ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 17


__ADS_3

Reva memasuki kamarnya, tak terlihat siapa pun di sana, Reva berjalan menuju ruang ganti, membuka kopernya dan mulai memasukan semua barang - barang nya, setelah semua nya beres dia berjalan ke luar, menuju kamar sebelah Arka yang biasa nya di pakai untuk kamar tamu.


"Seperti nya aku harus berendam air hangat, supaya pegal di kaki ku membaik" Reva mengambil peralatan mandi nya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku ingin sekali pulang ke rumah bibi, sulit sekali hidup di rumah ini, bahkan sejak menikah jarang sekali aku mendengar suara nya, aku adalah penghalang untuk kebahagiaan mereka, ibu pasti salah menilai Luna sepertinya dia wanita yang tulus mencintai Arka, tapi bagaimana ini, karena sepertinya aku mulai munyukai pohon pisang itu". Reva melamun dalam air hangat nya, dia bahkan tidak merasakan perih di kaki nya yang lecet karena terlalu lama berjalan.


Sementara Arka baru saja keluar dari ruang kerja nya, terlihat mencari - cari seseorang di kamar nya.


"Apa dia belum pulang?" gumam Arka saat tidak menumukan keberadaan istri nya di kamar mandi kamar nya, dia mulai terlihat panik, setelah tidak melihat koper dan barang - barang Reva di ruang ganti.


Arka langsung menuruni tangga dengan tergesa, dia langsung ke rumah belakang.


Para ART langsung berdiri dari duduk nya dan menunduk hormat tak terkecuali Bu Nur.


"Apa anda perlu sesuatu tuan muda?kenapa anda tidak memanggil saya tuan?" Tanya bu Nur.


"Apa nona muda sudah pulang?" Arka tak menghiraukan pertanyaan bu Nur.


"Iya tuan, nona muda sudah pulang" Jawab bu Nur.


"Sepertinya, nona berjalan kaki cukup jauh tuan,bahkan nona muda membelikan kami martabak, tapi nona tidak ikut memakan nya" Lanjut bu Nur, Arka malirik martabak yang terhidang di atas meja makan, yang tadi sedang di santap para ART nya sebelum kedatangan Arka.


"Apa bu Nur melihat nona keluar rumah lagi, setelah dia pulang tadi?" Arka terlihat cemas, bu Nur mengerutkan dahi nya dan menggeleng.


"Setelah nona muda naik ke atas, saya langsung mengunci pintu depan tuan, dan belum ada yang membuka nya lagi" Bu Nur menjawab yakin dan menunjukan kunci di tangan nya.


"Apa terjadi sesuatu tuan?" bu Nur menyelidik.


Arka hanya menggelengkan kepalanya sekilas, dan berlalu kembali ke rumah utama.


"Jadi kemana dia?" Gumam nya sambil menaiki anak tangga nya.


Arka hendak membuka pintu kamarnya, namun langsung menghampiri kamar sebelah nya.

__ADS_1


"Mungkin kah dia ada di dalam" Arka membuka nya perlahan, pandangan nya tertuju pada sosok perempuan yang dia khawatirkan, sebuah senyum terlukis di wajah Arka sekarang, membuat lesung pipit di kedua belah pipinya terlihat.


Arka menghampiri Reva yang tengah terlelap di sofa panjang dekat ranjang.


"Bodohh..kenapa masih saja tidur di sofa, pasti badan mu selama ini sakit" Gumam Arka yang berjongkok menatap wajah cantik Reva yang terlelap.


Arka mengambil selimut, hendak menutupi tubuh istri nya yang meringkuk, namun kegiatan nya terhenti, saat Arka melihat ada beberapa luka di kaki Reva.


Arka mengambil kotak P3K, mengmbil salep dan mengoleskan nya dengan lembut, Arka berhenti saat tubuh Reva menggeliat namun Reva terlelap kembali hingga Arka selesai mengobati luka istrinya.


"Tidurlah, kau pasti lelah" Arka mengusap kepala Reva dengan sayang, sebelum Arka kembali ke kamar nya.


