
Semakin hari kondisi Arka semakin baik, sikapnya terhadap Reva pun mulai melunak, bahkan Arka tidak segan untuk menggendong dan bermain bersama Arva, walaupun ingatannya belum kembali.
Reva sangat senang karena setidaknya Arka mau berusaha untuk mengingatnya.
"Lihat wajah mu itu, mirip sekali denganku, bahkan kau mencuri lesung pipit ku yang berharga, kau tahu lelaki yang memiliki lesung pipit akan di gilai semua wanita, ahhh kau pasti akan kerepotan jika sudah besar nanti karena harus di kejar-kejar wanita yang mengagumi mu seperti aku dulu" Ucap Arka kepada Arva yang berada di gendongannya.
"Apa kamu tidak malu berbohong seperti itu kepada anak mu?" Tanya Adel yang duduk di sofa depan Arka.
"Aku tidak berbohong" Cetus Arka protes.
"Sudahlah bu, memang ketampanan Arva di turunkan dari daddynya, lihat saja hampir tidak ada bagian yang mirip denganku, padahal aku mengandungnya selama 9bulan tapi hanya kuku kakinya saja yang mirip dengan kuku kaki ku" Ucap Reva yang baru saja datang dengan cemberut.
"Untung dia tidak mirip denganmu, lihat wajah mu ketika cemberut, mengerikan sekali" Ucap Arka meledek.
"Aisssh apa kamu benar-benar hilang ingatan, tapi sepertinya kamu tidak melupakan sikap mu yang menyebalkan" Ucap Reva semakin cemberut.
Adel tersenyum bahagian melihat keakraban pasangan suami istri itu.
"Semoga kamu cepat sembuh sayang, kasihan istri mu jika menunggu terlalu lama" Ucap Adel dalam hati.
Mereka pun berbincang sampai hari menjelang sore, Arka di bantu Alya menuju kamarnya untuk istirahat, sementara Reva sedang menidurkan Arva di kamarnya.
Setelah selesai memastikan anaknya tidur dengan pulas, Reva keluar dari kamarnya dengan langkah pelan karena tidak ingin membuat Arka terbangun, dia menutup pintunya dengan sangat hati-hati.
Sementara di kamar, Arka tengah di bantu Alya untuk berdiri dari kursi rodanya, agar pindah ke atas tempat tidurnya.
Namun dengan sengaja Alya membuat tubuhnya terjatuh ke atas tempat tidur, membuat Arka menindih tubuhnya.
Tidak lama kemudian Reva membuka pintu kamar Arka, karena hendak membantunya untuk menggantikan pakaiannya terlebih dahulu.
Mata Reva membulat sempurna, jantungnya terasa sulit untuk berdetak, dan tubuhnya serasa mati membeku.
"Nona muda" Ucap Alya, membuat Arka melihat ke arah pintu dengan ekspresi terkejutnya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN???!!!!" Reva berteriak setelah kesadarannya telah kembali.
Arka bersusah payah menggeser tubuhnya, hingga dia duduk di pinggir tempat tidur, dan Alya langsung berdiri merapihkan bajunya.
"Ada apa sayang?" Tanya Adel yang tergesa menghampiri, saat mendengar teriakan menantunya.
Karena tidak mendengar jawaban dari Reva, Adel menggeser pandangannya ke arah mata Reva sedang memandang.
Adel melihat Arka sedang duduk dan Alta tengah berdiri di sampingnya.
"Maafkan saya nona muda, saya hanya membantu tu_" ucapan Alya terhenti ketika sebuah tangan mendarat di pipinya.
__ADS_1
"PLAKKKKK" Reva tidak dapat menahan amarahnya lagi.
"Membatu dia dengan cara menggodanya haaah?" Tanya Reva dengan nada marah.
"Tenang sayang, dengarkan penjelasan mereka dulu" Ucap Adel menenangkan Reva.
"Dia hanya membantuku" Ucap Arka, namun Reva hanya mendengus kesal.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!!" Ucap Adel.
"Sa saya membantu tuan muda untuk berdiri nyonya, ta tapi tubuh saya ti tidak kuat menahannya sehingga membuat sa saya dan tu tuan muda terjatuh" Ucap Alya menunduk.
"Benarkah itu yang terjadi Arka?" Tanya Adel melihat ke arah Arka dengan tajam.
"Apa aku harus bersumpah?" Tanya Arka.
"Tidakkah kamu ingin meyakinkan ku untuk percaya padamu a?" Tanya Reva dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk apa aku meyakinkan mu, bukankah kamu juga tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan?" Tanya Arka menatap mata Reva.
Namun perdebatan mereka terhenti ketika suara tangis Arva terdengar dari kamar sebelah, Reva mengusap air matanya, lalu bergegad untuk menghampiri anaknya.
Alya menatap Reva dengan penuh penyesalan.
