
"khmmm, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Reva menyelidik.
"Di dia, a aku se sedang membantunya" Ucap sang pria gugup, ketika kaget dengan kehadiran Reva.
"Membantu apa? menciumnya? di tempat umum seperti ini? dasar mesum!!" Ucap Reva, membuat pria itu gelagapan.
"Ti tidak, apa yang kamu pikirkan!! ini ti tidak seperti yang kamu pikirkan" Kini giliran si wanita yang mencoba menjelaskan.
"Ahhh kalian pikir aku anak kecil yang tidak tahu apa-apa" Ucap Reva mendekati kedua orang yang Reva pergoki.
"Ada apa sayang?" Tanya Arka yang ikut bergabung, dan memeluk istrinya dari belakang.
"Tuhh!!! mereka tadi sedang berciuman" Ucap Reva.
"Wahh..wahh..tidak sopan itu, kau melakukan tindakan yang tidak senonoh di tempat umum" Ucap Arka menimpali.
"Bukan, gue udah bilang, gue enggak ngelakuin apa yang kakak ipar pikirin, gue lagi nolongin dia" Ucap Gatan yang sedari tadi menjadi tersangka.
"Kalau maling ngaku penjara penuh" Ucap Arka mencium pipi istrinya.
"Lihat, lihat itu, kalian nuduh gue seperti penjahat, tapi kalian sendiri bermesraan di sini" Protes Gatan.
"Kami sudah sah, lihat ini, bahkan kami sudah membuahkan hasil atas kerja keras yang selama ini kami lakukan" Ucap Arka bangga sambil mengelua perut istrinya.
"Ishhh dasar pamer" Ucap Gatan menyebikan bibirnya.
"Tunggu, tunggu, tapi sejak kapan kalian saling kenal, apa kalian sedang pacaran, kenapa kamu berani menciumnya?" Tanya Reva masih penasaran.
"Kami tidak berciuman, tadi mataku kelilipan kena debu, saat sedang membersihkan karpet yang aku ambil dari gudang, dan aku minta tolong padanya agar meniup mataku, karena terasa perih sekali, lihat ini lihat baik-baik bahkan mataku masih meeah dan berair" Ucap Salfa kesal, karena tadi tidak di beri kesempatan untuk menjelaskan.
Reva mendekati sahabatnya, setelah melepaskan tangan Arka yang melingkar di perutnya, melihat baik-baik mata Salfa dari dekat.
"Alibi yang cukup kuat" Ucap Reva, mengangguk.
"Gaya mu itu loh neng, udah kaya detektip, aku minjem obat tetes mata dong, masih sakit banget ini" Ucap Salfa dan di angguki Reva.
"Hehhh tapi benerkan, kau tidak bermaksud macam-macam dengannya? ingat dia itu wanita baik-baik, jangan berani mendekatinya" Ucap Arka berbisik, sebelum pergi meninggalkan Gatan.
"Heiii gue juga pria baik-baik, lo kira gue penjahat?" Teriak Gatan yang kesal mendengar perkataan Arka.
Acara berlangsung dengan baik, Reva tengah duduk di tempat tidurnya, menijat kakinya yang terasa pegal karena seharian berjalan kesana kemari.
Arka yang baru masuk ke kamar melihat apa yang sedang di lakukan istrinya.
Arka langsung menghampiri istrinya, dan mengangkat kaki sang istri ke atas pangkuannya, kemudian memijatnya pelan.
__ADS_1
Reva mengulas senyum dengan perlakuan suami yang memanjakannya.
"Aa pasti sangat lelah, biar aku lakukan sendiri saja, rasanya sudah lebih baik kok" Ucap Reva yang menarik kaki dari suaminya.
Namun tangan Arka menghentikan Reva, dan tetap memijat kakinya.
"Aku senang melakukannya, aku akan memijatmu dan meminta bayaran ku nanti, kamu pikir aku melakukannya dengan cuma-cuma?" Tanya Arka tersenyum iblis.
"Sama istri saja perhitungan, aku kan gak nyusruh, aa sendiri yang mau memijatku, kalau begitu hentikan!! aku tidak akan sanggup membayar tukang pijat yang tampan seperti seperti mu" Ucap Reva pura-pura ngambek.
"Aku tidak akan meminta uang sayang, uang kita sudah banyak, pijatan harus di bayar dengan pijatan juga, jadi nanti gantian kamu yang harus memijat ku" Ucap Arka mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi pijat plus-plus ya" Lanjut Arka menyeringai.
"Kamu gak malu a ngomong kaya gitu, anak kita denger loh, iya kan sayang, kamu dengerkan daddy ngomong apa?" Ucap Reva yang mengelus perutnya.
