kan, ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ku Luna" Arka terlihat tidak suka.
"Saya permisi pak" Reva pamit mengetahui wanita tersebut adalah Luna, pacar dari suami nya.
"Cantik sekali, pasangan yang serasi, ahhh aku sudah kalah sebelum berperang rupa nya" Reva berbicara dalam hati, entah sejak kapan dia merasakan sakit jika mengingat tentang Arka.
Reva melanjutkan aktivitas nya yang tadi sempat terhenti, hingga melihat Arka dan Luna melewati meja kerja nya. Reva melihat ke arah tangan Arka yang di gandeng mesra oleh Luna dia terlihat sedih.
Reva keluar dari kantor setelah menyelesaikan pekerjaan nya, dia menghampiri ojol yang sudah Ia pesan tadi.
Di perjalanan dia mendengar suara Adzan yang berkumandang, dia menyuruh driver ojol nya untuk mengantar ke dekat Alun - alun saja.
Setelah selesai sholat, Reva berjalan perlahan melihat lihat beberapa gerobak makanan yang berjajar di dekat trotoar, aroma sedap dari berbagai macam makanan menggelitik perut nya, dia memilih untuk membeli martabak manis dan martabak telor saja, dia pikir bisa membawa nya pulang untuk para ART di rumah.
Karena antrian martabak cukup panjang, akhirnya Reva menunggu di sebuah kursi pembeli. Reva menerawang melihat suasana yang sangat ramai, namun hati nya terasa sangat dingin mengingat Arka yang di gandeng wanita lain.
"Ada apa dengan hati ku, kenapa tiba - tiba terasa perih, tidak mungkin jika aku mulai menyukai si pohon pisang itu kan? pantas saja dia selalu pulang larut malam, aku kira dia benar - benar bekerja, ternyata dia hanya senang- senang. Pantas saja dia tidak memakai cincin pernikahan nya, ahhhh kenapa aku jadi ingin menangis". Pikir Reva getir.
"Mbak ini pesanan nya sudah jadi" Penjual martabak itu mengagetkan Reva yang tengah melamun.
"iy iya pak, ini uang nya" Reva berdiri mengambil martabak dan membayar nya.
"Terimakasih" Ucap Reva meninggalkan pedagang itu, Reva berjalan kaki mencoba menenangkan hati nya, mengulur waktu untuk pulang ke rumah.
Hingga waktu menunjukan pukul 10 malam, dia baru sampai dengan keringat yang terlihat bercucuran. Sepanjang jalan tadi dia sibuk dengan hati nya, sehingga tak terasa sudah sampai rumah dengan berjalan kaki. Padahal dengan menaiki motor saja bisa memakan waktu hingga 15 menit.
Bu Nur melihat nona muda nya dengan khawatir.
"Anda kenapa nona? apa yang sudah terjadi?".
"Air bu, aku minta air" Ucap Reva yang menuju ke arah dapur.
"glek..glek..glek.." Reva menghabiskan segelas air penuh yang di berikan oleh Bu nur.
"Aku tadi berolah raga bu, biar sehat. Dan aku beli ini untuk kalian, maaf sudah dingin" Ucap Reva memberikan martabak nya yang memang sudah dingin.
"Terima kasih nona" Bu nur menerima nya pemberian majikan nya.
Reva pun naik ke atas meninggalkan bu Nur, dan menghampiri kamar nya yang terlihat sepi.
Mohon Like & Coment nya ya...
__ADS_1
Jangn Lupa Vote & bantu untuk promosi juga. bintang lima jangan lupa ya
Terima kasih...