"Maafkan saya nona muda, saya terpaksa melakukannya" Ucap Alya dengan lirih.
Adel menghampiri Arka dan menggenggam tangannya erat.
"Kalian benar-benar tidak menghianati kepercayaan ibu dan Reva kan?" Tanya Adel penuh harap.
"Aku memang tidak mengingatnya bu, tapi aku masih ingat batasan ku, aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang hina seperti itu" Ucap Arka serius.
"Ibu percaya padamu sayang, dan kamu Alya sebaiknya mulai sekarang kamu membantu untuk menjaga Arka saja, dan biarkan Arka di urus oleh istrinya" Ucap Adel.
"Baik nyonya" Jawab Alya dengan mengangguk.
Saat makan malam, Reva tidak keluar dari kamarnya, dia hanya meringguk sambil memainkan jari-jari mungil anaknya, matanya sembab, bengkak seperti adonan yang mengembang.
"Tok..tok..tok.." Reva melihat ke arah pintu kamarnya yang di ketuk oleh seseorang.
"Ini ibu sayang, apa ibu boleh masuk?" Tanya Adel dari luar.
"Iya bu" Jawab Reva, membuat Adel membuka pintu kamarnya.
Adel datang dengan nampan berisi nasi beserta lauk pauknya dan segelas air putih di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu belum makan sayang, makanlah" Ucap Adel meletakan nampannya di atas nakas dekat tempat tidur.
"Nanti saja bu, aku belum lapar" Ucap Reva yang sudah bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Kasiah baby Arva dia perlu asi yang banyak, sedangkan jika kamu tidak makan asi kamu akan berkurang, apa kamu mau Arva kelaparan?" Tanya Adel membuat Reva menatap anaknya dengan cemas.
"Ayo di makan, walaupun hanya sedikit" Ucap Adel.
Dengan malas Reva mengambil makanan yang di bawakan mertuanya, lalu perlahan dia mulai makan walaupun hanya beberapa suap.
"Terima kasih bu, biar aku saja yang menaruhnya ke dapur" Ucap Reva setelah meneguk air di gelasnya.
"Sayang, ada yang ingin ibu bicarakan dengan mu" Ucap Adel menghentikan Reva yang hendak menuruni kasurnya.
"Bagaimana jika kamu yang mengurus Arka, dan biarkan Alya yang membantumu untuk mengurus Arva" Ucap Adel menyentuh tangan Reva.
Reva berpikir sejenak, lalu menatap Adel dengan serius.
"Aku tidak bisa percaya kepada orang lain untuk mengurus Arva bu, aku ingin mengurusnya sendiri" Ucap Reva.
"Alya hanya akan membantu kamu saja sayang, tidak mengurus sepenuhnya, dia hanya akan menjaga Arva selagi kamu mengurus Arka saja" Ucap Adel meyakinkan, membuat Reva memikirkan perkataan ibunya.
"Jika kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Arka, mungkin saja dia akan lebih cepat mengingat semuanya" Ucap Adel.
"Baiklah bu aku akan melakukannya" Ucap Reva tersenyum kepada Adel, membuat Adel membalas senyuman Reva.
Setiap hari Reva membantu Arka dari mulai dia berpakaian sampai Arka meminum obat, sementara Alya hanya membantu untuk menjaga Arva saja, untuk urusan memandikan dan menidurkan masih Reva yang melakukannya.
Hingga malam tiba Reva terbangun, karena merasa tenggorokannya kering.
"Aku lupa membawa air minum" gumam Reva melihat atas nakasnya.
Reva bangun dan menuju dapur untuk mengambil segelas air, lalu menaiki tangganya kembali.
Reva berjalan melewati kamar Arka sebelum menuju ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Reva melihat cahaya dari celah bawah pintu kamar Arka.
"Kenapa lampunya masih menyala? apa dia belum tidur?" Gumam Reva, dan membuka pintu kamar Arka perlahan.
Bersambung...
NB: Terima kasih yang udah setia baca novel aku ini, walaupun banyak yang bilang alur ceritanya pasaran dan membosankan tapi tetap membuat aku semangat ya, dan setiap eps Arka dan Reva lagi ada komplik komentarnya mendadak banyak loh, apa perlu setiap episode isinya komplik terus, biar yang komentar banyak, heheee jadinya bukan novel romantis tapi novel perang ya.. Apapun yang terjadi aku tetap berterima kasih kepada reader yang masih setia nungguin aku up, dan mohon maaf aku hanya bisa up 1 eps setiap harinya, jika ada waktu luang aku usahin buat crazy up ok..
Mohon Like, dan komentarnya. jangan lupa tekan bintang lima dan Lovenya juga ya.
Jangan lupa kasih Vote juga biar aku tetap semangat ya kk
__ADS_1
Terima kasih