"Justru karna aku tahu, anak kita merindukan ayahnya, jadi aku harus menengoknya, memastikan agar anak kita tidak merasa kesepian di dalam sana" Ucap Arka yang ikut mengelus perut istrinya.
"Apa kamu tidak kasihan, sejak kamu hamil aku lebih sering berpuasa, jadi malam ini kita lakukan ya..ya!! Ucap Arka membujuk.
Reva tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
Gelap berubah menjadi terang, kini di rumah keluarga Arka tengah mengantar kepergian bi Ihat dan rombongan di depan rumah, yang akan kembali ke Bandung hari ini.
"Kamu gak apa-apa kan sayang?" Tanya Adel ketika melihat raut wajah Reva yang sedih.
Adel mengusap punggung menantunya dengan sayang, kemudian menggandeng Reva masuk ke dalam rumah.
Adel mengajak Reva untuk berbincang di sofa ruang keluarga, sementara Arka sudah berangkat ke kantor sejak pagi.
"Sayang, ibu harus segera kembali ke korea, tapi ibu janji akan menemani mu saat lahiran nanti" Ucap Adel menggenggang tangan Reva.
Reva terlihat semakin sedih, mendengar kabar dari mertuanya.
"Rumah ini akan sepi lagi" Ucap Reva sedih.
"Ibu akan lebih sering menghubungi mu, dan ibu juga akan menyuruh Arka agar lebih sering menemanimu di rumah" Ucap Adel menenangkan menantunya.
Reva menggeleng dan tersenyum.
"Tidak bu, A arka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya, aku tidak ingin mengganggunya" Ucap Reva.
Adel tersenyum mendengar perkataan Reva.
"Kamu sudah semakin dewasa sayang" Ucap Adel bangga.
__ADS_1
"Apa kalian sudah memeriksanya? apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya,perempuan atau laki-laki?" Tanya Adel penasaran dan mengelus perut Reva.
"Kami sudah sepakat bu, tidak akan melakukan USG, biarkan nanti jadi kejutan pas lahiran, karena lelaki atau perempuan sama saja, yang penting sehat dan tanpa kekurangan apapun" Ucap Reva tersenyum.
"Iya sayang, yang penting anak dan ibunya sehat dan selamat, kamu harus jaga kesehatan, dan jangan terlalu banyak pikiran" Ucap Adel dan di angguki oleh Reva.
****
Beberapa bulan sudah berlalu, kini usia kandungan Reva sudah menginjak 7 bulan, perutnya sudah semakin besar.
"Sayang, kita istirahat dulu aja ya, kita cari tempat duduk beli makan atau minum dulu, kaki sama tangan aku pegel banget nih" Ucap Arka yang sudah berkeringat, mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaan istrinya.
"Bentar lagi deh A, belanjaannya juga tinggal sedikit lagi yang belum di beli, biar cepet pulang juga" Ucap Reva yang masih semangat, menggandeng lengan sang suami.
"Kenapa harus belanja ke pasar juga sih yank, kenapa gak ke mall atau beli online aja sih?" Ucap Arka.
"Isshhh kalau beli di mall itu harganya lebih mahal, apalagi online barangnya belum tentu sesuai ama yang di gambar, lagian beli perlengkapan buat anak pertama juga ngeluh mulu dari tadi, gak ada perjuangannya banget" Ucap Reva kesal.
"Bukan gitu sayang, aku takut kamu kecapean aja, jalan dari tadi muter-muter keliling pasar kaya gini" Ucap Arka menjelaskan.
"Aku gak cepek, malahan aku seneng banget bisa jalan-jalan kaya gini" Ucap Reva tersenyum senang.
Arka tersenyum melihat senyum merekah dari wajah sang istri.
Setelah merasa sudah mendapatkan semua yang mereka inginkan, akhirnya mereka keluar dari pasar dan berjalan menuju parkiran.
Tapi tiba-tiba Reva menghentikan langkahnya, ketika melihat tukang rujak di seberang jalan.
"A tunggu sebentar, aku mau beli rujak dulu, aa tunggu disini aja, deket kok" Ucap Reva yang langsung berjalan pergi.
"Biar aku saya yang belikan, sayanggg tunggu aku masukin barang-barang ini dulu!!" Ucap Arka setengah berteriak.
Reva berbalik ke arah suaminya yang masih sibuk memasukan belanjaannya ke dalam mobil.
"Gak usah, aku bisa sendiri" Ucap Reva.
Reva melangkahkan kakinya hendak menyebrangi jalan, tapi tiba-tiba sebuah motor dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya dengan tiba-tiba.
"BRAKKKKKK"
Bersambung.
Mohon Like dan komentarnya ya, tekan bintang lima juga buat menyemangati ku.
Dan jangan lupa Vote yang banyak.
__ADS_1
Terimakasih.