Pajar hampir menyingsing di langit, namun Arka masih tak bisa terlelap, dia selalu melihat ke arah sofa yang biasa di tiduri Reva.


Namun saat kini dia tidur sendiri di kamar nya dia bahkan tidak bisa tidur sedikitpun, dia terus saja memikirkan istrinya.


"Agghhh kenapa juga dia harus pindah kamar, apa dia takut tidur sekamar dengan ku?".Arka mulai kesal karena mata nya tak mau juga terpejam.


"Mau saya bikinin kopi tuan muda" Tanya bu Nur yang hanya di angguki Arka


Reva mengikuti arah tatapan bu Nur.


"Apa dia tidak tidur semalaman? pulang jam berapa dia? apa yang mereka lakukan sampai tengah malam?" Reva pikir saat tidak melihat Arka di kamar, Arka belum pulang dan pergi semalaman dengan Luna. Reva menatap sinis suami nya.


Arka menabrakan pandangan nya dengan Reva, terlihat tatapan tidak suka kepada nya, Reva menggigit roti panggang nya dengan kasar, seperti sedang menyayat nyayat mangsanya, Arka melihat ngeri sekaligus lucu dengan tinggah istri nya itu.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Arka membuka pembicaraan.


"Siapa yang melihat anda, dari tadi saya hanya fokus pada roti ini" Jawab nya formal.


"Kenapa kau berubah formal seperti itu" Arka menghentikan sarapan nya, dan menatap Reva tidak suka.


"Sudah seharus nya saya sopan kepada atasan saya tuan" Reva masih sibuk dengan roti nya.

__ADS_1


Arka mendengus kesal mendengar kata - kata istri nya. Bu Nur meninggalkan mereka, menghindari pertengkarang antara suami istri yang mulai memanas itu.


"Ini bukan di kantor, di rumah aku adalah suami mu" Reva meneguk air di gelas nya dan menatap suami nya yang sedang berbicara.


"Ah ya suami, suami yang menikahi ku karena terpaksa, suami ku dan pacar wanita lain, suami yang dengan senang di gandeng oleh pacar nya dan pergi bersama pacar nya bahkan tidak tidur semalaman" Reva menatap getir, dan menggigit bibir bawah nya.


"Apa yang aku kata kan, pertama otak ku lalu hati ku sekarang bahkan bibir ku pun menghianati ku, aggghhh dasar bodoh" Reva mengutuki diri nya sendiri.


"Aku tidak bisa tidur kar.._tunggu!! apa kau sedang cemburu sekarang?" Tanya Arka dengan tatapan menggoda.


"Heii siapa yang cemburu? siapa yang aku cemburui? tidur sana!! jangan mimpi!!" Reva mengelak, Arka masih menatap Reva dengan tajam dengan senyum iseng nya membuat Reva tidak nyaman.


"Ya aku cemburu, aku memang cemburu, ini perasaan ku jadi kau tidak berhak melarang nya" Reva pergi dengan kesal setelah mengatakan nya.


Arka terlihat senang dengan pengakuan istri nya, dan menghabiskan sisa kopi nya.


Pipi Reva masih terlihat memerah ketika menaiki ojol pesanan nya, entah karena marah atau malu, mungkin karena dua - dua nya.


"Dadar bodoh!!" Gumam nya dan mencengkram bahu driver ojol itu dengan kuat, membuat driver nya menghentikan laju motor karena kaget.


"Maaf pak, saya pegangan nya terlalu kencang, saya ...saya takut jatuh pak". Reva dengan malu memberikan alasan.


"Baik lah mbak, saya akan lebih pelan lagi" Ucap bapak ojol itu, dan melanjutkan laju kendaraan nya lagi.


Reva masuk ke dalam kantor setelah membayar ojolnya, berjalan menuju lip.


"Cantikkkk!!!"


Bersambung...


Mohon Like, coment & Vote nya ya. Jangan lupa bintang lima juga ya.


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2